Bab Tujuh Puluh Enam: Bagaimana Aku Mati?
Pagi itu.
Shinji Kamihara selesai sarapan, lalu mengambil tasnya, mengusap matanya, dan menguap panjang.
Kemudian...
Ia menoleh ke meja tamu dan melihat jam kecil di atasnya. Seketika raut wajahnya berubah suram.
Tengah malam tadi, saat pertama kali melihat jam perunggu kecil itu, ia langsung mati.
Setelah sadar kembali, anehnya, ketika ia menatapnya lagi, ia tak mati untuk kedua kalinya.
Tentu saja, ia tak berani menyentuh jam kecil itu. Ia khawatir jika jam itu bergoyang dan berdentang, nyawanya akan melayang lagi.
Tak pernah ia sangka, hadiah dari Tuan Matsunai ternyata sebuah jam.
Apa itu bisa disebut hadiah?
Tentu saja, ada banyak hal aneh dan mencurigakan.
Jika ia bisa mati hanya dengan melihat jam itu, kenapa penghuni lain di gedung ini baik-baik saja?
Apakah Tuan Matsunai memang pilih-pilih dalam memberi hadiah? Memberi jam padanya, dan barang-barang aneh lain pada orang lain?
Pertanyaan itu membuat kepalanya pusing, tak jua menemukan jawabannya.
Selain itu, kemarin ia sudah mati dua kali.
Awalnya ia pikir, setelah menyelidiki beberapa informasi, ia akan mendapat petunjuk berguna. Namun jam kecil itu membuat pikirannya kacau dalam sekejap.
Menurutnya, meski hal-hal aneh tampak tak logis, sebenarnya selalu ada polanya.
Seperti “Giliranmu”, awalnya waktu ia menyelidiki, semuanya terasa buram. Tapi setelah mendapat cukup informasi dan kehilangan dua nyawa, ia akhirnya mendapat jawabannya.
Namun kali ini, Tuan Matsunai membuatnya mati dua kali tanpa memperoleh kejelasan apa pun.
Sudahlah, ia memutuskan untuk tidak memikirkannya dulu.
Seharian ia tak tidur, ditambah berpikir terlalu lama, otaknya terasa seperti bubur, pikirannya pun mulai lambat.
Begitu di sekolah, ia langsung menunduk di meja dan tidur.
Menjelang siang, ia terbangun dan pikirannya mulai jernih.
Tentu saja, kelelahan itu akibat ia menggunakan kekuatan spiritualnya kemarin.
Memikirkannya, Shinji Kamihara pergi ke ruang guru untuk meminta izin tidak masuk.
Di gerbang sekolah.
Akane menunggu Shinji Kamihara keluar, duduk di dalam mobil sambil tersenyum ceria dan melambaikan tangan. “Di sini, di sini!”
Beberapa pejalan kaki melirik ke arah mobil sport yang mencolok itu.
Shinji Kamihara di kehidupan sebelumnya tak tertarik pada mobil, jadi ia tak tahu merek mobil sport di depannya itu.
Tapi garis bodi mobil yang mengalir mulus, serta kilauan dingin di bawah sinar matahari, membuatnya yakin bahwa mobil itu pasti mahal. Jika tidak, para pejalan kaki tak akan terus-menerus melirik.
Shinji Kamihara tak memperhatikan lebih lama, ia langsung masuk dan duduk di kursi penumpang depan, lalu bertanya santai, “Kenapa kamu yang menjemputku?”
Dulu, baik Akane maupun Aokiji sama-sama meninggalkan kartu nama dan kontak bagian khusus. Mereka bilang, jika ia ingin membentuk klub sendiri, cukup menghubungi bagian khusus, akan ada orang yang menjemputnya.
Tak disangka, ternyata Akane yang datang.
Mendengar pertanyaannya, Akane menghela napas berat. “Andai saja kau bagian dari tim khusus, aku sudah lempar tugas soal Gadis Neraka itu ke kamu.”
“Gadis Neraka?”
Shinji Kamihara tak menyangka pertanyaan santainya justru membuahkan informasi tentang Ai, matanya pun otomatis menjadi lebih waspada.
“Beberapa waktu ini, urban legend tentang Gadis Neraka sedang ramai di internet. Itu juga salah satu fenomena aneh,” Akane tak menutup-nutupi. Atau mungkin karena ia memang cerewet, asal ada topik, ia jadi sulit berhenti bicara. “Dulu aku dan Aokiji menyelidiki kasus Gadis Neraka dan kasus bola mata itu bersama.”
“Kalau kalian tidak mati, berarti dapat hasil dong?” Shinji Kamihara berusaha menjaga nada suara tetap santai, seolah sedang ngobrol biasa.
“Siapa bilang aku nggak mati? Saat menyelidiki Gadis Neraka, aku sempat mati sekali, turun ke neraka juga,” Akane menggerutu. “Tapi bos tua itu masih saja menyuruhku bertemu Gadis Neraka lagi. Bukankah itu sama saja menyuruhku bunuh diri?”
“Bertemu lagi?” Shinji Kamihara tetap tenang. “Berarti bos kalian pasti sudah menemukan cara melawan Gadis Neraka, ya?”
“Cara apaan! Menurut si tua bangka itu, walau Gadis Neraka sudah dibunuh sekali, dia malah hidup lagi. Makanya aku disuruh bertemu langsung dan menanyakan beberapa hal.”
Beberapa hari ini, bagian khusus memanggil beberapa aktor dan psikolog untuk mengajarinya mengendalikan emosi. Tujuannya agar ia bisa memancing amarahnya kapan saja dan di mana saja.
Nantinya, cukup menuliskan nama penjahat di situs komunikasi neraka, ia langsung bisa bertemu Gadis Neraka dan memaksa gadis itu menjawab pertanyaan.
Tapi beberapa hari ini tak banyak kemajuan, ia malah kesal dengan para aktor dan psikolog itu.
Begitu tahu Shinji Kamihara mau datang ke bagian khusus, ia langsung bilang ke staf penerima tamu, lalu keluar untuk mencari angin.
Bertanya?
Tatapan Shinji Kamihara memancarkan keraguan, ia berpikir sejenak, lalu hatinya berdesir waspada.
Tampaknya...
Bagian khusus pasti memiliki sesuatu yang bisa memaksa fenomena aneh untuk menjawab pertanyaan.
Ia tak bertanya apa yang hendak mereka tanyakan pada Ai. Karena sedikit saja dipikirkan, ia sudah bisa menebaknya.
Jujur saja, ia pun ingin tahu bagaimana Ai meninggal dulu.
Karena setelah ia membangkitkan Ai, gadis itu ia panggil keluar. Namun Ai memberitahu, ada bagian dari ingatannya yang hilang.
Jelas...
Bisa jadi itu perlindungan dari buku catatan untuk Ai.
Beberapa hari ini ia terus memikirkan hal itu, apa sebenarnya yang membunuh Ai.
Tapi tanpa petunjuk apa pun, ia benar-benar tak tahu harus mulai dari mana.
Ia terdiam, dan tak lama kemudian menoleh ke luar jendela, alisnya mengernyit, “Kita bukan menuju pinggiran kota?”
Bagian khusus memang berada di pinggiran kota, itu yang Aokiji dan Akane pernah bilang padanya.
“Ngapain buru-buru? Aku belum makan, nih,”
Akane rupanya ingin bersenang-senang dulu sebelum kembali.
Usai makan siang, mereka masuk mobil lagi. Shinji Kamihara menatap jam kecil keemasan di tangannya, pikirannya kembali tenggelam.
Akane tampaknya pelanggan tetap restoran Jepang mewah itu. Seusai makan dan hendak pergi, seorang manajer memberikan hadiah pada mereka berdua.
Akane langsung melempar hadiahnya ke dalam mobil tanpa melihat.
Shinji Kamihara membukanya dan melihat isinya—sebuah jam.
Ia agak bingung.
Diberi jam?
Apa maksudnya?
Sekarang, ia jadi agak sensitif dengan benda bernama jam.
Namun ia jelas membuka hadiah itu di depan Akane, dan gadis itu juga melihat jam itu tanpa berkata apa-apa.
Ia pun mengambil ponsel dan mencari informasi di internet, lalu mengangguk mengerti.
Ternyata, di Jepang memberi hadiah jam bukanlah kutukan. Sebaliknya, jam adalah hadiah penuh hormat. Hanya saja, karena ia adalah orang yang datang dari dunia lain, ia keliru memahaminya.
Di Jepang, ketika seseorang dipuji atas kerja keras, ketepatan, dan ketekunannya, maka jam bisa dihadiahkan sebagai simbol bahwa orang itu seperti waktu yang berjalan.
Selain itu, dalam bahasa Jepang, jam disebut “tokei”, yang punya bunyi mirip dengan kata-kata yang bermakna keberuntungan dan kebahagiaan.
Saat itu juga, Shinji Kamihara tiba-tiba mendapat pencerahan.
Selama ini ia heran, kenapa penerima hadiah lain tak mati, hanya dirinya yang celaka.
Sekarang ia sadar, mungkin ia bukan mati karena jam yang diberikan oleh Tuan Matsunai.
Lalu, bagaimana ia bisa mati?
Shinji Kamihara merasa seolah-olah telah menangkap sesuatu di benaknya, namun tetap saja tak bisa digenggam erat.
Rasanya seperti hendak menceritakan sesuatu pada temannya, tapi begitu hendak bicara, ia malah lupa sama sekali.
Sungguh tidak nyaman.