Bab Enam Puluh: Dosa Tak Terampuni
Xirou memandang Lin Yang, “Guru, apakah orang ini seperti yang aku duga?”
Lin Yang mengangguk.
Hou Liang melirik ke belakang. Ya, wanita itu memang cantik, tapi kenapa rasanya ia pernah melihatnya sebelumnya?
Yin Xie melihat Hou Liang menatap wanita cantik yang ia yakini itu dengan mata terbelalak, ia jadi kesal, “Hou Liang, apa kau masih berniat merampas barangnya?”
Hou Liang berbalik dan tersenyum, “Tidak, tidak, aku hanya merasa dia terlihat familiar. Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu lagi. Tiga prajurit kecil itu masih menungguku.”
“Berhenti.”
Hou Liang yang bersiap terbang, berhenti dan menoleh ke Xirou, “Nona, ada perlu apa?”
Tiba-tiba terdengar suara tawa.
Yin Xie mendekat, “Cantik, kalau dia sibuk, biar aku yang menemanimu.”
“Tiga orang rendahan yang kau cari itu, sudah lama kubunuh.”
Senyum di wajah Hou Liang lenyap seketika, digantikan dengan kebengisan.
“Kalau begitu, kau harus bayar nyawa.”
“Kau tidak ingin tahu kenapa aku membunuh mereka?”
Hou Liang menghunus pedang, “Tidak penting.”
Lalu ia menoleh ke Yin Xie, “Jenderal Yin, kau tidak keberatan kalau aku membunuhnya, kan?”
“Tentu saja keberatan, sayang sekali membunuh wanita secantik ini begitu saja. Setelah aku puas bermain, baru kubantu kau membunuhnya.”
Hou Liang menyarungkan pedangnya, “Baik. Setelah itu, serahkan jasadnya padaku, biar aku bisa melapor.”
“Tenang saja, urusan begini aku tahu.” Yin Xie melangkah menuju kedai teh.
Lin Yang memandang Xirou, “Kau ingin menyelesaikannya sendiri atau kau butuh bantuanku?”
Xirou menggenggam pedangnya dan bangkit, berjalan ke arah Hou Liang.
“Ini urusan keluarga, tentu harus kuselesaikan sendiri.”
“Bagus.”
Yin Xie terhenti dan tersenyum, “Cantik, kau sudah menganggapku keluarga begitu cepat?”
Lin Yang melambaikan tangan, sebuah perisai energi menyelubungi mereka bertiga.
Yin Xie merasa ada yang tidak beres, ia ingin segera melesat ke udara, tapi ia mendapati tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali.
“Siapa sebenarnya kau?”
Xirou berjalan melewatinya, “Orang yang akan membunuhmu nanti.”
Lalu ia menatap Hou Liang, “Sekarang, kau sudah mengenaliku?”
“Kau siapa?”
Xirou tersenyum sinis, merasa kasihan pada ibunya.
Wajahnya kini setidaknya sudah mirip setengah dari ibunya, tapi lelaki ini masih saja belum mengenalinya, sungguh lucu.
Melihat sikapnya, pasti ia bahkan sudah lupa di planet mana ia membuang istri dan anaknya.
Hou Liang melihat wanita itu semakin mendekat, ia buru-buru mengepakkan sayap dan terbang ke udara.
Sejak perisai energi itu muncul, ia kehilangan kendali atas energi gelap, kini ia harus lebih berhati-hati.
Xirou berhenti melangkah dan menatap Hou Liang di udara.
“Aktifkan Sayap Malaikat.”
“Sayap Malaikat diaktifkan untuk pertama kali, silakan beradaptasi.”
“Aku mengerti.”
Hou Liang menatap wanita di bawah yang tiba-tiba menumbuhkan sepasang sayap putih, tertegun, “Siapa sebenarnya kau?”
“Namaku Xirou.”
Xirou mengepakkan sayap, melesat ke udara, dan setelah beberapa detik beradaptasi, ia berdiri tepat di hadapan Hou Liang.
“Aku adalah si buta yang dibuang ayahnya sendiri.”
“Buta?” Hou Liang terkejut, “Matamu sudah sembuh?”
Akhirnya ia sadar kenapa wanita itu tampak familiar—dialah putrinya yang dulu ia buang di planet ini.
Tapi sekarang, tampaknya hidupnya jauh lebih baik. Di antara para malaikat perempuan, sangat sedikit yang bisa mengaktifkan sayap, dan pedang di tangannya pun bukan pedang biasa.
Juga, perisai energi yang membuat ia tak bisa merasakan energi gelap, serta Yin Xie yang tiba-tiba tak bisa bergerak.
Semua ini menandakan, putrinya yang dahulu ia buang, kini jauh lebih hebat darinya.
“Bagaimana? Akhirnya kau ingat siapa aku? Kukira sampai kau mati pun, kau takkan ingat seorang istri dan anak perempuan yang sudah kau buang.”
Wajah Hou Liang langsung muram, “Anakku, apa-apaan ucapanmu itu?
Dulu, saat peradaban asing menyerang, aku mati-matian melindungi kalian berdua, tapi tetap saja kalian tertangkap. Bertahun-tahun aku mencari kalian, akhirnya Tuhan mengasihaniku dan membiarkan kita bertemu lagi.
Ayo, ikut aku pulang. Di mana ibumu? Pasti dia yang menanamkan hal buruk tentangku karena aku gagal menemukan kalian dengan segera.”
Dukk!
Suara nyaring memecah keheningan pertemuan keluarga yang canggung itu. Kedua orang di langit menoleh ke arah kedai teh.
Lin Yang mengambil cangkir teh yang jatuh di meja.
“Abaikan aku, lanjutkan saja urusan kalian.”
Hou Liang benar-benar pandai beradaptasi, kemampuan berpura-puranya bisa membuat penghargaan Oscar pun bertekuk lutut.
Hou Liang menatap Lin Yang, matanya berkilat.
Baru sekarang ia sadar, pria di sebelah Xirou itu berbeda auranya, pasti punya hubungan dekat.
“Anakku, dialah orangnya! Dulu dia yang membawa pasukan menyerang kita, sehingga keluarga kita tercerai-berai!
Pasti dia yang menghasutmu.”
Lin Yang hanya tersenyum sinis melihat dirinya dijadikan kambing hitam perusak keluarga, untung saja, Xirou memang orang yang ia pilih dengan teliti.
Kalau orang biasa, meski tak langsung percaya, pasti benih keraguan akan tertanam.
Tapi Xirou berbeda, ia punya pendirian sendiri, dan hampir tak ada yang bisa menggoyahkan kepercayaan dirinya.
Xirou menatap lelaki di hadapannya yang tampak putus asa, tersenyum tipis:
“Aku pernah dengar dari Ibu, kau hanya pria rendahan. Tak kusangka setelah puluhan tahun, kau bisa jadi jenderal.
Ternyata, kepalsuanmu naik setara dengan pangkatmu.”
Ia lalu mengepal pedang, melesat di belakang Hou Liang, dan menebas sayapnya.
Hou Liang refleks berbalik, menangkis dengan pedangnya.
Namun pedangnya justru hancur berkeping-keping.
Hou Liang menatap pedang patahnya dengan ngeri, “Pedang apa ini?”
“Perak Kelam.”
Seusai bicara, Xirou melesat lagi ke belakang Hou Liang, dan menorehkan pedang.
Hou Liang yang masih syok, tiba-tiba merasakan sakit yang tak tertahankan.
“Aaaargh! Aaaargh! Aaaargh!”
Jeritan yang tak bisa dipahami siapa pun menggema di seluruh kota kecil itu.
Satu sayap berlumuran darah jatuh ke tanah, di sebelahnya, Hou Liang dengan wajah meringis kesakitan.
“Kau kira aku masih bayi tak berdaya yang dulu kau buang?”
Hou Liang menahan sakit, “Apa kau benar-benar mau membunuh ayahmu sendiri?”
Xirou turun ke tanah, menyimpan sayapnya.
“Aku tak punya ayah, hanya musuh yang membuang istri dan anaknya. Tak ada yang namanya pembunuhan ayah.”
Kemudian ia melesat di belakang Hou Liang dan mengayunkan pedang.
“Aaaargh! Aaaargh! Aaaargh!”
Jeritan sakit yang luar biasa menggetarkan kota kecil itu lagi.
Hou Liang mengacungkan tangan kanannya ke Xirou, “Anak durhaka, harusnya sejak awal kulihat kau, langsung kukekik sampai mati!”
“Dua tebasan ini adalah hukuman atas perbuatanmu meninggalkan Ibu dulu!”
Xirou memutar pedangnya lalu menancapkan pedang panjang itu ke telapak tangan kanan Hou Liang, menempel di tanah.
“Sekarang, biar kau merasakan sakit yang Ibu alami selama ini!”
Sementara di depan mereka, Yin Xie seperti berada di ujung neraka.
Jeritan Hou Liang bagai pisau tajam yang mengiris lehernya, menusuk hingga ke tulang.