Bab Dua Puluh Enam: Aula Api Bumi
Saat fajar menyingsing, Ye Juntian mengenakan jubah anti-debu dan membawa token murid luar. Setelah meminjam Jarum Emas Berkilau milik Si Bodoh, ia segera meninggalkan Asrama Krisan.
Jarum Emas Berkilau miliknya yang lama telah hancur saat bertarung melawan Zhang Erhe; pola jimatnya tercerai-berai dan tak lagi berguna. Saat ini, ia terpaksa meminjam milik Si Bodoh untuk pertahanan diri. Si Bodoh sendiri baru mencapai tahap awal dalam Teknik Pemusatan Pikiran, sehingga ia tidak bisa mengeluarkan kekuatan penuh dari senjata tersebut; baginya, sepasang kepalan tangan jauh lebih praktis.
Ye Juntian menyusuri jalan setapak pegunungan, meninggalkan Asrama Krisan menuju Aula Pewarisan Ajaran. Di sisi jalan, hutan bambu yang rimbun dipenuhi kicauan burung. Tak lama kemudian, ia sampai di depan sebuah aula besar dan mendapati seorang pria tua sedang berlatih di bawah pohon cemara kuno.
Cahaya spiritual berpendar di udara, berkedip-kedip seperti kunang-kunang, lalu terkumpul ke arah pria tua itu seolah ditarik oleh kekuatan gaib.
"Apakah ini metode kultivasi yang sebenarnya? Menarik energi spiritual dari kehampaan dan menyalurkannya ke dalam tubuh?"
Ye Juntian tertegun sejenak. Ia memberi hormat selayaknya murid, lalu menanyakan perihal Diagram Wujud Sejati kepada Pengurus Sun.
"Tidak disangka kau memiliki bakat luar biasa! Di usia semuda ini, kau sudah mencapai tingkat kesempurnaan dalam Teknik Pemusatan Pikiran!"
Setelah mengetahui niat Ye Juntian, Pengurus Sun menghela napas kagum. Ia meminta Ye Juntian melepaskan kekuatan spiritualnya untuk memastikan. Saat mendapati kebenarannya, mata sang pengurus berkilat-kilat, memandangi Ye Juntian seolah tengah mengagumi batu giok yang berharga.
"Memang benar, ini adalah kekuatan spiritual tingkat kesempurnaan! Namun, Diagram Wujud Sejati tidak ada di sini," ujar Pengurus Sun.
"Tidak ada di sini?" Ye Juntian terkejut. Ia mendengar desas-desus dari murid baru bahwa Diagram Wujud Sejati adalah kunci untuk menapaki jalan keabadian yang sesungguhnya. Ia mengira diagram itu berada di bawah pengawasan Pengurus Sun di Aula Pewarisan Ajaran.
"Mohon Pengurus sudi memberi petunjuk," pinta Ye Juntian dengan sopan.
Pengurus Sun tidak langsung menjawab, melainkan bertanya balik, "Apakah kau tahu mengapa sekte menetapkan masa pendidikan murid luar selama sembilan tahun?"
Ye Juntian menahan rasa penasarannya. Ia sadar bahwa pertanyaan itu pasti memiliki alasan mendalam.
Pengurus Sun membawa Ye Juntian masuk ke halaman dalam aula yang sunyi, tempat yang terlarang bagi murid lain tanpa izin. "Sekte membagi masa pendidikan murid luar ke dalam tiga tahap: tiga tahun untuk pencerahan, tiga tahun untuk penguatan tubuh dan pemusatan pikiran, serta tiga tahun untuk pengamatan dan pemurnian energi."
"Enam tahun pertama dihabiskan di sini agar murid lebih mudah melaksanakan tugas sekte di Tanah Spiritual Berdarah. Tiga tahun terakhir, bagi mereka yang memenuhi syarat untuk Diagram Wujud Sejati, akan dikirim ke Enam Aula Lembah Awan Merah. Jika bakat mereka memadai, mereka akan tetap tinggal di sana untuk bertugas dan mendapatkan poin jasa yang lebih besar. Itulah sebabnya diagram tersebut berada di Enam Aula. Namun, bagi mereka yang bakatnya kurang, mereka akan dikembalikan ke puncak ini untuk berbaur dengan murid baru, tanpa masa depan yang jelas."
Seketika, Ye Juntian pun paham. Ternyata untuk mengamati diagram, seseorang harus pergi ke Enam Aula. Dari penjelasan Pengurus Sun, ia juga mulai menebak alasan mengapa para senior sering merampas milik murid baru.
"Karena bakatmu luar biasa, aku akan mengirim pesan ke Enam Aula. Seseorang akan datang menjemputmu dalam setengah hari. Pulanglah dan berkemaslah."
Ye Juntian kembali ke Asrama Krisan. Kepergiannya yang mendadak membuat Si Bodoh dan Ye Yu'e merasa sedih. Selama tiga tahun mereka hidup bersama sejak meninggalkan Desa Batu Putih, ikatan persaudaraan mereka telah tumbuh sangat dalam.
"Tenanglah, aku pasti akan kembali jika ada kesempatan," janji Ye Juntian sebelum berpamitan. Ia juga berpesan kepada mereka berdua agar menggunakan namanya jika ada senior yang berani mengganggu, atau segera mencari Pengurus Sun jika menemui kesulitan.
Setengah hari kemudian, seorang pemuda berpakaian abu-abu tiba dengan menunggangi burung kertas yang bersinar kehijauan. Ia adalah Zhou Cheng, yang pernah ditemui Ye Juntian tiga tahun lalu.
"Pengurus Sun, murid ini memiliki bakat yang sangat luar biasa hingga Anda mengirim pesan secara khusus!" puji Zhou Cheng saat melihat Ye Juntian yang kini tampak gagah, cerdas, dan memiliki aura keteguhan hati.
Setelah berpamitan dengan Pengurus Sun, mereka berdua terbang menembus awan. Satu jam kemudian, pemandangan berubah drastis. Dua gunung berapi yang menjulang tinggi mengeluarkan asap tebal dan lahar panas yang membentuk danau magma. Di tengah danau itu, sebuah pulau kecil berwarna merah tampak bersinar terang.
"Kita telah sampai di Aula Api Bumi..."