Dua puluh empat
Bagaimana harus kukatakan agar perasaan kita berdua bisa sedikit lebih lega? Karena dirimu, hatiku yang selalu terasa berat ini, tak kunjung bisa terlepas dari gundah. Namun, ada satu hal yang ingin kusampaikan kepadamu: perasaanku terhadapmu tetap sama, tak pernah berubah sedikit pun.
"Hidup manusia mudah menua, namun langit takkan pernah tua." Di tengah perjalanan waktu yang penuh liku, entah itu hal yang ringan, berat, ataupun pahit; entah itu yang disengaja maupun tidak, semuanya akan mengalir dalam sungai waktu, menjadi sekadar tamu yang berlalu. Ada pepatah mengatakan, "Manusia meninggalkan nama, angsa meninggalkan suara." Segala kenangan yang telah lampau itu, kini hanya bisa dicari di kedalaman ingatan.
Meskipun masa lalu sering kali tak sanggup untuk dikenang, orang yang bijak akan selalu menghindari diri dari tenggelam dalam kenangan, tidak bersikap jemawa atas kebahagiaan masa lalu, pun tidak terpuruk dalam kesedihan atas kegagalan yang pernah terjadi. Kita harus memusatkan energi untuk menghadapi masa kini dan menaruh keyakinan dalam menatap masa depan. Menjadikan masa lalu sebagai beban yang menghambat kemajuan diri tidak ubahnya tindakan bunuh diri perlahan yang merusak kehidupan. Jika seseorang terus-menerus melupakan apa yang pernah dialami, baik suka maupun duka, itu bukan hanya sebuah bentuk pengkhianatan, melainkan juga cerminan seorang pengecut yang tidak berani menghadapi kenyataan dan hanya bisa membohongi diri sendiri. Sebagai manusia yang hidup di bawah langit dan di atas bumi, yang memiliki rasa harga diri, hal semacam itu sangatlah tidak patut. Itulah sebabnya, cara menyikapi masa lalu sering kali menjadi sumber kegelisahan bagi banyak orang.
Selama dirimu mengembara di luar sana, hari-hariku dipenuhi mimpi buruk. Aku khawatir engkau menderita dan menanggung beban, sementara aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu. Hati sepasang suami istri biasanya saling terpaut, dan aku yakin engkau pun pasti mengalami penderitaan yang luar biasa.
Aku tahu, semua ini karena diriku. Akulah sumber penderitaanmu. Jika bukan karenaku, engkau yang berasal dari keluarga terpandang di tempat ini pasti mampu membina diri dan mengurus keluarga dengan cara yang membuat orang lain iri. Kehidupan yang engkau jalani pun akan jauh lebih santai dan membahagiakan. Namun, lihatlah dirimu sekarang; engkau terpaksa mengembara seperti seorang pertapa, hidup terlunta-lunta adalah hal yang tak terelakkan. Mengenai penderitaan yang engkau tanggung, itu bahkan sulit untuk dibayangkan.
Sebagai seorang istri, setiap kali memikirkan hal ini, selain merasakan kepedihan yang sama, aku pun merasa amat bersalah dan malu. Ada pepatah, "Di rumah memiliki istri yang bijak, seorang pria tidak akan tertimpa musibah." Aku sadar, semua ini terjadi karena ketidakmampuanku dan kurangnya kebajikanku. Jika saja aku cukup bijaksana dan berpandangan jauh ke depan, akankah suamiku jatuh ke dalam situasi seperti ini? Meskipun aku terus berusaha memperbaiki diri, kenyataannya aku masih belum melakukannya dengan cukup baik.
Dalam kepedihan yang mendalam, aku sering bertanya pada diriku sendiri: sebenarnya dosa siapakah ini? Dosamu, dosaku, atau dosa orang lain? Dengan prinsip bersikap jujur sesuai kenyataan, aku telah mencoba merenunginya dengan sungguh-sungguh. Setelah kupikir-pikir, mungkin ini memang takdir yang digariskan oleh langit untuk kita. Langitlah yang mempertemukan dua nada sumbang ini menjadi satu, hingga tercipta melodi yang jarang bisa harmonis seperti kita.
Saat surat cerai itu sampai ke tanganku, kepedihanku benar-benar berlipat ganda. Sebagai seorang wanita biasa, aku pun memiliki perasaan dan hasrat seperti manusia pada umumnya. Meskipun takdir mempertemukan kita hingga membangun sebuah keluarga, aku tidak berani dan tidak pernah memiliki keinginan yang muluk-muluk. Aku hanya berharap memiliki suami yang menyayangi dan mencintaiku, agar kita bisa saling memahami dan menua bersama; memiliki rumah yang penuh perhatian dan kasih sayang, menjadi tempat bernaung yang damai bagi kita untuk terus bersama. Namun, apa yang kuhadapi sekarang adalah kenyataan yang harus kubayar dengan ketulusan hatiku sendiri!
Oleh karena itu, aku hanya merasa tersesat. Karena aku masih belum menemukan sumber penderitaan kita yang sesungguhnya, agar kita bisa melampiaskan kemarahan ini, lalu melenyapkan iblis dalam hati yang membelenggu kita. Aku berharap kita bisa kembali menjalani hari-hari yang harmonis dan damai. Namun, hasil yang kudapatkan sering kali tetap mengecewakan. Tentu saja, jika kita tidak bisa melenyapkan iblis dalam hati yang memengaruhi hubungan kita, maka...