Bab Delapan Puluh Enam, Su Hongmei
Wei Xiaobao tertawa sinis, “Balas dendam? Kalian kembali dan sampaikan pada Yan Nantian, kalau berani, silakan datang balas dendam padaku. Aku ini Xiaobao si Naga Putih Berwajah Tampan, namaku tak pernah kusembunyikan. Aku ingin tahu, berapa banyak nyali yang dimiliki Yan Nantian, berani-beraninya cari masalah denganku. Sekalian tolong sampaikan salamku pada pemimpin kalian, tanyakan padanya, bagaimana rasanya hadiah kucing yang kukirimkan terakhir kali? Apakah menyenangkan?”
Nama Wei Xiaobao memang sudah terkenal di telinga mereka, namun ucapan barusan membuat mereka bingung. Dalam hati mereka bertanya-tanya, kapan Wei Xiaobao mengirim hadiah pada ketua mereka? Dan kenapa harus seekor kucing? Jangan-jangan itu kucing Persia yang sangat mahal. Sepertinya hubungan Wei Xiaobao dengan pemimpin mereka tidak biasa. Karena tak paham, mereka pun hanya bisa pergi dengan lesu.
Selesai urusan, Wei Xiaobao berbalik memandang nyonya pemilik warung yang masih ketakutan. Ia tersenyum, “Kau tak apa-apa, kan? Tempat ini memang tidak pernah benar-benar aman. Kau perempuan, hidup sendiri di luar tentu berat. Lebih baik ambil uang ini, pindahlah dan carilah keluarga yang baik.” Setelah berkata demikian, Wei Xiaobao berbalik hendak pergi.
Tiba-tiba, wanita itu memanggilnya, “Tuan, tunggu sebentar. Ikutlah denganku.” Ia pun melangkah masuk ke dalam rumah. Wei Xiaobao sempat ragu, namun akhirnya mengikuti. Begitu masuk ke dalam, ia tertegun. Wanita cantik itu telah menanggalkan seluruh pakaiannya, memamerkan tubuh indahnya di depan mata Wei Xiaobao.
“Tenggorokan Wei Xiaobao tercekat, tubuhnya terasa panas dan tak tertahankan. Ia menelan ludah, napasnya memburu.
Dengan wajah malu-malu, wanita itu berkata, “Tuan telah begitu berjasa, aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya. Hanya berharap tuan tak mempermasalahkan keadaan diriku yang sudah rusak. Sebenarnya, aku sudah tahu apa yang ada di hati tuan. Hanya saja, tuan orang baik, tidak mengambil kesempatan di saat aku lemah. Aku sangat berterima kasih atas itu.”
Ternyata, keinginan tersembunyi Wei Xiaobao sudah lama ditebak sang pemilik warung. Ditambah lagi, sebelumnya Wei Xiaobao diam-diam meninggalkan lima ratus tael perak. Ia merasa tak punya cara lain untuk membalas, kecuali dengan menyerahkan dirinya.
Orang lain mungkin akan menolak dengan sopan, tapi Wei Xiaobao selalu jujur pada keinginannya. Sejak pertama bertemu, ia sudah jatuh hati pada wanita ini. Setiap malam ia memimpikan untuk merasakan kelembutan tubuhnya. Kesempatan sudah di depan mata, tentu saja ia tak akan menolak.
Apalagi, ini semua atas kemauan wanita itu sendiri, bukan paksaan. Maka, dengan satu gerakan, Wei Xiaobao mengangkat wanita itu dan membawanya ke ranjang. Ia tak sabar menindih tubuhnya, menciumi dengan penuh gairah, kedua tangannya tak henti meremas dada indah wanita itu. Mungkin wanita itu hanya ingin membalas budi, atau mungkin karena sudah lama menjanda dan kesepian, atau memang butuh seseorang untuk bersandar. Yang pasti, gairahnya sungguh di luar dugaan Wei Xiaobao.
Malam itu di ranjang reyot, mereka melewati malam penuh gairah, ranjang pun berderit-derit seakan mau rubuh. Dari tengah hari hingga larut malam, dari malam hingga fajar, mereka berdua akhirnya terkulai lemas, tak berdaya. Wei Xiaobao bahkan merasa tubuhnya hampir tercerai-berai saking lelahnya.
Wei Xiaobao puas, tapi keluarganya dibuat cemas. Wei Chunhua dan yang lain mencari ke mana-mana tanpa hasil, mata para gadis sampai bengkak karena menangis, takut terjadi sesuatu padanya. Li Gang dan dua rekannya juga mencari semalaman tanpa petunjuk. Kalau saja mereka tahu Wei Xiaobao sedang bermesraan dengan perempuan lain, pasti akan sangat marah.
Setelah beristirahat hampir setengah hari, barulah Wei Xiaobao bangkit dari ranjang. Begitu berdiri, tubuhnya limbung hampir jatuh. Ia mengeluh dalam hati, inilah nasib lelaki, seperti sapi tua, senangnya memang enak tapi lelahnya luar biasa.
Tiba-tiba ia menepuk dahi, “Gawat, mereka pasti panik mencariku.” Ia melirik wanita yang baru saja selesai berpakaian, lalu bertanya, “Belum tahu, siapa namamu? Bagaimana aku harus memanggilmu? Lalu, di mana anakmu? Kalau kau di sini, siapa yang mengurusnya?”
Wanita itu tersenyum, “Namaku Su Hongmei, anakku sedang bersama ibu mertua. Aku sendiri sibuk mengurus warung ini.”
Wei Xiaobao mengangguk, “Bagaimana kalau kau ikut aku pulang saja?”
Wanita itu tersenyum pahit dan menggeleng, “Aku sudah tidak suci lagi, terima kasih tuan tak memandang rendah. Aku sangat berterima kasih. Biarlah kejadian semalam kita anggap mimpi saja. Aku masih punya anak, ikut tuan hanya akan merepotkanmu dan merusak reputasimu.”
Melihat wanita itu tak bisa dibujuk, Wei Xiaobao pun tidak memaksa. Ia hanya berharap bisa membantu semampunya jika sang wanita butuh. Mungkin beginilah yang disebut ‘cinta satu malam’ di masa lalu, saling rela tanpa penyesalan. Wei Xiaobao pun tak merasa bersalah.
Ia segera kembali ke Lichun Yuan. Begitu tiba, semua orang langsung mengerumuninya. Wei Chunhua memelintir telinganya sambil memarahinya habis-habisan, lalu mengomel, “Xiaobao, kau hampir saja membuat kami semua mati ketakutan. Katakan, ke mana saja kau semalam?” Lanxin juga menimpali, “Benar! Kami kira kau tertimpa musibah. Kau tak ada, kami semua cemas, bahkan sampai menangis berkali-kali.”
Wei Xiaobao menampar pipinya sendiri beberapa kali, mengaku salah dengan tulus, “Ini memang salahku, membuat kalian khawatir. Ada sedikit urusan mendadak yang membuatku tak bisa pulang.”
Dong Ya segera menahan tangannya, bicara lembut, “Yang penting kau sudah kembali, kami semua senang, jangan sampai kau melukai diri sendiri.”
Bagi Wei Xiaobao, ia selalu tahu cara menenangkan para gadis. Jika ia jujur sepenuhnya, pasti mereka akan makin marah. Cukup dengan beberapa tamparan, semuanya jadi mudah. Para gadis pun merasa kasihan padanya, tak lagi terus bertanya.
Mengakui kesalahan tanpa pernah benar-benar berubah, itulah sifat Wei Xiaobao sejati. Kalau harus menahan diri dan hidup lurus-lurus saja, menurutnya, jadi laki-laki tak lagi menyenangkan.
Wei Xiaobao pun memeluk para istrinya, membujuk dengan kata-kata manis. Mereka semua akhirnya kembali ceria, kecuali Lin Wan’er. Sejak Lin Wan’er diselamatkan dari keluarga Dong, ia mulai menaruh hati pada Wei Xiaobao. Namun Wei Xiaobao pura-pura tidak tahu, malah sering bermesraan dengan istrinya di depan Lin Wan’er, membuat gadis itu serba salah—ingin pergi tapi tak rela, tetap tinggal hanya bisa melihat Wei Xiaobao bermesraan dengan yang lain, hatinya pun perih.
Wei Xiaobao tersenyum pada Lin Wan’er, merasa bersalah karena selama ini sibuk hingga tak sempat memperhatikannya. Ia pun mengusulkan, “Aku putuskan untuk cuti beberapa hari, menemani kalian semua jalan-jalan. Bagaimana?”
Semuanya setuju dengan gembira. Teringat saat mendaki gunung bersama Dong Ya dulu, mereka pun berkata, “Hari ini, mari kita ke Gunung Bunga Plum. Sekarang pasti bunga-bunga sedang mekar, pasti indah sekali.”
Mereka pun bersiap, membawa perlengkapan yang diperlukan. Karena jumlah mereka banyak dan barang bawaan para wanita pun tak sedikit, Wei Xiaobao menyuruh pelayan mencari kereta kuda. Untuk surat izin cutinya, ia minta Zizunbao mengantarkan ke sekolah. Toh di sekolah, apapun yang ingin Wei Xiaobao lakukan, tak ada yang berani melarang.