Bab 67 Permohonan Chen Cheng
Malatang itu dimasak dengan hotpot tembaga; setelah bahan-bahannya matang, langsung diolesi berbagai macam saus dengan kuas. Ada yang pedas menggigit, ada yang manis dan harum, juga ada rasa lainnya.
Bibi Mei dengan cekatan mengolah di dalam, sesekali melirik ke arah dua anak muda yang duduk dan mengobrol di luar, lalu menunduk dan berbisik kepada pria di sampingnya.
“Siapa laki-laki itu? Aku belum pernah lihat,” tanya pria itu.
“Mungkin pacarnya Lanlan. Aku kenal anak itu, kalau bukan orang dekat, dia takkan membawanya ke sini,” jawab Bibi Mei pelan.
Sambil menunggu malatang, Jiang Yang mendapat tahu dari obrolannya dengan Chen Lan bahwa lapak malatang ini milik bibinya Chen Lan, adik dari ibunya. Sejak kecil, Chen Lan memang suka makan malatang buatan bibinya. Karena aturan kota yang ketat, sering kali Bibi Mei harus berpindah lokasi berjualan, tapi ia selalu jadi orang pertama yang mengabari Chen Lan.
Kebetulan siang ini mereka lewat sini, jadi Chen Lan mengajak Jiang Yang untuk mencobanya.
“Kamu suka minuman ini?” Jiang Yang menggoyangkan botol kosong di tangannya, masih terlihat logo dan tulisan Minuman Khusus Tang Ren.
Chen Lan mengangguk, “Iya, menurutku ini lebih enak dari minuman Salju Dingin.”
Jiang Yang agak bangga. Selama membuat minuman, baru kali ini ia mendengar pujian dari konsumen sedekat ini.
“Tapi sebenarnya, apa sih pekerjaanmu?” tanya Chen Lan heran.
Pertanyaan itu sudah lama mengganjal pikirannya. Dari mengangkat barang di umur dua puluh delapan, mobil pick up, lalu restoran Shishan hingga sekelompok orang bersama Bai Cheng En. Terlalu banyak rahasia di tubuh Jiang Yang yang tak bisa ia tebak.
“Hanya bisnis kecil-kecilan,” jawab Jiang Yang sambil tersenyum lebar.
Baru saja ia ingin menjelaskan lebih lanjut, Bibi Mei sudah keluar membawa dua piring.
“Malatang sudah jadi!”
Selesai berkata, ia meletakkan dua piring malatang panas mengepul di atas meja.
Bibi Mei menunduk dan membisikkan sesuatu pada Chen Lan, lalu melirik ke arah Jiang Yang.
Wajah Chen Lan langsung memerah, “Bibi, bukan seperti yang kau pikirkan!”
Bibi Mei tertawa terbahak, “Ngomong-ngomong, sekarang musimnya ke Laut Ginkgo. Cantik sekali, setelah makan kalian bisa jalan-jalan ke sana.”
Selesai berkata, ia pergi sambil menutup mulut menahan tawa.
Jiang Yang yang sudah berpengalaman, bisa menebak kira-kira apa yang dibicarakan dua perempuan itu.
“Apa itu Laut Ginkgo?” tanya Jiang Yang.
Chen Lan membilas sumpitnya dengan air panas, lalu menjelaskan, “Di pinggiran selatan Kabupaten Shishan ada Gunung Ginkgo, di sana penuh dengan pohon ginkgo. Setiap musim seperti sekarang, daunnya berguguran membentuk hamparan warna emas di seluruh gunung. Begitu angin bertiup, daun-daunnya bergelombang seperti ombak, makanya orang-orang menyebutnya Laut Ginkgo.”
Jiang Yang terkagum, “Pasti indah sekali.”
Chen Lan mengangguk pelan, “Memang indah, beberapa tahun lalu aku pernah ke sana.” Ia lalu bertanya dengan nada bingung, “Sebenarnya kamu orang Kabupaten Shishan, bukan? Kok Laut Ginkgo saja tidak tahu?”
“Aku ingin melihatnya, siang ini kita ke sana, ya?” kata Jiang Yang.
Chen Lan tertegun, rona merah tipis muncul di pipinya, “Boleh.”
Ia lalu menyerahkan sumpit yang sudah dibersihkan, “Coba, deh.”
Jiang Yang menerima sumpit itu, mengambil selembar rumput laut lalu mengunyahnya pelan. Teksturnya licin, rasa pedas dan gurih bercampur manis di akhir.
Chen Lan menatap Jiang Yang dengan harap-harap cemas.
Jiang Yang mengangguk, “Enak, benar-benar lezat.”
Chen Lan tersenyum ceria seperti gadis kecil yang polos, “Iya, kan? Malatang buatan bibi memang paling enak.”
Hati Jiang Yang penuh dengan rasa haru. Orang lain kencan biasanya di kafe atau restoran barat. Ia sendiri malah di taman lansia, makan malatang kaki lima, minuman pun buatan sendiri.
Di bawah pohon huai tua, dua anak muda itu makan dengan riang, diselingi tawa.
Tiba-tiba dering ponsel memecah kehangatan itu. Jiang Yang melihat ke layar, ternyata Bai Cheng En yang menelpon.
“Kak Bai.”
Ia mengangkat telepon, sementara Chen Lan dengan sigap mengambilkan tisu dan menyerahkan selembar padanya.
Jiang Yang menyeka sudut bibirnya.
“Bro, sudah bangun, kan?” suara di telepon.
Jiang Yang tertawa, “Matahari pun sudah condong, pasti sudah bangun.”
“Jam dua siang ini, temani aku ke rumah tua di pinggiran selatan. Tuan Wei ingin bertemu denganmu.”
Jiang Yang melirik jam, sudah setengah satu siang.
“Baik.”
“Kalau begitu, jam setengah dua aku jemput di pabrikmu.”
“Oke.”
Setelah menutup telepon, Chen Lan juga sudah hampir selesai makan.
“Maaf, aku ada urusan sebentar lagi, kita tunda dulu ke Laut Ginkgo, ya?” Jiang Yang merasa sedikit bersalah.
Samar-samar, seberkas kekecewaan melintas di mata Chen Lan, namun ia tetap tersenyum, “Tidak apa-apa.”
Jiang Yang mengangguk, lalu berdiri untuk membayar.
Namun Bibi Mei buru-buru mendorong Jiang Yang keluar, “Nak, kamu kan teman Lanlan, masa masih mau bayar? Simpan saja uangnya!”
Chen Lan menatap Jiang Yang seraya tersenyum, “Bibi memang tidak akan mau terima.”
Mau tak mau Jiang Yang pun menyimpan kembali uangnya.
Sekali lagi, benar-benar luar biasa! Kencan kali ini benar-benar hemat, sepersen pun tak keluar, malah dapat makan malatang gratis dari gadis orang!
Setelah naik motor, Jiang Yang melirik ke papan nama: Malatang Bibi Mei.
Chen Lan bilang ia bisa jalan kaki pulang, tapi Jiang Yang bersikeras mengantarnya.
Mana mungkin membiarkan gadis itu pulang sendiri, kalau sampai begitu, benar-benar keterlaluan.
Untung rumah Chen Lan tak jauh, hanya sepuluh menit saja sudah sampai.
Li Guilan dan Chen Cheng menyambut dengan ramah, sangat berbeda dengan sikap mereka sebelumnya.
“Bro, masuk dulu, minum air sebentar,” kata Chen Cheng sambil mengeluarkan sebatang rokok.
Jiang Yang membantu Chen Lan turun dari motor, “Tak usah, aku masih ada urusan.”
Li Guilan cepat-cepat memberi isyarat pada Chen Lan, “Kamu ini, kenapa tidak ajak anaknya masuk dulu?”
Chen Lan menjawab, “Ma, dia memang lagi ada urusan.”
Jiang Yang menerima rokok dari Chen Cheng, lalu berkata kepada Li Guilan, “Tante, sungguh aku ada keperluan siang ini, nanti kalau urusanku sudah selesai aku mampir lagi.”
Wajah Li Guilan tampak kecewa, “Begitu ya.”
Dalam hatinya ia jadi cemas. Sudah susah payah meminta tolong agar dapat kenalan sebaik ini, jangan sampai gagal lagi!
Ia memang pernah bertemu Jiang Yang, sosoknya jauh lebih berwibawa daripada Huang Defa!
Tapi baru sebentar saja sudah mengantar anaknya pulang, jangan-jangan Jiang Yang tidak tertarik?
Chen Cheng menyalakan korek api, dengan sigap membantu Jiang Yang menyalakan rokok, lalu berkata kepada Li Guilan dan Chen Lan, “Ma, Lanlan, kalian masuk dulu, aku mau ngobrol sebentar dengan bro ini.”
Chen Lan hendak mengatakan sesuatu, tapi langsung ditarik masuk oleh Li Guilan, sambil menoleh beberapa kali.
Setelah ibu dan anak itu menjauh, Chen Cheng langsung bersikap ramah, “Bro, eh, maksudku Tuan Jiang.”
Jiang Yang mengisap rokoknya, “Panggil saja Jiang Yang.”
Chen Cheng terkekeh, “Waktu itu di restoran, aku dengar kalian ada hubungan dengan Pabrik Minuman Dingin Tang Ren, kenal dengan Zhou Hao, Tuan Zhou, itu?”
Jiang Yang menatap Chen Cheng penuh minat, “Oh, Tuan Zhou, tahu.”
Mendengar itu, Chen Cheng langsung girang, “Wah, kebetulan sekali! Kau tahu sendiri, dulu aku kerja di Pabrik Minuman Dingin Salju, sekarang demi urusan kamu dan adikku aku sampai dimusuhi Huang Defa, jadi aku dipecat! Kalau kamu kenal baik dengan Tuan Zhou, bisa tolong bicarakan, supaya aku bisa kerja di sana?”
Kini Jiang Yang benar-benar paham. Rupanya ada orang yang status kakak iparnya saja belum jelas, tapi sudah mau memanfaatkan calon adik ipar!