Bab 079: Tidak Akan Membiarkanmu Mendapatkan Apa yang Kau Inginkan
Kali ini, ada sekitar ratusan orang yang meninggalkan Sekte Takdir Abadi bersama Jiang Xiaoxue. Begitu banyak orang harus dipulangkan ke Empat Negara Danau Tengah, bayangkan betapa besarnya pekerjaan itu.
Sebenarnya, bagi para murid yang belum mencapai tahap Latihan Qi dalam sebulan, masih ada satu cara agar mereka tak perlu meninggalkan sekte, yaitu menjadi pelayan sekte.
Status pelayan sekte memang tidak sebaik murid, namun setidaknya mereka masih bisa tetap tinggal, dan mungkin saja mendapat kesempatan untuk berlatih di kemudian hari.
Banyak orang yang memilih jalan ini, berharap menjadi pelayan sekte. Pelayan sekte merupakan posisi paling rendah di dalam sekte, tak punya hak bicara, hanya bisa diam-diam menjalankan perintah dan mengerjakan tugas-tugas terberat dan paling melelahkan yang biasanya tak mau dilakukan para murid.
Sekte Takdir Abadi selama beberapa tahun belakangan memang tidak membuka penerimaan murid baru, sehingga posisi pelayan sekte sudah lama tidak ada. Alasannya, menurut peraturan sekte, setiap pelayan sekte yang sudah berusia delapan belas tahun harus dipulangkan dari sekte.
Sekali menjadi pelayan sekte, tak akan ada lagi yang mengajarkan cara berlatih, dan sumber daya sekte pun tak akan lagi terbuka untukmu. Umumnya, seseorang yang telah berlatih sebulan namun belum memasuki tahap Latihan Qi, kemajuan kultivasinya akan sangat sulit berkembang.
Karena itu, sekte memilih untuk melepaskan mereka dan memberikan dua pilihan: pergi, atau menjadi pelayan sekte. Sekte Takdir Abadi memang berbeda dari sekte lain, relatif lebih manusiawi.
Namun kali ini, jumlah yang gagal dalam ujian mencapai dua ribu orang. Banyak dari mereka rela tetap tinggal sebagai pelayan sekte, sehingga yang benar-benar harus dipulangkan hanya tersisa ratusan orang ini.
Jiang Xiaoxue dan Tujuh Bintang Delapan Permata pun tidak menonjol di antara kerumunan, semua dianggap tak berguna, jadi tak ada pembedaan lagi.
Sekte Takdir Abadi mengutus sepuluh murid senior yang cukup mumpuni untuk mengawal mereka kembali ke Empat Negara Danau Tengah.
Jika harus pulang ke Danau Tengah, Jiang Xiaoxue berharap bisa singgah ke Kota Lingyun di Negeri Awan, tempat ia tumbuh besar. Ia ingin melihat kembali rumah masa kecilnya, juga makam ibunya.
Tempat itu penuh dengan bunga persik yang bermekaran, indah menawan.
Dari Kota Chuyun hingga ke Sekte Takdir Abadi, ia selalu tergesa-gesa, tak pernah benar-benar menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan.
Kini, berjalan bersama rombongan ini mungkin memberinya waktu untuk benar-benar menikmati semuanya.
Sebenarnya, ia bisa saja berpisah dari rombongan dan pergi bersama Tujuh Bintang Delapan Permata, tanpa harus mengikuti mereka.
Namun sebelum berangkat, ia mendapat perintah dari gurunya untuk diam-diam mengawal mereka agar selamat sampai di Empat Negara Danau Tengah.
Dari nada bicara gurunya, tampaknya perjalanan kali ini tidak aman, kemungkinan akan ada sesuatu yang terjadi.
Apa yang akan terjadi? Mungkinkah Istana Raja Iblis menyergap di sepanjang jalan, menyerang para manusia biasa yang tak punya kekuatan, lalu menuduh Sekte Takdir Abadi sebagai dalangnya?
Rasanya Istana Raja Iblis takkan sebegitu isengnya. Tapi siapa tahu, mungkin saja mereka memang sedang tak ada kerjaan dan sengaja mencari masalah.
Biarlah, pikir Jiang Xiaoxue. Ia bukan orang lemah yang mudah diinjak. Kalau ada yang berani datang, satu lawan satu akan ia hajar, dua lawan dua akan ia kalahkan. Toh, tangannya juga sedang gatal ingin beraksi.
“Kau, ikut aku sebentar,” kata seorang murid senior dari Sekte Takdir Abadi sambil menunjuk Jiang Xiaoxue.
“Aku?” Jiang Xiaoxue melirik kanan kiri, lalu menunjuk dirinya sendiri.
“Benar, kau. Ikut aku,” lanjut orang itu.
Baiklah, kini Jiang Xiaoxue yakin memang dirinya yang dicari.
Tapi sebenarnya, ada urusan apa? Masa ia disuruh memasak untuk ratusan orang ini? Bukannya semua sudah membawa bekal kering untuk tiga hari, tak perlu lagi memasak apapun.
Tujuh Bintang Delapan Permata tampak khawatir, namun Jiang Xiaoxue memberi isyarat agar tak perlu cemas.
Ia pun tak tahu apa yang diinginkan murid itu, jadi ia hanya mengikuti di belakangnya tanpa banyak bicara.
Jiang Xiaoxue memang pernah melihat murid senior itu di sekte, tapi tak pernah berbicara dengannya, bahkan tak tahu namanya. Usianya sudah cukup tua, bahkan lebih tua dari Paman Cang Qi, dan kemampuannya pun biasa-biasa saja.
Di usia setua itu, kekuatannya masih tersendat di tingkat Jiwa Suci tahap menengah, benar-benar tak ada kemajuan. Untuk naik tingkat lagi, sepertinya sudah mustahil.
Jiang Xiaoxue jadi merasa kasihan juga pada lelaki paruh baya itu. Umur sudah segini, kekuatan juga tak seberapa. Menyedihkan!
Mereka sampai di tempat yang agak terpencil dan sepi.
“Kakak, ada urusan apa mencariku?” tanya Jiang Xiaoxue.
Tentu saja, ia kini sedang menyamar sebagai laki-laki, seharusnya pria ini tidak mungkin berniat buruk.
“Kakak? Kau sekarang bukan lagi murid Sekte Takdir Abadi. Tak pantas memanggilku seperti itu,” sahut sang murid senior dengan nada angkuh, seolah-olah statusnya sebagai murid sekte adalah sesuatu yang luar biasa.
Jiang Xiaoxue mengernyitkan dahi. Orang ini memang menyebalkan, pikirnya.
Dalam hati ia berkata, kau memang murid Sekte Takdir Abadi, tapi aku ini murid utama langsung dari ketua sekte. Di depan aku saja sok-sokan, kau belum cukup layak.
Tentu, Jiang Xiaoxue menahan diri dan tetap bertanya tenang, “Lalu, apa maumu?”
“Aku dengar kau adik dari Leng Xiao?” tanya murid itu.
“Benar, Leng Xiao kakakku,” jawab Jiang Xiaoxue.
“Aku dengar Leng Xiao pernah memberimu banyak barang bagus. Serahkan saja dengan baik, aku takkan mengambil nyawamu,” kata murid itu.
“Oh, jadi maksudmu mau merampokku?” kata Jiang Xiaoxue.
Baru saja keluar dari sekte, sudah dirampok oleh sesama murid sendiri. Hal seperti ini tak pernah ia duga, seberapa sering pun ia berhitung dengan jurus ramalannya.
Tampaknya, ilmu ramalnya masih belum cukup matang.
“Anggap saja begitu. Sekarang kau sudah bukan murid sekte, mau lapor ke Leng Xiao pun percuma. Kalau kau patuh menyerahkan barang-barang itu, aku janji takkan menyulitkanmu, bahkan akan memastikan kau sampai di Empat Negara Danau Tengah dengan selamat. Tapi kalau kau melawan, akibatnya... heh, tak perlu kujelaskan. Aku jamin, nasibmu akan lebih buruk daripada mati,” ancam murid itu.
“Paman, merampok seperti ini, apa ini pengalaman pertamamu? Suaramu saja terdengar gugup,” ujar Jiang Xiaoxue.
Melihat orang ini hendak merampoknya, Jiang Xiaoxue malah tertawa.
Orang ini tidak tahu, bahkan pemimpin Istana Raja Iblis saja pernah ia rampok, apalagi cuma dia. Mana mungkin ia takut?
“Jangan ngaco, siapa yang gugup?” sang murid membantah.
“Benarkah? Lihat saja tanganmu gemetar, bicaramu pun terbata-bata,” Jiang Xiaoxue terus memancing.
“Sudah, jangan banyak omong. Serahkan barangnya, daripada aku harus memakai kekerasan dan nyawamu melayang,” ancamnya lagi.
“Kalau aku tidak mau menyerahkan? Mau dibunuh? Tadi banyak orang melihat aku pergi bersamamu. Kalau nanti cuma kau sendiri yang kembali, kau pikir itu takkan jadi masalah?” balas Jiang Xiaoxue.
“Nanti aku bilang saja kau kabur, atau jatuh ke jurang, atau tercebur ke sungai dan mati. Pokoknya, tak akan ada yang peduli nasib seorang manusia biasa sepertimu,” jawabnya.
“Wah, rencanamu lumayan matang juga! Tapi biar kujelaskan, aku takkan membiarkanmu berhasil.”