Bab 5: Biasa
Jingsi melangkah keluar dari kebun raya dan melihat Dairu sedang berdiri di luar pintu.
"Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Jingsi.
Dairu menjawab, "Aku datang untuk melihatmu. Aku dengar telah terjadi pertarungan sengit di sekitar sini."
Jingsi berkata, "Memang cukup berbahaya. Untung saja kita berdua tidak terluka."
Dairu bertanya, "Apakah sesuatu telah terjadi?"
Jingsi menjawab, "Sekelompok perampok."
Dairu berkata, "Syukurlah kalau kalian baik-baik saja."
Jingsi bertanya, "Apa yang sedang kamu lakukan akhir-akhir ini?"
Dairu menjawab, "Kurang lebih sama sepertimu."
Jingsi merasa heran, "Bagaimana bisa sama sepertiku?"
Dairu menjelaskan, "Aku melihatmu setiap hari hanya menanam berbagai tanaman, sedangkan aku memelihara beberapa hewan."
Jingsi tersenyum, "Ada benarnya juga apa yang kamu katakan. Aku memang hanya menanam tanaman dan melakukan penghijauan."
Kebahagiaan dan kepercayaan diri dalam hidup tidak sepenuhnya ditentukan oleh keterampilan atau kemampuan tertentu. Orang dengan tingkat keterampilan yang tinggi mungkin juga menghadapi berbagai tekanan dan kepedihan hidup, sementara mereka yang memiliki tingkat keterampilan lebih rendah tetap mampu menjalani kehidupan yang bahagia dan penuh percaya diri.
Kebahagiaan dan kepercayaan diri seseorang dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kepribadian, pengalaman hidup, hubungan interpersonal, dukungan sosial, kondisi kesehatan, dan lain-lain. Orang dengan tingkat keterampilan yang tinggi mungkin menghadapi harapan dan tuntutan yang lebih besar, sehingga menghasilkan tekanan dan penderitaan yang lebih pula. Sebaliknya, orang dengan tingkat keterampilan yang lebih rendah mungkin lebih mudah merasa puas dengan kebutuhan mereka, sehingga menjadi lebih bahagia dan percaya diri.
Penderitaan dan tekanan seseorang juga dapat berasal dari faktor lain, seperti kesulitan ekonomi, masalah keluarga, masalah hubungan antarmanusia, masalah kesehatan mental, dan sebagainya. Tingkat keterampilan bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi kualitas hidup dan kepercayaan diri seseorang.
Kehidupan dan pengalaman setiap orang adalah unik, dan faktor-faktor yang memengaruhinya pun beragam. Terlepas dari tingkat keterampilan seseorang, setiap orang harus memerhatikan kebutuhan, kesehatan, dan hubungan interpersonal mereka sendiri demi menjaga kehidupan yang bahagia dan percaya diri.
Jingsi berkata, "Dulu aku mengira semakin tinggi kemampuan seseorang, maka ia akan semakin percaya diri dan bahagia. Namun belakangan aku menyadari bahwa orang-orang biasa justru lebih berbahagia."
Dairu menimpali, "Mungkin kita hanya melihat kebahagiaan orang lain di permukaannya saja. Setiap orang memiliki keresahan mereka sendiri, hanya saja tidak ditunjukkan kepada orang lain."
Orang yang berhati baik dan memiliki standar yang tinggi terhadap diri sendiri seringkali merasakan lebih banyak tekanan, karena mereka memiliki harapan dan rasa tanggung jawab yang besar terhadap diri mereka sendiri maupun orang-orang di sekitar mereka. Mereka mungkin merasa tekanan itu datang dari lubuk hati mereka yang paling dalam karena ingin berbuat lebih baik, sekaligus merasakan tekanan dari luar karena sering kali ditaruh harapan yang tinggi oleh orang lain.
Namun, kebaikan hati dan standar tinggi terhadap diri sendiri bukan berarti seseorang harus memikul tekanan yang teramat berat. Kuncinya adalah belajar menyeimbangkan serta menyesuaikan mentalitas diri, dan menemukan cara yang tepat untuk menghadapi tekanan.
Dairu berkata, "Hal paling penting dalam hidup adalah merasa bahagia."
Jingsi mengiyakan, "Benar. Jika kita bisa bertemu dengan orang yang tepat, melakukan apa pun akan terasa menyenangkan, dan segala hal yang dilakukan pun terasa benar."
Dairu bertanya, "Mengapa kamu datang ke Kota Pasir?"
Jingsi menjawab, "Aku ingin melakukan beberapa hal dengan tenang. Kebetulan tempat ini sedang kekurangan orang, bukan? Lalu, mengapa kamu datang ke sini?"
Dairu menjelaskan, "Karena di sini akan segera dibuka beberapa toko, dan aku bisa menatanya persis sesuai keinginanku—menjadikannya tampak seperti apa pun yang aku mau."
Jingsi tersenyum, "Mendengarnya terdengar seperti sedang menata rumahmu sendiri."
Dairu berkata, "Sebelumnya aku tinggal di Kota Hutan. Tempat itu memang lebih makmur, tetapi tekanannya juga jauh lebih besar."
Jingsi memuji, "Dengan kecerdasanmu yang luar biasa itu, apakah kamu masih takut pada tekanan?"
Dairu tertawa, "Wah, rupanya kamu bisa memuji orang juga ya?"
Seseorang pernah terluka di sebuah kota, dan tanpa sengaja ia juga melukai orang lain. Demi tidak mengganggu kehidupan orang lain, ia pergi untuk tinggal dan bekerja di kota yang jauh.
Awalnya ia adalah sosok yang penuh semangat dan antusiasme, selalu dipenuhi kecintaan pada hidup dan dedikasi pada pekerjaan. Namun, sebuah insiden tak terduga mengubah jalan hidupnya. Ia tidak hanya terluka secara pribadi, tetapi juga tanpa sengaja menyakiti orang lain. Ia mulai menyalahkan diri sendiri, menjauhkan diri dari orang lain, dan mengurung diri.
Kelak, ia bahkan langsung menghindari teman-temannya, bagaikan menguap ditelan bumi. Sering kali, orang hanya mendengar namanya yang besar, namun batang hidungnya sama sekali tidak pernah terlihat. Ia memilih untuk tetap rendah hati dan menghindari keterlibatan yang terlalu aktif.
Sesuatu yang kreatif pada dasarnya juga dapat mendatangkan mara bahaya bagi orang lain.
Hutan pertumbuhan cepat tumbuh terlalu pesat, menimbulkan banyak masalah hingga merintangi jalan. Buah Angxiang, meski merupakan bahan makanan, justru mengubah keadaan sebuah ekosistem.
Ia tidak ingin lagi membawa masalah bagi orang lain, maka ia memutuskan untuk meninggalkan kota yang akrab itu dan pergi ke tempat yang jauh guna memulai kehidupan baru. Ia memilih Kota Hijau, sebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari Kota Pasir. Di sana, orang-orang seharusnya hidup dengan damai, tanpa kebisingan kota metropolitan yang riuh dan tanpa kerumitan hubungan antarpribadi.
Di sana, ia mendapatkan pekerjaan sebagai seorang peneliti tanaman. Setiap hari ia bekerja di kawasan yang dipenuhi pepohonan rindang, memangkas dahan, menanam bunga dan rumput, menjalani hidup yang sederhana sekaligus tenteram. Luka-lukanya perlahan-lahan sembuh dalam proses itu, dan ia pun mulai berdamai dengan masa lalunya.
Ia menggunakan pekerjaan dan kehidupannya untuk menebus masa lalu. Ia berharap melalui usahanya, ia dapat memberikan ketenangan bagi orang-orang di sekitarnya. Ia juga berharap melalui perubahannya, orang-orang yang pernah memedulikannya merasa lega.
"Kita harus memiliki keberanian untuk menghadapi masa lalu, keberanian untuk menebusnya. Hanya dengan cara inilah kita bisa benar-benar melangkah keluar dari bayang-bayang masa lalu dan memulai lembaran baru. Membangun lingkaran pertemanan sendiri dan bergaul dengan orang-orang yang benar-benar kita sukai."
"Tinggalkan beban lama, menyongsong kehidupan baru."
"Aku tahu, melihatmu bagaikan melihat sebuah kehidupan yang baru."
"Kedatanganmu ke Kota Hijau membuatmu melepaskan banyak nama baik dan prestasi. Seiring berjalannya waktu, kamu pasti akan kembali meraih prestasi itu. Semua itu hanya masalah waktu."
"Benar. Aku percaya semuanya hanya masalah waktu. Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu memikirkannya, aku hanya takut orang lain menaruh standar yang terlalu tinggi padaku."
"Kamu bisa menganggap standar tinggi dan tuntutan ketig dari orang lain sebagai sebuah motivasi, percayalah bahwa kamu memiliki kemampuan untuk mencapai atau bahkan melampaui tuntutan tersebut. Pertahankan sikap kerja keras dan ketekunan, teruslah mengejar kemajuan dan peningkatan. Percayalah pada kemampuan dan potensi dirimu sendiri, teruslah berjuang meraih keunggulan, namun di saat yang sama tetaplah menjaga keseimbangan serta kondisi mental yang sehat."
"Hanya saja, di dalam lubuk hatiku, aku merasa sudah tidak ingin lagi mencapai atau melampaui tuntutan-tuntutan itu. Bukan berarti aku tidak memiliki kemampuan tersebut. Aku hanya ragu, apakah setelah tuntutan itu tercapai, aku harus terus melakukan hal-hal lain? Atau haruskah hal-hal yang telah kulakukan ditangani dengan semestinya? Sebagian dari apa yang kulakukan di masa lalu justru memiliki dampak negatif."
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Hal-hal itu dikerjakan bersama-sama, dan itu adalah hal yang berguna bagi masyarakat."
Xu Jingsi tersenyum pahit, "Segala hal yang berguna bagi masyarakat pada akhirnya akan selalu dimanfaatkan oleh kaum perusak untuk melakukan hal-hal yang merusak."
"Jika itu menyangkut tuntutan dari atasan, tetapkanlah tujuan yang jelas, lalu susun rencana yang sesuai."
"Kalau begitu, itu pasti bisa diselesaikan. Itu adalah tuntutan bagi setiap orang. Yang kutakutkan adalah jika tuntutan setinggi itu hanya dikenakan kepadaku seorang."