Jilid Kedua: Pemuda yang Baru Tumbuh Bab Dua Puluh Satu: Kitab Jalan Tertinggi

Penguasa Jalan Tertinggi Mengenai Dosa 2240kata 2026-02-08 12:30:05

Song Feng mengangguk pelan, hatinya dipenuhi rasa syukur. Jika bukan karena bimbingan Gurunya, Xuangu, ia tidak berani membayangkan seberapa parah akibat yang harus ditanggung jika terus berlatih seperti sebelumnya.

"Karena fondasimu sudah kokoh, tahap berikutnya adalah mempelajari teknik kultivasi. Keluarkan buku teknik dasar yang selama ini kau pelajari," ujar Xuangu dengan kedua tangan bersedekap di belakang, wajahnya tampak tenang walau matanya sesekali memancarkan kilatan tajam, menandakan hatinya tidak begitu damai.

Song Feng, dengan satu pikiran, memunculkan sebuah buku kuning tua yang tampak kuno di tangannya. Ia menatap Xuangu dengan penasaran, tak mengerti mengapa Gurunya menyuruhnya mengeluarkan teknik dasar itu.

"Kita, garis keturunan Tianxuan, mewarisi kitab Tianxuan Shengjing, teknik tingkat tinggi kelas langit. Ini adalah teknik terkuat di Benua Tianyun, kekuatannya luar biasa. Semua pewaris Tianxuan sebelumnya, berkat teknik ini, hampir selalu mendominasi para kultivator di tingkat yang sama. Mereka menjadi tak terkalahkan di antara generasi mereka," ujar Xuangu.

"Tingkat langit kelas tinggi?" Song Feng tak bisa menahan keterkejutannya, matanya membara penuh semangat. Tak pernah ia bayangkan, teknik warisan Tianxuan adalah teknik kelas langit tingkat tinggi. Jika ini tersebar, seluruh Benua Tianyun pasti gempar. Betapa berharganya sebuah teknik kelas langit, apalagi yang tingkat tinggi.

"Sedangkan teknik dasar yang selama ini kau pelajari, aku ambil dari sebuah kitab aneh yang kudapat secara tidak sengaja. Bahkan aku sendiri tidak mengerti rahasianya. Munculnya kitab itu telah mengguncang pengetahuan umum di Benua Tianyun. Sampai sekarang aku tak tahu itu teknik kelas apa, karena aku sendiri tak bisa melatihnya. Tapi yang pasti, itu bukan teknik biasa."

Xuangu tidak memedulikan keterkejutan Song Feng, ia tetap melanjutkan penjelasannya.

"Bukan hanya aku, bahkan semua penerus Tianxuan sebelumnya tidak pernah berhasil menguasainya. Hingga generasi kesembilan, yaitu kau, baru benar-benar berhasil melatihnya."

"Sekarang, kau punya dua pilihan. Pertama, kau bisa memilih melatih Tianxuan Shengjing. Kedua, kau bisa memilih teknik aneh ini, yang ku beri nama Jidao Jing. Apapun pilihanmu, aku akan menghormatinya. Ikuti kata hatimu, pilihlah teknik mana yang ingin kau pelajari."

Xuangu menggenggam kedua tangannya, memunculkan dua gulungan kitab. Gulungan di tangan kirinya berwarna emas, penuh ukiran indah yang mewah. Sebaliknya, gulungan di tangan kanannya tampak lusuh, hitam legam dan agak berminyak, nyaris seperti kain lap yang tak mencolok.

Song Feng menatap kedua gulungan itu, hatinya terguncang. Jika mengikuti logika, tentu ia ingin memilih Tianxuan Shengjing, teknik kelas langit tingkat tinggi yang jelas jauh lebih hebat daripada teknik yang tak jelas asal-usulnya.

Namun, setelah mendengar penjelasan panjang lebar Gurunya tentang Jidao Jing, rasa penasaran Song Feng bangkit. Ia juga merasakan sesuatu yang aneh—meski baru pertama kali melihatnya, ada seberkas keakraban yang sulit dijelaskan. Ia merasa, jika tidak memilih teknik ini, mungkin ia akan menyesal.

“Guru, aku ingin memilih Jidao Jing. Entah kenapa, aku merasa teknik ini seperti benar-benar diciptakan untukku, ada rasa kedekatan yang sulit dijelaskan,” Song Feng mengarang alasan. Sebenarnya, ia berpikir, teknik yang berani disandingkan dengan Tianxuan Shengjing oleh gurunya, pasti tidaklah kalah hebat. Minimal setara dengan teknik kelas langit, atau bahkan lebih. Lagi pula, ia juga merasa teknik ini memang luar biasa.

“Kau benar-benar sudah memutuskan? Akan memilih teknik aneh ini?” Xuangu menghela napas, matanya memandang kitah lusuh itu dengan penuh nostalgia, pikirannya seperti mengembara jauh.

“Guru!”

Suara pilu menggema, seorang pemuda berpakaian mewah menopang seorang lelaki tua berwajah ramah. Lelaki tua itu terus-menerus memuntahkan darah, bercampur dengan organ dalam yang hancur. Wajahnya yang sudah renta dan suram kini semakin pucat. Di dada kirinya tampak lubang besar menganga, menembus ke punggung, darah terus mengucur deras.

Dalam lubang itu samar-samar terlihat separuh jantung yang telah hilang. Di kaki lelaki tua itu, seorang pria paruh baya berbaring tanpa suara, sebilah pedang menancap di dadanya. Di genggaman tangan kanannya, ada segumpal daging merah gelap dengan beberapa pembuluh darah kebiruan yang masih berdenyut—itulah separuh jantung yang hilang dari lelaki tua itu.

Pemandangan itu sungguh mengerikan!

“Jun’er, waktuku tak lama lagi. Semoga ramalan leluhur kita benar adanya, sehingga pengorbananku ini tidak sia-sia. Jangan terlalu bersedih, aku sudah tahu hari ini pasti datang, hanya saja tidak menyangka datangnya begitu cepat. Ingatlah baik-baik, temukan penerus untuk teknik itu, dan… teruskan… warisan… ini….”

Dengan kata terakhir itu, lelaki tua itu menutup mata selamanya, kedua tangannya terkulai, namun di wajahnya terpatri kelegaan dan kebebasan.

“Guru!” Teriakan pilu kembali menggema, kesedihan mendalam itu seolah menembus langit, membuat siapa pun yang mendengarnya turut berduka.

“Guru?” Melihat Xuangu termenung lama, Song Feng memanggilnya dengan hati-hati.

“Xiaofeng, entah kau benar-benar yakin ingin melatih teknik ini atau hanya sekadar coba-coba, yang jelas kau harus benar-benar mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Teknik ini sangat istimewa, kelak kau akan mengerti. Pilihanmu sangat tepat!”

Xuangu, yang telah kembali sadar, menata perasaannya dan kembali tenang. Melihat Song Feng menatap penuh harap ke arah kitab di tangannya, ia tidak bisa menahan senyumnya.

Setelah itu, ia menyerahkan gulungan hitam lusuh itu kepada Song Feng. Melihat Song Feng menerima dan memegangnya erat-erat, Xuangu diam-diam menghela napas lega.

“Guru, akhirnya aku menemukan penerusnya. Semoga engkau bisa beristirahat dengan tenang, dan ramalan leluhur benar-benar terwujud,” Xuangu membatin dalam hati.

“Guru, ada sesuatu yang ingin kutanyakan, tapi entah pantas atau tidak?” tanya Song Feng, sambil mengamati gulungan itu dengan penuh rasa suka, lalu segera menyimpannya di tempat teraman. Saat ini, bagian yang bisa ia pelajari hanya bagian dasar saja, dan ia memang sudah memiliki salinan bagian itu. Maka kitab ini harus ia simpan baik-baik.

Pernah terlintas di pikirannya untuk mengintip bagian-bagian selanjutnya, namun baru beberapa baris saja, kepalanya langsung pusing dan matanya berkunang-kunang. Teksnya terlalu rumit, sama sekali tidak bisa dipahami.

Saat itu, ia teringat sesuatu yang sudah lama mengganjal di hati. Biasanya ia tak berani bertanya, namun kali ini ia ingin memanfaatkan kesempatan itu.

“Katakan saja, apa yang ingin kau tanyakan? Selama aku bisa memberitahumu, pasti akan kukatakan. Namun, jika ada yang belum waktunya kau tahu, memberitahumu pun tak ada gunanya, bahkan bisa berbahaya bagimu,” jawab Xuangu, terdengar seperti tertarik dengan pertanyaan Song Feng.