Bab Empat Puluh Sembilan: Giliranmu, Dimulai Dari Diriku
Shinji Kanbara sepanjang jalan merasa dirinya diperhatikan hingga akhirnya tiba di rumah. Begitu pintu terbuka, ia sedikit tertegun.
Di ambang pintu masuk, ada sebuah kotak berwarna kuning cerah. Saat ia melangkah masuk, terdengar suara pelan dari dalam kotak itu, memanggil, "Mama."
Bersamaan dengan itu, celah di bagian atas kotak perlahan terbuka, lalu dari dalamnya muncul tangan yang kurus, pucat, dan tampak tidak wajar.
Si kecil sedang menunggu aku pulang.
Pikiran itu terlintas sejenak, membuat Shinji Kanbara tersenyum lega. Ia mengulurkan tangannya, menggenggam tangan kecil itu yang terasa dingin membeku.
Tangan besarnya menutupi tangan mungil itu sepenuhnya. Adegan ini bukannya menimbulkan kehangatan, justru memunculkan rasa ngeri.
Dari celah kotak, Shinji Kanbara masih bisa melihat satu mata besar yang tak wajar, memancarkan ekspresi bahagia menatapnya.
“Aku sudah pulang,” ujarnya sambil tersenyum.
Pagi tadi ia pergi tanpa mengucapkan ‘aku berangkat’. Sebagian memang disengaja, sebagian lagi karena kesal. Dunia ini tak melulu hitam atau putih, begitu pula manusia.
Seburuk apa pun seseorang, dalam situasi tertentu, masih ada sisi baik di hatinya. Demikian pula, orang yang baik pun memiliki pikiran gelap di sudut hatinya.
Karena itu, Shinji Kanbara tidak pernah menuntut orang lain dengan standar seorang suci, sebab dirinya sendiri pun jauh dari itu.
Kemarin ia dibunuh oleh makhluk aneh, dan ia tahu betul kalau Mata Kecil dan Ai tak bisa membantunya lantaran dibatasi oleh buku catatan. Namun, ia tetap merasa tidak senang, hanya karena hal itu.
Namun, kini, sikap Mata Kecil membuat hatinya yang semula tertekan menjadi jauh lebih ringan.
Ia menutup pintu, mengangkat kotak itu, meletakkannya di meja tamu, lalu menyalakan kembali televisi yang sebelumnya dimatikan, memutar Doraemon untuk si kecil.
Usai makan malam, ia mulai mengobrol dengan Kyoko.
Setelah berbincang-bincang tentang hal-hal sepele, ia mengirim pesan, “Kau sudah menemukan orang untuk main ‘Giliranmu’?”
“Sudah, sudah,” balas Kyoko dengan cepat, lalu melirik jam, “Semuanya orang asing dari internet. Buatkan saja grup, nanti aku undang mereka, mulai jam sepuluh malam.”
“Apa aku bisa jadi nomor satu?” Shinji Kanbara mengetik.
Tentu saja menjadi nomor satu adalah untuk memastikan sesuatu dalam pikirannya.
Ia ingin tahu, jika ia menjadi nomor satu dan bertemu dengan ‘dia’, seperti apa wujud ‘dia’ itu?
Kini ia sudah tahu, selain nomor satu, nomor dua, tiga, empat, dan seterusnya, yang ditemui hanyalah orang dengan nomor sebelumnya dari grup yang sama.
Mereka akan muncul seperti manusia biasa, lalu langsung datang menemui dan membunuh.
Lalu bagaimana dengan nomor satu? Apakah yang ditemuinya adalah sosok asli?
Atau, ‘dia’ akan memulai dari kelompok pertama yang memainkan permainan ini, lalu setelah grup itu habis, akan mengambil wujud orang terakhir dalam grup berikutnya untuk membunuh nomor satu di grup lain?
Dugaan ini muncul karena dulu Chie Arakawa pernah berkata, di grup tempatnya bermain, semua orang tiba-tiba hilang suara.
Semua mendadak diam… mungkin itu pertanda makhluk aneh mulai membunuh.
Shinji Kanbara juga teringat, saat Kaito Uezaki memberi isyarat ingin menyatakan cinta di grup, mungkinkah saat itu Chie Arakawa sebenarnya sudah menjadi korban?
Sayang, waktu itu Kaito dan Chie sama-sama tidak hadir di pertemuan klub…
Memikirkan itu, ia hanya bisa tersenyum pahit. Walau mereka hadir, dengan sikap acuhnya saat itu, mungkin ia tetap tidak akan menyadari ada yang aneh.
“Tidak masalah. Nanti kau buat grupnya, aku yang undang orang. Jangan lupa ikuti aturannya,” jawab Kyoko tanpa ragu, diam-diam merasa penasaran dengan masalah yang dihadapi Shinji Kanbara.
Mengetahui masalah-masalah seperti ini, barangkali suatu saat bisa membantunya untuk mendekati hati Shinji.
“Baik.”
Aturan yang dimaksud adalah menamai grup dengan ‘Giliranmu’.
Lalu, bagaimana jika grup dinamai selain itu?
Namun Shinji Kanbara memilih tidak melakukannya, sebab tujuannya memang ingin melihat seperti apa wujud asli ‘dia’ dan memahami aturan membunuhnya.
Pukul sepuluh malam, Shinji Kanbara mengundang Kyoko ke grup.
Tak lama, Kyoko menambahkan beberapa orang.
Total dalam grup kecil itu ada lima orang.
Permainan Giliranmu ini cukup populer di internet. Walaupun tidak membatasi jumlah peserta, umumnya orang sepakat lima hingga tujuh orang adalah jumlah ideal.
Karena jumlah yang sedang tidak membuat permainan pelepas stres ini menjadi terlalu lama.
Jika belasan orang bermain, setiap orang harus bercerita satu demi satu, entah sampai kapan baru selesai.
Mereka ingin melampiaskan emosi negatif, bukan membuang waktu.
Karena itu juga permainan ini biasanya dimainkan pukul sepuluh malam, setelah meluapkan emosi, pas untuk cuci muka dan tidur.
Tidak mengganggu kegiatan esok hari.
Setelah semua hadir, Shinji Kanbara mengetik untuk menjelaskan aturan main, sama seperti yang dulu pernah disampaikan Chie Arakawa.
Kali ini, mereka menggunakan mode suara.
Sebagian besar orang di internet memilih mode suara untuk permainan ini, karena menceritakan kesialan lewat kata-kata lebih efektif dalam melampiaskan perasaan negatif.
“Giliranmu, aku mulai dulu.”
Shinji Kanbara berdeham, lalu membuka suara. Suaranya rendah dan mulai bercerita.
“Beberapa hari lalu, aku menolong seorang teman yang sedang dibully di gang dekat sekolah.”
“Keesokan harinya, aku melihat dia dibully lagi, tapi kali ini aku tak membantu.”
“Beberapa hari kemudian, dia mendatangiku. Dengan nada penuh dendam, dia menyalahkanku. Katanya semua karena aku, dia jadi makin parah dibully. Semua kesalahan ditimpakan padaku.”
“Dia menuduhku, kenapa hanya menolong sekali lalu pergi. Kalau memang hanya ingin menolong sekali, seharusnya dari awal tidak perlu membantu.”
“Saat ini, aku sangat bingung, tidak tahu harus berbuat apa.”
Selesai bercerita, Shinji Kanbara terdiam beberapa saat, lalu berkata, “Nomor dua, giliranmu.”
Usai ia berbicara, tidak ada yang segera menanggapi.
Bahkan Kyoko yang mendengarkan cerita itu, ingin sekali memarahi teman yang dibully itu, atau menghibur Shinji Kanbara, namun ia menahan diri.
Semua harus mematuhi aturan.
Nomor dua adalah Kyoko.
Awalnya ia berniat menceritakan kisah cintanya yang kandas, namun karena ada Shinji Kanbara, ia tak ingin pria itu tahu kalau ia pernah punya pacar.
Namun, sebagai pelajar SMA, masalah kecil pun banyak, terutama dalam pergaulan, jadi Kyoko tetap bisa mengeluhkan banyak hal.
Kyoko pun segera meluapkan keluhannya.
Tak lama, tiga orang lainnya juga menceritakan masalah mereka.
Dua orang di antaranya adalah pegawai rendahan di perusahaan, satu lagi ibu rumah tangga.
Setelah lima orang selesai bercerita, Shinji Kanbara mengetik di grup, “Besok malam pukul sepuluh kita lanjut.”
Keesokan malam, pukul sepuluh, Shinji Kanbara kembali bercerita.
Namun kali ini, ceritanya benar-benar fiktif, tak seperti kemarin yang setengah nyata.
Setelah semua orang selesai bercerita, Shinji Kanbara seperti biasa mengetik, meminta mereka melanjutkan besok.
Malam ketiga, pukul sepuluh, Shinji Kanbara kembali mulai bercerita.
Saat giliran nomor empat, tak terdengar suara apa-apa.
Jelas, nomor empat sudah tidak ingin bermain, atau mungkin ada sesuatu yang terjadi. Bagaimanapun, ini cuma permainan pelepas stres, bukan kewajiban.
Setelah keluh kesah disampaikan, tentu tak semua orang ingin terus bermain.
Kalau permainan ini dipaksa berlanjut, bukankah justru jadi beban baru?
Karena itu, saat nomor empat diam, nomor lima langsung membuka suara dan mulai bercerita.
Malam keempat…
Grup itu lenyap.