Bab Seratus Lima Puluh Tujuh: Memulai Kultivasi
Melihat reaksi Ke Lixuan, Xu tertawa terbahak-bahak, lalu melambaikan tangannya seraya menjelaskan, "Canda, itu tadi hanya beberapa barang mainan saja. Mana mungkin aku menyimpan foto telanjangmu!"
Mendengar hal itu, Ke Lixuan barulah menghela napas lega. Orang yang tidak tahu malu ini benar-benar bisa mengatakan apa saja, bahkan berani menjadikan foto telanjang sebagai bahan candaan. Sungguh menyebalkan.
"Foto telanjangmu ada di sini~"
Saat itu, tangan Xu tiba-tiba memunculkan beberapa lembar foto Ke Lixuan tanpa sehelai benang pun, lalu memegangnya sambil memamerkannya dengan nada penuh canda.
Menghadapi situasi ini, Ke Lixuan buru-buru menerjang maju, merebut foto-foto itu dari tangan Xu, lalu memeriksanya dengan indra kesadarannya. Seketika itu juga wajahnya berubah hijau karena marah. Sambil mengepalkan foto-foto tersebut di satu tangan dan menunjuk ke arah Xu, ia berkata, "Kau... kau... untuk apa kau memotret benda-benda semacam ini?!"
Melihat ekspresi Ke Lixuan yang tampak sangat kesal, Xu berdiri santai di tempatnya, sementara senyuman di wajahnya justru semakin merekah. Ia menjawab, "Bagaimanapun juga, beberapa tahun lagi aku akan pergi, jadi aku hanya mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan~"
"Lagi pula, dengan adanya foto-foto ini, tidakkah kau merasa akan sulit melupakanku~"
"……"
Mendengar perkataan Xu, Ke Lixuan dibuat terdiam seribu bahasa. Namun, apa yang dikatakan Xu memang benar; dengan adanya kejadian seperti ini, dirinya pasti akan sangat sulit melupakannya, bahkan akan teringat seumur hidup…
Melihat Ke Lixuan membakar foto-foto yang diambilnya dengan susah payah, Xu sama sekali tidak berniat mencegahnya, melainkan hanya mengangkat bahunya. Bagaimanapun, ia memiliki cadangan, silakan saja dibakar jika memang mau!
"Bakar saja, bakar~ Lagipula aku punya salinannya di sini. Habis dibakar pun masih ada padaku," kata Xu sambil tersenyum ramah.
"Kau... kau benar-benar mesum (▼皿▼#)!" ucap Ke Lixuan dengan nada penuh amarah.
"Terima kasih atas pujiannya~" balas Xu tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Menghadapi semua itu, Long Zisheng hanya bisa menutup mulutnya sambil tersenyum diam-diam. Tangan putih mulusnya sedikit mengoyangkan kotak hadiah berwarna hitam tersebut, lalu bertanya dengan lembut, "Sebenarnya, apa isi dari kotak hadiah ini?"
"Kau akan tahu setelah melihatnya nanti~"
"Pokoknya ini sangat seru, Lixuan pernah memainkannya dulu!" jawab Xu.
"Aku pernah memainkannya dulu?" tanya Ke Lixuan keheranan, lalu mulai mengingat-ingat kembali berbagai benda kecil yang pernah diberikan oleh Xu kepadanya...
Namun, bahkan sebelum ia sempat menemukan jawabannya, Xu langsung memukul kepalanya, lalu menoleh ke arah Xiao Li yang masih tertidur pulas seraya memberi perintah, "Jangan melamun, bawa Xiao Li bersamamu. Aku akan membawamu ke tempat pelatihan!"
"Untuk apa membawanya?"
Ke Lixuan bertanya dengan nada heran. Dirinya sendiri yang akan berlatih, bukan Xiao Li, untuk apa membawanya serta?
"Kubilang bawa, ya bawa! Tidak usah banyak membantah!" tukas Xu sambil menepuk kepalanya sebagai bentuk hukuman.
"Baiklah..."
Melihat sikap Xu yang seperti itu, Ke Lixuan dengan terpaksa menutup mulutnya, lalu menggendong Xiao Li yang sedang tidur lelap dan mengikuti di belakangnya.
Melihat hal itu, Xu tidak membuang-buang waktu lagi. Setelah menurunkan metode kultivasi kesadaran indra kepada Zisheng, ia melejitkan gelang perak itu ke udara, menyalurkan energi miliknya sendiri, dan merobek ruang hampa di hadapannya untuk membuka celah dimensi.
"Masuk."
Begitu celah dimensi itu tercipta, Xu langsung mencengkeram kerah baju Ke Lixuan dan menyereretnya masuk ke dalam celah tersebut!
Sementara itu, Long Zisheng yang ditinggalkan seorang diri hanya bisa menghela napas pasrah. Saat memeriksa rencana pelatihan yang diatur oleh gurunya menggunakan persepsi energi spiritual, ia dengan sedikit pusing memijat pelipisnya.
"Aku masih harus menunggu mataku tumbuh kembali barulah bisa memulai pelatihan aspek lainnya..."
Long Zisheng menghela napas panjang, menyimpan kotak hadiah hitam tersebut, lalu duduk bersila di atas tanah. Mengikuti metode pelatihan yang diajarkan oleh sang gurunya, ia mencoba menggerakkan gelombang otaknya!
Di saat yang sama, Xu, Ke Lixuan, dan Xiao Li—satu jiwa, satu manusia, dan satu rubah—yang baru saja melintasi celah dimensi tiba di sebuah lembah yang diselimuti oleh awan petir. Sekilas saja sudah bisa dipastikan bahwa tempat ini merupakan wilayah yang rawan sambaran petir...
Konsentrasi energi spiritual alam di tempat ini jauh lebih tipis dibandingkan dengan dunia luar, dan selain mereka bertiga, tidak ada tanda-tanda keberadaan makhluk hidup lain yang dapat dirasakan, sehingga suasana di tempat itu terasa begitu sunyi dan tandus.
"Sebenarnya tempat apa ini? Energi spiritual alam di sini bahkan jauh lebih tipis daripada di Alam Ujian!"
Begitu merasakan konsentrasi energi spiritual di lembah ini, secercah keterkejutan melintas di mata Ke Lixuan. Bahkan dirinya yang memiliki konstitusi penaras spiritual saja merasa sangat kesulitan untuk memulihkan energi spiritual yang telah hilang di tempat ini, apalagi berlatih...
"Kau tidak sedang berniat menyuruhku berlatih di sini, kan..." tanya Ke Lixuan dengan nada ragu-ragu.
"Lalu di mana lagi?"
Xu meliriknya dengan tatapan jengkel. Jika bukan untuk berlatih, untuk apa dirinya membawanya ke tempat ini, untuk bermain-main?
Mendengar jawaban itu, ekspresi Ke Lixuan langsung membeku sesaat. Ia kemudian mencoba memaksa dirinya untuk tetap tenang dan bertanya, "Berlatih di tempat ini, kau serius?"
"Pertanyaan bodoh seperti itu tidak perlu ditanyakan lagi! Sudah begitu lama mengikutiku, apa kau masih belum mengerti maksudku?" ucap Xu dengan nada tenang.
"Apa materi latihannya?"
"Sangat sederhana, melatih 'penglihatan dinamis' milikmu~"
Ucap Xu sambil tersenyum tipis. Energi berwarna jingga keemasan berkumpul di ujung jarinya, lalu berubah menjadi seberkas cahaya yang melesat lurus menembus awan petir di langit!
Bummm...~!
Seketika itu juga, suara gemuruh petir bergempa hebat, sambaran kilat menari-nari liar, membuat seluruh lembah seolah berubah menjadi musim badai petir yang mengerikan dan menciutkan nyali.
Suara dentuman keras tiba-tiba bergema dari dalam awan petir, disusul oleh sebersit kilat tipis yang menyambar lurus ke bawah dan menghantam sebuah batu besar di dalam lembah!
Karrrak...!!!!
Suara pecahan yang begitu nyaring berderak membahana. Batu besar itu seketika meledak berkeping-keping, berubah menjadi serbuk yang bertebaran di udara...
"!!!"
Melihat pemandangan tersebut, gelombang kejutan besar bergolak di dalam hati Ke Lixuan. Ia tidak dapat menahan diri untuk menelan ludah dengan susah payah. Petir dengan ukuran sekecil itu saja sudah memiliki daya rusak yang begitu mengerikan, jika ukurannya lebih besar lagi dan menghantam tubuhnya, ia benar-benar tidak berani membayangkannya...
"Kau pasti sedang bercanda, kan..." kata Ke Lixuan sambil tertawa canggung.
"Ha~"
Xu mengeluarkan tawa penuh arti, lalu menatapnya dengan pandangan geli seraya berkata dengan tenang, "Menurutmu, apakah tampangku ini sedang bercanda?"
"Lagi pula matamu sudah buta, dan mata hasil transplantasi itu butuh waktu untuk beradaptasi. Selama masa pemulihan ini, melakukan hal-hal lain pun tidak akan terasa nyaman, jadi manfaatkan saja kesempatan ini untuk melatih 'penglihatan dinamis' dari kesadaran indramu!"
"Setelah berkelana di luar begitu lama, kesadaran indramu telah berkembang pesat, terutama selama masa pemulihan kekuatanmu beberapa waktu lalu. Kau berlatih kesadaran indra dengan cukup giat, pastinya kau tidak sedikit pun melewatkan kesempatan untuk mengintip tubuh Zisheng, kan~"
Mendengar ucapan Xu tersebut, wajah rupawan Ke Lixuan langsung merona merah padam. Ia buru-buru membela diri, "Jangan bicara sembarangan! Mataku hanya sedang buta, aku harus menggunakan kesadaran indra untuk mengamati sekeliling dan memperluas jangkauan penglihatanku!"
"Zisheng sendiri yang tiba-tiba menerobos masuk, bukan aku yang sengaja ingin mengintip. Kalau mau menuduh pun jangan keterlaluan begini!"
"Oh~ begitu ya..."
Xu terkekeh geli, lalu melanjutkan ucapannya, "Meskipun melalui pelatihan akhir-akhir ini kesadaran indramu telah meningkat pesat, kemampuannya selalu saja tertahan pada tahap 'penglihatan statis'!"
"Ketika indramu mendeteksi target yang sedang bergerak, kemampuan untuk menangkap citra, menguraikannya, serta mempersepsikan bayangan target yang bergerak itu tidak begitu kuat, jadi hal itu perlu dilatih secara khusus."
"Tempat ini adalah daerah rawan petir. Baru saja aku menyuntikkan gumpalan energi ke dalam awan petir tersebut, sehingga untuk beberapa waktu ke depan, sambaran petir akan terus menerus turun."
"Dan tugas pelatihanmu adalah memanfaatkan kesadaran indra untuk menghindari sambaran petir yang jatuh! Saat ini aku akan menyegel energi spiritual serta kekuatan mentalmu, agar kau bisa..."
Pada saat itu, Ke Lixuan di sampingnya buru-buru menyela dan berkata, "Tunggu dulu, bukankah seharusnya kita mencari cara untuk meningkatkan kekuatan asliku terlebih dahulu? Berlatih hal seperti ini tidak ada artinya..."
"Aku tahu itu~ Tapi sudah kubilang tadi, sebelum kau beradaptasi dengan sepasang mata itu, kau tidak akan leluasa melakukan hal lain, begitu juga dengan kultivasi, jadi latihlah hal ini saja. Lagipula, jika sering tersambar petir, itu akan menguntungkanmu saat menerima baptisan petir surgawi nanti! Setidaknya kau sudah memiliki ketahanan, dan tingkat keberhasilannya akan meningkat!"
"Selain itu, saat menghindari sambaran petir, hal itu juga dapat secara tidak langsung melatih kecepatan, kemampuan refleks, serta ketahanan tubuhmu terhadap hantaman. Coba bayangkan~ jika sambaran petir saja tidak bisa mengenaimu, seberapa cepat kecepatanmu nantinya!" ucap Xu.
"Lalu bagaimana dengan kemajuan kultivasiku? Waktu yang tersisa tadinya sudah tidak banyak, kalau disia-siakan seperti ini, bukankah waktu kita akan semakin sedikit..." balas Ke Lixuan mempertanyakan.
"Soal itu tidak perlu khawatir. Dengan adanya benda-benda ini, jika tidak ada halangan, kau seharusnya bisa menerobos ke alam Qifu tepat pada waktunya."
Sambil berkata demikian, Xu mengeluarkan kristal biru muda yang belum habis dikonsumsi, menunjukkan bahwa urusan kultivasi tidak perlu dikhawatirkan olehnya karena semuanya sudah diatur sejak awal...
"Tapi aku belum beradaptasi dengan mata Zisheng itu, dan kekuatan petir ini tidak menentu. Seandainya aku tidak sengaja tersambar oleh petir yang kekuatannya sangat mengerikan, apakah aku akan..."
Belum sempat Ke Lixuan menyelesaikan ucapannya, telapak tangan Xu sudah melambaikan isyarat ke arahnya. Seketika itu juga, gelombang energi berwarna jingga keemasan langsung disuntikkan ke dalam tubuhnya, disertai ucapan, "Dengan perlindungan dari kekuatanku, sekarang kau tidak perlu khawatir akan kehilangan nyawa. Namun, meskipun tidak sampai mati, tersambar petir itu akan terasa sangat sakit, anggap saja itu sebagai hukuman karena gagal menghindar!"
"Tapi..."
"Tutup mulutmu!"
"Ini adalah penangkal petir, bawalah benda ini bersamamu agar petir tidak mudah menyambarmu. Dengan begini seharusnya sudah tidak ada masalah lagi."
Xu membentak dengan nada kesal, lalu mengepalkan tangannya. Sebuah penangkal petir yang bisa dikenakan di tubuh langsung meluncur jatuh ke tangan Ke Lixuan!
"Aku..."
"Tutup mulutmu sekarang juga! Kalau kau berani membantah lagi, aku tidak hanya akan menyuruhmu menghindari sambaran petir yang bisa datang kapan saja, tapi aku juga akan menyuruhmu menghindari api rubah Xiao Li!"
"Baik, baik, baik... aku tidak akan bicara lagi, puas kan..."
Ke Lixuan buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat, lalu mengelus penangkal petir yang ada di genggamannya dalam hati berpikir, "Karena benda ini disebut penangkal petir, pastinya benda ini bisa menurunkan peluang tersambar petir secara drastis. Tampaknya berpura-pura menyedihkan itu memang cukup berguna~"
Mengantar kepergian Ke Lixuan yang berjalan menuju zona sambaran petir dengan perasaan puas, sudut bibir Xu terangkat membentuk lengkungan penuh canda. Ia bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Orang yang tidak berpendidikan memang sangat mudah ditipu. Penangkal petir itu justru bisa disebut sebagai pemancing petir~"
"Rasakan akibatnya karena ingin bermalas-malasan!"
Begitu suara itu mereda, teriakan kesakitan akibat sambaran petir terdengar dari arah zona petir...