Bab Seratus Lima Puluh Sembilan: Eksekusi Mati Wei Xiaobao
Bupati Zhang sama sekali tidak merasa takut akan aksi balas dendam Wei Xiaobao. Karena Wei Xiaobao kini berada di dalam genggamannya dan nasibnya sepenuhnya berada di bawah kuasa sang bupati, bahkan jika Wei Xiaobao adalah seekor harimau pemakan manusia, dia tidak akan merasa gentar. Dalam hatinya ia berpikir, "Aku akan menyiksamu hingga tewas perlahan-lahan. Mari kita lihat bagaimana kau bisa bersikap sombong di hadapanku. Kau hanyalah seorang rakyat jelata yang berani menentang pejabat pemerintah, benar-benar tidak tahu tinggi rendahnya langit dan bumi, dan bahkan berani merunduk putriku. Hah... ini sama saja mencari mati!"
Menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana bokong Wei Xiaobao dipukuli hingga babak belur dan sekujur tubuhnya bersimbah darah, Bupati Zhang merasa sangat puas. Sekembalinya ke kediaman, ia langsung memerintahkan para pelayan untuk menyajikan hidangan lezat dan arak, lalu bersenandung kecil sambil menikmati minumannya dengan perasaan gembira.
Wei Xiaobao diseret dan dijebloskan ke dalam sel bawah tanah. Berbeda dengan sel tahanan sebelumnya, penjara bawah tanah ini khusus diperuntukkan bagi para terpidana mati yang akan segera dieksekusi, sehingga perlakuan yang diterima sangatlah mengenaskan.
Kabar tersebut tidak lama kemudian sampai ke telinga Wang Laohu dan rekan-rekan lainnya. Ini tentu saja berkat jasa Ma Liu. Ma Liu bisa dibilang sebagai orang yang masih memiliki hati nurani, sebab ia telah banyak menerima kebaikan dari Wei Xiaobao. Tentu saja ia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Wei Xiaobao. Hanya saja, ia tidak memiliki pengaruh di hadapan sang bupati. Sekalipun ia bisa berbicara, sebagai seorang kepala penjara rendahan, mana mungkin Bupati Zhang menganggapnya penting?
Sel tempat Wei Xiaobao dikurung adalah sebuah kolam air yang sangat dalam. Tubuhnya dibelenggu dengan rantai besi dan diikat di tengah kolam, dengan sekujur tubuhnya dililit rantai agar tidak bisa melarikan diri. Bupati Zhang benar-benar mengerahkan segala cara dan perhitungan matang untuk menghadapi Wei Xiaobao. Tidak hanya diikat dan dibelenggu dengan pasungan, Wei Xiaobao juga direndam di dalam air sepanjang hari, dengan hanya bagian kepalanya saja yang menyembul di permukaan. Perlakuan semacam ini sungguh luar biasa kejam. Merasa belum cukup, Bupati Zhang bahkan memberikan perintah agar tidak ada seorang pun yang mengantarkan makanan kepada Wei Xiaobao, berniat menyiksanya hingga tewas kelaparan.
Wei Xiaobao dibiarkan kelaparan selama seharian penuh. Rasa lapar dan haus yang teramat sangat menderanya, sementara sekujur tubuhnya terasa sangat nyeri. Terperangkap di dalam air tanpa bisa menggerakkan tubuh sedikit pun, ia bahkan sempat terbersit keinginan untuk mati saja.
Tepat ketika Wei Xiaobao merasa putus asa dan dalam hati mengutuk langit yang dianggapnya tidak adil, ia tiba-tiba mendengar suara seseorang dari atas kepalanya. Sesaat kemudian, penutup lubang dibuka dan muncullah sebuah kepala. Di tengah malam yang gelap gulita itu, Wei Xiaobao tidak dapat melihat dengan jelas, dan hanya mendengar suara orang tersebut memanggil dengan hati-hati dan berbisik, "Ayah angkat, ini aku. Aku Liu Zi, apakah engkau baik-baik saja? Engkau harus bertahan! Kami semua menyuruhku datang untuk menjengukmu. Aku membawa ayam panggang, tunggulah sebentar, aku akan menyerahkannya kepadamu dari atas."
Wei Xiaobao terkejut sekaligus gembira; ia tidak menyangka Ma Liu benar-benar datang untuk menjenguknya. Dengan suara pelan Wei Xiaobao menjawab, "Aku masih hidup! Cepatlah sedikit, anak sialan, ayah angkatmu ini hampir mati kelaparan."
Tak lama kemudian, sebuah keranjang bambu diturunkan menggunakan seutas tali. Wei Xiaobao merasa sangat gembira saat melihat isi keranjang tersebut yang ternyata adalah semangkuk arak dan seekor ayam panggang. Meskipun tangan dan kakinya terikat, mulut Wei Xiaobao masih bisa digerakkan. Ia buru-buru menggigit sepotong besar daging dengan mulutnya dan langsung menelannya bulat-bulat. Ia sudah terlalu kelaparan sehingga tidak punya kesempatan lagi untuk mengecap rasanya; yang terpenting saat ini adalah bagaimana mempertahankan nyawanya.
Melihat kondisi Wei Xiaobao di bawah sana, Ma Liu merasa sangat iba. Dengan suara parau dan tercekat ia berkata, "Ayah angkat, tenang saja. Kami semua berniat menyelamatkanmu keluar dari sini. Kali ini biarkan aku yang datang meninjau situasi terlebih dahulu. Jika bupati itu benar-benar berniat mencelakakanmu, kami semua akan bertaruh nyawa untuk membawamu keluar dari sini."
Wei Xiaobao merasa sangat tersentuh di dalam hati. Sambil merenungkan situasinya saat ini, ia sadar bahwa Bupati Zhang memang menyimpan dendam kesumat dan jika tidak berhati-hati, ia benar-benar bisa kehilangan nyawa di tangan pria itu. Teringat pada Li Gang dan kawan-kawan, mata Wei Xiaobao berbinar dan sebuah akal segera terlintas di benaknya. Ia buru-buru berkata kepada Ma Liu, "Aku punya rencana bagus. Cepat beritahu Li Gang dan kedua temannya, katakan kepada mereka bahwa jika aku berada dalam bahaya, sebarkan berita ini ke seluruh penjuru kota. Kau tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Pergilah temui mereka sekarang dan suruh Wang Laohu serta yang lainnya bersabar untuk sementara waktu. Jika sudah benar-benar terpaksa, barulah kalian selamatkan aku keluar. Apakah kau mengerti?"
Dalam waktu singkat, Wei Xiaobao telah menghabiskan seluruh ayam panggang dan semangkuk besar arak tersebut tanpa sisa. Perutnya akhirnya terisi sedikit makanan, membuat ia merasa sedikit tenaga kembali mengalir di tubuhnya.
Ma Liu melirik ke arah langit dan menyadari waktu sudah semakin larut. Ia berkata kepada Wei Xiaobao, "Ayah angkat, aku harus segera pergi sekarang. Akan menjadi masalah besar jika para prajurit bupati memergokiku. Kehilangan nyawaku yang murahan ini sebenarnya bukan masalah besar, yang kutakutkan adalah aku gagal menyelesaikan tugas yang Ayah angkat berikan. Ayah tenang saja, pesan ini akan segera kusampaikan keluar. Jaga diri baik-baik, ya."
Mendengar kata-kata perhatian dari Ma Liu tersebut, Wei Xiaobao merasa terenyuh. Ia tidak menyangka bahwa pada saat-saat kritis seperti ini, Ma Liu justru tidak lagi silau oleh harta dan menunjukkan kesetiakawanan yang tinggi.
Mungkin pepatah memang benar adanya, bahwa siapa yang bergaul dengan orang baik akan ketularan menjadi baik. Ya, setiap hari bergaul dengan orang-orang seperti Wei Xiaobao memberikan pengaruh yang besar bagi Ma Liu, bahkan dalam lubuk hatinya ia sangat ingin bergabung dengan Bintang Merah, hanya saja ditolak oleh Wei Xiaobao.
Selama tiga hari berturut-turut, Bupati Zhang melarang siapapun memberikan sebutir nasi pun setetes air kepada Wei Xiaobao. Pada hari keempat, Bupati Zhang secara pribadi mendatangi sel tahanan dan sangat terkejut saat melihat Wei Xiaobao ternyata belum mati. Bola matanya hampir keluar dari rongganya; bagaimana mungkin pemuda ini memiliki ketahanan tubuh sekuat itu?
Wei Xiaobao tersenyum lalu berkata, "Maafkan aku, Bupati Zhang, telah membuatmu kecewa sungguh aku merasa tidak enak. Bukankah tujuanmu adalah menyiksaku? Silakan keluarkan semua cara yang kau miliki."
Dengan penuh amarah Bupati Zhang membentak, "Hari-hari baikmu akan segera berakhir! Besok adalah hari kematianmu."
Wei Xiaobao yang sudah siap mental, tersenyum dan berkata, "Say sekali, kurasa kau terlalu cepat merasa senang. Asalkan nanti kau tidak menyesal, itu sudah cukup."
Bupati Zhang melemparkan kalimat ketus, "Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menemui dewa maut lebih dulu!" Usai berkata demikian, ia mengibas-ngibaskan lengan bajunya dengan kesal dan pergi meninggalkan tempat itu.
Wei Xiaobao sama sekali tidak merasa takut, sebab ia tahu Li Gang dan kedua temannya sedang bergerak di luar, serta memiliki Bintang Merah sebagai pendukung yang kuat, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan. Paling-paling, mereka akan menyerbu tempat eksekusi, membunuh para prajurit, lalu dirinya akan menjadi bandit gunung dan menguasai wilayah tertentu.
Begitu pengumuman resmi dari kantor pemerintahan ditempelkan, kabar tersebut langsung menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru Yangzhou. Warga berbondong-bondong saling memberitahu bahwa Wei Xiaobao akan dipenggal di pasar pada siang hari keesokan harinya.
"Tahukah kau? Jenius Yangzhou, Wei Xiaobao, besok akan dipenggal."
"Hei, apakah yang kau maksud adalah pahlawan muda berusia lima tahun yang tidak pernah mabuk saat minum arak dan si jenius pendongeng cerita itu? Kudengar dia juga pahlawan kecil Yangzhou yang pernah menangkap penculik wanita."
Seorang lelaki tua berkata, "Keluargaku tidak punya uang untuk bertahan hidup, berkat pahlawan kecil itulah aku diberi seratus tael perak untuk berdagang kecil-kecilan, sehingga aku bisa bertahan hidup sampai hari ini. Pemerintah benar-benar buta, orang jahat tidak ditangkap, malah hendak mencelakai pahlawan kecil kita."
Para warga membicarakannya dengan hangat. Baik di kedai teh, restoran, bahkan hingga ke ladang pertanian, semua orang hanya membicarakan tentang Wei Xiaobao.
Wei Xiaobao telah berkeliling mendongeng di Yangzhou selama bertahun-tahun. Di jalanan kota itu, mulai dari orang tua berusia delapan puluh tahun hingga anak-anak berumur lima atau enam tahun, tidak ada seorang pun yang tidak mengenalnya.
Li Gang bersama dua rekannya, Niu Er, Zhao Kai, dan yang lainnya tidak tinggal diam. Mereka terus berlarian ke sana ke mari menyebarkan berita tentang eksekusi Wei Xiaobao secara besar-besaran. Dalam sekejap, berita itu menyebar dari mulut ke mulut hingga dalam waktu singkat jalan-jalan dan lorong-lorong kota, bahkan para pengemis jalanan pun mengetahuinya. Seluruh kota Yangzhou, benar-benar menjadi gempar.
Kondisi kesehatan Wei Chunhua dan yang lainnya yang tadinya sudah mulai membaik, kini kembali jatuh sakit mendengarkan kabar tersebut. Meskipun Li Gang dan kawan-kawan terus membujuk dan meyakinkan mereka bahwa Wei Xiaobao telah memiliki rencana dan tidak akan terjadi apa-apa padanya, tetapi jalan pikiran wanita memang selalu begitu—selalu ada ganjalan di dalam hati yang membuat bujukan tidak ada gunanya sama sekali. Mereka berdua menghabiskan hari-hari tanpa selera makan dan terus-menerus menangis, membuat kondisi penyakit mereka kembali memburuk.