Bab Tiga Puluh Sembilan: Belati
Tidak lama kemudian, sosok yang disebut sebagai "orang asing" itu pun muncul di luar halaman. Saat itu, Song Ying baru saja bangun dari tidur singkatnya, dan Qing Yao sedang menyisir rambutnya.
Baru saja sebuah tusuk konde bunga disematkan, terdengar suara Su Mo yang sayup-sayup sampai.
"Nona Qiu Xin, Nona Song masih beristirahat, silakan kembali saja."
"Tapi aku benar-benar ada urusan mendesak... Nona Song! Nona Song!"
Mungkin karena Su Mo menghalangi dengan begitu ketat, Qiu Xin tidak lagi memedulikan tata krama dan berteriak langsung dari luar halaman.
"Nona, apakah ingin menemuinya?" tanya Qing Yao yang merasa iba mendengar nada tangis dalam teriakan itu.
"Tidak perlu," jawab Song Ying datar sambil menatap dirinya di cermin perunggu. "Qing Yao, tolong buatkan aku bedak perona."
"Ah, baik." Qing Yao segera menurut.
Setelah sapuan tipis perona pipi, wajah di cermin itu kini tampak merona, alisnya bagai pegunungan yang jauh, dan matanya setenang aliran air di musim gugur. Akhirnya, ia tidak lagi tampak pucat dan lemah seperti hari-hari sebelumnya.
Song Ying menarik pandangannya lalu berdiri. Ia tidak mengizinkan dirinya terus-menerus terlihat rapuh dan lemah.
"Aku akan pergi ke ruang kerja mencari beberapa buku. Namun, saat aku keluar nanti, aku tidak ingin melihat orang lain. Beritahu Su Mo mengenai hal ini."
Maksudnya tentu saja untuk mengusir Qiu Xin. Qing Yao memahaminya, ia mengangguk lalu melangkah keluar. Saat melewati ambang pintu, ia tanpa sadar menoleh sekali lagi.
Song Ying berdiri membelakanginya. Meski cahaya senja menyelimuti tubuhnya dengan warna hangat, itu tidak mampu mengusir kesan dingin yang sulit dijelaskan. Seolah-olah sebuah dinding telah dibangun di sekelilingnya, mengisolasi dirinya dari dunia luar.
Setelah melaporkan detail negosiasi perdamaian dan pernikahan di Xiling ke istana, Yun Ye kembali ke kediamannya. Langit belum sepenuhnya gelap, masih menyisakan warna biru pekat dengan semburat cahaya di ujung cakrawala.
Ia mendorong pintu ruang kerja dan seketika menangkap bayangan di sudut ruangan. Tanpa mengubah ekspresi, ia memerintahkan pelayan di belakangnya untuk menunggu di luar dan tidak mengganggu. Kemudian, ia menutup pintu rapat-rapat.
"Bukankah sudah kubilang jangan datang sembarangan?"
Ia tidak menyalakan lampu, melainkan duduk di meja dan menuang dua cangkir teh. "Gedung Hua Yue sudah berpindah tangan, aku akan segera pergi."
Sosok itu tidak menunjukkan wajahnya yang tersembunyi di balik bayang-bayang, hanya terlihat sisa-sisa janggut tipis di dagunya yang pucat. "Jika ingin menghubungi, gunakan cara lama."
"Baiklah, aku mengerti," suara Yun Ye terdengar dingin. "Minumlah tehmu, pergilah setelah langit benar-benar gelap."
Orang itu tidak bergerak, ia duduk diam sejenak. "Apakah benar itu Jin Zhi?" tanyanya dengan nada tidak rela. "Aku awalnya tidak percaya dia akan..."
"Kali ini berkat informasi dari Li Ji, barulah hal ini terbukti," ucap Yun Ye sambil menyesap teh yang sudah dingin, suaranya sedingin es. "Li Ji melihatnya secara langsung dan mencuri surat rahasia tentang janji pertemuan mereka. Barulah bisa dipastikan bahwa Lu Jin Zhi telah membelot kepada orang itu, dan orang itu kini menjadi penasihat putra mahkota."
Terdengar helaan napas panjang. "Lalu bagaimana dengan Jin Zhi sekarang..."
"Aku membiarkannya pergi," potong Yun Ye. "Karena kita sudah tahu identitasnya saat ini, kita sudah bersiap, jadi tidak takut dia akan menimbulkan masalah lagi... Lagipula, orang yang sebenarnya kucari bukanlah dia."
Dalam keremangan senja, terlihat jari-jari pucat orang itu perlahan mengepal. Tangan yang dulu ramping dan bersih, yang sering merancang strategi besar di atas kertas, kini sudah dipenuhi kerutan halus. Bagaimanapun, bertahun-tahun telah berlalu.
"Apakah ada kabar tentang orang itu sekarang?" tanyanya dengan suara berat, lengan bajunya sedikit gemetar. Akhirnya, setelah bertahun-tahun, petunjuk itu ditemukan.
"Dia bersembunyi dengan sangat baik. Ada alasannya mengapa kau tidak bisa menangkapnya selama bertahun-tahun ini. Dia pasti awalnya berlindung pada Guru Agung Jiang, lalu setelah putra mahkota dewasa, dia beralih ke bawah komandonya."
Yun Ye berkata dengan sangat tenang. Ia tidak melihat langsung liku-likunya, namun ia yakin kesimpulannya tidak meleset jauh. Jika bukan karena rencana menempatkan Li Ji di kediaman putra mahkota, mungkin tidak akan semudah ini mengungkap hubungan mereka.
"Utang ini sudah tertunda bertahun-tahun, sudah saatnya kita melunasinya," gumam orang itu, sementara tatapan Yun Ye kian membeku.
"Tentu saja," ucapnya penuh penekanan. Namun, utang yang ingin ia lunasi adalah perkara lain.
"Ah, Nona Song, Tuan bilang tidak boleh diganggu, Anda sebaiknya..." terdengar suara pengawal di luar ruang kerja. Yun Ye segera berdiri.
Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, orang itu menghilang ke balik rak buku, mendorong pintu rahasia di belakangnya dan masuk ke dalam. Melihatnya telah pergi, Yun Ye membuka pintu ruang kerjanya.
"Tidak apa-apa, mundurlah," perintahnya kepada pengawal. Saat menoleh ke arah Song Ying, wajahnya sudah dihiasi senyuman, meski nada bicaranya sedikit menegur. "Udara sedang dingin, mengapa keluar tidak memakai jubah?"
"Aku tidak berencana berada di luar terlalu lama, hanya ingin mencari dua buku," jawabnya seraya melangkah masuk. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan bertanya santai, "Apakah kau sedang ada tamu?"
"Tidak ada," jawabnya. Jantungnya sedikit berdegup, namun wajahnya tetap tenang. "Tadi ada dokumen yang harus ditulis, aku tidak ingin diganggu."
Pandangan Song Ying beralih sejenak ke dua cangkir teh di atas meja, namun ia tidak bertanya lebih jauh dan berjalan menuju rak buku. Di sisi lain rak terdapat lemari kayu pir yang menyimpan barang-barang koleksi Yun Ye. Sebelum sempat mencari buku, pandangannya tertuju pada jajaran belati di bagian tengah.
Ia berjalan mendekat dan mengambil salah satu belati, lalu mengamatinya dengan saksama. Belati itu berwarna hitam pekat, tampak sangat sederhana di antara senjata-senjata lain yang dihiasi permata, bahkan gagangnya pun tanpa ukiran. Namun jika diperhatikan, bilahnya yang hitam legam memancarkan semburat merah samar. Belati itu kecil, tipis bagai sayap tonggeret, namun terasa berat saat digenggam.
"Bisakah kau berikan ini padaku?" tanyanya langsung pada Yun Ye.
Yun Ye menoleh dan tersenyum geli. "Matamu tajam juga, tahu saja mana yang paling berharga."
"Apakah ini sangat istimewa?"
"Ini terbuat dari besi hitam. Dari semua bahan senjata, inilah yang paling unggul." Senjata dari besi hitam tidak hanya mampu memotong besi bagaikan memotong lumpur, tetapi juga tidak bisa rusak oleh senjata apa pun. Ini adalah barang yang sangat langka. Belati ini dulunya diberikan oleh kaisar kepada Yun Shen, dan saat Yun Ye berulang tahun tahun lalu, Yun Shen memberikan barang ini kepadanya, yang sempat membuat iri saudara-saudara dari garis utama keluarga Yun.
Song Ying mengusap-usap belati itu, tampak tenggelam dalam pikirannya.
"Apakah kau bisa menggunakannya?" Yun Ye tertawa kecil melihat tingkahnya; dulu ia hanya melihat Song Ying fokus seperti ini saat membaca buku.
"Nanti aku akan bisa," jawabnya acuh tak acuh. Tiba-tiba, Yun Ye meraih pergelangan tangannya.
Ia mendongak menatap Yun Ye. Pria itu menarik tangannya dan meletakkannya di atas dada kirinya. Song Ying tidak menarik diri, membiarkan jemarinya menelusuri rongga dada pria itu.
"Sudah terasa? Rusuk keempat," bisik Yun Ye lembut. "Lalu tusukkan dari sini."
"Satu tusukan langsung mati?" tanya Song Ying.
"Satu tusukan langsung mati," jawabnya.
"Bagaimana jika menurutku itu belum cukup?" Ekspresinya tidak berubah, namun tatapan matanya kian dalam.
"Kalau begitu, ingatlah bagian ini." Yun Ye menggunakan tangan lainnya untuk membelai pinggang Song Ying dengan alami, lalu perlahan naik hingga berhenti di dada kiri. "Ini paru-paru. Jika ditusuk di sini, dia tidak akan langsung mati, tetapi setiap kali dia bernapas, luka itu akan terbuka kembali. Dia akan batuk darah, meronta, dan pada akhirnya, dia akan lebih memilih untuk mati kehabisan napas daripada menanggung rasa sakit saat bernapas."
"Baik," jawabnya pelan sambil mengangguk. Cahaya lilin memantul di wajahnya, memberikan rona kemerahan yang tipis. Ia terlihat begitu kurus dan mungil.
Yun Ye tahu Song Ying terluka terlalu dalam dan seharusnya ia tidak terlalu terburu-buru mendekatinya, namun pada saat itu, ia tidak bisa menahan diri untuk mendekapnya. Ia memeluknya dengan erat.
"Aku benar-benar ingin mengurungmu selamanya," bisiknya di telinga Song Ying dengan suara berat. "Agar orang lain tidak bisa melihatmu, agar orang lain tidak bisa menyakitimu. Sepertinya hanya dengan mengurungmu dengan rapat, barulah aku merasa tenang."
Song Ying membiarkannya memeluk tanpa bergerak sedikit pun. Setelah sekian lama, Yun Ye melepaskannya. Telapak tangannya mengusap pipi Song Ying yang lembut, sementara di mata jernih wanita itu, terpantul sepasang mata pria itu yang penuh kasih sayang sekaligus rasa sakit yang tersembunyi.
"Tapi itu hanya keinginanku, bukan keinginanmu."
"Jadi, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Sudah kukatakan, kau tidak perlu lagi menderita ketidakadilan apa pun, karena sekarang, ada aku di sisimu."