Menjadi dewa atau abadi, apa artinya itu? Jauh lebih baik jika milyaran jagat raya tercipta olehku, tak terhitung dunia terbentang karena aku. Ke mana pun aku melangkah, jejakku abadi sepanjang masa, kisahku akan dikenang dan diceritakan selama-lamanya!
Pada malam terakhir di tahun ke tiga puluh ribu dalam sejarah Tanah Dewa, jutaan insan abadi tenggelam dalam kegembiraan menyambut datangnya tahun baru. Tak terhitung orang bersulang sambil bernyanyi, menatap langit penuh bintang, berharap tahun depan keberuntungan terus mengalir dan jalan menuju keabadian semakin lancar.
Menjelang detik terakhir pergantian tahun, tiba-tiba muncul secercah cahaya yang tak kentara di ujung dunia, awalnya hanya sebesar biji beras, bagaikan cahaya kunang-kunang. Namun, dengan gerakan yang kian cepat, sinar itu semakin terang, melaju bagai matahari yang beradu kilau dengan langit dan bumi, menghantam bintang-bintang, hingga sebagian besar langit remuk dan lenyap. Di mana cahaya itu melintas, udara pun tersedot dan ditelan, menyatu menjadi cahaya yang menyilaukan.
Dalam sekejap, terdengar ledakan dahsyat dari dataran liar di barat Tanah Dewa, membuat gendang telinga jutaan orang bergetar.
Saat itu pula, tahun baru pun tiba.
Tak lama setelahnya, kabar dari dataran liar barat pun menyebar: sebuah pedang tanpa nama jatuh dari langit, bagai meteorit yang menghantam bumi, menancap dengan dahsyat. Gelombang energi yang menyebar memporakporandakan pegunungan, mengubah bentuk bumi, menyebabkan tiga juta mil persegi tanah di barat tenggelam tanpa dasar, memicu lava membanjiri permukaan, membinasakan tak terhitung makhluk hidup.
Pedang itu, besar dan tajam, memancarkan tekanan luar biasa, berdiri tegak di pusat barat, gagangnya menembus awan, menghubungkan langit dan bumi, seolah menjadi mukjizat.
Para ahli keabadian