Bab Dua Puluh Satu: Diskusi Para Pembimbing
Di luar Lembah Bayangan Sunyi, para pembimbing dari Akademi Timur dan Barat yang jarang berkumpul kini duduk bersama, menjaga kamp yang kosong dan mendiskusikan beberapa urusan rahasia akademi...
Saat itu, salah satu pembimbing dari Akademi Timur yang dikenal sebagai Guru Xu membuka suara, “Mumpung kita bisa berkumpul tanpa perselisihan, mari kita bahas beberapa kejadian yang terjadi belakangan ini...”
“Ada kabar tentang para murid yang hilang di Lembah Senja?”
Mendengar pertanyaan itu, ketiga pembimbing lainnya menggelengkan kepala, menandakan belum ada petunjuk sama sekali.
“Ketua akademi masih menyelidiki, hanya saja belum mendapatkan jejak apa pun. Tapi aku percaya kemampuan ketua, dalam waktu dekat pasti akan ada hasilnya!” ujar Guru Zhou dari Akademi Barat dengan nada datar.
“Sudahlah...”
“Sudah tiga bulan berlalu, tetap saja belum ada titik terang sedikit pun. Murid-murid yang diculik itu mungkin sudah lama kehilangan nyawa! Lebih parahnya lagi, sekarang ketua akademi juga tak memberi kabar, hilang entah ke mana!” seru Guru Shan dari Akademi Barat.
Beberapa waktu lalu, murid-murid satu demi satu menghilang secara misterius di Lembah Senja. Awalnya dianggap sepele, dikira hanya karena mereka nakal dan terlambat kembali ke akademi. Namun, setelah semakin banyak yang hilang tanpa jejak, barulah akademi benar-benar waspada. Maka, mereka pun bersiap menutup akademi dengan barikade, melarang murid keluar, dan demi menenangkan murid, menyebarkan kabar palsu...
Untuk menemukan para murid yang hilang, Ketua Akademi Xuanling mengutus para pembimbing melakukan pencarian, namun semuanya gagal. Akhirnya, ketua memutuskan turun tangan sendiri untuk mencari dalang penculikan itu.
Namun hingga kini, bukan hanya murid yang tak ditemukan, ketua pun lenyap tanpa kabar, tak diketahui keberadaannya...
Kini Akademi Xuanling hanya bertumpu pada Penatua Agung dan para ketua Akademi Timur dan Barat. Jika sampai salah satu dari ketiganya hilang, pasti akan terjadi kekacauan besar!
“Jangan berkata begitu, ketua akademi adalah seorang ahli tingkat Qi Fu, tidak mudah celaka begitu saja!”
“Mungkin saja ia hanya terhambat sesuatu, sehingga belum sempat memberi kabar ke akademi,” ujar Guru Xu dengan suara tenang.
Ketua akademi adalah sosok terkuat di Akademi Xuanling. Jika ketua saja tak mampu melawan musuh, mereka bisa saja menghancurkan akademi secara terbuka, tak perlu main sembunyi-sembunyi seperti ini...
“Mudah-mudahan memang begitu... Kalau tidak, benar-benar malapetaka bagi Akademi Xuanling!” Guru Shan berkata dengan nada putus asa.
“Sungguh aneh... Akhir-akhir ini kita tidak pernah menyinggung kekuatan mana pun, lalu siapa sebenarnya yang bermusuhan dengan akademi dan tega menculik para murid yang tak bersalah itu?”
“Menurut kalian, mungkinkah ini ulah akademi lain? Mereka ingin menjelekkan nama baik kita, agar bisa menggusur kita dan merebut jatah naik peringkat menjadi Lima Akademi Besar!” Guru Mu menebak.
Mendengar dugaan itu, Guru Xu menggeleng dan menjawab, “Kurasa tidak. Kabar yang kudengar, akademi lain juga mengalami hilangnya murid secara misterius, hingga mereka pun menutup akademi dan melarang murid keluar...”
“Kalau tujuannya hanya merebut jatah Lima Akademi Besar, risikonya terlalu besar. Menyinggung banyak akademi sekaligus, kalau sampai ketahuan, sama saja mengundang maut...”
Mendengar ini, ketiga pembimbing lainnya hanya bisa menghela napas, ternyata bukan hanya akademi mereka yang menjadi korban, akademi-akademi lain pun tak luput dari musibah...
Melihat rekan-rekannya menghela napas, Guru Xu perlahan berdiri, menatap ke arah lembah yang kabutnya telah lama tersibak, lalu berkata pelan, “Yang terpenting, semoga latihan di luar akademi kali ini bisa berjalan lancar tanpa hambatan...”
“Jangan sampai ada hal buruk yang terjadi lagi...”
Andai tak ada kasus murid yang hilang, latihan di luar kali ini seharusnya tetap dilakukan di Lembah Senja, tak perlu menempuh perjalanan jauh sampai ke Lembah Bayangan Sunyi yang terpencil ini.
Di saat bersamaan, di sebuah bukit puluhan li dari Lembah Bayangan Sunyi, tampak seorang pria bertubuh kekar mengenakan jubah hitam muncul di tempat sunyi itu. Ia berlutut dengan satu kaki, memberi hormat pada seseorang yang akan segera datang.
Di hadapannya, ruang kosong tampak retak seperti kaca, lalu dari balik celah itu perlahan muncul dua sosok berjubah hitam.
Jubah mereka yang lebar menutup rapat wajah dan postur tubuh, membuat siapa pun takkan bisa menebak rupa maupun aura mereka...
“Hormat kepada Nona dan Penatua Aoyun...” ujar pria kekar yang berlutut itu.
Sang Nona yang disapa, memberi isyarat dengan tangannya agar ia bangkit, lalu bertanya, “Bagaimana perkembangan tugas? Dia... sekarang ada di mana?”
Suara gadis itu nyaring dan merdu, seolah mengandung sihir yang mampu membuat siapa pun terhanyut dalam pesonanya.
“Lapor Nona, orang yang Nona cari kini berada di Lembah Bayangan Sunyi, tak jauh dari sini...” jawab pria kekar itu dengan penuh hormat.
Mendengar itu, sang gadis mengangguk, matanya yang jernih memancarkan kegembiraan, dan ia tak sabar ingin segera menuju lembah itu!
Melihat gelagatnya, pria kekar itu hendak ikut melindungi keselamatan sang Nona, tapi Penatua Aoyun menahan dan menasihatinya, “Karena mereka akan bertemu, kita yang lebih tua jangan ikut campur...”
“Hamba patuh pada perintah Penatua.”
Pria kekar itu mundur ke belakang, tak lagi mengikuti.
Setelah itu, Penatua Aoyun menoleh pada gadis yang tak sabar menunggu, lalu berpesan, “Ingat, Sheng’er, kau hanya punya waktu tiga jam...”
“Jika ada bahaya, segera gunakan jimat ruang untuk memberi kabar pada kami.”
“Dan ingat, kali ini kita pergi diam-diam tanpa sepengetahuan Kepala Klan, jangan berjumpa siapa pun agar identitasmu tak terbongkar. Jangan lepas jubah dan topeng, bila tidak, auramu akan tercium orang!”
“Jika sampai Kepala Klan tahu aku membawamu keluar secara diam-diam, kau dan aku pasti akan dihukum!” Penatua Aoyun mengingatkan dengan serius.
“Aku mengerti, terima kasih Paman Aoyun.”
Gadis itu tersenyum menjawab, dalam hati ia menggerutu tentang betapa cerewet dan rewel sang penatua, “Paman Aoyun ini lebih bawel dari ayahku, cuma keluar sebentar saja, kenapa harus diingatkan berulang kali...”
“Tapi untung saja, beliau lebih pengertian daripada ayah, masih mau mengajakku keluar!”
Menatap kepergian gadis itu, Penatua Aoyun menghela napas panjang, bergumam, “Jangan sampai ada kejadian buruk... Kalau tidak, aku tak sanggup menanggung murka Kepala Klan...”
Jika sesuatu menimpa Sheng’er, Kepala Klan takkan pernah memaafkannya, jadi ia hanya bisa berharap segalanya berjalan lancar.
“Oh ya, kau sudah cukup lama mengawasi anak itu, ada informasi soal sosok kuat misterius itu?”
Saat itu, Penatua Aoyun menoleh pada pria kekar di sampingnya, menanyakan informasi tentang sosok kuat misterius tersebut.
Pria kekar itu menggeleng, “Tidak ada. Sosok misterius itu sangat kuat, dan setiap kali ia pergi bersama Ke Lixuan, aku harus menghabiskan waktu lama untuk mencari mereka!”
“Begitu kutemukan, sosok itu sudah pergi, hanya menyisakan anak itu sendiri.”
“Jelas ia sudah menyadari keberadaanku. Namun, tampaknya ia tahu tujuanku, jadi ia tidak bertindak terhadapku, hanya tak ingin orang lain melihat dirinya...”
“Tapi akhir-akhir ini, entah kenapa, sosok misterius itu tiba-tiba meninggalkan anak itu, tak tahu ke mana perginya, dan tak tahu pula apakah akan kembali...”
“Meninggalkan? Kenapa?”
Mendengar itu, Penatua Aoyun mengernyit, heran kenapa sosok itu tiba-tiba pergi, apakah ada sesuatu yang terjadi? Namun persoalan apa yang bisa menarik perhatian sosok sekuat itu?
Perlu diketahui, sosok misterius itu pernah menyembuhkan penyakit aneh yang bahkan Kepala Klan mereka pun tak mampu menanganinya, itu artinya wawasan dan kekuatannya setara, bahkan mungkin lebih tinggi. Hal yang bisa menarik perhatian orang seperti itu pasti sangat langka...
“Aku tidak tahu, tapi yang pasti, belum lama ini sosok misterius itu sempat menangkap dua manusia yang ingin mencelakai Ke Lixuan, lalu membunuh mereka diam-diam sebelum akhirnya pergi beberapa hari kemudian...” jawab pria kekar itu.
“Oh? Dua manusia itu berasal dari mana? Apakah mereka kuat?” tanya Penatua Aoyun.
“Dari Gedung Zixuan!”
“Akhir-akhir ini, mereka yang secara diam-diam menculik murid-murid dari berbagai akademi...”
Pria kekar itu menjawab, ia sendiri pernah bertarung dengan salah satu dari mereka, kekuatannya tidak terlampau hebat, hanya setingkat Qi Fu, kalau bukan karena harus menyembunyikan identitas, ia bisa melenyapkan orang itu seketika!
“Menculik orang... menarik juga. Mungkin saja kelompok ini ada kaitannya dengan hilangnya anggota klan kita akhir-akhir ini,” gumam Penatua Aoyun, sebab belakangan ini memang ada beberapa anggota klan yang hilang secara misterius, tak tahu pergi ke mana...
“Oh ya, ada lagi informasi yang perlu kau laporkan padaku?”
“Ada! Aku menemukan bahwa ahli dari keluarga Ke yang ditugasi melindungi Ke Lixuan secara diam-diam sudah meninggalkan tempat. Sepertinya tak akan kembali lagi...”
Mendengar itu, wajah Penatua Aoyun sedikit berubah, lalu ia berkata, “Berarti keluarga Ke benar-benar telah mempercayai sosok misterius itu sepenuhnya...”
Menyerahkan anak mereka pada seseorang yang asal-usulnya tak jelas, sungguh hanya manusia bodoh yang bisa melakukan hal seperti itu...