Bab Sembilan Puluh: Kemalangan Shen Ziyi
Tentang kasus pemusnahan keluarga Ding, Li Yanji memberi tahu Chu Xian bahwa sebenarnya Tuan Cui sudah lama memperhatikan kasus ini, bahkan diam-diam menyelidikinya. Keluarga Ding sudah turun-temurun berdagang, memiliki tempat pembuatan arak, tetapi usaha utamanya adalah jual beli lukisan dan kaligrafi. Kepala keluarga Ding gemar minum arak, lebih-lebih suka mengoleksi karya kaligrafi dan lukisan tokoh ternama, sama seperti kebanyakan orang kaya lainnya. Semua itu merupakan hasil penyelidikan Cui Huan, dan kini Chu Xian pun mendengarnya dari Li Yanji.
Hampir bisa dipastikan, pelaku tragedi keluarga Ding, jika tidak ada kejutan lain, adalah Zhao An.
"Tuan Cui benar-benar merasa tidak berdaya dalam perkara ini, jelas-jelas tahu bahwa Zhao An pelakunya, tapi sama sekali tidak ada bukti, baik saksi maupun barang bukti, semuanya tidak ada. Bisa dibilang, Zhao An memang beruntung, punya ayah seperti Zhao Renzhen yang selalu menutupi perbuatannya, dan menutupinya dengan sangat bersih, bukan hanya tidak ada sisa noda, bahkan baunya pun tak tersisa, sungguh membuat kesal." Saat membahas hal ini, Li Yanji pun tampak marah, bahkan sampai mengumpat beberapa kata kasar.
Chu Xian tersenyum dan mengangguk.
Kasus keluarga Ding memang seperti itu, tapi sesungguhnya kedatangan inspektorat kali ini bukan untuk menyelidiki kasus keluarga Ding, melainkan kasus pejabat pengawas istana. Kini kasus itu sudah mulai terbuka, jika kembali menggali kasus keluarga Ding, jelas sudah di luar kewenangan, kecuali ada perintah dari atas untuk menanganinya.
"Kakak Li, jangan minum lagi, istirahatlah sebentar. Jika tidak ada halangan, begitu fajar menyingsing, sidang resmi pasti akan dimulai, dan Tuan Cui pasti ikut menjadi hakim pendamping. Kasus penyerangan terhadap pejabat pengawas istana ini, sepertinya akan segera terungkap." Chu Xian menasihati, lalu mereka bertiga menuntaskan sisa arak di cawan, kemudian beristirahat ke kamar masing-masing.
Namun Chu Xian memang tak ditakdirkan untuk tidur nyenyak malam itu. Menjelang pagi, kembali terjadi sesuatu.
Chu Xian mendengar kabar bahwa Shen Ziyi telah ditangkap oleh aparat kantor pemerintahan Fengcheng.
Begitu mendengar berita ini, Chu Xian langsung mencari Cui Huan, yang juga sudah mengetahuinya. Jelas hanya mereka berdua yang tahu bahwa Shen Ziyi adalah keponakan dari Xiao Yu, Menteri Sekretariat tingkat tiga Kekaisaran Suci, yang juga menjadi sandaran Cui Huan. Tentu saja mereka ingin mengetahui duduk perkaranya.
Setelah diselidiki, barulah diketahui bahwa semalam Shen Ziyi berkelahi dengan orang di jalan, lalu ditangkap oleh tentara patroli kota. Saat di kantor pemerintahan, dari tubuh Shen Ziyi ditemukan sebuah lukisan milik Wang Xianming, pejabat pengawas istana.
Lukisan itu dibuat langsung oleh Wang Xianming, menggambarkan seorang wanita, dengan tulisan bahwa wanita itu adalah putri kesayangannya, Wang Ruoyu.
Semua orang tahu, sebulan lalu Wang Xianming tewas dibunuh. Lalu mengapa lukisan karyanya bisa berada di tangan Shen Ziyi? Shen Ziyi sendiri tak bisa memberi penjelasan. Kini ia ditahan sementara dan akan segera diadili.
Cui Huan tampak sangat cemas, sementara Chu Xian teringat pada penyelidikannya di rumah Wang Xianming, di mana ia sempat memperhatikan satu lukisan yang hilang dari dinding ruang kerja. Kalau tak meleset, lukisan yang hilang itulah yang ditemukan pada Shen Ziyi.
"Fitnah dan jebakan!" Cui Huan mendengus dingin. Chu Xian pun mengangguk. Cara licik seperti ini mungkin bisa menipu orang lain, tapi tak bisa menipu mereka berdua.
"Langkah ini pasti sudah direncanakan sejak lama. Kita perlu menanyakan pada Guo Su, kapan tepatnya lukisan itu hilang. Selain itu, orang yang menjebak pasti tidak tahu bahwa kasus pejabat pengawas istana sudah ada kemajuan, kalau tahu, mereka takkan berani menambah fitnah." ujar Chu Xian.
Jelas mereka berdua tak menduga, lawan ternyata memilih memfitnah Shen Ziyi di saat genting seperti ini. Namun setelah dipikir, memang ada keuntungan besar dalam menjebak Shen Ziyi. Jika ia terbukti bersalah, pasti akan menyeret ayahnya, Shen Jingzong, Komandan Militer. Bahkan, mereka bisa memakai kesempatan ini untuk menjelekkan nama Shen Jingzong. Jika berhasil menyingkirkannya, pasti ada pihak-pihak yang senang.
Bahkan, hal ini boleh jadi menyangkut persaingan di kalangan atas.
Mereka berdua segera menuju kantor pemerintahan. Sebagai inspektur kasus, tentu saja mereka berhak menemui tahanan. Begitu Chu Xian dan Cui Huan tiba di penjara dan melihat Shen Ziyi, barulah mereka tahu bahwa pemuda manja ini sudah kehilangan arogansi dan sifat angkuhnya. Ia menundukkan kepala, mengeluh panjang pendek, baru saat melihat Chu Xian matanya berbinar dan buru-buru bangkit dari lantai sel.
"Saudara Chu, aku tahu kau pasti akan datang mencariku. Percayalah, aku benar-benar dijebak! Kemarin aku mabuk, lalu tiba-tiba dipukuli orang tak dikenal. Sekarang aku sadar, pasti itu suruhan seseorang. Dan soal lukisan di tubuhku, aku benar-benar tak tahu siapa yang menaruhnya. Sebelumnya aku tidak punya, bahkan belum pernah melihatnya sama sekali!"
Shen Ziyi masih ingin berbicara, tapi Chu Xian buru-buru menahannya.
"Saudara Shen, tenang dulu. Izinkan aku memperkenalkan, ini adalah Tuan Cui, inspektur dari kantor penyelidikan."
Saat mendengar itu, Shen Ziyi makin bersemangat, "Salam hormat, Tuan Cui! Aku benar-benar tak bersalah, Tuan adalah inspektur, mohon keadilan untuk rakyat kecil sepertiku. Pasti si bajingan Zhao An yang menjebakku. Dia malah pura-pura menyerahkan diri, padahal tak kena hukuman apa pun. Kini malah ingin menimpakan semua kesalahan terberat padaku. Jangan harap dia berhasil! Lagi pula, meski aku juga berpendidikan, aku tak pernah suka mengoleksi lukisan atau kaligrafi. Justru Zhao An itu yang sok-sokan suka barang antik. Saudara Chu, kemarin aku bilang padamu tentang Gedung Harta Karun, itulah tempat Zhao An menyimpan koleksi barang antiknya. Jadi pasti dia pelakunya!"
Cui Huan hanya bisa tersenyum kecut. Tapi memang tak ada pilihan, bagaimanapun pemuda ini adalah keponakan kandung Tuan Xiao. Kalau benar dijebak, Cui Huan tak mungkin tinggal diam. Harus diingat, bila masalah ini berkembang, bisa jadi akan menimbulkan kegaduhan besar.
"Shen Ziyi, tenang saja. Kalau kau memang tidak bersalah, tak akan ada satu pun yang bisa menfitnah atau menjebakmu," ujar Cui Huan meyakinkan.
Pada saat itu, seseorang masuk ke ruangan sambil mencibir, "Apakah ini fitnah atau bukan, bukan omongan siapa pun yang menentukan, tapi harus ada bukti. Tuan Cui, sebentar lagi sidang dimulai. Kalau Anda ingin hadir, silakan saja jadi pendengar, bahkan jadi pengawas juga boleh, tak masalah."
Chu Xian melihat, yang baru masuk adalah pejabat kepala pemerintahan Fengcheng, pejabat tingkat enam. Jelas ia tunduk pada Kantor Sekretariat, sedangkan Sekretaris Utama dan Komandan Militer memang sudah lama bersaing. Maka dia pun tak peduli jika harus menyinggung Shen Jingzong.
Cui Huan malas berdebat dengan orang itu. Hanya berkata, "Karena ini menyangkut kasus penyerangan pejabat pengawas istana, tentu saya harus mengawasi sidang. Bukan hanya saya, hakim dari Kantor Pengadilan juga akan hadir."
Selesai berkata, ia pun mengajak Chu Xian keluar.
Sebelum pergi, Chu Xian memberi isyarat pada Shen Ziyi agar tetap tenang, entah apakah ia mengerti maksudnya atau tidak.
Begitu keluar, Cui Huan merenung sejenak lalu berbisik, "Chu Xian, jika tak ada halangan, hari ini kasus pejabat pengawas istana pasti akan terungkap. Pejabat kepala Fengcheng itu belum tahu soal penangkapan Guo Su semalam. Jadi siapa pun yang menjebak Shen Ziyi, asal hakim dari Kantor Pengadilan memeriksa Guo Su dan menunjukkan bukti, Shen Ziyi pun pasti bebas. Hanya mengandalkan satu lukisan saja untuk menjatuhkan hukuman, itu mustahil. Kupikir, pihak lawan pun tak benar-benar berniat menghukum Shen Ziyi. Mereka hanya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menekan Komandan Militer, atau mungkin mereka masih punya bukti palsu lain yang siap dikeluarkan di sidang nanti. Namun tetap saja, selama hakim bisa membuat Guo Su mengaku, Shen Ziyi pasti aman. Bahkan, mereka yang ingin memfitnah Shen Ziyi pun tak akan berani mengeluarkan bukti palsu."
Chu Xian pun berpikir, memang masuk akal. Tapi tiba-tiba ia berkata, "Tapi, bagaimana jika Guo Su tidak mengaku, atau—bagaimana kalau ternyata bukan dia pelaku pembunuhan pejabat pengawas istana?"
Cui Huan pun tertegun mendengar itu.