Bab 8: Bala Bantuan dari Malaikat
"Kau!" Ucapan Daliang membuat sang Malaikat Agung menjadi tegang. Ia mengangkat pedang dan menudingkan ujungnya ke arah Daliang sambil berseru lantang, "Jangan bicara sembarangan! Kalau bukan karena kau menerobos masuk, Erges tidak mungkin bisa kabur!"
Tanpa gulungan teleportasi dan dengan Erges yang sudah melarikan diri, Daliang yang telah terpojok kini menjadi seperti babi yang sudah pasrah disembelih. Ia menatap Malaikat Agung itu dengan suara lantang, "Aku bahkan tak bisa merusak pintu penjara ini, bagaimana mungkin aku membebaskan Erges? Kau sendiri tahu itu, tapi justru kau yang lebih galak menuduhku. Meski aku tidak tahu persis apa yang telah Erges lakukan padamu, aku yakin Dewan Arbitrase di Kota Awan dapat menyelidikinya. Mereka pasti akan menemukan jawabannya darimu."
Kata-kata Daliang membuat sang Malaikat Agung kehilangan seluruh wibawanya. Ia melepaskan pedangnya, lalu jatuh berlutut dengan lemah di tanah sambil bergumam, "Kau benar. Aku telah berjaga di sini selama sepuluh ribu tahun. Aura jahat Erges sudah lama merasukiku, memenuhi hatiku dengan keluhan, 'Mengapa aku yang harus menjaga penjara ini? Para malaikat lain bisa mandi cahaya suci di Kota Awan, sementara aku terkurung di dasar laut, di tengah aroma kematian selama ribuan tahun.' Memang, pedang itu sengaja aku ayunkan ke penjara, sebab saat itu aku merasa telah berubah menjadi iblis sejati dan hanya ingin membebaskan Erges. Meski aku tersadar tepat waktu, segalanya sudah terlambat. Dewan Arbitrase pasti akan menemukan benih kejahatan yang tumbuh dalam diriku. Aku akan menghadapi pemurnian. Aku tidak ingin mati begitu saja."
Nada suara Malaikat Agung itu penuh kepedihan. Kini ia tak lagi seperti sosok malaikat yang agung, melainkan seperti seorang gadis kecil yang berbuat salah dan takut dihukum.
Tiba-tiba, Daliang mendapat gagasan dan berkata, "Aku punya satu usul yang mungkin bisa membuatmu lolos dari penyelidikan Dewan Arbitrase, sehingga kau tak perlu khawatir akan dimurnikan."
Malaikat Agung itu bertanya cepat, "Apa yang kau tawarkan?"
"Jadilah bawahanku," bujuk Daliang, "Jika kau menjadi bawahanku, kau akan menjadi pasukan pribadiku. Kota Awan harus meminta izinku terlebih dahulu jika ingin mengambilmu. Aku ini sangat melindungi bawahanku, tak akan membiarkan siapa pun, bahkan dewa, mengganggumu. Aku tidak akan menyerahkanmu pada siapa pun. Bersamaku, para malaikat Kota Awan tak akan bisa berbuat apa-apa padamu."
"Itu... itu sama sekali tidak mungkin," Malaikat Agung menolak tegas, "Kau hanyalah manusia lemah, mana mungkin aku menerima tawaranmu..."
Daliang mengangkat bahu, "Kalau begitu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kau telah berjaga di sini selama sepuluh ribu tahun, dan baru keluar langsung menghadapi pemurnian. Sungguh malang. Aku tak tahu apakah kau pernah melihat indahnya dunia di luar, atau merasakan hidup yang penuh petualangan dan tantangan. Jika tidak... kau sungguh malang..."
"Sudahlah, aku tidak akan pernah menerima tawaranmu," sang Malaikat Agung tetap menolak, harga dirinya tidak mengizinkannya tunduk pada manusia lemah.
Pada saat itu, aura kudus yang mengguncang dunia mendadak menyelimuti seluruh wilayah itu, bersamaan dengan terbukanya sebuah pintu cahaya di dalam makam.
Daliang buru-buru mengeluarkan kontrak perekrutan, lalu berkata dengan cemas, "Kurasa bala bantuan malaikat sudah tiba. Sekarang, putuskanlah: kembali ke Kota Awan untuk mati, atau ikut aku menorehkan takdir baru..."
Tatkala ujung sayap putih muncul dari pintu cahaya itu, Malaikat Agung segera menorehkan capnya pada kontrak Daliang.
"Berhasil!"
Daliang merasa sangat gembira telah berhasil membujuk seorang Malaikat Agung. Ia langsung menyimpan kontrak itu, bahkan belum sempat melihat atribut Malaikat Agung barunya, ketika seorang malaikat dari balik pintu cahaya telah muncul.
Ia adalah malaikat laki-laki, tidak mengenakan zirah malaikat, melainkan jubah suci yang bersih dan berkilau. Wibawanya jauh melebihi Malaikat Agung baru Daliang, laksana perbandingan antara Gunung Mahameru dan bukit kecil. Di punggungnya, tiga puluh enam sayap membentang, tanda kedudukan dan kekuatan yang tiada tara.
Jangan-jangan ini adalah Mikael, Pemimpin Para Malaikat?
Saat Daliang masih terpana, Malaikat Agung barunya segera maju dan memberi salam dengan hormat, "Guru para Malaikat yang agung, Paduka Metatron, Malaikat Agung Julian menyambut kedatangan Anda. Seperti yang Anda lihat, Erges telah melarikan diri. Ia pasti akan mencoba membebaskan keempat Raja Penguasa Neraka lainnya. Kota Awan harus segera memperketat penjagaan di penjara lainnya."
Metatron, sang Guru para Malaikat, menatap Julian yang memberi hormat, lalu melihat penjara yang sudah hancur, dan akhirnya menatap Daliang.
"Peristiwa kaburnya Erges sudah diketahui Kota Awan. Panglima para malaikat, satu-satunya Malaikat Agung Mikael, kini sedang memimpin para malaikat menuju penjara lain untuk mencegah kejadian serupa. Apakah imam manusia ini yang membebaskan Erges? Kurasa kekuatannya belum cukup untuk menghancurkan pintu penjara, bahkan jika mampu melewati pertahananmu. Kami memilihmu sebagai penjaga Erges karena di antara para Malaikat Agung, kau termasuk yang terkuat. Bahkan jika satu regu iblis tingkat tinggi menyerang, kau bisa bertahan sampai bala bantuan Kota Awan tiba."
"Se... semuanya..."
Julian bingung bagaimana harus menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Sementara Daliang yang diabaikan, mengeluarkan surat permohonan bantuan Erges, mengangkatnya tinggi-tinggi dan berkata lantang kepada Metatron, "Erges menulis semua rencana pertahanan dan penyelamatan di kertas ini. Aku benar-benar mengira ada dewa yang terpenjara di sini, makanya aku membantunya. Untuk menolongnya, aku memakai satu gulungan teleportasi, satu gulungan tak terkalahkan, dan satu gulungan serangan. Semuanya harta tak ternilai. Siapa sangka aku malah ditipu Erges; dia bukan dewa, bahkan tiga syarat yang dijanjikan padaku tak satupun dipenuhi. Sialan, kalau aku bertemu lagi dengan bajingan itu, pasti akan ku penjarakan lagi sepuluh ribu tahun!"
Daliang bercerita dengan penuh ekspresi, menanggung seluruh tanggung jawab membebaskan Erges, tapi juga menempatkan dirinya sebagai korban yang tak bersalah.
"Begitu rupanya," Metatron memang tidak sepenuhnya percaya pada Daliang, namun ia juga tidak pernah meragukan Julian akan membebaskan Erges. Surat permohonan bantuan itu melayang sendiri ke tangannya. Setelah membacanya, ia berkata, "Erges masih bisa mengirim surat permohonan bantuan meski terkurung di penjara. Rupanya kita semua terlalu meremehkan kekuatan Raja Penguasa Iblis. Aku harus segera melaporkan ini pada Mikael. Semua penjara harus diperkuat lagi dan dijaga lebih banyak malaikat. Manusia, kau telah melakukan kesalahan besar, tapi aku tidak berwenang menghukummu. Kau boleh pergi. Julian, ikut aku kembali ke Kota Awan. Kau harus menceritakan semua yang terjadi secara rinci. Atas kelalaianmu, Dewan Arbitrase akan memberikan sanksi yang sesuai."
Tentu saja Daliang tidak akan membiarkan Metatron membawa Julian pergi. Ia tersenyum dan berkata, "Maaf, sekarang Julian sudah menerima tawaranku dan menjadi bawahanku. Tugas terpentingnya saat ini adalah mengantarku ke daratan. Dia tak punya waktu untuk ke Kota Awan."