Bab Sembilan Puluh Satu: “Kehidupan Asing”!
Dengan perasaan cemas yang muncul secara naluriah, keempat prajurit mulai menyiapkan berbagai senjata di kapal antariksa Angkasa Walet. Tiga hulu ledak nuklir, serta sebuah meriam elektromagnetik terbaru... Ruang di Angkasa Walet sangat terbatas, dan hanya itulah peralatan yang mereka miliki.
Kecemasan semakin memuncak, sehingga saat mereka mengoperasikan mesin-mesin itu, tak satu pun prajurit yang bersuara. Sementara itu, di sisi lain, Dr. Ding Qihang melaporkan informasi ke markas besar Kapal Induk: “Melapor ke markas, di sini Angkasa Walet, kami sedang dikejar oleh objek terbang tak dikenal!”
“Itu tampak seperti sebuah meteorit bermassa besar, tidak memancarkan cahaya sama sekali, juga tidak terdeteksi adanya energi panas inframerah yang mencolok, namun benda itu benar-benar sedang mengejar kami.”
“Saya ulangi, kami telah menemukan objek terbang tak dikenal.”
“Perkiraan waktu hingga terkejar adalah dua jam tiga puluh tiga menit.”
“Kami sedang menyelidiki apa sebenarnya benda itu... Sekarang kami melaporkan seluruh data dan informasi...”
Saat ini, jarak antara Angkasa Walet dan Kapal Induk sekitar sembilan juta kilometer, sehingga transmisi informasi bolak-balik memerlukan waktu sekitar satu menit.
...
Para awak Kapal Induk sebelumnya masih sempat bercanda dan tertawa, bahkan saat berjaga di malam hari, mereka tetap bersemangat. Bagaimanapun, beberapa saat sebelumnya, Angkasa Walet masih mengabarkan tentang "meteorit raksasa". Siapa yang tak ingin mendapatkan lebih banyak sumber daya? Benda-benda itulah jaminan kelangsungan hidup di masa depan, bahkan bisa dikatakan sebagai satu-satunya harapan.
Namun, tak disangka, meteorit raksasa itu berubah menjadi objek terbang tak dikenal!
Saat mereka membaca informasi itu, semua orang benar-benar terkejut. Kata “objek terbang tak dikenal” seakan menjadi tamparan keras yang membuat suasana santai seketika berubah menjadi tegang. Seluruh kabin Kapal Induk terasa bagai terperosok ke dalam lubang es.
“Mayor, Angkasa Walet menemukan objek terbang tak dikenal!”
Penyampaian informasi militer berlangsung sangat ketat. Objek terbang tak dikenal tak selalu berarti makhluk luar angkasa... tapi sudah cukup untuk membangkitkan berbagai bayangan mengerikan di benak siapa pun.
Mayor Guo Weiqiang, yang kebetulan sedang bertugas, terpana beberapa detik ketika membaca berita itu, lalu segera memutar video yang dikirim oleh Angkasa Walet—bahkan menontonnya berulang kali.
Semakin lama ia menonton, semakin kuat perasaan bahwa ada bahaya tak dikenal yang sedang mengancam...
Makhluk luar angkasa!
Istilah makhluk luar angkasa terdengar benar-benar tidak masuk akal... Sebab sepanjang sejarah umat manusia, seolah belum pernah ada bukti nyata tentang keberadaan mereka. Segala rumor di masa Bumi pun hanyalah desas-desus belaka.
Guo Weiqiang teringat akan peringatan Profesor Huo Dong: Dunia berdimensi tinggi memungkinkan terjadinya lompatan ruang.
Dulu, semua orang hanya menganggapnya lelucon demi mencari tambahan dana. Dana penelitian memang tak pernah cukup, apalagi untuk laboratorium berdimensi tinggi—itu seperti lubang tanpa dasar; hanya satu teleskop saja bisa menelan puluhan hingga ratusan miliar.
Sedikit melebih-lebihkan pun dianggap wajar.
Orang selalu berpikir, benarkah ada begitu banyak makhluk luar angkasa di alam semesta ini? Kalaupun ada, pasti sangat jarang, toh tak ada yang pernah melihatnya. Karena itu, tak ada yang benar-benar menganggapnya serius, bahkan Profesor Huo sendiri mungkin tidak. Ia hanya menjalankan tugasnya sebagai ilmuwan, mengemukakan kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Namun, saat peristiwa langka benar-benar terjadi, rasanya dunia seakan runtuh!
Dingin yang tak terbayangkan menjalari seluruh tubuh Guo Weiqiang dari tulang punggungnya. Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, lalu dengan cepat mengirimkan perintah: “Tim penjelajah Angkasa Walet, kalian diizinkan membuang sebagian besar muatan untuk meningkatkan kecepatan.”
“Kalian diizinkan mengambil keputusan sendiri saat genting, pilihlah opsi dengan peluang hidup tertinggi! Kalian juga diizinkan mencoba berkomunikasi!”
Setelah perintah itu terkirim, adrenalin Guo Weiqiang melonjak, wajahnya memerah saat ia berkata kepada seorang prajurit di bawahnya, “Ada masalah besar, masalah terburuk yang hampir mustahil terjadi. Kapal Induk kita harus bersiap untuk bertempur, tidak, bersiap untuk melarikan diri.”
“Kalian... segera bangunkan Yang Mulia! Beritahu dia!”
Saat Angkasa Walet menerima pesan ini, dua menit telah berlalu.
Kapal itu segera membalikkan arah, memulai pelarian.
Namun, benda aneh yang semula disebut “meteorit” itu terus membuntuti di belakang, kecepatannya semakin bertambah. Menurut alat ukur, kecepatannya bahkan melampaui 120 kilometer per detik, dan masih terus menambah laju.
Ini sudah jauh melebihi batas kecepatan yang bisa dicapai Angkasa Walet; meski membuang hampir semua muatan, mereka tetap tak mungkin lolos dari kejaran!
Menghadapi situasi tanpa harapan, sepuluh anggota tim ilmuwan di dalam kapal, wajah mereka tampak suram...
Mereka sadar, kemungkinan besar mereka sedang berhadapan dengan “kehidupan luar angkasa” yang belum pernah mereka jumpai!
Bahkan, mungkin kata “kehidupan” pun belum tentu tepat untuk menggambarkannya. Bisa saja itu adalah sesuatu yang berasal dari alam semesta berdimensi tinggi, sesuatu yang tak pernah mereka pahami sebelumnya!
Mungkin saja itu adalah produk dari alam semesta lain!
Ding Qihang menyeka peluh dingin dari dahinya, menahan kegelisahan yang menyesakkan dadanya, lalu membasahi bibir keringnya: “Semua, kita menerima pesan dari markas. Kita disuruh memilih opsi dengan peluang hidup tertinggi! Beberapa alat boleh kita buang.”
“Secara jujur, meski kita membuang hampir seluruh muatan kapal, kita tetap tak bisa lolos dari kejaran mereka. Kecepatan kapal kita memang terbatas, mana mungkin bisa mengungguli mereka?”
“Satu-satunya cara yang terpikir olehku sekarang adalah mencoba berkomunikasi. Jika mereka adalah kehidupan luar angkasa, siapa tahu ada kemungkinan untuk berkomunikasi...”
“Kalau bisa berkomunikasi, mungkin saja kita masih punya peluang bertahan. Markas pun sudah mengizinkan kita untuk mencoba.”
Wajah Lu Chenming pun tampak sangat tegang. Sebagai pemimpin tertinggi tim, ia menatap berbagai data di alat pengamat, lalu berkata, “Lakukan seperti yang kau bilang, coba kirim pesan.”
Dengan kecepatan tercepat sepanjang sejarahnya, Ding Qihang segera menyusun pesan gelombang elektromagnetik: “Peradaban tak dikenal, salam. Kami manusia, datang membawa damai dan persahabatan.”
Tentu saja, makhluk luar angkasa tak mungkin memahami bahasa manusia. Matematika adalah aturan universal di alam semesta ini. Ding Qihang berpikir beberapa detik, lalu mengirim rangkaian kode informasi berupa angka.
Deret angka itu meliputi bilangan asli, deret aritmatika, deret geometri, deret Fibonacci, dan sebagainya.
Kode-kode tersebut memiliki pola yang sangat jelas—selama peradaban itu sudah cukup maju, pasti bisa mengenali bahwa ini adalah pesan buatan.
Jika mereka juga ingin berkomunikasi... seharusnya akan ada respons.
Namun, sungguh mengecewakan, tak ada jawaban.
Tak ada respons sama sekali!
Benda sial yang disebut “meteorit” itu terus-menerus memburu mereka!
“Kalau gelombang elektromagnetik tidak mempan... mungkin mereka menggunakan energi panas, atau cahaya, atau cara lain untuk bertukar informasi. Bagaimana kalau kita coba lagi?” Seorang ilmuwan berkata, tubuhnya dipenuhi peluh dingin.
Angkasa Walet pun mencoba mengirim sinyal dengan lampu berkedip teratur, atau mengubah-ubah lintasan dan arah kapal.
Namun, apapun yang mereka lakukan, tak ada juga respons. Seolah-olah ada niat jahat yang sangat kuat sedang mendekat.
Pada saat yang sama, tingkat sensitivitas “meteorit” raksasa itu benar-benar melampaui imajinasi manusia. Apa pun manuver yang dilakukan Angkasa Walet, sama sekali tak mampu melepaskan diri dari kejaran.