Bab 137 Aku Akan Mengamuk dan Membantai
Xie Wushen mungkin merasa bahwa Sui Yi yang saat ini tak berdaya sudah tidak lagi menjadi ancaman baginya. Oleh karena itu, ia pun berhenti menghiraukannya.
Saat ini, Xie Wushen merasa sangat bersemangat, sebuah kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa dirinya adalah sosok terkuat di Benua Lima Danau, dan tak ada lagi yang mampu mengancam posisinya. Ancaman terbesarnya, Sui Yi dari Sekte Xianyuan, kini telah ia injak di bawah kakinya dan menjadi seorang pecundang. Sekarang, yang paling ingin ia lihat adalah ketundukan semua orang di tempat itu padanya; hanya dialah raja yang berkuasa di dunia ini, satu-satunya raja.
Para murid Istana Raja Jahat bersorak untuknya. Dalam benak mereka, kemenangan sudah di depan mata, dan tunduk adalah satu-satunya jalan untuk bertahan hidup. Banyak orang di sana mulai goyah; demi menyelamatkan nyawa, mereka bersedia tunduk pada Istana Raja Jahat dan mengabdi kepada Xie Wushen. Tentu saja, para murid Sekte Xianyuan masih memiliki harga diri yang kuat; banyak dari mereka lebih memilih mati daripada harus tunduk. Mereka masih ingin melakukan perlawanan, berharap dengan berjuang sekuat tenaga, mereka mungkin bisa menemukan jalan keluar.
"Orang bijak tahu kapan harus mengikuti arus. Aku yakin kalian semua adalah orang pintar yang tahu apa yang harus dilakukan demi kepentingan diri sendiri," ucap Xie Wushen kepada kerumunan.
Melihat beberapa orang masih ragu dan tidak bisa mengambil keputusan, Xie Wushen pun membantu mereka. Seketika, niat membunuh yang kuat terpancar dari tubuhnya, dingin dan menusuk tulang. Niat membunuh itu menyebar ke segala arah seperti jutaan anak panah yang menghujam hati banyak orang. Siapa pun yang tidak mau tunduk padanya, ujungnya adalah kematian. Jika mereka tetap membangkang, arena latihan ini akan segera dibanjiri darah dan dipenuhi tumpukan mayat.
"Xie Wushen, jangan siksa mereka. Musuhmu adalah aku, tujuanmu juga aku. Jika kau membunuhku, takkan ada lagi yang bisa menjadi lawanmu di dunia ini. Aku mohon, lepaskan mereka, biarkan mereka tetap hidup," ucap Sui Yi dengan susah payah dari belakangnya.
Ia tidak ingin melihat fondasi Sekte Xianyuan yang telah dibangun selama ratusan tahun hancur begitu saja, dan para muridnya dibantai di depan matanya. Jika itu terjadi, ia akan merasa berdosa kepada sang kakak seperguruan dan kepada sekte. Meski harus mengerahkan sisa tenaga terakhirnya, ia tetap ingin memperjuangkan jalan hidup bagi mereka.
Mendengar ucapan Sui Yi, Xie Wushen mengayunkan tangannya dan menghantam tubuh Sui Yi hingga tersungkur ke tanah. Seteguk darah kembali menyembur keluar, cairan merah itu membasahi pakaian putihnya, membentuk kelopak bunga teratai merah di atas kainnya yang bersih tak bernoda.
"Kau sudah menjadi sampah, kau tidak berhak bicara, apalagi mengatur keputusan dariku," ujar Xie Wushen setelah meliriknya sekilas, lalu ia pun mengabaikannya. Tatapan Xie Wushen kembali tertuju ke depan, ke arah mereka yang tidak mau tunduk, sembari membayangkan bahwa ajal mereka sudah dekat.
"Guru!" Saat ini, di mata Jiang Xiaoxue hanya ada sang guru yang terluka. Melihat kondisi gurunya sekarang, ia marah, benar-benar marah. Berani-beraninya mereka melukai gurunya hingga seperti ini; Xie Wushen, kau tidak bisa dimaafkan! Matanya memerah, ia tidak peduli meskipun lawannya berada di Alam Feilong Chengfeng, ia akan membuat pria itu membayar harganya.
Ia memejamkan mata, kesadarannya memasuki Cincin Yin Yang. Cincin ini telah lama tersembunyi di jari Jiang Xiaoxue, bagaimana mungkin orang biasa bisa menemukannya? Itulah sebabnya Mu Qingluo tidak menemukan apa pun saat menggeledahnya tadi.
"Senior, aku butuh bantuanmu," ucap Jiang Xiaoxue saat kesadarannya sampai di tempat Feng Qianyu berlatih.
"Baiklah, selama itu perintah Tuan Kecil, aku pasti akan melakukan segalanya dengan sekuat tenaga," jawab Feng Qianyu. Saat ini, kondisinya sudah hampir pulih sepenuhnya. Sudah saatnya ia keluar dari Cincin Yin Yang untuk meregangkan otot, sekaligus melihat situasi di benua ini sekarang.
"Tuan Kecil, bagaimana denganku?" tanya Xiao Hei dari dalam Cincin Yin Yang. Sebagai roh cincin, ia langsung menyadari saat kesadaran tuannya masuk. Kini ia juga sudah beristirahat cukup dan berada dalam kondisi puncak dengan kekuatan tempur maksimal. Bagaimana mungkin ia hanya berdiam diri saat tuannya dalam bahaya?
"Aku sekarang dikurung dalam sangkar emas, kau punya cara untuk membukanya?" tanya Jiang Xiaoxue.
"Tuan Kecil, apa kau bodoh? Sangkar murahan seperti ini saja bisa mengurungmu? Apa kau benar-benar menganggap Cincin Yin Yang hanya sebagai hiasan?" sahut Xiao Hei. Tuan kecilnya ini, terkadang pintar, tapi terkadang sangat bodoh.
"Kau..." Jiang Xiaoxue terdiam. Apakah itu cara berbicara kepada tuannya? Xiao Hei ini benar-benar keterlaluan. Namun, harus diakui, ucapannya benar. Mengapa ia tidak terpikir menggunakan Cincin Yin Yang untuk menghancurkan sangkar ini sebelumnya?
Demi menutupi kesalahannya, Jiang Xiaoxue berkata kepada Xiao Hei, "Tugasmu adalah melindungiku dengan baik, supaya aku bisa bertindak tanpa beban. Aku belum pernah membunuh orang, tapi kali ini, aku akan melakukan pembantaian besar-besaran."
"Bersikap lembut pada musuh adalah kekejaman bagi diri sendiri. Aku mendukungmu, Tuan Kecil," ujar Feng Qianyu. Ia sangat puas dengan aura yang dipancarkan tuannya saat ini, benar-benar seperti keturunan klan Feng. Kini ada harapan untuk membalaskan dendam klan Feng di masa depan.
Terdengar suara logam yang retak, dan seluruh sangkar emas itu seketika hancur menjadi abu.
Setelah debu mereda, di atas arena, di belakang Jiang Xiaoxue telah muncul dua sosok. Salah satunya bertubuh pendek, bahkan tidak mencapai bahu Jiang Xiaoxue, tampak seperti anak kecil dengan pakaian dan jubah serba hitam, wajahnya pun tidak terlalu jelas terlihat. Satunya lagi adalah seorang wanita paruh baya yang berparas sangat cantik.
Saat itu, seekor rubah roh bintang dua juga berlari ke atas arena, menghampiri Jiang Xiaoxue, dan berkata dengan bahasa manusia, "Tuan, sertakan aku juga." Jiang Xiaoxue mengangguk ke arahnya.
Tidak jauh dari sana, Feng Qi yang bersembunyi di kegelapan akhirnya bisa bernapas lega. Tuan kecil memanglah tuan kecil, tetapi bagaimana ia akan memecahkan situasi sulit ini? Leng Xiao yang berada di bawah panggung juga merasa gembira melihat Jiang Xiaoxue berhasil membebaskan diri. Shangguan Lan dan Yun Wu pun merasa lega.
Seketika, semua perhatian tertuju pada mereka yang berada di atas arena. Jiang Xiaoxue berjalan lurus menuju Sui Yi dan membantunya berdiri.
"Guru, maafkan muridmu, aku tidak bisa melindungimu dengan baik," ucap Jiang Xiaoxue dengan mata memerah melihat kondisi gurunya yang terluka parah.
"Ini bukan salahmu. Kejadian hari ini sudah direncanakan sejak lama oleh Istana Raja Jahat. Aku sendiri yang kurang waspada, ternyata aku sudah diracuni tanpa menyadarinya," jawab Sui Yi.
"Guru, tenanglah, aku tidak akan membiarkanmu kenapa-napa," Jiang Xiaoxue bertanya lagi, "Di mana ibuku? Maksudku wanita yang aku tinggalkan tadi."
"Sejak aku pingsan, aku tidak tahu apa yang terjadi. Saat terbangun, aku sudah di sini. Kurasa dia seharusnya baik-baik saja," jawab Sui Yi yang kini pun merasa tidak yakin. Entah mengapa, mengenai wanita itu, ia selalu tidak bisa meramalkannya. Mungkin karena pengaruh racun di tubuhnya.
"Xiao Hei, guruku kuserahkan padamu. Lakukan saja apa yang tadi kuperintahkan," kata Jiang Xiaoxue kepada Xiao Hei.
"Tenang saja, Tuan Kecil!" jawab Xiao Hei.