Ingin bertanya, bagaimana jika adik angkatku ternyata benar-benar seorang gadis dengan fantasi tingkat tinggi? Dia selalu mengaku sebagai Ratu Agung dari dunia para kultivator. Ingin bertanya lagi, bagaimana kalau ternyata semua yang dia ucapkan itu benar? Dia memang pernah menjadi Ratu Agung di dunia para kultivator!? Lalu, apa yang bisa kulakukan? Tentu saja, aku akan menempel erat padanya! Kakak hebat, silakan minum teh! Kakak hebat, silakan makan ayam goreng! Judul lain: Kisah Bukan dari Dunia Abadi —【Buka】【Tutup】
“Ah, sungguh menyiksa... Naskahnya benar-benar tak bisa kutulis...”
Menjelang tenggat pengumpulan naskah, namun tak satu kalimat pun berhasil ditulis, penulis bernama Leafei menenggelamkan kepalanya ke tembok.
“Feifei, kami pulang!” terdengar suara ibu dari ruang tamu.
Leafei segera keluar dari kamarnya, melangkah ke ruang tamu. Biasanya, kepulangan ayah dan ibu di jam segini berarti sudah waktunya memasak, inilah saat yang paling ia tunggu-tunggu setiap hari.
“Eh? Siapa gadis ini...”
Tak seperti harapannya, kedua orang tuanya tak membawa pulang belanjaan berisi sayur, daging, atau aneka camilan, melainkan menggandeng seorang gadis berambut pirang yang tampak berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun. Leafei kebingungan, siapa gadis ini? Kenapa pulang bersama orang tuanya? Terus, bagaimana dengan makan malamku?!
“Feifei, menurutmu dia cantik tidak?” Ibu mendekat dengan senyum aneh.
Leafei memerhatikan gadis itu dengan saksama, wajahnya masih sangat muda, namun tampak polos dan manis.
“Hmm, cantik kok.”
Ia menjawab, dan seketika tatapan mereka bersirobok. Gadis itu sama sekali tidak malu, justru menatapnya lekat-lekat dengan sorot penuh penilaian, membuat Leafei jadi sedikit memerah dan jengah, buru-buru mengalihkan pandangan ke arah ibu.
“Siapa sebenarnya gadis ini... Dan kenapa kalian pulang terlambat hari ini?” tanya Leafei, “Selain itu, aku sudah hampir mati kelaparan!”
“Sabar, sabar, kami memang mau memberitahumu kabar baik!” Ibu tertawa riang seperti biasa.
“Ayo, Nak, duduk. Aku dan ibumu mau kasih