Bab 94: Tak Tega Melihat Pahlawan Menangis
Di perjalanan, Jenderal Su yang bertubuh tinggi besar mendekat dengan diam-diam ke sisi Sang Ning, menunduk dan meminta petunjuk.
“Nona Sang, bagaimana caranya kau bisa seputih itu? Ada cara supaya wajahku juga bisa jadi putih?”
Sang Ning melirik wajah Jenderal Su yang hitam legam.
Kulit wajahnya, bersama dengan janggut di dagunya, menyatu begitu saja, hitam bagaikan langit dan air di musim gugur.
Benar-benar hitam pekat tanpa perbedaan.
Sang Ning sempat bingung.
Dulu kulitnya memang gelap, tapi tidak separah sekarang. Setelah terbakar hebat, lapisan luar kulitnya rusak, sekarang malah seperti saudara kembar beruang hitam.
“Jenderal Su, setelah kulit luarmu mengelupas, warnanya akan kembali seperti semula, jadi tak perlu khawatir.”
“Aku tahu itu. Maksudku, apa bisa dibuat lebih putih daripada sebelumnya?”
Ini...
Kalau memang sudah bawaan lahir, sepertinya sulit untuk diubah. Lagipula umurnya sudah tidak muda lagi. Kalau masih anak muda, mungkin bisa perawatan. Tapi untuk orang tua, tak usah repot-repot.
“Aku pernah dengar tanah liat kuning bagus untuk merawat kulit, katanya juga bisa mengeluarkan racun, membunuh kuman, dan melindungi dari panas matahari. Tapi untuk masalah bawaaan, aku tak tahu bisa memperbaiki atau tidak,” jawab Sang Ning seadanya.
“Aku bukan bawaan! Kulitku begini karena tiap hari latihan dan terpanggang matahari!” Ia membantah dengan suara keras.
Lalu, dengan spontan, ia membuka baju di dadanya memperlihatkan pada Sang Ning.
Astaga!
Benar-benar seperti kucing siam!
Ternyata bukan lahir hitam. Wajah hitam, tangan dan kaki juga gelap, tapi bagian tubuhnya putih.
Ho Jingya langsung mengambil batu dan melemparkannya ke Su Huiye.
“Kau tak tahu malu! Merusak mataku! Pakailah bajumu baik-baik, dasar tak tahu sopan santun!”
“Eh, eh! Jangan ngomel sembarangan, aku memang ada urusan serius!”
Sang Ning buru-buru menengahi dua orang yang mulai bertengkar.
Hal seperti ini, makin dibahas, makin runyam.
“Jenderal Su, kau ingin jadi putih karena ada gadis yang kau sukai?”
“Benar, namanya Xiao Fang, cantik luar biasa, tingginya hampir sama denganmu, juga sama rampingnya.
Tak bohong, sejak dia usia tiga belas tahun aku sudah jatuh hati, tapi waktu itu negara sedang tidak aman, mana berani punya niat menikah.
Sekarang akhirnya damai, aku masih hidup, dia belum menikah, ini pasti kesempatan dari langit untukku!”
Jenderal Su memikirkan gadis yang dicintainya, matanya berbinar-binar seperti anak muda yang sedang jatuh cinta, gugup dan penuh semangat.
“Dua bulan lagi dia genap delapan belas, ayahnya bilang dia boleh memilih calon suami sendiri. Aku ingin jadi lebih putih, supaya dia memilihku!”
Ho Jingya: “...”
Sang Ning: “...”
Sudah mengincar sejak usia tiga belas, mau disebut tak tahu malu, tapi dia tetap setia menunggu lima tahun.
Mau dibilang setia, tapi rasanya juga seperti sapi tua ingin makan rumput muda, kasihan si gadis.
Ho Jingya tanpa ampun langsung menyemprot, “Kau sudah cukup tua untuk jadi ayah orang, masih juga ingin dapat gadis seperti bidadari, siapa yang tak buta mau memilihmu?!”
“Kau... kau bilang apa? Siapa yang sudah jadi ayah?” Jenderal Su menatap garang, janggutnya sampai berdiri karena marah.
Ia mengaum keras, “Dengar baik-baik! Aku baru dua puluh tiga! Aku sedang masa kejayaan! Aku masih segar bugar seperti bunga!!!”
Sang Ning: “...”
Semua orang: “...”
Bai Yi sudah bisa menebak sesuatu dari ucapan Su Huiye, langsung memasang wajah dingin.
Semakin dipikirkan Su Huiye, semakin emosi, menatap tajam ke Ho Jingya, matanya memerah dan terus berteriak.
“Coba kau latihan di lapangan seharian!”
“Coba berdiri di gerbang kota seharian!”
“Sebelum masuk militer, wajahku tak kalah tampan dari kakakmu yang putih itu!”
“Kalian, kalian orang ibukota memang menyebalkan!”
Ho Jingya jadi ketakutan juga merasa bersalah, masih kesal karena kakaknya disebut seperti perempuan, tapi akhirnya menahan diri tak bicara lagi.
Sang Ning pun merasa bersalah.
Lain kali tak berani menebak umur orang sembarangan.
Bai Yi dan Su Huiye benar-benar membuktikan, wajah dan usia kadang tak ada hubungannya.
Aduh!
Kondisi di Kota Liang memang sulit, rakyat biasa pun tampak lebih tua dari usia sebenarnya, apalagi para prajurit penjaga perbatasan seperti mereka.
Mereka memang layak dihormati siapa pun.
Sang Ning membungkuk pada Su Huiye, “Jenderal Su, kami minta maaf, itu memang salah kami.
Kau dan semua prajurit, demi perbatasan dan rakyat, yang dikorbankan bukan hanya wajah, tapi juga nyawa. Betapa banyak pahlawan yang telah gugur di bawah pasir demi kedamaian hari ini. Kalianlah orang paling hebat, paling berani, dan paling indah di Negeri Dongyang.
Kami menikmati kedamaian yang kalian bayar dengan nyawa, tapi malah mengejek kalian. Kami benar-benar salah! Maafkan kami!”
“Maaf,” Ho Jingya segera ikut membungkuk.
Su Huiye tertegun.
Ia adalah orang kasar, kalau sedang marah ya marah saja, setelah itu selesai.
Ia tidak pernah mempermasalahkan sikap anak-anak perempuan.
Namun Sang Ning meminta maaf dengan sungguh-sungguh, bahkan berkata demikian, membuatnya tak tahu harus menjawab apa.
Baru ia sadar, mereka adalah keluarga dari Tuan Tua Boyang, juga keluarga tentara.
Mana mungkin mereka mengejek? Mereka hanya tidak tahu saja.
Semua orang berhenti melangkah, memandang dengan tatapan rumit.
Bai Yi pun menoleh.
Ia menatap Sang Ning, matanya penuh kelelahan, wajah hitamnya tampak diliputi kesedihan.
“Nona Sang, mungkin kau belum tahu, nama asli Jenderal Su bukan Su Huiye.”
“Ia berasal dari Yequan.”
“Sejak masuk militer, cita-citanya jadi jenderal besar, mengusir Xiliao dan kembali ke kampung halaman dengan terhormat. Karena itu, ia mengganti nama jadi Huiye—kembali ke Ye.”
“Tapi... ia tak bisa kembali lagi.”
Tubuh Su Huiye yang besar bergetar, matanya dipenuhi duka.
Sang Ning dan Ho Jingya sadar ada sesuatu yang tak beres, tapi tidak tahu pasti apa.
Li Yuzhi justru paham.
Dengan suara berat ia berkata, “Yequan sekarang sudah menjadi milik Xiliao.”
Dua tahun lalu, pemerintah pusat menyerahkan wilayah, termasuk Yequan, Dewu, dan Changji, kepada Xiliao sebagai ganti rugi perang.
Bai Yi melanjutkan, “Yequan telah jatuh ke tangan Xiliao, rakyat di sana pun dibantai, keluarganya sudah tiada, ia tak bisa kembali...”
“Cukup! Tak perlu ceritakan ini pada mereka!” Su Huiye membentak dengan mata merah.
“Diceritakan agar Nona Sang tahu, Liangzhou harus menemukan air, jangan sampai jadi kota mati. Kalau Liangzhou tak ada pasokan, Yangguan di depan sana harus berjuang sendiri, bisa saja bernasib sama dengan Yequan.”
“Tak perlu bicara lagi, aku pasti akan menemukan air,” janji Sang Ning dengan tegas.
Ia tak tahan melihat pahlawan menitikkan air mata, orang setia dan luhur disia-siakan!
“Nona Sang, kalau kau menemukan air, kau juga seperti Jenderal Su, adalah orang paling hebat, paling berani, dan paling indah.”
Sang Ning: “...”
Ia mengerti sekarang.
Tak pernah ia menyangka, suatu hari ia juga akan ‘dicuci otak’ oleh orang lain.
Tapi ia rela menerima itu.
Xiliao benar-benar kejam, membantai seluruh kota! Kalau mau mengusir saja sudah cukup!
Mereka itu penjagal tak berhati!
Ia menggertakkan gigi, “Jenderal Su, selama kita masih hidup, suatu hari nanti kita pasti akan kembali, tanah air kita tak akan kami serahkan sejengkal pun!”
Su Huiye tampak sangat terharu, mengangguk kuat-kuat.
“Nanti kau bisa pakai nama aslimu lagi, untuk mengenang keluarga dan orang sekampungmu!
Katakan pada mereka, kau sudah membalaskan dendam mereka! Biarkan mereka tenang di alam sana!
Oh ya, siapa nama aslimu?”
“Su Erdan.”
Su Huiye sudah terharu sampai menitikkan air mata.
Sang Ning: “...”
Jadi ternyata alasan mengganti nama bukan karena nama aslinya jelek?