Bab 55: Mengikat Rantai Anjing
Menyaring air itu mudah, ini bukan pertama kalinya Sang Ning melakukannya. Dulu saat jauh berada di alam liar dan kehabisan air, ia biasa memotong botol air mineral untuk menyaring air sungai agar bisa diminum.
Ia meminta seseorang mencarikan sebuah kendi tanah liat setinggi setengah meter, lalu melubangi bagian bawahnya sebesar kepalan tangan.
Lapisan paling bawah diberi kapas, menutup lubang, berfungsi seperti saringan PP, untuk menyaring kembali minyak dan kotoran yang belum tersaring di bagian atas.
Lapisan kedua diisi arang, yang berfungsi seperti karbon aktif, barusan dibuat oleh penduduk desa sesuai arahan Sang Ning.
Proses pembuatannya dengan cara pembakaran tertutup.
Gali lubang di tanah, potong kayu sebesar pergelangan tangan menjadi beberapa bagian, letakkan di dalam lubang, tutup dengan jerami kering, lalu tutupi permukaannya dengan lumpur, hanya sisakan satu lubang kecil untuk ventilasi.
Di sisi lain, buat lubang masuk udara, masukkan jerami kering dan nyalakan api, saat asap keluar dari lubang atas semakin tebal, perlahan tutup dengan lumpur hingga mengecil.
Dua jam kemudian (kalau sempat, bisa semalaman), jadilah sekumpulan arang siap pakai.
Arang itu punya daya serap sangat kuat.
Struktur mikronya bisa menghilangkan bau, logam berat, dan bakteri dari air.
Lapisan ini bisa dibuat agak tebal.
Lapisan ketiga diisi pasir dari tepi sungai.
Lapisan keempat diisi kerikil kecil.
Lapisan paling atas diberi batu bulat besar.
Semua ini untuk menyaring kotoran dan partikel melayang dalam air.
Penduduk desa mengelilinginya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Sudah kalian hafalkan semua langkah-langkahnya? Bahan penyaring ini harus diganti beberapa hari sekali, kalau tidak, hasilnya jadi kurang baik," kata Sang Ning.
Ia meminta air, lalu menuangkannya ke dalam kendi.
"Yang lain mah gampang, cuma kapas saja yang mahal," komentar beberapa penduduk.
Kapas itu pun diambil dari jaket lama keluarga Shi Shen yang belum pernah dipakai. Kalau harus diganti beberapa hari sekali, jelas tak sanggup mereka.
"Tidak apa, aku masih punya beberapa ramuan obat. Nanti Da Li bisa barter lebih banyak kapas," kata Lu Shi Shen.
Ia teringat akan akar ginseng tua pemberian Sang Ning, hanya itu yang benar-benar berharga, berapa pun hasil jualnya akan ia tukar dengan kapas.
Pikiran itu membuatnya semakin berterima kasih pada Sang Ning.
Tanpa sadar ia melirik Sang Ning dengan penuh rasa syukur.
Tak ia sadari, dari kejauhan seorang remaja menatap tajam ke arah sini.
"Jin Tang, Jin Tang?" panggilnya.
Kali ini Jin Tang tanpa perlu diingatkan sudah berlari ke sisi Sang Ning untuk melihat lebih dekat.
"Kakak keempat, ada apa?" tanyanya.
Orang-orang lain juga ikut menonton, termasuk Nyonya Tua serta dua gadis kecil, Jin Xiu dan Jin Xin.
Hanya Xie Yu Rou yang memperhatikan Huo Chang An.
Remaja itu menundukkan kepala. "Tidak ada apa-apa."
Tiba-tiba terdengar sorak-sorai.
Air jernih pun keluar.
"Enak sekali! Tak ada rasa aneh sama sekali! Lebih enak dari biasanya!"
"Ajaib sekali! Air yang biasa kita minum rasanya seperti air kencing!"
"Nona Sang, Anda hebat sekali!"
Huo Jing Ya juga merasa air itu enak, tapi tentu saja tidak seenak air yang direndam batu maifan buatan kakak iparnya! Haha, mereka benar-benar belum pernah merasakannya.
Sang Ning dikerumuni orang, dipuji dan dikagumi.
Ia bagai cahaya yang tidak hanya menerangi satu orang saja.
"Kakak keempat, kakak keempat... kakak keempat?"
Xie Yu Rou memanggil berulang kali, barulah Huo Chang An tersadar.
"Kakak keempat, kakak ipar tadi memberikan sepasang sayap ayam untukmu. Katanya... sayap ayam itu enak, khusus disisakan untukmu," kata Xie Yu Rou sambil tersenyum.
Tatapan Huo Chang An seketika berbinar, suasana hatinya yang muram langsung membaik.
Ia pun melihat, tadi seorang ibu memang membawa ayam panggang.
Benar katanya, sayap ayam memang enak, dagingnya lembut dan tidak enek, itu favoritnya.
Xie Yu Rou memakan bagian dada ayam.
Jin Tang dengan malu-malu kembali duduk jongkok di bawah akar pohon, entah daging bagian mana yang ia pegang, tapi kelihatannya cukup banyak.
Huo Chang An mengernyit. Anak bandel, kenapa wajahmu begitu?
"Jin Tang, ke sini."
Tatapan Jin Tang tampak ragu.
"Paman keempat, ada apa?"
Ia merasa agak bersalah pada pamannya, sebab bibi keempatnya memuji bahwa ia paling lucu dan paling cekatan, bahkan lebih dewasa daripada pamannya.
Mata Huo Chang An menyipit.
Ia lalu melihat Jin Xin dan Jin Xiu berlari dengan wajah berseri-seri, masing-masing membawa satu paha ayam.
"Jin Xin, Jin Xiu, ke sini."
"Paman keempat..."
"Kenapa kalian senang sekali?"
Jujur saja, orang yang memanggang ayam itu keterlaluan, kulitnya gosong semua. Belakangan Jin Xin dan Jin Xiu sudah sering makan masakan enak buatan bibi keempat mereka, masak hanya karena sepotong paha ayam mereka bisa sebahagia ini.
"Ceritakan yang sebenarnya ya. Anak kecil kalau bohong malamnya ngompol loh."
Jin Xin dan Jin Xiu saling pandang, akhirnya dengan suara pelan berkata, "Paman keempat, jangan bilang ke siapa-siapa ya, ini rahasia."
"Baik, paman tidak akan bilang."
"Bibi keempat bilang, hehe, aku dan Jin Xiu itu peri kecil. Kalau makin gemuk, dia makin suka."
"Sekarang yang paling disukai bibi keempat juga kita," sambung Jin Xiu dengan malu-malu.
"Paha ayam kesukaannya pun semuanya diberikan ke kami."
Huo Chang An: "..."
Dilihatnya dua bocah itu, lalu Jin Tang yang makan daging sambil tersenyum lebar.
Terlintas dalam pikirannya kejadian serupa di masa lalu.
Ia pun paham.
Ternyata ia benar-benar dianggap anak kecil!!!
...
Mereka akan segera meninggalkan lembah.
Bungkusan mereka yang sebelumnya diambil penduduk desa, kini sudah dikembalikan, bahkan ditambah telur ayam, roti, dan sejenisnya.
Telur ayam sebenarnya tidak begitu dibutuhkan Sang Ning.
Di dalam ruang penyimpanannya, telur ayam sudah menumpuk.
Tapi ia harus berpura-pura, jadi tetap menerimanya.
Namun ia memanggil Lu Shi Shen, lalu memberitahukan cara membuat minyak lada.
Minyak dan garam adalah barang langka di desa itu.
Biasanya mereka menggunakan minyak hasil dari berang-berang yang diburu Feng Da Li.
Minyak itu memang lumayan, tapi jelas tak cukup untuk semua.
Namun di gunung banyak sekali lada hutan.
Dengan adanya sumber minyak dan semua orang bisa memanen dan membuat sendiri, jelas nilainya jauh lebih tinggi daripada sekadar beberapa butir telur.
Lu Shi Shen membungkuk dalam-dalam, air matanya hampir menitik.
"Nona Sang, Lu Shi Shen akan mengingat kebaikan Anda sepanjang hidup."
"Jika suatu hari Anda membutuhkan bantuan, saya siap berkorban jiwa raga."
Dulu, ia sempat punya angan-angan tentang Sang Ning karena tak tahu identitasnya.
Kini ia sadar, dirinya tidak pantas dan tak layak.
Perasaan kagum itu ia simpan dalam hati.
Rasa syukur dan hormat yang tersisa.
Lu Shi Shen lalu membungkuk dalam-dalam pada Du Shan dan Tian Kai Wu.
"Semoga dua tuan tidak mempermasalahkan sikap kami yang kurang sopan sebelumnya. Mohon jaga keluarga Huo. Jika suatu hari saya berhasil keluar, pasti akan membalas budi kalian."
Du Shan memegangi rantai besi, wajahnya masam sambil mengibaskan tangan.
"Iya, iya, tidak usah khawatir."
Ia benar-benar pusing!
Dulu rantai besi itu disita penduduk desa, sekarang dikembalikan dalam keadaan rusak! Borgol pun tinggal satu lingkaran!
Mereka malah dipakai untuk mengikat sapi dan anjing!
Nanti saat tiba di luar kota Liangzhou, bagaimana mereka menggunakannya?
Apakah penguasa berwajah gelap itu akan menuduh mereka lalai bertugas?