Saudara-saudara Seantero Negeri
Liu Dong dan Tanmura berjanji untuk mengunjungi kakak mereka, Liu Shu.
Ketika mereka muncul di hadapan Liu Shu, Liu Shu terpaku di tempatnya. Setelah mendonorkan kornea matanya, ia selalu menanti surat dari Liu Dong, sangat ingin mengetahui keadaan adiknya. Ia begitu gembira saat tahu bahwa ibu mereka sudah bertemu Tanmura, bahkan semalaman ia tak bisa tidur, meskipun waktu itu kedua saudara itu belum saling mengenal lagi.
Saat ia berhadapan dengan Tanmura dan Liu Dong, tanpa perlu bertanya pun ia sudah mengerti segalanya. Saat itu, hatinya dipenuhi ribuan kata, namun ia tak sanggup mengucapkan sepatah pun.
Tanmura melangkah maju, memeluk erat Liu Shu, dan dengan suara bergetar berkata, "Kakak, adikmu datang menjengukmu."
Ketiga bersaudara itu saling berpelukan, membiarkan air mata menjadi ungkapan perasaan mereka.
Setelah cukup lama, Liu Shu mengangkat kepala, menepuk bahu Tanmura dan berkata dengan suara tersendat, "Adikku, kau pergi terlalu lama, tiga puluh tahun lamanya."
Tanmura mendongak dan berkata, "Kak, aku terlambat datang, membuatmu menderita."
Liu Shu tersenyum, "Sekarang semuanya sudah baik, akhirnya keluarga kita bisa berkumpul lagi. Kakak tak perlu khawatir lagi, akan berusaha memperbaiki diri dengan baik, agar bisa segera keluar dan berkumpul bersama kalian."
Ucapannya itu kembali membuat air matanya mengalir.
Pertemuan singkat itu membuat mereka tak henti bercerita. Saat berpamitan, Tanmura melambaikan tangan dan berkata, "Kak, sekarang kau punya satu adik lagi, aku akan sering menjengukmu."
Liu Shu tersenyum pada adik-adiknya, wajahnya tampak bahagia dan damai.
Dalam perjalanan pulang dari penjara, Tanmura terus berkata, "Kakak sungguh luar biasa, dia memang kakak terbaik kita."
Liu Dong menahan tangisnya, berusaha agar air matanya tak jatuh, "Kakak ingin kita hidup baik, jadi kita harus menjalani hidup ini dengan sungguh-sungguh, menjadi manusia yang bermakna."
Tak lama kemudian, datang kabar dari penjara bahwa karena perilaku Liu Shu yang sangat baik dalam masa pembinaan, hukumannya yang semula seumur hidup dipotong menjadi dua puluh tahun penjara.
Keluarga mereka sangat gembira mendengar kabar itu, terutama sang ibu yang paling bahagia. Ia menghitung-hitung hari dengan jarinya, lalu menghela napas dan berkata, "Mungkin Ibu tidak akan sempat menunggu sampai hari kakakmu bebas."
Liu Dong pun menenangkan, "Bu, kalau kakak bisa dipotong hukumannya dari seumur hidup menjadi hukuman waktu tertentu, pasti masih ada peluang mendapat pengurangan lagi. Selama dia berkelakuan baik, Ibu pasti bisa menunggu hari itu."
Sejak saat itu, Liu Dong dan Tanmura bergiliran mengunjungi Liu Shu, kadang membawa ibu mereka juga. Hari-hari Liu Shu pun kembali dipenuhi harapan dan penantian.