Bab Lima Puluh Empat: Pusaka Aneh (Bagian Kedua)
Dua orang gadis belia di atas tandu serta keempat orang penjaga segel turut membantu lelaki tua berambut putih itu, mengerahkan tenaga bersama-sama untuk mengaktifkan Kantong Penelan Langit yang ditempa dari kulit makhluk buas.
Mereka menyalurkan kekuatan magis masing-masing ke dalam Kantong Penelan Langit, membuatnya bersinar semakin menyilaukan. Mulut kantong itu tampak cemerlang, menelan apa saja seperti paus yang meneguk air laut. Batu-batu raksasa berbobot puluhan ribu hingga ratusan ribu kati tersedot ke atas dan terempas masuk ke dalam kantong tersebut.
Kantong itu terlihat kecil, tetapi seolah-olah mampu menampung seluruh bentang alam dan sungai-sungai di dunia, menyimpan dimensi luas yang tak terbatas di dalamnya.
Di kejauhan, sesosok manusia dan seekor anjing bersembunyi di balik sebuah gundukan tanah kecil dengan mata yang memancarkan cahaya terang. Kantong itu jauh lebih hebat daripada kantong penyimpan milik mereka!
"Benda yang benar-benar luar biasa, Si Hitam, bagaimana menurutmu? Mau kita sikat?" Gu Chi tersenyum nakal.
Anjing hitam besar itu mengangguk. Tentu saja! Sudah pasti mereka harus merampok benda itu!
Berbagai batu raksasa di dalam lembah tersedot ke atas oleh daya sedot Kantong Penelan Langit yang luar biasa, sementara jepit rambut berwarna putih keperakan yang panjangnya hanya empat hingga lima inci itu sama sekali tidak bergeming. Benda itu memancarkan cahaya surgawi, tampak semakin misterius dan tak terduga.
"Tarik!" Pemuda di atas tandu itu juga turun tangan secara langsung. Ia mengerahkan seluruh kekuatan magis di tubuhnya dan memasukkannya ke dalam Kantong Penelan Langit, membuat wibawa benda itu semakin menjadi-jadi.
"Bum!"
Jepit rambut putih keperakan itu terus-menerus diganggu hingga akhirnya mengamuk. Seluruh lembah runtuh seketika. Fluktuasi energi yang mengerikan bagaikan lautan luas, membuat jajaran gunung di kejauhan bergetar hebat dan memicu gempa besar di tempat itu.
"Gawat! Pusaka spiritual ini memiliki kekuatan yang tak terduga, cepat mundur!" Wajah pemuda itu berubah pucat. Keempat penjaga segel dengan cepat mengangkat tandu dan melesat ke udara, hampir menembus lapisan awan untuk menjauhi lembah.
Jepit rambut itu bergetar, memancarkan gelombang demi gelombang cahaya surgawi yang hampir saja menjungkirbalikkan tandu tersebut. Untungnya jarak mereka cukup jauh, sehingga tidak terkena dampak yang terlalu parah.
"Coba sekali lagi, kalau masih gagal, kita langsung pergi!" Pemuda di atas tandu itu belum menyerah. Ia sangat menyukai jepit rambut tersebut dan ingin membawanya pulang untuk dipersembahkan kepada selir kekaisaran, ibundanya, sehingga ia enggan pergi begitu saja.
Mereka mengerahkan tenaga bersama-sama untuk mengaktifkan Kantong Penelan Langit. Mulut kantong itu memancarkan sebaris prasasti misterius, dan wibawanya meningkat puluhan kali lipat dalam sekejap.
Jepit rambut putih keperakan itu bergetar, meredupkan seluruh cahaya surgawinya, lalu memancarkan fluktuasi aura yang membuat jantung berdegup kencang.
Melihat hal itu, Gu Chi mengurungkan niatnya untuk merebut Kantong Penelan Langit dan jepit rambut tersebut. Ia membawa anjing hitam besar itu melompat ke atas pusaka Cuo Yu Qie dan berubah menjadi seberkas cahaya yang melesat kabur dengan kecepatan tinggi, setelah merasakan kehadiran aura yang amat berbahaya.
"Bum!"
Benar saja, tak lama kemudian sebuah ledakan dahsyat terjadi di belakang mereka. Jepit rambut putih keperakan itu memancarkan cahaya menyilaukan bagaikan sebuah komet yang menghantam bumi, membuat tanah dan pegunungan di sana hancur berkeping-keping secara total.
Kekuatan yang mengerikan menyapu segala penjuru. Puncak-puncak gunung yang berada di luar radius seratus li turut bergetar lalu runtuh, debu mengepul membumbung tinggi, dan wilayah seluas seratus li seketika berubah menjadi tanah kehancuran pada saat itu juga.
"Kekuatan ini benar-benar tidak masuk akal!" Gu Chi terbang melarikan diri dengan kecepatan penuh bersama anjing hitam besar itu, merasa sangat terkejut di dalam hati saat melihat pemandangan dahsyat di belakang mereka.
"Cepat lari!" teriak pemuda yang menganggap dirinya sebagai "Pangeran" itu dengan suara menggelegar, menyadari bahwa pusaka spiritual ini tidak mampu mereka kuasai dan bukanlah sesuatu yang bisa mereka miliki.
Keempat penjaga segel mengangkat tandu dan melesat menjauh dengan kecepatan tinggi. Kendati demikian, salah satu penjaga segel tetap tersambar oleh kilauan cahaya yang menerjang tubuhnya. Pria itu menjerit histeris, jatuh terhempas dari ketinggian, dan meledak di udara menjadi kabut darah tanpa menyisakan sepotong tulang pun!
"Percepat lagi!" bentak pemuda di atas tandu dengan mata yang dipenuhi rasa ngeri dan terkejut.
Begitu suaranya usai, ia pun mengeluarkan jeritan kesakitan setelah dihantam oleh seberkas cahaya surgawi, hampir membuatnya terjatuh dari tandu. Bahu kirinya tertembus hingga meninggalkan lubang darah yang tembus dari depan ke belakang, darah segar mengalir deras.
"Bum!" Lelaki tua berambut putih itu turut tertembus pada bagian dada kanannya, membuat darah menciprat ke udara luas.
Tandu itu melesat kencang membelah langit, meninggalkan ceceran darah yang luas di udara.
"Syu!" Jepit rambut putih keperakan itu tidak lagi naik turun, melainkan berubah menjadi pelangi perak yang melesat pergi dengan kecepatan tinggi.
"Kejar!"
Gu Chi senantiasa mengamati situasi di belakang. Begitu melihat jepit rambut itu melarikan diri, ia segera mengendalikan pusaka Cuo Yu Qie dan mengejarnya dalam satu tarikan napas.
Namun, kecepatan jepit rambut itu sungguh luar biasa cepat di luar nalar. Gu Chi telah mengerahkan kecepatan maksimalnya namun tetap tidak mampu mengejar, hanya bisa menyaksikan benda itu menghilang dari pandangan tanpa bisa dilacak lagi.
Untunglah penciuman anjing hitam besar itu sangat tajam. Setelah terbang melesat melewati jajaran pegunungan yang luas, mereka akhirnya kembali mendeteksi fluktuasi aura dari jepit rambut tersebut.
Di hadapan mereka, api berkobar dengan dahsyat. Di dalam kawah sebuah gunung berapi, lahar yang mendidih bergolak naik, dan suhu panasnya membuat separuh langit berubah menjadi kemerahan.
"Sejak kapan ada gunung berapi di sini?" Gu Chi bertanya dengan terkejut.
Beberapa hari lalu saat mereka melewati tempat ini, sepertinya tidak ada gunung berapi semacam itu.
Anjing hitam besar itu memiringkan kepalanya untuk berpikir. Ia pun tidak memiliki ingatan sama sekali tentang gunung berapi ini dan tidak tahu kapan benda itu muncul.
"Itu adalah... Api Sejati Chi Yang!" Gu Chi mengamatnya dengan seksama untuk waktu yang lama, dan akhirnya mengenali sumber suhu tinggi di dalam gunung berapi tersebut.
Api tingkat atas yang digunakan untuk menempa senjata dan perkakas itu ternyata tersembunyi di dalam gunung berapi, menyembur keluar pada saat ini dan melelehkan batu-batu karang di sekitarnya.
Meskipun ukurannya hanya seukuran sehelai benang tipis, api itu bersinar cemerlang bagaikan cahaya surgawi dan tampak sangat luar biasa kuat.
Mata Gu Chi berbinar-binar penuh minat. Ia mengamatinya dari jauh dengan teliti—itu benar-benar Api Sejati Chi Yang, sangat cocok dengan catatan yang ia baca di dalam buku!
"Jepit rambut itu ada di dalam inti api!" Anjing hitam besar itu menemukan keberadaan jepit rambut putih keperakan tersebut. Benda itu sedang naik turun di dalam inti Api Sejati Chi Yang, menerima proses peleburan dan penempaan.
"Tidak mungkin, kan? Apakah pusaka spiritual ini memiliki kesadaran diri sendiri? Bisa-bisanya ia menempa dirinya sendiri?" Gu Chi terperangah. Pemandangan ini benar-benar sangat mencengangkan.
Gunung berapi itu terus menyemburkan lahar, dipenuhi oleh cahaya api di seluruh sudut pandang. Sekalipun berada di tempat yang cukup jauh, manusia dan anjing itu tetap bermandikan keringat akibat panas yang luar biasa, memaksa mereka untuk mundur lebih jauh lagi.
Selama beberapa hari berikutnya, Gu Chi dan anjing hitam besar itu berpatroli di sekitar area tersebut dengan jarak terjauh tidak lebih dari lima puluh li, hanya menunggu hingga Api Sejati Chi Yang padam sebelum mencoba menaklukkan jepit rambut putih keperakan itu.
"Syu!"
Sebuah kilatan pedang membelah udara dan menerjang ke arah mereka. Seorang pemuda berjubah abu-abu muncul sambil membawa sebilah pedang tajam. Ia memandang rendah ke arah Gu Chi dan anjing hitam besar dari atas, sementara bayangan orang-orang mulai bermunculan satu per satu di puncak gunung di sekitarnya.
Gu Chi menghindari kilatan pedang itu dan menatap kelompok orang tersebut. Ada yang sudah tua maupun masih muda, jumlahnya mencapai lebih dari tiga puluh orang, dan tujuh di antaranya adalah penjaga segel.
"Kalian ini siapa? Aku tidak memiliki dendam atau permusuhan dengan kalian, kenapa kalian menyerangku?" tanya Gu Chi. Orang-orang ini bukanlah anggota Sekte Ling Xi karena jalur kultivasi mereka berbeda, dan hal itu masih bisa dibedakan dari aura yang mereka pancarkan.
"Orang mati tidak perlu tahu terlalu banyak. Serahkan semua pusaka yang ada pada kalian," ucap salah seorang dari mereka dengan suara dingin.
"Ternyata berniat merampok dengan membunuh." Gu Chi tersenyum, merasa sedikit lega di dalam hatinya. Setidaknya ia bisa memastikan bahwa Sekte Ling Xi belum membocorkan masalah tentang Kitab Luo yang ada padanya, sehingga situasinya belum terlalu buruk.
Orang-orang di pihak lawan tidak mengetahui apa yang ada di dalam pikirannya. Pemimpin kelompok itu sedikit mengernyit ketika melihatnya masih bisa tersenym pada situasi seperti ini, berpikir di dalam hati: Apakah wanita ini memiliki andalan tertentu?
"Serang bersama-sama, habisi dia!" perintah pemimpin kelompok tersebut.
Gu Chi menggerakkan kedua belas tangannya, memanggil Lima Gunung dan Empat Sungai melintasi udara, langsung menghantam ke depan dengan kekuatan menindas.