Bab 020 Merangkul Kaki Besar, Memohon Perlindungan

Sang Tokoh Utama Perempuan Mengambil Alih Salju di Bulan Juli 2264kata 2026-02-08 14:00:49

Tiba-tiba, beberapa orang serentak mendapat ide yang sama dan langsung melesat ke arah panggung, menuju posisi tempat Pemimpin Suiyi berdiri. Alis Jiang Xiaoxue langsung berkerut, dalam hati ia geram. Orang-orang ini tidak lulus ujian, malah berani mengincar gurunya. Tidak, ini sama sekali tidak boleh terjadi.

Refleks pertamanya adalah ingin maju dan menghadang mereka. Namun, baru saja ia melangkah ke atas panggung, ia teringat bahwa dirinya dan Qixing Babao juga belum lulus ujian. Padahal gurunya jelas-jelas tahu itu, tapi berpura-pura tak melihat. Benar-benar keterlaluan.

Memikirkan hal itu, Xiaoxue pun berhenti melangkah, membiarkan orang-orang itu mendekat dan memeluk kaki gurunya, memohon agar diterima.

"Pemimpin, aku datang ke Sekte Takdir Abadi demi Anda. Tolong, biarkan aku tetap di sini!"

"Pemimpin Suiyi, akhirnya aku melihatmu secara langsung dan sedekat ini. Walau harus mati sekarang pun, aku rela."

"Pemimpin, tolong biarkan aku tetap di sini. Apa pun yang Anda suruh, aku akan lakukan. Bahkan kalau harus membantumu membersihkan kamar mandi malam hari pun aku tak keberatan."

Suara permohonan mereka saling bersahutan.

Semakin Xiaoxue mendengar, hatinya makin panas. Itu gurunya, gurunya seorang, bagaimana bisa orang lain bersikap seperti itu...

"Cukup!" seru Jiang Xiaoxue, tak tahan lagi. Amarahnya sudah membara, semakin lama semakin berkobar.

Ia berlari naik ke atas panggung, mencengkram dan menarik orang-orang itu dari tubuh Suiyi. "Pemimpin Suiyi, kami semua datang ke sini karena mengagumi reputasimu. Melewati perjalanan jauh ke tempat ini bukanlah hal mudah. Meskipun kami tidak punya bakat atau akar spiritual, setidaknya beri kami kesempatan, bukan? Satu bulan saja, bagaimana? Kalau setelah sebulan kami benar-benar tidak layak, saat itu Anda bisa mengusir kami."

Mo Yiyi yang sejak tadi memperhatikan pun tak tahan lagi. Ia maju dan berkata, "Kalian pikir tempat ini halaman belakang rumah kalian sendiri? Seenaknya mau tinggal, tinggal saja? Pengawal, usir mereka keluar."

Beberapa anak kecil itu berani-beraninya memeluk kaki Pemimpin Suiyi, bahkan berani bertingkah di depannya. Tak punya akar spiritual, tak berbakat, masih ingin tinggal di Sekte Takdir Abadi? Mimpi saja!

Namun saat itu, Suiyi yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara, "Baiklah, kalian kuberi waktu satu bulan. Jika sampai saat itu masih belum bisa memasuki tahap Qi, silakan pergi dengan sendirinya."

Selesai berkata demikian, Suiyi langsung pergi tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk menanggapi. Tujuannya sejak awal memang hanya untuk memastikan muridnya bisa masuk Sekte Takdir Abadi dengan lancar. Setelah tujuannya tercapai, ia pun pergi.

Karena sudah Pemimpin Suiyi yang memutuskan, orang lain pun tak berani membantah. Mereka hanya merasa orang-orang itu sangat beruntung. Meski di sisi lain, mereka juga merasa muak dengan cara mereka masuk ke sekte yang dianggap curang dan tak tahu malu.

Namun, keputusan sudah dibuat. Mo Yiyi pun tak punya alasan lagi untuk mengusir mereka. Meski dalam hati ia masih kesal dan gondok, ia hanya bisa membiarkan mereka tinggal. Diam-diam ia sudah bertekad, begitu sebulan berlalu, ia pasti akan mengusir mereka. Selama sebulan itu, ia akan menugaskan mereka memasak di dapur, mengangkat air, atau menebang kayu. Pokoknya, jangan harap bisa belajar sedikit pun ilmu dari Sekte Takdir Abadi. Ia tidak percaya, dengan kemampuan mereka yang pas-pasan, mereka bisa memasuki tahap Qi hanya dalam waktu sebulan. Sungguh konyol.

Mereka sendiri pun nyaris tak percaya, Pemimpin Suiyi benar-benar membiarkan mereka tinggal. Bahkan Mo Yiyi yang awalnya menolak pun akhirnya setuju. Mereka amat gembira.

Dengan adanya mereka sebagai contoh, tentu saja ada yang ingin meniru. Sayangnya, Suiyi sudah pergi, dan Mo Yiyi dengan gigih menghalangi, sehingga sisanya tetap harus pergi.

Bersama Jiang Xiaoxue, total ada tujuh orang yang diizinkan tinggal. Saat mereka dibawa masuk ke Sekte Takdir Abadi, mereka saling memperkenalkan diri.

Di antaranya ada gadis yang sebelumnya naik kereta mewah, namanya Shangguan Lan. Ada juga Putri Negara Awan yang lembut, Yun Wu. Si pria kekar polos yang antre sebelum Jiang Xiaoxue bernama Bu Lou. Ada pula putra orang kaya bernama Guan Cai. Seorang pemuda biasa tapi tampak misterius bernama Xiao Guang. Ditambah Jiang Xiaoxue dan Qixing Babao, genap tujuh orang.

Ketujuhnya ditempatkan di sebuah paviliun kecil yang terpencil. Paviliun itu sangat tua dan sepertinya sudah lama tidak dihuni. Jaring laba-laba di mana-mana, perabotannya rusak, debu tebal menutupi segala penjuru.

"Mulai hari ini, kalian tinggal di paviliun ini. Bersihkan dan istirahatlah lebih awal. Besok, seseorang akan datang untuk memberitahu tugas-tugas kalian," kata orang yang mengantar mereka sebelum pergi.

Ketujuh orang itu berdiri di depan gerbang paviliun, terpaku dengan ekspresi berbeda. Segala emosi mereka ditahan sampai orang yang mengantar pergi, barulah mereka mengungkapkan perasaan masing-masing.

"Apa-apaan ini, menyuruh kita tinggal di tempat begini? Ini rumah atau kandang?" Shangguan Lan menendang salah satu papan pintu paviliun, terdengar suara keras dan papan itu roboh.

Seekor burung gagak melintas di atas kepala mereka sambil berkaok.

Semua memandang Shangguan Lan dengan tatapan aneh.

Shangguan Lan langsung kehilangan semangat, tersipu malu, lalu tersenyum canggung. "Pintu ini pasti sudah tua dan rusak, bukan karena aku terlalu kasar."

"Aku dari tadi sudah tahu kau bukan wanita lembut, tak perlu berpura-pura di depan kami," ejek Guan Cai sambil berjalan melewatinya masuk ke paviliun.

"Kau... Siapa bilang aku bukan wanita lembut? Kalaupun bukan, memangnya kenapa? Biar aku urus sendiri, hmph!" Shangguan Lan bersungut-sungut. Di Negeri Hujan, keluarga Shangguan adalah bangsawan, ia lahir sebagai anak kesayangan langit. Betul, ia memang tidak terlalu feminin, tapi belum pernah ada yang berani bilang itu di depannya.

"Sudahlah, Kak Lan, jangan marah. Mari kita masuk. Kalau kita bersihkan bersama, sepertinya paviliun ini masih layak untuk ditempati," ujar Yun Wu.

Meski Yun Wu seorang putri, sifatnya jauh lebih lembut daripada Shangguan Lan.

"Kak Wu, kau seorang putri, pasti tak pernah bekerja, kan? Aku juga. Bagaimana kalau kita suruh mereka saja yang bersih-bersih?" bisik Shangguan Lan sambil menunjuk para pria.

Keduanya memilih kamar yang agak mendingan untuk ditempati bersama. Awalnya ingin satu kamar satu orang, tapi paviliun itu hanya punya tiga kamar, jadi mereka harus berbagi dan sekalian mempererat hubungan.

"Kurasa tidak baik," Yun Wu ragu-ragu. Ia merasa kamar perempuan sebaiknya dibersihkan sendiri.

Jiang Xiaoxue tak memperdulikan yang lain, langsung masuk ke salah satu kamar dan berkata, "Aku ambil kamar ini, terserah kalian."