Bab 10: Pengepungan Sekte Takdir Abadi
“Sayang, jangan pura-pura mati. Apa pun yang harus dihadapi, tetap harus dihadapi. Lagi pula, aku ini tuanmu, seumur hidupmu pun kau takkan bisa lepas dariku. Hahaha!” ujar Jiang Xiaoxue sambil menggoyang-goyangkan Qixing Babao dan tersenyum.
Jiang Xiaoxue menyadari, setelah Qixing Babao ia modifikasi, makhluk itu kini makin imut dan polos. Terutama ekspresi-ekspresi kecilnya, sungguh membuat orang gemas, ingin sekali menggodanya.
“Jadi, apa yang kau inginkan? Hmm… bagaimana kalau aku memanggangkan ayam untukmu selama sebulan?” Qixing Babao berpikir lama baru berkata demikian.
“Haha! Kau yang memanggang? Memangnya kau pernah memanggang ayam? Ayam pangganganmu bisa dimakan? Aku tidak mau belum juga bertemu dengan Guru Besar sudah keracunan sampai tewas,” kata Jiang Xiaoxue.
“Kau…” Qixing Babao sampai menghentakkan kaki karena kesal, tak tahu lagi harus berkata apa. Bersama Jiang Xiaoxue, kecerdasannya seperti lenyap.
“Sudahlah, aku berhenti menggodamu. Sekarang kita harus cepat-cepat ke Sekte Takdir Abadi. Kudengar seluruh sekte besar di Wilayah Roh Xihu sudah mengutus orang dan sepakat hari ini mengepung Sekte Takdir Abadi,” gumam Jiang Xiaoxue dalam hati. Ia bertanya-tanya, dosa apa sebenarnya yang dibuat sektenya sang guru, atau berapa banyak orang yang sudah mereka sakiti sampai-sampai dikepung begini besar-besaran. Sungguh pemandangan yang luar biasa.
“Tuan, bagaimana kau tahu?” tanya Qixing Babao heran.
“Sebelummu datang, aku sudah cari tahu,” jawab Jiang Xiaoxue seakan itu hal biasa. Ia memang tiba setengah hari lebih awal dari Qixing Babao, sempat berkeliling Kota Jinghua Shuiyue, mengumpulkan kabar, lalu kembali ke tempat ini menunggu Qixing Babao.
Qixing Babao hanya bisa diam, dalam hati mengumpat, “Monster.”
Wilayah Roh Xihu, dengan kelimpahan energinya, jika dibandingkan dengan Donghu, ibarat langit dan bumi, tak bisa disamakan. Di sini, energi spiritual berkali lipat lebih kuat, memang tempat sempurna untuk berlatih.
Begitu melangkah masuk ke Wilayah Roh Xihu, Jiang Xiaoxue langsung merasakan energi spiritual pekat menyerbu tubuhnya, seakan ingin masuk ke dalam dirinya setiap saat. Dalam hati ia memutuskan, kelak ia akan berlatih di sini saja, bahkan jika harus mati pun, ia ingin mati di sini.
Keduanya tiba di luar Sekte Takdir Abadi, memilih tempat aman untuk bersembunyi yang bisa digunakan mengamati pertarungan tanpa terkena imbas pertempuran. Dari jauh, tampak gerbang gunung sudah dipenuhi para kultivator. Tiga sekte, lima aliran, dua istana, satu puncak, satu kota, semuanya mengutus perwakilan, dan pemimpin mereka pun bukan orang sembarangan. Banyak ahli tingkat Istana Dewa dan Pencapaian Sempurna, bahkan pasukan yang biasa pun mayoritas sudah berada di tingkat Jiwa Dewa. Semua kekuatan mereka jauh melampaui Jiang Xiaoxue dan Qixing Babao.
Tingkatan kultivator, dari rendah ke tinggi, yaitu Tingkat Penempaan Tubuh, Tingkat Latihan Qi, Tingkat Jiwa Dewa, Tingkat Istana Dewa, Tingkat Pencapaian Sempurna, Tingkat Naga Terbang, Tingkat Burung Phoenix, dan akhirnya Menyebrangi Bencana Menjadi Abadi.
Namun, ratusan tahun lalu, ketika para kultivator memasuki Wilayah Roh Xihu, energi spiritual di sana dapat langsung diubah menjadi kekuatan diri, membuat peningkatan tingkat menjadi sangat cepat. Sejak saat itu, Tingkat Latihan Qi menjadi langkah pertama dalam jalan kultivasi.
Saat ini, kekuatan Jiang Xiaoxue baru mencapai Tingkat Penempaan Tubuh, belum resmi memasukkan energi ke dalam tubuh, sedangkan Qixing Babao setara dengan tingkat tujuh Latihan Qi manusia. Menghadapi pemandangan seperti ini, mereka berdua hanya bisa menonton dari pinggir.
“Dengan keramaian sebesar ini, kau tidak khawatir dengan gurumu?” Qixing Babao mulai ikut cemas melihat situasi di depan Sekte Takdir Abadi. Jika hari ini sekte itu benar-benar hancur, lalu ke mana mereka berdua akan pergi?
“Khawatir apa? Kau takut guruku tidak bisa mengatasinya? Tenang saja, semua orang ini cuma kacung di matanya,” Jiang Xiaoxue menepuk bahu Qixing Babao sambil tersenyum.
Qixing Babao sampai bercucuran keringat dingin, sama sekali tidak mengerti dari mana Jiang Xiaoxue mendapat kepercayaan diri sebesar itu. Menurutnya, semua orang di sini sangatlah kuat, bahkan aura mereka saja sudah membuat kakinya seolah tertanam dan tak sanggup melangkah, kedua kakinya terasa seberat gunung.
Hanya tuannya yang aneh itu yang masih bisa bebas berkeliling di tengah kerumunan.
“Hey! Tuan, itu barisan musuh…”
Saat itu, ribuan orang dari berbagai sekte sudah mengepung luar gerbang Sekte Takdir Abadi. Mereka belum menyerang, seolah sedang menunggu sesuatu. Sementara itu, gerbang sekte tertutup rapat, hanya beberapa murid mengintip dari dalam, formasi pelindung sekte sudah diaktifkan, menandakan situasi sudah sangat gawat. Setiap saat, mereka bisa saja menyerbu masuk.
Jiang Xiaoxue menyelinap di antara keramaian. Tubuhnya kecil, pendek, gerakannya lincah, dan semua orang sedang fokus pada gerbang sekte, sehingga tak banyak yang memperhatikannya.
Dalam hati, Jiang Xiaoxue merasa gembira. Orang-orang ini memang pantas disebut sebagai para elit Wilayah Roh Xihu, selain kekuatan mereka hebat, mereka juga membawa banyak harta dan alat sihir. Kalau semua bisa ia rampas… hehe…
“Tahu diri, bocah! Minggir!”
Tiba-tiba Jiang Xiaoxue merasakan pantatnya ditendang keras hingga ia terguling. Sambil memijat pantat yang sakit, ia menoleh ke arah pelaku.
Yang menendangnya adalah seorang pria dengan wajah lumayan, tapi sikapnya sangat angkuh. Melihat beberapa wanita cantik di sekitarnya, Jiang Xiaoxue tahu orang ini pasti seorang narsis dan playboy.
Soal kekuatan, pria itu jelas jauh di atas dirinya, tapi Jiang Xiaoxue hanya mendengus dalam hati, “Jangan senang dulu, nanti kau juga akan merasakan akibatnya! Hmph!”
Kalau saja ia tadi tidak terpaku pada cambuk berukir burung phoenix yang dibawa wanita cantik di sebelah pria itu, dan tidak berhenti sejenak, ia pasti tak akan terkena tendangan tadi.
Jiang Xiaoxue melirik sekilas ke arah pria itu, lalu lenyap di tengah kerumunan. Ia kembali ke sisi Qixing Babao, mengambil ayam panggang dari kantong penyimpanan, dan mulai makan sambil bersiap menonton pertunjukan. Qixing Babao di sampingnya menelan ludah, menatap tuannya yang rakus dengan penuh harap.
Jiang Xiaoxue akhirnya mengeluarkan satu ayam lagi dari kantong penyimpanan dan melemparkannya pada Qixing Babao. Dua orang itu pun kini makan ayam panggang sambil menonton pertarungan.
Saat itu pula, gerbang besar Sekte Takdir Abadi perlahan terbuka. Suiyi keluar mengenakan jubah pemimpin sekte, penuh aura abadi.
Kehadirannya membuat semua orang terkejut. Jiang Xiaoxue sendiri sangat bersemangat melihat gurunya muncul, sangat menantikan pertarungan yang akan terjadi, pertarungan guru melawan para ahli hebat.
“Jadi kau pemimpin baru Sekte Takdir Abadi? Benar-benar berani, berani-beraninya mengambil alih posisi pemimpin di saat seperti ini,” seseorang maju ke depan begitu melihat Suiyi muncul.
Menurutnya, Sekte Takdir Abadi sudah di ambang kehancuran, tapi masih saja ada orang yang mau menanggung risiko besar untuk menjadi pemimpin. Sungguh nekat.
“Segala urusan antara kalian dan Sekte Takdir Abadi, hari ini akan kita selesaikan sekaligus! Kalau memang ingin bertarung, satu per satu terlalu merepotkan, lebih baik kalian semua maju bersamaan, bagaimana?” ujar Suiyi, mengulurkan tangan ke arah kerumunan tanpa mengindahkan lawan bicaranya.