Bab 151: Membawa Setengah Karung Tepung Jagung
Harga yang ditawarkan Sang Ning untuk kedelai berkualitas tinggi miliknya, jika disesuaikan dengan harga sebelum kenaikan, sukses membuat ayah dan anak dari keluarga Li itu tercengang.
Ayah Li merasa tidak percaya.
Sementara itu, Li Xiaofang diam-diam melirik Su Huiye, lalu menunduk sambil menggigit bibirnya.
Dalam hatinya, ia yakin bahwa harga serendah itu diberikan karena pemuda tersebut.
Sang Ning memanfaatkan situasi untuk mendorong keputusan mereka, mengatakan betapa kacaunya dunia di luar, dan sebagainya. Ayah dan anak itu hampir tidak berpikir dua kali dan memutuskan untuk tidak jadi pergi.
Akhirnya, Nona Xiaofang bahkan mengantar mereka keluar sendiri.
Begitu melangkah keluar, wajah Su Huiye tampak memerah karena sangat gembira!
Tadi, Xiaofang meliriknya beberapa kali, lho!
Apakah penampilannya benar-benar sudah menjadi lebih tampan?
Atau memang Nyonya Sang yang memiliki mata jeli? Orang-orang kasar di kamp militer itu hanya bisa menertawakannya karena tidak memiliki janggut!
"Jenderal Su, nanti utuslah seseorang untuk mengambil kedelai ke rumahku, lalu Anda sendiri yang mengantarkannya kemari. Bukankah dengan begitu Anda bisa berbicara dengannya secara terang-terangan?
Menurutku, Nona Xiaofang sangat cocok bersanding dengan Anda."
"Benarkah? Begitukah?"
"Tentu saja, benar sekali. Namun, Anda juga harus menyiapkan sedikit kejutan. Setiap wanita menyukai bunga. Nanti, jika Anda mengirimkan dua ekor anjing serigala kepadaku, akan kuberikan sebuket bunga langka yang jarang ditemui di dunia ini. Aku jamin Nona Xiaofang akan berdebar-debar hatinya karenamu!"
"Baik!!!!"
Su Huiye hanya mendengarkan empat kata: berdebar-debar hatinya!
Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyetujuinya.
Begitu kata itu terucap, barulah ucapan Sang Ning meresap ke dalam benaknya, membuatnya terbelalak.
"Tidak, tidak bisa. Anjing serigala apa? Kudengar, rasa sukuku pada Xiaofang adalah urusan pribadiku, tidak boleh menggunakan barang apa pun dari kamp militer sebagai alat barter.
Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu, dan aku bisa menggunakan gaji militerku untuk mengganti kerugian uang kedelaimu itu.
Namun, anjing serigala tidak boleh kuberikan kepadamu."
Sang Ning tertegun sejenak.
Hanya dua ekor anjing serigala, ia mengira itu adalah hal sepele, sehingga ia merasa sedikit bingung.
Namun, rasa hormatnya tetap muncul.
Memisahkan kepentingan pribadi dan kelompok dengan begitu jelas membuktikan bahwa ia adalah seorang pemimpin yang baik.
"Jenderal Su, bolehkah kutau mengapa tidak boleh diberikan? Aku bisa menukarnya dengan harta benda, atau anak anjingnya saja juga boleh."
"Bukan begitu, Nyonya Sang. Anjing serigala memang tidak bisa diberikan kepadamu," ujar Su Huiye dengan ekspresi serius.
Tatapannya menyiratkan rasa sakit yang tersembunyi.
"Anjing serigala adalah hewan yang langka. Mulai dari pembiakan hingga pelatihan, semuanya membutuhkan waktu yang sangat lama. Namun, setiap kali perang terjadi, hampir semuanya selalu gugur.
Dua tahun lalu, dalam pertempuran terakhir melawan Xiliao, tidak ada satupun anjing dewasa di kamp militer yang kembali..."
Mata Su Huiye terasa perih. Ia masih ingat, dua kali ia terdesak hingga jatuh dari kudanya di hadapan musuh, dan pada saat itulah anjing-anjing serigala membawakan senjatanya kembali, berlari di antara kaki-kaki kuda, menerkam para pemanah musuh yang bersembunyi, serta merebut kesempatan hidup bagi para prajurit.
"Setiap anjing serigala memiliki nama. Mereka bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan rekan seperjuangan, saudara, dan keluarga kita.
Saat ini, kamp militer hanya menyisakan sepuluh ekor anjing serigala, yang merupakan keturunan dari kelompok sebelumnya. Awal musim semi lalu, ketika istana kekaisaran terlambat mengirimkan pasokan gandum dan bayaran selama dua bulan, para prajurit membawa kesepuluh anjing ini masuk ke dalam gunung setiap hari untuk bertahan hidup.
Hanya saja, dua di antaranya terluka parah, kaki mereka patah digigit serigala..."
Su Huiye berhenti sejenak, seolah berusaha menenangkan emosinya.
"Namun, kami tetap bersedia memelihara mereka, bahkan jika kami harus menyisihkan makanan dari jatah kami sendiri."
Sang Ning mendengarkannya dengan perasaan sangat tersentuh.
Anjing militer, ternyata sudah ada sejak zaman dahulu.
Setia, berani, tanpa rasa takut, dan keberadaan mereka melampaui banyak umat manusia.
Mereka sama seperti para prajurit tak terhitung yang mengorbankan nyawa demi negara—mereka adalah pahlawan, dan tidak boleh lagi diperlakukan sekadar sebagai ternak.
"Kalau begitu, bagaimana jika aku menginginkan kedua ekor anjing yang cacat itu?"
Asalkan masih bisa menyalak, itu sudah cukup!
Keturunan yang unggul seperti itu, meski cacat, tetap jauh lebih baik daripada kebanyakan anjing biasa.
Ia tidak keberatan, anggap saja merawat keturunan para pahlawan di hari tua mereka!
Tanpa diduga, Su Huiye malah murka: "Nyonya Sang! Aku menghormatimu sebagai keluarga Hou Boyang makanya aku mengatakan semua ini padamu, jangan keterlaluan!"
Suaranya yang menggelegar membuat Sang Ning terperanjat.
Ada apa ini sebenarnya?
"Memangnya apa salahku?"
"Sudah kubilang anjing serigala itu adalah saudara-saudara kami, dan kau masih berniat memakannya?!"
Sang Ning: "..."
Sialan!
Mengapa musim semi sepertinya masih terasa begitu jauh, tetapi duri musim semi sudah muncul duluan?
Sore itu juga, Su Huiye mengirimkan dua ekor anjing cacat itu ke kediaman keluarga Huo.
Sebagai gantinya, ia benar-benar mendapatkan sebuket bunga harum yang mempesona.
Sungguh indah sekali!
Bahkan seorang pria sepertinya pun dibuat terpesona!
Kendati demikian, ia tetap tidak melupakan Dagang dan Xiaohong.
Ia berjongkok di sana cukup lama untuk mengelus mereka.
"Nyonya Sang, kalian benar-benar tidak akan memakan Dagang dan Xiaohong, kan? Jika sampai kalian memakannya, Jenderal ini tidak akan melepaskan kalian."
Sang Ning memasang wajah tanpa ekspresi: "Jenderal Su, bolehkah aku mengganti nama Dagang dan Xiaohong?"
"Tidak boleh. Mereka sudah mengingat nama ini sejak lahir. Jika kau sembarangan mengubahnya, mereka mungkin tidak akan mengenalinya."
Baiklah kalau begitu!
Dagang dan Xiaohong.
Huo Chang'an tertegun melihatnya.
Bukankah Sang Ning bukan tipe orang yang suka merugi? Mengapa ia malah membawa pulang dua ekor anjing yang tidak berguna?
Yang satu patah kedua kaki depannya, yang satu lagi patah kedua kaki belakangnya, ditambah kondisi mental yang lesu dan wajah yang penuh bekas luka.
Entah mengapa, ada sedikit rasa familiar.
Kenapa ia mendadak teringat pada dirinya sendiri di masa lalu?
"Kau..."
"Jangan banyak tanya! Ini adalah anjing-anjing pahlawan. Jangan menilai mereka dari tampilannya yang jelek lalu merendahkannya; kesetiaan dan kejujuran di lubuk hati mereka jauh lebih berharga daripada segalanya."
Seluruh anggota keluarga pun tidak ada yang bertanya lagi.
Jinxiu berjalan mengitari mereka dan bertanya, "Apakah mereka bisa beranak?"
Ah, benar juga!
Apakah mereka jantan atau betina?
Sang Ning lantas berjongkok untuk memeriksanya.
Ha! Ternyata benar-benar jantan dan betina!
Mereka bisa beranak-pinak!
Namun, mereka harus dirawat terlebih dahulu karena terlalu kurus, dan bulunya bahkan rontok di beberapa bagian.
Kedua ekor anjing itu menatap tenang ke arah rumah baru dan pemilik baru mereka, kelopak mata mereka berkedip perlahan, memancarkan kelembutan.
Sebuah rupa yang menerima keadaan apa adanya.
Namun, saat Su Huiye pamit tadi, mereka sempat menatapnya cukup lama.
"Bibi Keempat, Paman Keempat membawaku pergi untuk berguru hari ini." Jintang berusaha menahan rona kegembiraan di wajahnya.
Sepasang mata indahnya yang menyerupai burung phoenix tampak berbinar-binar.
Terlihat jelas bahwa ia sangat puas dengan guru barunya itu.
"Mulai sekarang, aku harus pergi belajar setiap sore."
"Oh? Kalau begitu bagus sekali! Siapa beliau? Bagaimana kepribadiannya?"
Sebelumnya, Sang Ning juga sempat berpikir bahwa sangat disayangkan jika Jintang tidak mengenyam pendidikan. Anak itu memang cerdas dan berwawasan luas, di usianya yang masih muda ia sudah memancarkan aura yang luar biasa, bahkan saat berlatih bela diri pun gerakan-gerakannya menyiratkan keanggunan.
Ia seharusnya menjadi sosok yang menguasai sastra sekaligus bela diri seperti ayahnya.
"Tuan Yue Buyuan."
"Di rumahnya ada satu dinding penuh buku, meskipun tidak bisa menandingi ruang belajar kita, banyak di antaranya yang belum pernah kubaca."
Bagus sekali, bagus sekali.
"Hari ini adalah hari yang baik, Bibi Keempat akan memasakkan makanan enak untukmu!" Sang Ning mengelus kepala anak itu dengan gembira.
Ia ingin membuat kentang goreng, ayam goreng, dan hamburger!
Ketika aroma harum mulai melayang dan menyebar di halaman kecil itu...
Dagang dan Xiaohong, yang tadinya duduk bermeditasi bagaikan biksu tua, tiba-tiba tersadar secara bersamaan. Mereka melompat berdiri dan mengaum garang ke arah tertentu.
Pada saat bersamaan, bentakan suara berat terdengar dari luar: "Sedang mengintip apa kalian?! Berani mendekati halaman ini lagi, kuhabisi nyawa kalian!!!!"
Yan Meng telah kembali.
Ia menakut-nakuti seorang pria berbadan kurus yang berniat mendekati halaman rumah, lalu melangkah memasuki pintu rumah dengan membawa sebuah karung di punggungnya.
Dagang dan Xiaohong tertegun sejenak.
Mereka mencium aroma khas prajurit yang melekat pada tubuh pria itu.
Namun, mereka belum sepenuhnya yakin.
Mereka hanya menggonggong dua kali dengan nada datar, dan setelah melihat anggota keluarga menyambut serta berbicara dengan pria tersebut, mereka pun mengibaskan ekor dan berbaring dengan malas.
"Nyonya Tua, aku membawakan setengah karung tepung jagung, silakan dikonsumsi dulu, jangan terlalu berhemat. Aku sudah menyuruh orang mencari beras putih, hanya saja di sebelah barat cukup sulit ditemukan..."
Pandangan Yan Meng jatuh ke atas meja yang dipenuhi mangkuk-mangkuk berisi nasi putih mengepul.
Ada daging, ada telur, camilan berwarna keemasan, serta tumis tahu pedas...
*Sluurp~*
Bajingan mana yang tadi bilang padanya bahwa tidak ada orang yang menjual beras putih?!