Buku Kedua: Melewati Seratus Hari di Jalan Fuxi Seratus Empat Puluh Tujuh: Niat Bintang Utara
"Kalian menemukan tempat ini pada hari pertama memasuki Gunung Abadi Naga Biru, dan kalian juga menyadari bahwa ibu Burung Ji telah terkena kutukan sehingga tidak bisa keluar dari gua. Luka di tubuhnya juga ulah kalian, bukan? Itulah sebabnya kalian mengancam Burung Ji untuk mencarikan berkah bagi kalian atau memancing orang yang ditakdirkan ke tempat ini," ujar Long Xiaohan dengan tenang.
Kepercayaan dirinya bersumber dari tiga murid Dinasti Canghan itu, hanya saja ia sama sekali tidak menyangka bahwa ketiganya sama sekali bukan tandingan Long Xiaohan.
Gadis itu memasang ekspresi muram, lalu berkata sambil menggertakkan gigi, "Jika kau bersedia melepaskanku, aku akan menyerahkan saudari seguruan bungsu kami dari Sekte Abadi Yaotai kepadamu."
"Sekte Abadi Yaotai?" Long Xiaohan tertegun sejenak. Apakah gadis ini adalah murid Sekte Abadi Yaotai? Jika dipikirkan demikian, pantas saja ketiga murid Dinasti Canghan itu bisa terpesona. Setiap murid perempuan dari Sekte Abadi Yaotai memiliki kecantikan yang luar biasa, begitu pula gadis ini, hanya saja Long Xiaohan sama sekali tidak tertarik.
Gadis itu tidak menyangka Long Xiaohan bahkan tidak mengenalinya. Meskipun Sekte Abadi Yaotai bukanlah sekte yang sangat kuat, hampir tidak ada kekuatan apa pun yang tidak mengenal para murid Sekte Abadi Yaotai.
"Aku adalah An Yuyin, saudari seguruan sulung Sekte Abadi Yaotai. Aku memiliki wewenang penuh untuk membuat keputusan ini!" ucapnya tergesa-gesa. Ia yakin sekalipun Long Xiaohan tidak mengenalinya, ia pasti tidak mungkin tidak mengenal saudari seguruan bungsu Sekte Abadi Yaotai.
"Maaf, aku tidak tertarik. Sebaliknya, kau ini sebagai saudari seguruan sulung Sekte Abadi Yaotai, alih-alih memikirkan cara memperkuat sekte, kau malah bernaung di bawah Dinasti Canghan, bahkan demi kepentingan diri sendiri, kau sanggup menjual saudari seguruan di sekte sendiri." Namun, tawaran yang tampak begitu menggoda di matanya itu justru ditolak secara mentah-mentah oleh Long Xiaohan.
Pikiran An Yuyin menjadi benar-benar kosong. Ia sama sekali tidak menduga Long Xiaohan akan menolaknya.
"Untuk melenyapkan kutukan ini, memang dibutuhkan seseorang untuk menanggungnya menggantikan Burung Ji," kata Long Xiaohan.
"Kau ingin aku yang menanggung kutukan ini?!" tanya An Yuyin dengan suara dingin.
Long Xiaohan mengangguk tanpa memandangnya, lalu berjalan menghampiri Burung Ji. Melihat hal itu, secercah pancaran kebencian muncul di mata An Yuyin, dan ia mencibir, "Hanya mengandalkanmu ingin memecahkan kutukan? Dengan tingkat kultivasimu, bahkan untuk mendekati kutukan saja tidak mampu, atau kalau tidak, kau juga akan ikut terkontaminasi kutukan itu."
Kedua ekor Burung Ji juga menatap Long Xiaohan. Di dalam mata Burung Ji yang besar tersirat ketidakpercayaan; bagaimana mungkin seorang anak kecil di alam tahap manusia tingkat enam bisa memecahkan kutukan.
Namun, ketika Long Xiaohan berjalan mendekati Burung Ji besar itu, di sekeliling tubuhnya tampak kerlip cahaya bagaikan bintang, dengan lapisan kabut cahaya tipis yang melayang, seolah-olah ada tujuh rasi bintang yang berbaris.
Tujuh Bintang Berkelip, Niat Biduk!
Saat Tujuh Bintang Biduk menerangi Gunung Teratai Suci dan menjadikannya Tanah Berkah Tujuh Bintang, Long Xiaohan tidak seperti orang lain yang tidak mendapatkan berkah apa pun; ia justru memperoleh Niat Biduk. Niat Biduk tidak mendongkrak kekuatannya seperti berkah pada umumnya, tetapi benda itu mampu melindunginya dari segala macam marabahaya dan kejahatan.
Ini adalah kehendak yang diturunkan langsung oleh Rasi Tujuh Bintang!
Seketika kekuatan kutukan yang menyelimuti tubuh Burung Ji bersentuhan dengan lapisan kabut cahaya di tubuh Long Xiaohan, kekuatan itu meleleh bagaikan salju dan berhamburan lenyap.
"Kau, bagaimana mungkin..." Melihat pemandangan itu, An Yuyin merasa sangat tidak masuk akal dan sulit mempercayainya.
Long Xiaohan berjalan ke sisi Burung Ji, mengerahkan Niat Biduk, dan seketika menyusup ke dalam kutukan tersebut. Ia memang tidak mempelajari pengetahuan tentang kutukan, termasuk metode pemecahannya, tetapi kehendak yang dianugerahkan oleh Rasi Tujuh Bintang adalah penangkal terbaik dari segala ilmu kutukan.
Burung Ji juga merasakan keterkejutan yang luar biasa. Ia dapat merasakan kekuatan kutukan yang telah lama membelenggunya perlahan-lahan memudar, dan luka-luka di tubuhnya pun menutup dengan sendirinya.
Long Xiaohan melirik sekilas ke arah Burung Ji kecil, dan mendapati bahwa kutukan di tubuh anak burung itu juga sedang memudar. Kutukan anak itu berasal dari induknya, sehingga begitu kekuatan kutukan sang induk melebur, ia pun tidak lagi dikutuk.
"Karena kau berniat jahat, terimalah kekuatan kutukan ini dan selamanya terkurunglah di sini," kata Long Xiaohan kepada An Yuyin, sembari menggunakan Niat Biduk untuk mengarahkan kekuatan kutukan itu menyelimutinya.
"Kau..." Wajah An Yuyin seketika berubah drastis, dan ia bergegas hendak melarikan diri. Jika ia dikutuk, ia tidak akan pernah bisa meninggalkan tempat ini selama-lamanya, bahkan mati tua pun tidak diizinkan, dan ia tidak lagi memiliki kendali atas hidup atau matinya sendiri.
Namun, bayangan tubuh Long Xiaohan berkelebat dan seketika menghilang dari tempatnya. An Yuyin tiba-tiba merasakan hawa dingin di punggungnya; sebuah kekuatan tak kasat mata seolah-olah mengebor masuk ke dalam tubuhnya. Ekspresi kesakitan terukir di wajahnya, seolah-olah ada sebuah sangkar tak kasat mata yang mengurungnya.
Ia tahu, dirinya telah dikutuk...
"Argh... Selama aku, An Yuyin, berhasil melepaskan kutukan ini, aku tidak akan pernah melepaskanmu!" teriaknya kencang. Tatapannya saat memandang Long Xiaohan dipenuhi dengan kebencian yang mendalam, matanya memancarkan kedinginan yang tak bertepi. Sedetik kemudian, ia ditarik oleh kekuatan kutukan menuju ke kedalaman gua dan dikurung untuk selama-lamanya.
"Kuk... Kuk..." Burung Ji besar mengepakkan sayapnya sambil mengeluarkan suara kuk-kuk, seolah-olah sedang menyampaikan terima kasih kepada Long Xiaohan.
"Apakah kau adalah makhluk buas purba asli tempat ini?" tanya Long Xiaohan.
Burung Ji menggelengkan kepalanya. Ia aslinya adalah makhluk buas purba dari dunia luar. Setelah menerobos masuk ke dalam Gunung Abadi Naga Biru, ia tersesat ke dalam gua ini tanpa sengaja, namun tidak menyangka bahwa tempat ini ternyata menyimpan kekuatan kutukan.
Long Xiaohan merasa sedikit menyayangkan hal itu. Ia tadinya mengira masih ada berkah di tempat ini, namun tak disangka, alih-alih berkah, tempat ini justru menyembunyikan kekuatan kutukan. Long Xiaohan menoleh ke belakang sejenak, merasakan tatapan penuh kebencian dari An Yuyin di dalam kedalaman gua, lalu mengerutkan kening dan berbalik pergi.
Setelah meninggalkan tempat tersebut, Long Xiaohan merasa sangat terkejut karena Burung Ji memberitahunya bahwa ia telah tinggal di sini selama lima ratus tahun, sementara Burung Ji kecil telah lahir sejak dua ratus tahun yang lalu. Karena terkontaminasi kekuatan kutukan dari tubuh induknya, anak itu tidak pernah bisa tumbuh besar.
Karena Long Xiaohan telah menyelamatkan ibu dan anak Burung Ji tersebut, keduanya merasa sangat berterima kasih kepadanya.
Mereka tidak pergi, melainkan terus tinggal di sisi Long Xiaohan. Meskipun Long Xiaohan tidak memahami bahasa binatang, ia mengerti bahwa Burung Ji besar ingin membantunya memperoleh berkah sebelum meninggalkan tanah berkah tersebut. Bagi Long Xiaohan, ini tentu saja merupakan bantuan yang sangat besar.
Long Xiaohan pun menaiki punggung Burung Ji untuk pergi, dengan Burung Ji kecil yang memimpin jalannya.
Dengan bantuan Burung Ji kecil, jauh lebih mudah baginya untuk menemukan berkah yang cocok. Ia duduk bersila di atas punggung Burung Ji. Meskipun ia telah memperoleh kekuatan waktu, saat ini kekuatan itu baru sebatas kekuatan masa lalu, dan bahkan sebagian besar kekuatan waktu itu belum bisa ia gunakan, sehingga ia masih perlu sering merenunginya dan memahaminya lebih dalam.
Sementara itu, di suatu sudut pegunungan, seorang gadis berambut biru dengan kecantikan yang mencapai tingkat tertinggi menjulurkan jemarinya yang putih mulus bagaikan giok untuk menimba semangkuk air jernih dari aliran sungai kecil yang mengalir perlahan, lalu mengusapnya ke rambut birunya. Seketika, rambut panjangnya memancarkan kilau di bawah sorotan cahaya matahari.
Gadis ini tentu saja adalah sang putri kecil, Mu Lingshuang.
Mu Lingshuang bangkit berdiri, melihat sekeliling, lalu bergumam pelan, "Entah di mana kedua orang itu berada."
Tepat saat ia sedang berbicara, beberapa siluet berkelebat dan muncul di belakangnya. Salah satu dari mereka tersenyum dan berkata, "Ternyata Yang Mulia Putri dari Dinasti Burung Api. Kudengar Yang Mulia baru saja mendapatkan pil rohani dari makhluk purba belum lama ini. Pil rohani itu hanya bisa meningkatkan energi abadi dan sama sekali tidak berguna bagi para praktisi jalur dao. Bagaimana jika Yang Mulia menyerahkannya saja kepada kami?"
Sepasang mata indah Mu Lingshuang memancarkan secercah rasa jijik, lalu ia berucap, "Apa yang kalian rencanakan untuk ditukarkan?"
Mendengar hal itu, orang-orang tersebut tertawa terbahak-bahak. Orang yang sama kembali berkata, "Yang Mulia Putri, kau adalah putri dari Dinasti Burung Api, tetapi kau bukanlah putri kami. Kami sudah cukup menghormatimu dengan mau berbicara baik-baik kepadamu, jadi janganlah bersikap tidak tahu diuntung."
Orang yang lain menimpali, "Kakak Perguruan, untuk apa buang-buang waktu bicara omong kosong dengannya, langsung rampas saja pil rohani itu."
Mu Lingshuang berkata, "Tampaknya para murid tingkat tiga Dinasti Canghan juga gemar merampas barang dari tangan orang lain. Kalian tidak pergi bersaing dengan murid api-emas kami, tidak pula merebut dari murid internal Klan Lin, melainkan datang mencariku, seorang murid api-biru, untuk meminta barang. Sungguh menggelikan."
Selama ini, hampir seluruh murid api-emas, murid tingkat tiga, dan murid internal bersaing satu sama lain dan tidak akan mencampuri pertikaian dari tiga tingkatan murid di bawah mereka. Tak disangka, murid tingkat tiga dari Dinasti Canghan ini begitu tidak tahu malu.
"Sepertinya kau tidak berniat untuk menyerahkannya," cibir pemimpin kelompok tersebut dengan dingin.
Mu Lingshuang tidak berbicara, melainkan menunjukkan sikapnya melalui tindakan. Kekuatan dao tahap manusia tingkat tiga tingkat tinggi dilepaskan, dan aura yang begitu masif langsung meniup rambut panjangnya.
"Huh..." Seseorang mendengus dingin, melepaskan energi abadi, dan gelombang energi abadi yang menggelora langsung melesat membubung ke langit.
"Tangan Abadi Mantra!"
Di tengah gelora energi abadi, sebuah tangan raksasa berwarna giok putih terulur. Di permukaannya terukir prasasti mantra yang rumit, dan di setiap mantra tersebut bergolak energi abadi dengan aura yang luar biasa, menyambar ke arah Mu Lingshuang.
Kekuatan dao Mu Lingshuang berbenturan secara langsung dengannya. Qi spiritual langit dan bumi menjadi kacau baluarte, sementara energi abadi yang mengalir tiada henti memancar dari setiap goresan mantra. Sehelai nyala api tersulut dari niat dao, berkobar dengan dahsyat dari percikan kecil di tengah gelora energi abadi yang megah—itulah Niat Dao Api tahap manusia tingkat tiga!
Melihat hal itu, murid tersebut hanya mencibir dingin, lalu energi abadi yang jauh lebih dahsyat meledak keluar dari tubuhnya. Berarung antara praktisi jalur dao dan praktisi jalur keabadian akan mendatangkan kerugian jika tidak memiliki niat dao yang memadai.
Namun, orang-orang itu tentu tidak akan sebodoh itu mengira bahwa Yang Mulia Putri dari Dinasti Burung Api yang agung ini hanya memahami beberapa jenis niat dao saja. Kendati demikian, tingkat kultivasi mereka jauh lebih tinggi; betapa pun banyaknya niat dao yang dipahami oleh Mu Lingshuang, mereka tidak merasa cemas sedikit pun.
Mu Lingshuang menjentikkan kelima jari tangannya yang putih mulus dengan ringan, melepaskan lima niat dao angin yang hampir tak kasat mata namun sangat tajam.
Niat Dao Angin, juga berada di tahap manusia tingkat tiga tingkat tinggi!
Bumi bergetar, Niat Dao Tanah Tebal meletus, dan rumpun demi rumpun pohon rambat abadi berwarna hijau tua tumbuh merambat dari dalam tanah. Aura kehidupan yang pekat memenuhi seluruh penjuru langit dan bumi. Di angkasa, sinar matahari bersinar terang, memancarkan berkas demi berkas cahaya keemasan, sementara suara deburan ombak yang panjang sayup-sayup terdengar.
Niat Dao Tanah Tebal, Niat Dao Kayu, Niat Dao Cahaya, dan Niat Dao Air semuanya dihantamkan keluar oleh Mu Lingshuang, dan semuanya berada di tingkat manusia tingkat tiga tingkat tinggi.
Kekuatan dao yang masif dan energi abadi yang menggelora kembali berbenturan dengan hebat, menciptakan suara ledakan yang memekakkan telinga. Bahkan tanah di bawah kaki Mu Lingshuang retak dan pecah berkeping-keping, memunculkan celah-celah yang menganga.
Bum!
Di antara mereka berdua, sekumpulan udara berbentuk garis panjang meledak hancur di bawah gelombang kejut yang dahsyat. Tak seorang pun menyangka bahwa keenam jenis niat dao yang dipahami oleh sang putri ini semuanya telah mencapai tingkat manusia tingkat tiga tingkat tinggi. Seandainya ia memahami dua jenis niat dao lebih sedikit saja, ia mungkin sudah menjadi seorang murid api-emas.
Namun, di saat semua orang diliputi keterkejutan, mereka tiba-tiba mendengar sebuah teriakan kesakitan. Sesaat kemudian, tampak murid tersebut tubuhnya dipenuhi dengan luka-luka yang tak terhitung jumlahnya, melayang mundur akibat hantaman keras, dan menabrak hutan lebat, merubuhkan satu demi satu batang pohon yang dilewatinya.
"Niat Dao Bayangan, sekali lagi berada di tahap manusia tingkat tiga tingkat tinggi!"