Jilid Satu, Guguran Bunga Merah, Bab Lima Puluh Lima: Gagal Berpura-pura Hebat
Amarah meledak! Dua orang ahli sejati sekaligus turun tangan! Pemandangan seperti ini sungguh jarang terjadi sejak zaman kuno. Sebab, para kultivator di tingkat ini sangat menghargai nyawa dan kekuatan mereka, tak akan sembarangan bertarung hanya demi harga diri.
Malaikat Pendekar Pemenggal Naga, Mo Shang, tiba-tiba memunculkan bayangan naga sejati di belakangnya. Auranya begitu dahsyat, seakan mampu mengguncang dewa dan iblis. Napasnya belum pernah sekuat saat ini.
Baru saja ia hendak bergerak, tiba-tiba Yuan Pingcong di depannya malah tertegun. Namun, tatapannya bukan tertuju pada Mo Shang, melainkan ke belakangnya.
“Muslihat murahan seperti ini masih kau pakai? Sungguh menggelikan!” Mo Shang mencibir.
“Yang Mulia Taishang?” Yuan Pingcong menatap orang yang berdiri di ambang pintu di belakang Mo Shang, mendadak tersenyum.
Mo Shang mendengus dingin, “Taishang apaan. Sampai gelar seperti itu pun bisa-bisanya kau karang. Yuan Pingcong, kupikir kau berubah lantaran tadi tiba-tiba emosi, ternyata tetap saja pengecut. Hanya bisa memakai cara-cara licik seperti ini! Sudahlah, aku akan—”
“Kalian berdua, apa yang sedang kalian lakukan...” Tiba-tiba, tepat ketika ia hendak mengerahkan seluruh kekuatan untuk menumpas musuh bebuyutannya, suara dari belakangnya membuatnya tertegun total. Ia segera mengenali suara siapa itu. Meski hanya sekali bertemu, suara itu sudah terpatri dalam ingatannya.
Dengan susah payah ia menoleh, dan benar saja, yang paling tidak ingin ia temui ada di sana.
“Kau... Yang Mulia Kaisar!” Seketika seluruh auranya lenyap. Ia tahu, kekuatan macam apa pun sia-sia di hadapan sang Kaisar. Sosok ini benar-benar mengguncang dunia, pantas menyandang gelar Kaisar.
Orang yang datang itu adalah Ye Fei.
Ia kebetulan lewat saat belanja di pasar swalayan, lalu menyaksikan semua ini.
“Hei, ramai sekali. Kalian berdua, rupanya pelajaran tempo hari belum cukup, ya? Masih saja bertarung? Kali ini malah melibatkan orang tak bersalah! Keterlaluan!” Ye Fei melangkah masuk dan langsung memarahi mereka begitu melihat tiga orang tergeletak pingsan di lantai.
“Yang Mulia Taishang, semua gara-gara orang ini! Ia benar-benar biang kerok! Dan dua orang itu adalah murid Lembah Rusa dan Macan!” Yuan Pingcong segera mendekat dan menjelek-jelekkan Mo Shang.
Mo Shang langsung terkesiap, “Aku... Yang Mulia Kaisar, sungguh bukan aku...”
“Diam! Kau ini benar-benar keterlaluan! Bukan cuma selera berpakaianmu buruk, watakmu juga sama parahnya! Sudah kubilang kemarin supaya menyerahkan diri, sudah kau lakukan?” Ye Fei menegur dengan kedua tangan di pinggang.
“Sudah... sudah. Tapi para penjaga malah bilang aku sakit jiwa...” keluh Mo Shang.
Yuan Pingcong pun tertawa, “Sakit jiwa? Jelas saja kau sakit jiwa!”
“Yuan Pingcong! Kalau kau ingin mati, kita bisa bertarung lagi di sini!” geram Mo Shang.
“Eh, Yang Mulia Taishang, Anda jadi saksi! Semua gara-gara dia hari ini! Aku tadinya santai minum arak, tahu-tahu dia datang, memukul dua muridku hingga pingsan, memaksa duel hidup mati denganku! Semua karena dia!” kata Yuan Pingcong.
“Yuan Pingcong! Kau benar-benar...” Mo Shang sangat murka. Tak disangka, sesama ahli sejati bisa bertindak seperti ini. Mengadu di depan orang lain adalah hal paling memalukan baginya.
“Cukup!” hardik Ye Fei.
“Sekarang aku paham, kau ini benar-benar biang semua keburukan. Tak bisa dibiarkan lagi!” Ye Fei berkata dingin, penuh wibawa.
Ia lalu menyilangkan tangan di belakang punggung, memasang gaya seorang tokoh agung. Ia menunggu kekuatan adiknya muncul untuk menindas orang ini.
Namun, lama berlalu, tak terjadi apa-apa. Ketiganya tertegun.
Yuan Pingcong heran. Mo Shang antara lega dan bingung. Sedangkan Ye Fei... sial, gagal pamer kekuatan! Kemampuan adikku tak aktif!
“Tahu kenapa aku tidak benar-benar turun tangan?” tanya Ye Fei dengan angkuh.
“Hamba tak tahu...” Mo Shang hampir menangis.
“Masih tak tahu? Ini karena kemurahan hati Yang Mulia Taishang, sehingga langit dan bumi pun terharu, membuat orang terpesona dan kagum!” Yuan Pingcong buru-buru menyanjung.
Ye Fei melongo, eh? Aku semulia itu?
“Hormat dan terima kasih pada Yang Mulia Kaisar yang telah mengampuni hamba!” Mo Shang langsung berlutut.
Ye Fei berdeham beberapa kali untuk menenangkan diri, “Konon, langit menjunjung kebajikan dan kehidupan. Kau sudah berusaha keras menempuh jalan kultivasi, aku tak sampai hati melenyapkanmu. Itu akan melanggar jalan kebenaran. Maka, kuberi kau kesempatan hidup.”
“Terima kasih Yang Mulia! Mulai sekarang, hamba akan selalu bersyukur! Anda bagaikan ayah kedua bagi hamba!” Mo Shang berseru sambil menangis. Setelah selamat dari maut, ia yakin harus menempel pada orang kuat ini!
“Cukup! Jangan panggil aku ayah segala!” Ye Fei buru-buru mengibaskan tangan.
“Huh. Yang Mulia Taishang sudah punya anak angkat, yaitu pemimpin baru Lembah Rusa dan Macan! Kau terlambat. Jangan bermimpi jadi anak angkat lagi,” Yuan Pingcong tertawa.
Mo Shang terpaku. Pemimpin baru Lembah Rusa dan Macan? Wei Zuodong yang hampir seratus tahun itu? Ia berani-beraninya mengakui Yang Mulia Kaisar sebagai ayah angkat?! Sungguh tak tahu malu! Memang benar, Lembah Rusa dan Macan isinya orang-orang tak tahu malu!
“Jangan ungkit lagi soal itu,” Ye Fei melirik tajam ke arah Yuan Pingcong.
Yuan Pingcong tertawa kering, mengingat kejadian itu memang lucu.
“Pokoknya, kau pergi! Jangan ganggu Yuan Zhenren lagi. Kalau lain kali berani, aku pastikan kau tak akan pulang dengan nyawa! Paham?” tegur Ye Fei.
Mo Shang mengangguk serius, sadar bahwa kali ini ia hanya selamat karena belas kasihan. Tak akan ada kesempatan kedua. “Patuh pada perintah Yang Mulia!”
“Pergilah!” Ye Fei mengibaskan tangan, Mo Shang pun segera membawa perempuan berjubah hitam itu pergi tanpa suara.
“Sungguh merepotkan. Hidupku sudah sibuk, harus belanja, harus masak. Aduh, aku harus cepat-cepat pulang masak!” Ye Fei melihat jam, langsung membawa sekantong bahan makanan dan berlari pergi, tak peduli Yuan Pingcong mau berkata apa lagi.
“Eh, Yang Mulia Taishang? Tinggal dulu minum arak bersama!” teriak Yuan Pingcong, tapi Ye Fei sudah jauh.
Yuan Pingcong hanya mencibir, “Yang Mulia Taishang, selamanya memang begitu, pria aneh yang tak tertebak!”
...
“Huh. Dasar Ye Fei, lagi-lagi mau pamer pakai kekuatanku. Kali ini, biar saja gagal, supaya lain kali tahu diri hormat padaku.” Di rumah, Ye Kongning berkata dengan nada tinggi. Ye Fei sama sekali tak tahu sebab kegagalannya tadi.
Saat itu, ia buru-buru pulang dan bertanya pada adiknya, “Yang Mulia Ratu, adik kecil, Kongning, Ningning...” Ye Fei sampai mengganti panggilan berkali-kali.
“Ada apa?” Ye Kongning pura-pura santai, padahal tahu apa yang ingin Ye Fei tanyakan, sengaja bertanya lambat-lambat demi menjaga wibawa.
“Kenapa lambang spiritual yang kau tinggalkan tadi tiba-tiba tak bisa kugunakan?” Ye Fei bertanya cemas.
“Kau tak tahu betapa malunya aku tadi. Hampir saja gagal total. Bisa saja aku dibunuh di tempat! Menakutkan sekali!” Ye Fei masih merasa trauma, membayangkan apa yang bisa terjadi jika ia tak segera beradaptasi.
“Tenang saja, aku mengawasi kok. Tak akan kubiarkan kau celaka,” adiknya mengejek.
“Jadi, kau memang sengaja membiarkanku gagal pamer?” Ye Fei mengerling curiga.
Senyum adiknya langsung kaku. Ia buru-buru melirik ke arah lain, dengan sangat canggung bersiul pelan.
“Aku sudah makan malam ini, tak perlu kau masakkan lagi.”