Bab 58 Wanita dari Jinan
Teman masa kecil selalu memiliki semacam kekuatan magis yang melintasi waktu. Bahkan setelah bertahun-tahun tidak berjumpa dan tanpa kontak sama sekali, saat bertemu kembali, sama sekali tidak ada rasa canggung.
Kami bertiga minum dari siang hingga sore hari, sampai lampu-lampu jalan di luar mulai meredup kekuningan, barulah kami bangkit dan berjalan keluar dari kedai ayam goreng itu dengan langkah terhuyung-huyung sambil merangkul pundak satu sama lain.
"Mau... mau ke mana?"
Qi Yang berbicara dengan lidah yang kelu sambil menatapku dan Ji Nan.
"Tempat biasa lagi?"
Aku bersendawa karena mabik, lalu bertanya sambil menebak-nebak.
Namun, mendengar kata-kataku itu, Qi Yang dan Ji Nan saling berpandangan. Sambil menyeringai lebar, mereka berseru serempak, "Kawan-kawan, ayo berangkat!"
"Tempat biasa? Di mana itu?"
Chang Ling baru saja selesai membayar di kasir dan keluar. Mendengar ucapanku, ia bertanya denganbingung.
Aku tersenyum dalam mabuk, lalu meliriknya penuh misteri.
......
Dalam perjalanan menuju tempat itu, kami bertiga berjalan beriringan sambil merangkul pundak, bernyanyi dengan suara keras dan sumbang, membuat para pejalan kaki menatap kami seperti melihat orang bodoh. Chang Ling mengikuti di belakang kami. Aku bisa merasakan bahwa ia pasti merasa sangat tidak bisa berkata-kata; lagipula, siapa yang tidak akan merasa canggung jika mengikuti tiga orang pemabuk gila?
Angin malam di jalanan kota kecil terasa agak sejuk, bertiup menerpa kening dan terasa sangat nyaman, hingga sedikit menyadarkan sisa-sisa mabuk di kepalaku. Dalam sekejap, aku merasa seolah-olah kami kembali ke belasan tahun lalu ketika kami masih remaja, saat kami hidup tanpa beban dan penuh dengan kerinduan akan masa depan.
Namun, bagaimana dengan sekarang? Mungkin setiap dari kita memiliki kekhawatiran dan kesulitannya sendiri.
Inilah mungkin harga yang harus dibayar untuk tumbuh dewasa.
Setengah jam kemudian, kami berjalan terhuyung-huyung dan berhenti di depan sebuah warung internet yang sudah usang, lalu berdiri bersama-sama menatap papan nama sambil terdiam.
Namun, pada saat ini, Chang Ling bertanya dari belakang dengan nada tidak percaya, "Tempat biasa yang kalian maksud, bukan tempat ini, kan?"
Ya, Warnet Tempat Biasa.
Tahun-tahun ketika kami bersama-sama bermain Wen Dao dan Zhuo Xing berputar terus di dalam kepalaku bagaikan gulungan film. Setelah merenung sejenak dan menarik napas dalam-dalam, aku melepaskan rangkulan mereka berdua, melangkah maju lebih dulu untuk mendorong pintu.
Tiba-tiba aku menyadari pintunya tidak bisa didorong. Aku mengerahkan lebih banyak tenaga, tetapi tetap tidak bisa didorong. Pikirku, ada apa dengan pintu ini, mengapa begitu sulit dibuka?
Sambil menundukkan kepala, aku mulai mencari tahu apa masalah dengan pintu ini. Chang Ling maju dan menepuk bahuku dengan kencang, lalu bertanya dengan bingung, "Apa yang kamu lakukan, Kak?"
Aku mendongak tanpa mengangkat kepala, tetap sibuk mencari tahu masalah pintu ini seraya berkata, "Aku sedang melihat ada apa dengan pintu ini, kenapa tidak bisa dibuka!"
Chang Ling tertawa kecil, menarik pakaianku, lalu menunjuk ke selembar kertas yang ditempel di dinding sambil berkata, "Kak, lihat ini apa?"
Aku mengangkat kepalaku, mengikuti arah yang ditunjuk oleh Chang Ling.
Tulisan di atas kertas itu tampak agak buram di mataku. Aku mengucek mataku, barulah bisa melihat dengan jelas tulisan di atas kertas tersebut.
——Ruko Disewakan
Qi Yang dan Ji Nan tertawa terbahak-bahak di belakangku saat itu juga.
Namun, hatiku justru merasa agak sesak, menatap keempat karakter itu cukup lama tanpa bisa bereaksi.
Kertas itu sudah sedikit menguning, dan salah satu sudutnya telah mengelupas, yang menunjukkan bahwa kertas itu sudah ditempel sangat lama.
Bahkan usaha yang telah buka selama belasan tahun ini pun tidak mampu bertahan melawan berjalannya waktu?
Aku mengeluarkan sebatang rokok dari saku, menyalakannya, lalu menghirupnya dalam-dalam.
"Ada apa, Kak!"
Chang Ling sepertinya menyadari kesedihanku, ia melangkah maju dan bertanya dengan lembut.
"Tidak apa-apa, Jiang Zhan, ayo pergi! Kita cari hotel e-sports saja secara acak!"
Ji Nan berkata dengan nada cuek dan blak-blakan.
Aku mengangguk dengan linglung.
Seketika itu juga kami kembali berjalan, berjalan kaki menuju hotel e-sports terbesar di kota kecil itu. Setelah berjalan beberapa ratus meter, aku menoleh ke belakang untuk melihat ke arah Warnet Tempat Biasa.
Wujudnya yang reyot tampak seperti seorang kakek tua yang hampir mati. Aku tidak tahu apa yang sedang aku sedihkan, aku hanya merasa seolah-olah ada bagian yang sangat penting dari diriku yang hilang. Dalam lamunanku, aku melihat kertas itu tiba-tiba tiup angin, lalu terbang ke langit, melayang menuju alam semesta yang jauh dan tak berbekas.
Duduk di depan komputer di hotel e-sports, aku menatap layar dengan bosan.
Sulit dibayangkan, tiga orang paruh baya yang jika dijumlahkan usianya hampir mencapai seratus tahun, saat ini berkumpul di sekitar komputer untuk bertanya kepada Chang Ling di mana game tersebut bisa ditemukan.
Setelah bermain selama sepuluh menit dan mungkin merasa semuanya membosankan, kami akhirnya duduk berhadap-hadapan sambil makan camilan dan mengobrol.
Pada saat ini, kami mulai membicarakan segala hal selama belasan tahun terakhir.
Mulai dari perjalananku mengelilingi Tiongkok hingga ayahku yang ditangkap, dari kebangkrutanku hingga putus dengan pacar, hingga akhirnya aku membuka penginapan di Kunming dan berpacaran dengan Chang Ling. Dari Qi Yang yang selangkah demi selangkah naik menjadi eksekutif, hingga skandal opini publik di internet baru-baru ini...
Kami membicarakan banyak hal, hampir setiap detik diisi dengan obrolan.
Chang Ling mungkin kelelahan, atau mungkin sudah bosan mendengarkan tiga pemabuk mengobrol tanpa logika, jadi ia berbaring di pangkuanku sambil bermain ponsel dengan ekspresi santai.
Sementara Ji Nan, saat menceritakan suka dukanya setelah pergi ke Amerika Serikat, tiba-tiba menyinggung tentang saat ia pernah pulang ke Tiongkok sekali ketika usianya dua puluh tahun.
"Kamu pernah pulang?"
Aku merokok sambil menatapnya dengan penuh keheranan.
Tanpa diduga, wajah Ji Nan justru memerah seketika. Dengan sedikit rasa malu, ia berkata, "Waktu umur dua puluh tahun aku pulang ke Tiongkok sekali ke Shanghai, untuk menemui teman internet!"
"Oeoet!"
Mendengar itu, aku dan Qi Yang mulai bersorak menggoda.
"Bagaimana rupanya? Sekarang dia di mana?"
Qi Yang bertanya dengan rasa penasaran.
Sebenarnya wajar jika ia penasaran, di antara kami bertiga, Qi Yang sudah menikah, aku sudah punya pacar, dan sekarang tinggal Ji Nan seorang diri yang belum punya pasangan.
"Eh, kami sudah kehilangan kontak! Tapi aku tahu dia perempuan asal Shanghai."
Ji Nan tampak sedikit canggung.
"Kehilangan kontak?" tanyaku bingung.
"Iya! Waktu di Shanghai terakhir kali pun aku tidak menemuinya, aku hanya melihat punggungnya saja!"
Aku dan Qi Yang seketika terdiam. Sialan, cerita panjang lebar ternyata cuma kenalan kencan online? Apa-apaan ini, sedang mempermainkan kami?
"Berapa umurmu sekarang, Ji Nan?"
Qi Yang tiba-tiba bertanya dengan nada serius.
"Dua puluh sembilan!" Ji Nan menjawab dengan kebingungan.
"Di usia dua puluh sembilan tahun, kamu harus memikirkan hal yang nyata, Ji Nan! Kamu sendiri bilang sudah kehilangan kontak, lalu bagaimana cara mencarinya? Apakah kamu tahu ada berapa banyak orang di Tiongkok? Apakah kamu tahu berapa jumlah penduduk tetap di Shanghai? Lagi pula, kamu juga bilang itu sudah terjadi sembilan tahun yang lalu, siapa tahu netizen pilihanmu itu sudah lama menikah dan bahkan sudah punya dua anak!"
Namun, Ji Nan sepertinya tidak mendengarkan. Ia menggelengkan kepalanya dengan tegas lalu berkata, "Tidak, dia tidak akan menikah, dan aku pasti akan menemukannya. Ini adalah janji kami."
Kini giliran aku dan Qi Yang yang merasa kebingungan. Mengapa sewaktu kecil kami tidak menyadari bahwa Ji Nan adalah seorang yang begitu setia dalam cinta?
Namun, hal itu masuk akal juga. Keluarga Ji Nan sudah sangat kaya sejak kecil, kalau tidak, mana mungkin ia sudah pergi ke Amerika Serikat pada awal tahun 2000-an. Pepatah lama memang benar: orang yang begitu setia dalam cinta hanya lahir dari keluarga kaya raya.
"Siapa namanya? Apakah kamu masih ingat?"
Tiba-tiba sebuah ide melintas di benakku, dan aku langsung bertanya.
Ji Nan menunduk dan menghisap rokoknya, tampak sedikit malu. "Aku juga tidak tahu namanya, tapi aku tahu nama panggilannya di internet."
Mendengar itu, seketika aku merasa pusing tujuh keliling...
Makhluk apa ini?
Sialan, nama aslinya saja tidak tahu! Qi Yang langsung memutar bola matanya dan merebahkan diri di sofa tanpa berkata apa-apa lagi, sementara Chang Ling bahkan tidak bisa menahan tawa kecilnya.
"Lalu apa nama panggilannya di internet?"
Aku menghela napas dan bertanya.
Tanpa ragu sedikit pun, Ji Nan menyebutkan, "Zhu Jian."