Bab 65: Saudara Sejati yang Setia
Pertanyaan-pertanyaan di atas, sebenarnya lebih menguji wawasan daripada sekadar kemampuan menulis indah. Misalnya, salah satu soal menyebutkan bahwa di Pegunungan Lishan, Provinsi Jiang, terdapat makhluk ajaib bertubuh seperti ular piton, kepala berduri, bermata sembilan dan berkuku dua; apakah namanya? Tanpa pengetahuan yang cukup, seseorang pasti akan kebingungan. Dan untuk soal ini, Chu Xian yakin, sembilan dari sepuluh orang di tempat itu tak akan mampu menjawab.
Chu Xian sendiri tahu jawabannya, namun itu karena dia pernah membaca "Risalah Segala Makhluk", di mana ada sebuah kalimat yang mencatat makhluk itu. Namun, dengan jutaan kata dalam buku tersebut, tak banyak orang yang pernah membacanya, dan jika pun sudah membacanya, siapa yang bisa mengingat satu kalimat tertentu? Selain itu, Chu Xian memang pernah berkunjung ke Pegunungan Lishan, Provinsi Jiang, dan melihat makhluk aneh itu secara langsung, jadi ia tahu namanya.
Banyak pertanyaan lain yang sama rumitnya. Di antara semua yang hadir, selain Chu Xian, siapa yang bisa menjawab semuanya?
Jelas, pelacur terpelajar itu tidak ingin bertemu siapa pun secara langsung, melainkan menggunakan cara seperti ini untuk membuat orang-orang mundur teratur. Rupanya, perempuan itu memang cukup berkarakter.
Namun, selanjutnya Chu Xian memperhatikan bahwa di sisi lain, Zhao An justru tampak sangat percaya diri. Hal ini cukup mengejutkan bagi Chu Xian. Sementara Shen Ziyi tampak sangat kebingungan, menggaruk-garuk kepala. Dengan kekuatannya sendiri, menjawab satu atau dua dari tiga puluh satu pertanyaan itu saja sudah merupakan keajaiban.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Rasa ingin tahu Chu Xian pun bangkit. Ia segera masuk ke dalam lautan ingatannya, mengulang kembali semua detail yang baru saja ia lihat. Lautan ingatan mampu menampilkan ulang segala yang pernah ia saksikan tanpa cela. Tadi ia tidak memperhatikan, namun kali ini, dari ingatan itu ia menangkap sebuah detail penting.
Seseorang diam-diam menyerahkan sesuatu pada Zhao An. Sebelumnya, Zhao An sama bingungnya dengan Shen Ziyi. Tapi setelah itu, sikap Zhao An berubah drastis.
Apa sebenarnya benda yang diberikan itu?
Mungkinkah itu adalah jawaban dari tiga puluh satu pertanyaan tadi?
Chu Xian pun hanya bisa menduga demikian. Tak disangka, Zhao An ternyata berbuat curang. Namun, hal ini pun bisa dimaklumi. Tanpa berbuat curang, siapa yang bisa menjawab pertanyaan rumit seperti itu?
Namun dengan begitu, Shen Ziyi jelas tak punya kesempatan. Chu Xian pun tersenyum. Jika ia memang berniat menjalin hubungan baik dengan Shen Ziyi, inilah saat yang tepat untuk bertindak.
Maka Chu Xian pun memanggil Qi Chengxiang mendekat dan berbisik padanya. Ekspresi Qi Chengxiang pun berubah, antara terkejut dan penuh rasa hormat, lalu ia segera melangkah cepat ke arah Shen Ziyi yang tengah kalut.
Sebenarnya, Shen Ziyi pun membawa beberapa penasihat yang cukup berwawasan luas. Dengan statusnya sebagai pemuda terkemuka Kota Feng, membujuk beberapa penasihat untuk bergabung bukanlah perkara sulit.
Namun, penasihat pun ada tingkatan dan kelasnya. Mereka yang bersama Shen Ziyi saat itu sama bingungnya dengan tuannya. Ilmu dan pengetahuan mereka belum cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit yang diajukan Ling Xiang'er.
Shen Ziyi sempat melirik ke arah Zhao An. Lawannya itu tampak sama sekali tidak cemas, bahkan sudah menulis sejumlah jawaban. Walaupun Shen Ziyi tak bisa melihat apa yang ditulis, ia merasa firasat buruk.
"Sampah, kalian semua sampah! Biasanya kalian suka menyombongkan diri di hadapanku, katanya menguasai astronomi dan geografi, berwawasan luas, tapi sekarang? Satu-dua soal saja tak mampu dijawab. Selama ini aku sudah menganggap kalian sebagai tamu kehormatan, ternyata kalian lebih buruk dari sampah!" Shen Ziyi benar-benar marah. Ia memang suka bersaing, bukan karena ingin mengalahkan Ling Xiang'er, tapi ia tidak bisa menerima kalah dari Zhao An.
Permusuhan mereka berdua sudah berlangsung lama. Jika kalah kali ini, ia benar-benar tidak terima.
Salah seorang penasihat yang didatangkan Shen Ziyi, merasa tidak terima dengan cercaan itu. Barangkali karena terus-menerus disebut sampah, ia pun berkata, "Tuan Muda Shen, bukan kami tak mampu. Soal-soal ini memang terlalu rumit. Saya berani bertaruh, tak satu pun yang hadir bisa menjawab semuanya. Bahkan yang bisa menjawab setengah saja tak ada."
"Benar, kami sudah belajar belasan tahun, merasa punya pengetahuan dan wawasan. Tapi soal sesulit ini, memang terlalu memaksa," timpal yang lain.
"Kalau kami tidak bisa jawab, orang lain pun sama," sahut penasihat lainnya. Mereka pun saling membela diri, pokoknya tidak mau dianggap tidak mampu.
Shen Ziyi semakin kesal, memaki-maki mereka. Pada saat itulah Qi Chengxiang datang menghampiri.
Salah seorang pengawal Shen Ziyi segera menghadang Qi Chengxiang, mata mereka saling menyorot tajam. Keduanya sama-sama ahli, bisa merasakan kekuatan satu sama lain.
"Eh, kau rupanya?" Shen Ziyi mengenali Qi Chengxiang. Tadi orang inilah yang sempat membantunya. Siapa pun orang ini, yang pasti sudah membantunya, dan Shen Ziyi adalah orang yang tahu membalas budi.
Ia pun segera memerintahkan pengawalnya untuk memberi jalan. Qi Chengxiang tidak bertele-tele, langsung berbisik, "Tuan kami tidak suka cara-cara Zhao An, jadi beliau memerintahkanku untuk menyampaikan beberapa hal pada Tuan Muda Shen. Dengarkan baik-baik dan ingatlah."
Selesai berkata demikian, Qi Chengxiang pun menyampaikan satu per satu jawaban yang diberikan Chu Xian, lengkap tiga puluh satu soal, tanpa ada yang terlewat.
Awalnya Shen Ziyi belum paham maksudnya, tapi segera ia sadar, lalu buru-buru mengambil kertas dan pena untuk mencatat. Setelah semua selesai, tubuhnya bergetar hebat karena gembira.
"Luar biasa! Luar biasa! Meski belum tahu benar atau salah, aku merasa tidak meleset. Sungguh mulia, benar-benar mulia! Kembalilah dan sampaikan pada tuanmu, persahabatan ini, Shen Ziyi pasti akan jaga." Shen Ziyi begitu bahagia, karena tadinya benar-benar sudah buntu. Kini ada seseorang yang membantunya di saat genting, mana mungkin ia tak mengingat budi itu?
Andai bisa mengungguli Zhao An, Shen Ziyi bahkan ingin segera bersumpah persaudaraan dengan penolongnya.
Sementara itu, Zhao An belum juga menuntaskan semua jawabannya, Shen Ziyi sudah lebih dulu mengumpulkan tiga puluh satu jawaban ke lantai dua. Jelas, pelayan yang diutus Ling Xiang'er pun kaget, mungkin tak menyangka akan seperti ini.
Dia sendiri, meskipun pernah belajar dan cukup berwawasan, tetap tidak mungkin bisa membedakan benar-salahnya semua jawaban itu. Namun ia yakin, Tuan Muda Shen pasti tak mampu menjawab semua soal.
Siapa tahu, mungkin semuanya salah.
"Tuan Muda Shen, harap menunggu sebentar. Aku akan menyerahkan ini pada Nona untuk diperiksa. Benar atau salah, biar beliau yang menilai," kata sang pelayan sambil memberi hormat, lalu beranjak ke dalam. Shen Ziyi tampak puas, bahkan melempar pandang menantang ke arah Zhao An.
Zhao An tertegun melihat Shen Ziyi mendahuluinya.
Mana mungkin secepat itu? Pasti dia asal menebak, pikir Zhao An.
Ia benar-benar tak percaya Shen Ziyi bisa menjawab ketiga puluh satu soal itu. Kenyataannya, ia sendiri pun tak mampu. Para penasihat yang ia datangkan juga tak ada yang bisa. Hanya saja, ia lebih beruntung karena ada orang yang diam-diam memberinya jawaban. Itu membuat Zhao An sempat yakin akan menang.
Sayangnya, ia tetap kalah cepat. Jawaban yang ia terima hanya untuk dua puluh soal. Sisanya, sebelas soal lagi, ia harus memeras otak sendiri. Dan sebelum ia selesai, Shen Ziyi sudah lebih dulu mengumpulkan jawaban.
Sambil berpikir, Zhao An pun mengejek, "Shen Ziyi, kemampuanmu membuat-buat jawaban sungguh tiada tanding. Sayang sekali, pada akhirnya kau hanya akan menjadi bahan tertawaan."