Bab 036 Kakak Kandungku adalah Leng Xiao
Di tengah pelarian mereka, seorang pria tiba-tiba muncul menghadang jalan pria bertubuh besar dan si bertubuh kecil itu. “Kalian yakin kantong uang yang dia pegang benar-benar terdapat lambang Istana Raja Iblis?” Orang itu berpakaian serba hitam, wajahnya pun tertutup oleh caping hitam lebar, sehingga penampilannya sama sekali tak terlihat.
Namun, aura kekuatannya begitu dalam dan menakutkan, seolah dengan satu tangan saja ia bisa menghancurkan mereka berdua. Menghadapi kehadiran yang menakutkan ini, keduanya hanya bisa menjawab dengan jujur, “Benar, itu memang lambang Istana Raja Iblis. Kami tidak mungkin salah mengenalinya.”
“Kalau begitu, tampaknya memang dia orangnya.” Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan, sosok berbaju hitam itu tak berlama-lama, langsung menghilang bagai ditiup angin di depan mata mereka.
Ketika ia melacak Jejak Jiang Xiaoxue, kebetulan melihat mereka baru saja berganti pakaian dan masuk ke Sekte Takdir Abadi. “Ternyata murid Sekte Takdir Abadi, pantes saja berani sekali.” Senyum licik terbit di sudut bibir orang berbaju hitam itu. Ia berbisik, “Biar saja kalian menikmati kebebasan beberapa hari lagi.” Lalu ia pun pergi.
Sementara itu, Jiang Xiaoxue bersama Leng Xiao kembali memasuki Sekte Takdir Abadi menggunakan lencana bertuliskan ‘Dapur’ itu. Tak disangka, di gerbang gunung sudah banyak orang menanti mereka.
Salah satunya adalah guru yang baru saja diterima Leng Xiao, yakni Penatua Qu Yi dari Sekte Takdir Abadi, yang akrab dipanggil Penatua Qu. “Dasar murid durhaka, baru saja masuk sudah berani keluar tanpa izin, cepat kembali dan berlutut di ruang pertobatan!” Penatua Qu sampai memutar matanya dan menahan amarah. Melihat Leng Xiao kembali, ia segera memanggilnya.
Tak pernah terbayangkan oleh Penatua Qu, murid pribadinya yang baru diangkat ini berani berbuat semaunya sendiri, diam-diam keluar gerbang sekte. Benar-benar membuatnya naik pitam. Sepertinya ia harus mendidik murid ini dengan lebih ketat ke depannya.
“Baik,” jawab Leng Xiao patuh. Ia sempat menoleh sekilas pada Jiang Xiaoxue, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, mengikuti Penatua Qu pergi.
Di depan gerbang, Jiang Xiaoxue sempat mengejarnya. Awalnya ia memang berniat masuk untuk mencari bantuan menyelamatkan Jiang Xiaoxue, tapi tak disangka gadis itu bisa menyusulnya secepat itu. Dalam situasi seperti tadi, mereka malah bisa kembali bersama ke sekte, benar-benar di luar dugaan.
Tampaknya Jiang Xiaoxue masih menyembunyikan kemampuan aslinya. Seperti waktu mereka pergi bersama ke Kota Cermin Bunga dan Bulan, meski mereka tiba bersamaan, Leng Xiao tahu dirinya sudah mengerahkan seluruh tenaga, sedangkan Jiang Xiaoxue masih tampak santai.
Kini, sepertinya kedua pengejar itu pun telah berhasil diatasi oleh Jiang Xiaoxue, entah bagaimana caranya. Tapi ia benar-benar kagum, karena bisa melakukan hal itu.
Jiang Xiaoxue menyerahkan ‘Plum Musim Dingin Salju Dingin’ kepada Leng Xiao, barulah mereka berdua masuk ke dalam sekte.
Begitu Leng Xiao pergi, Tuan Cang Qi segera muncul dan memarahi Jiang Xiaoxue. “Berani juga ya! Begitu aku lengah, kau malah keluyuran, memangnya kau nggak mau tinggal di Sekte Takdir Abadi lagi?” Tuan Cang Qi tampak marah besar, begitu melihat Jiang Xiaoxue langsung memulai ceramahnya.
Sore tadi, saat ia datang untuk membagi tugas kepada ketujuh muridnya, ia baru sadar tinggal enam orang saja. Setelah bertanya, baru tahu ada satu orang yang keluar dari sekte. Awalnya ia berpikir, biarlah, toh hanya murid yang tak berguna, tidak ada pengaruhnya. Tapi ternyata, Jiang Xiaoxue kembali lagi.
“Leng Xiao itu kakakku,” kata Jiang Xiaoxue dengan santai, bahkan tak ingin berdebat lebih panjang dengannya.
Satu kalimat itu langsung membuat Tuan Cang Qi membeku di tempat, lama tak sanggup bereaksi. Apa barusan dia bilang? Leng Xiao adalah kakaknya? Kenapa harus Leng Xiao? Pantas saja tadi pulang bersama.
“Ehm, aku cuma mau kasih tahu, sore nanti kalian bertujuh akan dikirim ke hutan untuk menebang pohon.” Suara Tuan Cang Qi mendadak jadi lembut, bahkan wajahnya tersenyum. Perubahan sikapnya secepat membalikkan telapak tangan.
Ia sendiri tidak mau menyinggung Leng Xiao. Sekarang Leng Xiao adalah murid pribadi Penatua Qu Yi, sementara dirinya hanya murid biasa, jelas tak bisa macam-macam. Bahkan untuk urusan menebang pohon saja, ia tak yakin apakah Jiang Xiaoxue akan memendam dendam padanya.
“Baik, saya mengerti,” jawab Jiang Xiaoxue.
Ia tak berkata lagi, menerima perintah lalu pergi. Jiang Xiaoxue harus segera mengembalikan lencana dapur itu. Dari reaksi semua orang, tampaknya Koki Besar belum menyebarkan berita tentang lencana yang ia bawa kabur.
Dengan patuh Jiang Xiaoxue masuk ke dapur. Koki Besar sudah menunggunya, bahkan tampak sudah menunggu cukup lama.
“Kau sudah kembali rupanya!” Koki Besar menyambutnya dengan suara datar tanpa ekspresi, sulit ditebak perasaannya.
Sebenarnya, alasan ia menunggu Jiang Xiaoxue hanyalah ingin melihat siapa sebenarnya yang berani-beraninya mengambil lencananya. Selain itu, ia penasaran apakah lencana itu benar-benar akan dikembalikan, seperti janji di secarik kertas, bahkan katanya akan mengembalikan seekor babi roh.
“Koki Besar,” sapa Jiang Xiaoxue dengan sangat sopan, wajahnya polos dan patuh.
“Ceritakan, kenapa kau mengambil lencanaku? Ke mana saja kau pergi setelah keluar dari sekte?” tanya Koki Besar, meski sebenarnya ia lebih ingin tahu soal babi roh itu.
Jiang Xiaoxue tak langsung menjawab, melainkan mengeluarkan seekor Babi Roh Telinga Merah dari dalam kantong penyimpanan makhluk hidup, dan meletakkannya di hadapan Koki Besar. “Koki Besar, lihatlah ini dulu.”
“Babi Roh Telinga Merah!” Mata Koki Besar langsung berbinar, bahkan sampai berteriak karena terkejut.
Di Wilayah Roh Danau Barat, sebenarnya ada banyak jenis babi roh, tapi yang bertelinga merah seperti ini sangat langka. Walaupun tingkatnya tidak tinggi, kalah dibandingkan binatang roh lainnya, babi ini sangat cocok untuk menambah energi spiritual bagi para kultivator. Nilainya pun lebih tinggi dibanding babi roh biasa. Karena langka, ia menjadi sangat istimewa.
Tak disangka Jiang Xiaoxue membawakannya babi roh yang begitu langka, Koki Besar benar-benar kesulitan menahan kegembiraannya. Sikap tenangnya yang semula pura-pura pun langsung lenyap.
“Dari mana kau mendapatkannya?” tanya Koki Besar.
“Dari Kota Cermin Bunga dan Bulan, harta andalan sebuah toko. Aku membelinya seharga lima puluh keping batu roh,” jawab Jiang Xiaoxue.
“Lima puluh batu roh... Kau gila?! Babi Roh Telinga Merah ini, meski langka, tidak sampai semahal itu! Dasar anak pemboros!” Koki Besar langsung lemas begitu mendengar harganya.
Biarpun langka, babi ini tak seharga lima puluh batu roh. Dengan jumlah itu, ia bisa membeli lima puluh ekor babi roh biasa.
“Asal Koki Besar suka, uang sebesar itu bukan masalah,” ujar Jiang Xiaoxue dengan nada bangga. Soal uang, ia memang tak terlalu memperdulikannya.
“Baik, karena kau tulus, aku tak akan mempermasalahkan soal lencana itu,” Koki Besar mengelus babi roh itu, lalu menambahkan, “Jika nanti kau butuh lencana ini lagi, datang saja padaku.”
Perkataannya ibarat lampu hijau untuk Jiang Xiaoxue; kapan saja ia ingin keluar sekte, ia bisa melakukannya dengan mudah.
“Terima kasih, Koki Besar.”
Jiang Xiaoxue meninggalkan dapur dengan hati yang sangat gembira.