Bab Empat Puluh Dua: Telur Burung Panggang
Halaman (1/3)
Gu Chi menggelengkan kepala dan berkata, “Hei Tua, kau terlalu berasumsi. Jiang Xinli itu sebentar lagi pasti bisa menghitung lokasi persis kita. Dari mana kita punya waktu untuk menunggu dalam penyergapan?”
Anjing Hitam Besar merasa perkataannya masuk akal. “Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
Gu Chi sendiri tidak tahu harus berbuat apa. “Pulihkan luka-luka kita dulu.”
Anjing Hitam Besar mendongak sekilas. Ekspresinya mendadak berubah terkejut. Ia menarik ujung pakaian Gu Chi dengan cakarnya, memberi isyarat agar Gu Chi melihat ke atas.
“Ada apa?” Gu Chi merasa heran. Ia mendongak, dan ekspresi wajahnya seketika membeku. Ia segera bangkit, mencengkeram tengkuk Anjing Hitam Besar, lalu melesat mundur.
Di puncak pohon tua yang menjulang ke langit itu ternyata terdapat sebuah sarang burung raksasa. Sekilas saja sudah jelas bahwa sarang itu dibangun oleh seekor burung pemangsa ganas.
Mereka melompat ke pohon besar lain dan menjulurkan leher untuk mengintip ke dalam sarang. Namun, tidak terlihat adanya burung ganas yang sedang beristirahat di sana.
“Sepertinya burung ganas itu sedang pergi berburu,” kata Gu Chi sambil mengusap keringat dingin di dahinya. Kemudian ia mengernyit saat melihat banyak kerangka manusia di dalam sarang itu, sebagian bahkan masih berlumuran darah.
“Kak Gu Chi, ada telur burung!” ujar Anjing Hitam Besar dengan lidah terjulur. Ia sudah ingin menyantap telur burung panggang.
Gu Chi menduga burung ganas itu belum akan kembali dalam waktu dekat. Ia pun segera membawa Anjing Hitam Besar menyelinap ke sana.
Sarang itu dibangun dari batang-batang kayu kering yang besar, dengan lapisan rumput kering nan lembut dan hangat di bagian dalamnya.
“Telur burung! Telur burung!” Anjing Hitam Besar menyeringai lebar lalu menerjang. Ia menyingkirkan tumpukan rumput kering, dan tampaklah tiga butir telur burung raksasa.
Ketiga telur itu masing-masing sebesar batu giling. Seluruh permukaannya hitam berkilau, seolah-olah dipahat dari giok hitam, dan memancarkan energi kehidupan yang sangat kuat.
Anjing Hitam Besar menjulurkan lidahnya dan tertawa bodoh. “Kak Gu Chi, telur sebesar ini pasti makanan bergizi yang luar biasa!”
Gu Chi juga berpikiran demikian. Dengan satu tebasan, ia membelah sebutir telur menjadi dua. Ia membalikkan sisi bulatnya ke bawah dan mengguncangnya beberapa kali, hingga sedikit cairan telur tumpah dan langsung dijilat habis oleh Anjing Hitam Besar.
Cangkang telur yang telah terbelah itu kini menyerupai panci. Kuning dan putih telurnya memancarkan cahaya warna-warni, aroma harumnya menusuk hidung dan menggoda selera, membuat siapa pun menelan ludah.
Dua gumpalan api muncul di telapak tangan Gu Chi. Ia mulai memanaskan kedua “panci telur” itu. Cairannya mula-mula mendidih dan menggelegak, lalu berubah menjadi kuning keemasan serta berminyak mengilap.
Manusia dan anjing itu sama-sama terluka parah. Mereka nyaris saja langsung menceburkan kepala ke dalam “panci telur”.
Keduanya makan dengan lahap. Dalam sekejap, sebutir telur sebesar batu giling itu telah mereka habiskan tanpa sisa.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Kak Gu Chi, aku belum kenyang!” Anjing Hitam Besar menjulurkan lidah sambil menatap dua telur burung yang tersisa. Air liurnya hampir menetes dari mulut.
“Masih ada dua butir. Akan kupanggang untukmu!” Gu Chi mengusap mulutnya. Saat ia membuka mulut, energi murni menyembur keluar. Hal itu menunjukkan betapa pekatnya energi kehidupan yang terkandung dalam telur-telur burung tersebut.
Pada akhirnya, manusia dan anjing itu masing-masing memakan sebutir telur. Mereka memurnikan energi pekat itu hingga memenuhi seluruh anggota tubuh, lalu mulai menyembuhkan luka.
Lubang-lubang berdarah dan luka-luka di tubuh mereka menutup dengan kecepatan yang dapat dilihat mata. Tubuh mereka pulih dengan cepat tanpa meninggalkan satu pun bekas luka.
Setengah jam kemudian, terdengar suara pekikan panjang. Gu Chi dan Anjing Hitam Besar sama-sama terkejut, lalu buru-buru mendongak ke arah asal suara itu.
Di cakrawala, seekor burung raksasa sedang menukik ke arah mereka. Panjang tubuhnya mencapai dua puluh hingga tiga puluh meter, sementara suaranya menggelegar seperti petir dan memekakkan telinga.
“Sial! Hei Tua, cepat lari!”
Gu Chi berteriak. Ia mencengkeram tengkuk Anjing Hitam Besar, mengangkatnya, lalu menginjak Pedang Giok Patah untuk melarikan diri dari “tempat kejadian”.
Burung raksasa itu menukik turun seperti awan hitam raksasa yang jatuh dari langit. Ketika melihat beberapa “panci hitam” di dalam sarangnya, matanya seakan-akan memuntahkan api. Ia pun segera mengejar mereka.
“Auuuu—!”
Anjing Hitam Besar mengeluarkan lolongan serigala dan mulai melakukan serangan balik.
Untuk sesaat, bulu-bulu burung beterbangan di angkasa. Naga biru berputar-putar, sementara pekikan elang bercampur dengan raungan naga. Seluruh langit seolah mendidih.
Pada akhirnya, burung raksasa itu kalah dan melarikan diri.
“Hmph! Berani melawanku? Kau bahkan tidak tahu aku ini anjing milik siapa! Syukurlah kau berlari cukup cepat. Kalau tidak, kau juga sudah kubantai!” Anjing Hitam Besar memperlihatkan taringnya dengan sikap pongah.
Beberapa hari kemudian, luka-luka mereka bukan hanya telah pulih sepenuhnya, tubuh jasmani mereka pun tampaknya menjadi jauh lebih kuat.
“Ayo, kita lihat bagaimana keadaan orang-orang dari Sekte Lingxi itu sekarang.”
Gu Chi belum pernah merasakan niat membunuh sekuat ini terhadap seseorang.
Jiang Xinli, wanita yang mahir dalam seni perhitungan ramalan itu, telah menjadi pedang tajam yang menggantung di atas hati Gu Chi. Selama wanita itu belum disingkirkan, Gu Chi tidak akan pernah merasa tenang.
Namun, setelah mencari selama beberapa hari di wilayah tersebut, mereka tetap tidak menemukan jejak rombongan Sekte Lingxi. Orang-orang itu seolah-olah lenyap begitu saja dan pergi tanpa meninggalkan bekas.
Gu Chi merasa pasti ada sesuatu yang besar di balik semua ini. Kalau tidak, mengapa mereka tiba-tiba menyerah mengejarnya?
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Hei Tua, kau bisa berbicara dengan hewan. Pergilah bertanya kepada penduduk asli di sini, apakah mereka tahu ke mana orang-orang Sekte Lingxi itu pergi,” kata Gu Chi.
“Tidak masalah, lihat saja kemampuanku!”
Anjing Hitam Besar tampak bersemangat. Ia berbalik, melompat turun dari Pedang Giok Patah, lalu menerobos masuk ke dalam hutan pegunungan.
“Grrr—”
Begitu Seni Naga Biru dikerahkan, sekelompok besar burung pemangsa dan binatang buas terusik. Untung saja para penduduk asli di hutan ini tidak memiliki tingkat kultivasi yang tinggi. Setelah sedikit ditakut-takuti oleh Anjing Hitam Besar, mereka pun menceritakan semua yang mereka ketahui.
Tak lama kemudian, Anjing Hitam Besar kembali dengan wajah penuh kegembiraan.
“Sudah kudengar! Rombongan itu memasuki Prefektur Pasir Kuning di sebelah. Sepertinya mereka sedang mencari sesuatu yang sangat penting.”
Prefektur Pasir Kuning—mendengar namanya saja sudah dapat diketahui bahwa tempat itu merupakan gurun pasir yang luas. Apa yang mereka cari di gurun? Unta?
Mata Gu Chi berputar. Karena orang-orang Sekte Lingxi begitu mementingkannya, benda itu pasti bukan sesuatu yang biasa. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut.
“Hei Tua, ayo kita ikuti mereka dan lihat!”
Prefektur Pasir Kuning adalah gurun yang membentang tanpa ujung. Udara di sana kering dan panas. Butiran pasir memantulkan cahaya akibat sengatan matahari yang terik, membuat mata terasa perih dan bengkak.
Begitu memasuki wilayah itu, hidung Anjing Hitam Besar segera mencium aroma obat yang istimewa di udara.
Mengikuti petunjuknya, Gu Chi segera melihat sebuah oasis. Luasnya hanya sekitar tiga hingga empat ratus meter, dan dipenuhi kaktus serta tanaman sukulen berbentuk bulat.
Di tengah tumpukan kaktus itu, tampak cahaya merah muda berkilauan. Sebuah bunga merah muda bergoyang tertiup angin, menyebarkan keharuman yang semerbak.
“Itu... Bunga Hati Merah Muda, obat spiritual tingkat menengah!”
Mata Gu Chi langsung berbinar. Namun, di samping bunga itu telah ada seorang pemuda berjubah perak yang sedang berjongkok dan memetiknya.
Selain itu, di tanah tidak jauh dari sana terdapat beberapa bangkai ular panjang dengan corak warna-warni. Tubuh mereka sebesar tong air, dan darahnya belum membeku. Tampaknya mereka baru saja mati.
“Aduh, Kak Gu Chi! Dia sudah memakan obat spiritualnya!” Anjing Hitam Besar begitu cemas sampai menghentak-hentakkan kakinya.
Pemuda berjubah perak itu duduk bersila di tempat dan mulai memurnikan khasiat Bunga Hati Merah Muda. Namun, hanya dalam waktu singkat, tingkat kultivasinya naik dari tingkat ketujuh Pemurnian Qi menjadi tingkat kedelapan.
“Gila... Ini jauh lebih hebat daripada Pil Kultivasi Pemurnian Qi.”
Gu Chi merasa kagum sekaligus sangat menyesal. Sebatang obat spiritual tingkat menengah yang begitu berharga ternyata terlepas begitu saja, karena telah lebih dahulu direbut orang lain.
Halaman (3/3)