Jilid Kedua: Awal Kedewasaan Bab Dua Puluh Tiga: Tanggung Jawab
“Orang yang kau lihat dalam adegan terakhir di dalam ruang mata misterius saat kau pertama kali masuk ke dalamnya, ialah leluhur agung dari garis keturunan Tian Xuan kita.”
“Jadi begitu, ternyata beliau adalah leluhur kita sendiri.”
Song Feng pun tak dapat menahan rasa terkejutnya. Sosok tua di adegan terakhir yang dengan kekuatan luar biasa menyegel sisa-sisa iblis itu, kini masih tergambar jelas dalam benaknya. Seorang tua yang tampak sederhana dan ramah, layaknya petani di ladang, ternyata adalah leluhur agung garis Tian Xuan. Namun, mengingat keahlian sang leluhur yang luar biasa, Song Feng pun merasa wajar.
“Leluhur kita terkenal rendah hati. Usai menyegel iblis demi bangsa manusia, ketiga ras besar melihat kehebatannya dan berebut mengundang beliau ke tempat mereka, namun setelah menolak dengan halus, beliau pun menghilang tanpa jejak. Sehebat apa pun upaya pencarian mereka, tak seorang pun dapat menemukannya. Hingga tiga ratus tahun berlalu sejak perang penyegelan iblis, muncullah seorang pemuda yang menonjol, mengalahkan seluruh generasi muda dari tiga ras besar tanpa tanding.”
“Pemuda itu mengaku sebagai penerus garis Tian Xuan, murid dari leluhur Ling Yuanzi. Sejak saat itu, Tian Xuan muncul di hadapan tiga ras besar. Para penerus Tian Xuan pun dihormati, dan semua kekuatan besar segan terhadap Ling Yuanzi, sehingga tidak berani sembarangan mengusik keturunan Tian Xuan.”
“Namun, ketika garis Tian Xuan sampai pada generasi keenam, segalanya berubah drastis.” Suara Xuan Gu sejenak terhenti, nadanya mengandung emosi yang dalam.
“Entah sejak kapan, beredar desas-desus di Benua Tianyun bahwa warisan Tian Xuan menyimpan rahasia besar, yang dapat membawa pendekar tertinggi menapaki langkah terakhir menuju keabadian.”
“Masa itu telah seribu tahun lebih sejak era Ling Yuanzi, dan kekuatan besar yang dulu segan kini tak lagi merasa gentar. Selama ribuan tahun, mereka berkembang pesat dan percaya diri.”
“Desas-desus ini sebenarnya tak berdasar, hanya isapan jempol belaka. Penerus keenam segera memberikan klarifikasi bahwa itu tidak benar. Namun, kekuatan-kekuatan besar tetap saja setengah percaya, bahkan memaksa penerus keenam menyerahkan warisan untuk diperiksa, demi membuktikan kebenarannya. Demi kehormatan Tian Xuan, penerus keenam menolak tanpa ragu.”
“Yang lebih menusuk hati, orang terdekat penerus keenam, kekasihnya, justru berkhianat saat itu. Ia membocorkan segala hal tentang jurus Tian Xuan dan benda pusaka yang dimiliki, bahkan melebih-lebihkan segalanya.”
“Sekejap saja, Benua Tianyun gempar. Jurus tingkat tinggi dan pusaka ajaib membangkitkan nafsu serakah banyak orang. Semua kekuatan besar bersama-sama memburu penerus keenam.”
“Akhirnya, penerus keenam berhasil melarikan diri, tentu berkat bantuan kekuatan yang setia pada Tian Xuan. Walau penerus itu tak tertangkap, keserakahan kekuatan besar tak pernah padam, mereka terus mencari cara untuk merebut warisan Tian Xuan.”
Tatkala sampai di sini, mata Xuan Gu tampak dingin, jelas ia sangat marah pada tindakan berbagai kekuatan itu.
“Jadi begitu. Nampaknya, penerus keenam memang sangat malang,” Song Feng ikut berempati. Dikejar banyak kekuatan besar, dikhianati pula oleh orang yang paling dicintai.
“Sejak generasi ketujuh, penerus Tian Xuan terpaksa menahan diri, bersembunyi dan berlatih dalam bayang-bayang. Dahulu, saat leluhur menyegel iblis, semua kekuatan besar menjilat-jilat layaknya anjing. Namun setelah beliau pergi, mereka justru memburu para penerus Tian Xuan. Sungguh wajah yang menjijikkan.”
Xuan Gu tertawa sinis, auranya menyebar tanpa bentuk, membuat pepohonan di puncak bukit belakang bergetar pelan. Suasana pun terasa menekan.
“Xiao Feng, ingatlah baik-baik. Jika kelak bertemu dengan orang-orang dari kekuatan besar itu, jangan ragu. Habisi mereka! Karena kau tidak berlatih jurus Tian Xuan, selama kau pandai menyembunyikan pusaka, mereka tidak akan pernah tahu jati dirimu.”
“Guru, siapakah nama kekasih yang berkhianat pada penerus keenam itu?” Mata Song Feng menyipit, sorotnya dingin, jelas ia pun marah.
“Hal itu tak perlu kau risaukan sekarang. Saat ini pun kau belum bisa berbuat apa-apa. Suatu hari kau pasti akan tahu.” Xuan Gu berpaling, menghembuskan napas berat.
“Memang, kekuatan besar di Benua Tianyun telah mengkhianati para penerus Tian Xuan, juga leluhur kita. Namun, janganlah kita lupakan tanggung jawab dan kewajiban kita.”
Nada Xuan Gu berubah, ia pulih dari emosi masa lalu, kini tampak tegas dan serius.
“Tugas garis Tian Xuan adalah mengindahkan pesan leluhur, menjaga agar segel atas iblis tidak rusak, dan melindungi Benua Tianyun.”
“Baik, guru.” Song Feng mengangguk sungguh-sungguh dan mengepalkan tinju. Meski hatinya dipenuhi ketidaksukaan terhadap kekuatan besar, namun Benua Tianyun tetaplah rumahnya, tempat orang-orang yang ingin ia lindungi: ayahnya, Ye Ling’er, Paman Li, juga gurunya sendiri. Ia tentu tak ingin melihat benua ini hancur di depan mata.
Kini, dalam hati Song Feng bertambah satu tekad: selain menemukan ayah dan ibunya yang belum pernah ia jumpai, ia juga akan melindungi segalanya di sini.
“Mungkin semua ini terlalu dini baginya. Bagaimanapun, ia baru berusia tiga belas tahun. Beban yang ia pikul begitu berat.”
Segala reaksi Song Feng diam-diam diamati oleh Xuan Gu, ia merasa bangga sekaligus iba. Kehidupan remaja yang seharusnya riang gembira, justru begitu berat dan berliku.
...
Di halaman para pelayan.
Begitu Song Feng masuk ke dalam, ia segera merasakan suasana yang berbeda dari biasanya. Banyak orang berkumpul, tampak tengah asyik membicarakan sesuatu. Beberapa penjaga pun dikerumuni, wajah mereka berseri-seri, jelas sedang gembira.
Merasa heran, Song Feng pun masuk ke rumahnya. Begitu membuka pintu, ia melihat Paman Li sedang memasak. Di meja sudah tersedia beberapa lauk, dan hari ini lauk daging tampaknya lebih banyak dari biasanya. Bahkan ada beberapa buah aneh yang tampak segar tersaji di piring. Semua makanan ini jarang bisa disantap sehari-hari.
Aroma sedap langsung menyeruak, membuat perut Song Feng bergejolak. Ia segera mencuci tangan, dan ketika kembali, Paman Li sudah selesai menyiapkan hidangan terakhir di meja makan.
“Wah, sup ayam seratus bunga!” Melihat hidangan itu dan mencium aromanya yang menggoda, Song Feng tak tahan untuk berseru.
Ayam seratus bunga bukanlah hewan dari bangsa binatang, melainkan sejenis unggas kecil yang ditemukan di hutan oleh manusia. Dagingnya sangat lezat, bahkan dipercaya dapat melancarkan aliran darah, meredakan lelah, dan mengurangi nyeri akibat keletihan berlebihan.