Jilid Dua: Hujan Pertama — Bab 136: Kakak Seperguruan dan Adik Seperguruan
Halaman (1/3)
Di Gunung Rusa Harimau, di sebuah paviliun kecil yang sunyi, Li Tien’er duduk seorang diri sambil melamun. Sesekali ia menatap langit dan menghela napas panjang, tampak begitu gundah.
“Ehem!”
Tiba-tiba, seseorang berdeham di sampingnya.
Li Tien’er baru tersadar. Begitu bangkit dan melihat siapa yang datang, ia segera memberi salam, “Kak Ding!”
Orang yang datang itu adalah Ding Huangying, mengenakan gaun panjang berwarna kuning cerah.
“Aku sudah memperhatikanmu cukup lama. Sedang memikirkan apa?” goda Ding Huangying.
Wajah cantik Li Tien’er seketika memerah. Ia menundukkan kepala. “Ti-tidak ada.”
Ding Huangying tersenyum, lalu duduk perlahan. Ia menggenggam lembut kedua tangan kecil Li Tien’er yang halus seperti tanpa tulang, membuat wajah gadis itu semakin merona.
“Perasaan seorang gadis yang sedang jatuh hati paling kupahami. Ceritakan saja kepada kakak. Jangan-jangan kau menyukai salah satu murid pria di perguruan ini?” Ding Huangying terkekeh.
“Tentu saja tidak! Kakak memikirkan apa, sih?” Li Tien’er mengerutkan kening dan segera menggeleng.
“Benarkah bukan?” Ding Huangying bertanya heran.
Li Tien’er mengerucutkan bibir. Kemudian ia duduk di sebelahnya, menopang dagu, dan memandangi pohon willow di samping paviliun dalam diam.
“Kalau begitu, aku benar-benar tidak tahu apa lagi yang bisa membuat gadis kecil sepertimu begitu gelisah,” ujar Ding Huangying sambil menggeleng.
Li Tien’er menatapnya dengan sungguh-sungguh. Setelah berpikir sejenak, ia mendekat dan berkata, “Kak, memang ada hal yang membuatku gelisah. Tetapi sama sekali bukan karena aku menyukai seseorang. Aku tidak pernah tertarik pada hal semacam itu!”
Ding Huangying tertawa. Ia mengangkat jarinya dan menjentik dahi Li Tien’er dengan lembut. “Katakanlah. Apa yang sebenarnya membuatmu gelisah? Jangan-jangan kau mengkhawatirkan kemajuan latihanmu yang tidak meningkat?”
Li Tien’er kembali menggeleng. “Bukan itu. Lagi pula, kemajuan latihanku akhir-akhir ini sangat pesat. Para tetua bahkan memujiku!” katanya dengan sungguh-sungguh.
Ding Huangying mengamatinya dengan cermat. Gadis kecil ini ternyata sudah mencapai tingkat tiga. Itu benar-benar pencapaian yang luar biasa.
Beberapa saat kemudian, Li Tien’er berkata, “Aku hanya ingin tahu... mengapa Yang Mulia Agung tidak memberi kabar selama ini?”
“Sejak meninggalkan gunung terakhir kali, beliau tidak pernah kembali...” Ia menghela napas.
Ding Huangying seketika membelalakkan mata dan terdiam cukup lama.
“Jangan-jangan kau menyukai Yang Mulia Agung?” tanyanya dengan sangat terkejut.
Wajah Li Tien’er langsung memerah. Ia buru-buru menggeleng. “Tidak, tidak, tentu saja tidak! Yang Mulia Agung itu... bagaimana mungkin aku...” Karena gugup, ia bahkan tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Melihat hal itu, Ding Huangying kembali tertawa. “Sudahlah, aku hanya menggodamu. Tak perlu dianggap serius. Menurutku, kau hanya mengagumi Yang Mulia Agung, bukan? Karena itu kau bertanya-tanya mengapa beliau sudah begitu lama tidak datang, benar?”
Li Tien’er segera mengangguk. “Ya, memang begitu!”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Yang Mulia Agung sangat banyak memberiku dorongan. Akhir-akhir ini aku terus berharap bisa memperlihatkan kemajuanku kepada beliau. Namun, beliau tidak pernah datang ke gunung. Sementara itu, aku juga tidak memiliki kesempatan untuk turun gunung.” Li Tien’er menundukkan kepala dan menghela napas.
Ding Huangying ikut menghela napas, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, “Tien’er, karena kau sudah menanyakan hal ini, biarkan kakak menjelaskannya dengan baik.”
“Walaupun secara nama Yang Mulia Agung adalah bagian dari perguruan kita, beliau tidak seperti para tetua dan pertapa sejati yang harus setiap hari berada di gerbang perguruan untuk mengurus berbagai urusan. Beliau juga tidak seperti Pertapa Kutub Utara. Sejujurnya, beliau hanyalah tamu kehormatan kita. Jika ada urusan besar, kita dapat mengundangnya datang. Namun, dalam keadaan biasa, mustahil beliau sering datang kemari.”
Li Tien’er akhirnya memahami maksudnya. “Jadi, Yang Mulia Agung mungkin tidak akan datang lagi di kemudian hari?” tanyanya.
Wajahnya seketika dipenuhi kekecewaan, seperti seorang anak yang kehilangan mainan paling disayanginya.
“Tentu saja bukan begitu.”
“Yang Mulia Agung memiliki urusan sendiri di dunia fana yang harus beliau pikirkan. Wajar jika beliau tidak dapat sering-sering datang ke gunung kita. Namun, jika kita memiliki urusan, beliau tetap akan datang kemari! Saat itulah kau bisa bertemu dengannya lagi!” Ding Huangying segera menghiburnya.
Li Tien’er tentu memahami maksud perkataan itu. Ia mengangguk pelan, tetapi kekecewaan di matanya masih sulit disembunyikan.
“Kak, sebenarnya aku sudah lama memahami arti sebutan ‘tamu kehormatan agung’. Aku hanya ingin memastikannya sekali lagi.”
“Yang Mulia Agung benar-benar orang yang sangat baik. Andai aku bisa terus bertemu dengannya dalam waktu yang panjang...” Li Tien’er menghela napas.
“Benar. Yang Mulia Agung adalah salah satu sosok terkuat di dunia ini. Jika beliau dapat sering membimbing kita, itu tentu merupakan keberuntungan yang luar biasa. Namun, hal itu juga sangat tidak realistis.”
“Yang Mulia Agung adalah seorang mahaguru yang telah menempuh Jalan Agung di tengah dunia fana. Hanya saja, dalam kehidupan beliau kali ini di dunia manusia, takdir mempertemukan beliau dengan kita. Beliau adalah seseorang yang akan menjadi makhluk abadi. Kita dan beliau benar-benar berasal dari dunia yang berbeda.” Ding Huangying menghela napas.
Li Tien’er mengangguk dalam diam. Kini ia benar-benar memahami kebenaran itu.
“Namun, jika kau ingin bertemu dengannya, kau bisa diatur untuk pergi ke kota dan membantu di kedai milik Pertapa Kutub Utara. Tempat itu tidak jauh dari kediaman Yang Mulia Agung. Di sana, kau seharusnya dapat sering bertemu dengannya.” Ding Huangying menatapnya dengan sungguh-sungguh.
“Benarkah?” Li Tien’er seketika menjadi bersemangat.
“Tentu saja. Pengaturan ini tidak sulit. Sekarang, para murid biasa berada di bawah pengaturanku. Lagi pula, kau sudah mencapai tahap di mana kau tidak perlu terus-menerus tinggal di gunung untuk berlatih keras. Mungkin, menjalani pengalaman di dunia fana akan lebih baik bagimu.” Ding Huangying tersenyum lembut.
“Bagus sekali! Terima kasih, Kak! Ini yang selama ini kuharapkan!” Li Tien’er segera mengucapkan terima kasih.
“Tidak perlu berterima kasih. Lagi pula, Pertapa Kutub Utara juga sudah berulang kali mengatakan kepadaku bahwa ia ingin perguruan mengirim lebih banyak orang yang sesuai ke sana. Ia kekurangan beberapa orang cakap untuk membantunya,” ujar Ding Huangying.
Li Tien’er berpikir sejenak, lalu bertanya, “Kak, sejak kecil aku belum pernah turun gunung atau memasuki kota. Ada banyak hal yang tidak kupahami...”
“Aku tahu apa yang kau khawatirkan.”
“Memang ada banyak orang jahat di dunia fana. Namun, kau tidak akan pergi dan hidup sendirian di kota. Kau akan berada di bawah naungan Pertapa Kutub Utara. Dengan adanya Pertapa Kutub Utara serta dua kakak seperguruan di sisimu, apa lagi yang perlu kau cemaskan?” Ding Huangying berusaha menenangkannya.
“Benar juga! Perkataan Kakak tepat!” Li Tien’er mengangguk riang. Seluruh wajahnya seketika tampak cerah.
“Sesungguhnya, bagimu, sekarang memang sudah waktunya memasuki dunia fana untuk menimba pengalaman. Bagi seorang praktisi Jalan Abadi, terkurung seumur hidup di dalam perguruan sebenarnya adalah hal yang buruk. Itu akan membuat wawasanmu menyempit sehingga kau tidak dapat melihat dunia yang lebih luas. Pemahamanmu terhadap latihan dan dunia juga akan menjadi sangat terbatas, sehingga kau tidak mampu mencapai pengertian yang lebih mendalam. Hal itu sangat merugikan bagi latihan pada tingkat yang lebih tinggi,” jelas Ding Huangying.
“Kak, aku memahami maksudmu. Hanya saja, sejak kecil aku tidak pernah benar-benar memiliki guru yang membimbingku. Ayah juga tidak pernah mengurusi latihanku. Jadi, selama ini aku belajar dan mencari jalan sendiri. Belakangan ini aku juga merasa sepertinya memang sudah waktunya pergi melihat-lihat dunia fana. Namun, aku merasa takut dan tidak tahu apakah itu keputusan yang tepat.” Li Tien’er menghela napas.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Ding Huangying tersenyum dan mencubit lembut hidungnya yang mungil. “Tentu saja itu keputusan yang tepat.”
“Dahulu kau tidak memiliki guru, itu bukan masalah. Sekarang kau akan segera berada di sisi Pertapa Kutub Utara. Dengan bimbingannya, masa depanmu pasti sangat cerah. Lagi pula, kau mampu mencapai tingkat tiga dalam waktu sesingkat ini. Bakatmu jelas tidak buruk. Aku yakin, tidak lama lagi kau pasti akan mencapai tingkat empat atau bahkan lebih tinggi! Sepuluh tahun lagi, mungkin kau sudah menjadi seorang pertapa sejati!” Ding Huangying tersenyum.
Li Tien’er langsung merasa sangat bahagia, tetapi kemudian berkata dengan tenang, “Kak, aku tahu kau hanya sedang menyemangatiku.”
“Aku sendiri tentu tahu bagaimana bakatku. Apalagi sekarang kita berada di zaman kemunduran hukum langit dan bumi. Bahkan jika dunia masih berada dalam keadaan sempurna seperti dahulu, dengan bakat dan kemampuan seperti milikku, mustahil aku menjadi seorang pertapa sejati. Hanya orang dengan bakat luar biasa seperti Kakak yang mungkin mencapainya. Bagiku, bisa berharap mencapai tingkat empat saja sudah merupakan keberuntungan besar.” Li Tien’er menundukkan kepala.
“Siapa yang mengatakan hal seperti itu?” Ding Huangying mengerutkan kening.
“Dengarkan baik-baik. Bakat bawaan tidak pernah menjadi penentu seberapa tinggi pencapaian seseorang. Jangan sampai kau membatasi dirimu sendiri karena hal itu, mengerti?”
“Yang jauh lebih penting daripada bakat adalah apakah kau memiliki keteguhan untuk bertahan sampai akhir. Apakah kau memiliki keyakinan yang kuat. Masih banyak hal lainnya. Bakat hanyalah salah satu bagian yang paling tidak mencolok. Bakat sama sekali bukan penentu mutlak. Lagi pula, bakatmu juga jelas tidak buruk.”
“Mungkin pada awalnya langkahmu sedikit lebih lambat. Namun, sekarang kau sudah berhasil menyusul.”
“Mencapai tingkat tiga pada usiamu merupakan hal yang sangat langka, bahkan di antara tujuh perguruan besar. Jadi, percayalah sedikit kepada dirimu sendiri! Kau sama sekali tidak buruk. Kau bahkan sangat luar biasa! Kakak sangat percaya kepadamu. Apakah kau percaya kepada dirimu sendiri?” tanya Ding Huangying.
“Percaya! Aku percaya kepada diriku sendiri!” seru Li Tien’er sambil mengangkat tinjunya yang kecil dan terkepal tinggi-tinggi.
Beberapa murid yang kebetulan lewat di jalan segera menoleh dengan terkejut. Wajah mungil Li Tien’er seketika memerah karena malu.
Ding Huangying menutup mulutnya sambil tertawa.
“Bagus. Memang harus memiliki semangat seperti itu. Yang paling penting adalah kepercayaan diri. Kau tidak perlu lagi bersikap serba takut dan ragu seperti dahulu. Kau sama sekali tidak buruk!”
“Lagi pula, kau adalah orang yang pernah dipuji oleh Yang Mulia Agung! Di seluruh perguruan ini, berapa banyak orang yang bisa mendapatkan kehormatan seperti itu?” ujar Ding Huangying.
“Benar! Tepat sekali! Aku adalah orang yang diperhatikan oleh Yang Mulia Agung!” Li Tien’er segera menegakkan punggungnya dan menjadi sangat percaya diri.
“Baiklah, aku akan segera menyampaikan masalah ini kepada Pertapa Kutub Utara. Dalam beberapa hari, pengaturan untuk menurunkanmu dari gunung akan selesai. Nanti akan ada murid luar khusus yang mengantarmu ke sana. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.”
“Selama beberapa hari ini, kau hanya perlu mempersiapkan diri. Pelajarilah berbagai pengetahuan mengenai kehidupan dunia fana masa kini, supaya ketika tiba di kaki gunung, kau tidak benar-benar tampak seperti orang dari zaman kuno.”
“Aku mengerti, Kak!” Li Tien’er mengangguk berulang kali.
“Ya. Kakak sangat percaya kepadamu. Ini adalah kesempatan yang sangat penting. Berusahalah dengan baik!” Ding Huangying tersenyum sambil mengusap rambutnya.
Li Tien’er tertawa dengan sangat bahagia hingga kedua matanya menyipit menjadi sepasang garis.
Halaman (3/3)