Bab 33 Penyelidikan Berubah Menjadi Serangan Mendadak
Singkatnya, di Kota Sungai Atas, Daliang yang belum menyelesaikan satu pun tugas tak bisa mempelajari satu pun sihir, juga tak bisa merekrut satu pun prajurit. Padahal, ia telah memegang uang dalam jumlah besar dan berencana memperkuat pasukannya—sebuah kenyataan yang membuat Daliang hanya bisa mengelus dada. Namun, jika dipikir-pikir, pengaturan seperti ini memang dimaksudkan untuk membatasi para pemain kaya yang membeli koin lalu merekrut tentara secara instan. Meski di dunia nyata kau punya uang sebanyak apa pun, untuk membeli tentara tetap harus mengikuti alur tugas satu per satu. Dengan begitu, keunggulan jumlah pasukan Daliang masih akan bertahan untuk waktu yang lama.
Setelah ditolak oleh Serikat Sihir dan Barak Militer, Daliang pun tak punya alasan lagi untuk berlama-lama di Kota Sungai Atas. Ia menunggangi Singa Kerajaan dan terbang langsung kembali ke kapal Api Gelap.
Aliansi Sekolah Tinggi.
Kabar tentang seorang pedagang barang misterius disebarkan oleh Xu Man, dan peluang meraup untung beberapa keping emas hanya dengan keluar masuk pintu langsung menyebar di antara anggota aliansi. Maka, setelah insiden penghadangan sebelumnya, Gerbang Timur Kota Sungai Atas kembali menjadi pemandangan unik: ribuan pemain berdesak-desakan keluar dari gerbang, bergegas menuju pasar pelabuhan dagang.
Berkas-berkas kayu diangkut dari pasar dan ditumpukkan di depan seorang NPC tak jauh dari luar pasar. Para pemain mengantre dengan tertib untuk bertransaksi, dan setiap yang menerima koin emas pun tersenyum lebar. Koin emas yang biasanya didapat dengan susah payah, kali ini diperoleh dengan mudah!
Semua orang bersyukur Xu Man terpilih menjadi pejabat eksekutif Aliansi Sekolah Tinggi; baru satu jam menjabat, ia sudah mencarikan keuntungan seperti ini untuk rekan-rekannya.
Satu-satunya penyesalan adalah, kesempatan mencari uang semacam ini tak bisa terus-menerus diulang. Begitu NPC menerima sejumlah barang tertentu, ia langsung menghentikan pembelian. Mereka yang datang terlambat hanya bisa menyesal dan menyalahkan diri sendiri mengapa tak punya lebih banyak kaki.
Barang-barang yang dibutuhkan Daliang pun segera siap. Para pelaut yang mendapat hadiah bekerja dengan sangat giat, bersama-sama mengangkut kayu dan kebutuhan hidup lain ke atas kapal Api Gelap.
Dua kapal milik wilayah Api Gelap perlahan meninggalkan dermaga. Sideni masih memimpin di depan dengan kapal Sarung Besi, kini ia telah memperoleh koordinat pasti wilayah Api Gelap. Meski di peta lautnya lokasi itu tampak kosong, ia sadar lautan begitu luas sehingga tak ada peta yang mampu menggambarkan setiap detail permukaannya.
“Barangkali di sana ada daratan yang belum ditemukan, dengan sebuah kota megah di atasnya. Di sana, ada lima ratus tentara elit menunggu untuk aku ambil alih—prajurit tombak, pemanah dewa, singa kerajaan, pasukan salib. Benar-benar sesuatu yang layak ditunggu…”
Sambil membayangkan masa depan, Sideni menoleh ke kapal dagang tiga tiang yang mengikut di belakang. Muatan penuhnya membuat garis air kapalnya sangat dalam, sehingga kecepatannya pun sangat terbatas. Kini yang memimpin pelayaran di kapal Api Gelap adalah Simon si Telinga Besar. Dua belas ekor singa, satu singa kerajaan, dan lima pendeta memberinya kekuatan pertahanan yang luar biasa. Bajak laut biasa pasti tak berani macam-macam pada mereka.
Sementara itu, sang pemilik armada—Daliang—sudah duduk di atas bahu Malaikat Agung Julian, terbang menuju tempat lain.
Pulau Debu Terbang terletak sekitar tiga ratus kilometer di timur Pulau Chongming, di tengah laut. Jauh dari daratan dan jalur pelayaran, sumber dayanya miskin; semula pulau kecil ini tak berpenghuni.
Namun entah mengapa, kini pulau kecil itu dipenuhi pasukan elf dari Kota Chongming.
Luas Pulau Debu Terbang sangat kecil; tebing-tebing batu yang mencuat di sekelilingnya membentuk dinding alami, mengurung sebidang tanah lapang di tengah. Di sisi selatan pulau terdapat sebuah pantai, satu-satunya jalan masuk menuju bagian dalam pulau.
Daliang dan Julian terbang sangat tinggi di udara. Sebelum melancarkan serangan ke Pulau Debu Terbang, ia harus terlebih dahulu memahami posisi pertahanan elf di pulau itu. Jika penjagaannya lemah, ia tak segan-segan memerintahkan Malaikat Agung untuk menyerang langsung, menyergap ke dalam pulau dalam satu kali serbuan.
Dari ketinggian, Pulau Debu Terbang hanya tampak seperti setitik hijau; vegetasi lebat menutupi segalanya, dan Daliang hanya bisa samar-samar melihat tiga kapal perang dua tiang mondar-mandir berpatroli di luar pulau.
Dari segi kekuatan laut, armada Api Gelap milik Daliang—sebuah kapal perang dua tiang dan sebuah kapal dagang tiga tiang—setara dengan kekuatan armada Pulau Debu Terbang.
Namun, kapal perang dua tiang di pulau itu hanya berfungsi sebagai patroli. Mereka cukup memanfaatkan kelincahan di laut untuk mencari dan menemukan penyusup; titik serangan utama tetap berada di dalam pulau. Sementara Daliang harus memuat seluruh pasukan penyerang ke dalam dua kapal, sehingga jika melakukan penyerbuan secara konvensional, akan menjadi pertarungan yang sangat berat.
Agar bisa mengamati kekuatan pertahanan di Pulau Debu Terbang, Daliang memerintahkan Julian menurunkan ketinggian terbang. Malaikat Agung perlahan menukik, dan bentuk pulau semakin jelas.
Namun, suasana di dalam pulau tetap sunyi, seolah tak ada makhluk hidup di sana.
Julian terus menukik, dan dalam penglihatan Daliang, pulau itu semakin membesar. Ia kini sangat yakin para elf di pulau telah menyadari kehadirannya, karena baik aura Malaikat Agung maupun tubuhnya yang raksasa, sangat mencolok.
Namun, para elf tetap tak bergerak. Hanya tiga kapal perang dua tiang yang mulai mendekat ke pulau.
Tidak mau keluar, ya... Baik, aku paksa kalian keluar.
Atas perintah Daliang, Julian seketika melaju dengan kecepatan penuh. Keunggulan kecepatannya membuat Julian melesat seperti pesawat pembom yang menukik, mengeluarkan suara melengking tajam. Pedang besarnya digenggam erat, dan sebuah gelombang energi pedang melesat dari bilahnya, membelah udara menuju pulau di bawah.
Menghadapi serangan Malaikat Agung, akhirnya pasukan elf di pulau tidak tahan lagi. Dua regu, dua puluh penunggang pegasus perak, melesat keluar dari rimbunnya hutan menyerbu Julian. Setelah itu, rentetan panah menghujani udara, seperti badai yang melawan arus, mengarah ke Malaikat Agung yang sedang melayang.
Terbang dengan kecepatan tinggi, Julian menunjukkan kelincahan luar biasa. Ia dengan mudah mengubah terjunan menjadi penerbangan datar, membuat panah-panah yang ditembakkan hanya melesat di belakangnya. Dengan satu ayunan pedang, ia menebas jatuh seorang penunggang pegasus perak yang menerjang, lalu mempercepat diri untuk keluar dari kepungan mereka.
Inilah pertama kalinya Julian benar-benar menunjukkan kekuatan bertarungnya. Ia telah menahan diri terlalu lama; sepuluh ribu tahun telah mengasah kekuatannya hingga mencapai tingkat 14+, hanya tinggal selangkah menuju tingkat 15, Malaikat Suci. Ia termasuk yang terbaik di antara para Malaikat Agung, bahkan Metatron pun enggan melepasnya. Namun, benih iblis di dalam dirinya membuatnya tak pernah bisa kembali ke Kota di Awan, tak pernah bisa menjadi bagian dari yang suci. Kebencian telah memengaruhi wataknya, menjadikannya lebih agresif.
Darah penunggang pegasus perak membakar semangat tempur Julian. Ia tak mematuhi perintah Daliang untuk segera mundur, melainkan terus menukik ke Pulau Debu Terbang. Para penunggang pegasus perak yang mengejarnya tertinggal jauh karena tak mampu menandingi kecepatannya, dan panah-panah dari bawah pun tak dapat mengenai gerakannya yang lincah.
Dengan mata yang kini memerah, Julian membentur Pulau Debu Terbang bagai palu godam yang menghantam keras ke dalamnya.