Bab 3 Minuman Dingin
Jiang Yang melangkah lebar di jalanan, sejumlah adegan yang dulu hanya tersimpan dalam ingatan kini terpampang begitu nyata di hadapannya.
Udara terasa sangat segar, langit pun tampak biru cerah. Awan putih bergumpal-gumpal, suasana hati terasa jauh lebih ringan. Tulisan seperti “Soda 20 sen, Es loli 30 sen, Kola Lezat 1 yuan” bisa ditemukan di mana-mana.
Peralatan rumah tangga yang tergolong teknologi tinggi hanya bisa ditemukan di gedung perdagangan. Pager dan ponsel besar mulai menghilang dari pandangan orang, sementara produk-produk seperti Motorola, Panasonic, dan Nokia menjadi simbol status bagi para pria.
Pada tahun 1998, ketika gaji pekerja kantoran rata-rata sekitar tiga ratus yuan per bulan, barang-barang seperti lemari es, televisi berwarna, dan mesin cuci tetap menjadi impian yang sulit diraih oleh keluarga biasa.
Setelah seharian penuh melakukan survei, Jiang Yang telah memahami dengan baik harga-harga dasar di Kabupaten Shishan. Mulai dari pasar tradisional hingga kelompok konsumen kelas atas. Jiang Yang mendapati bahwa kesadaran konsumsi masyarakat jauh melampaui dugaannya.
Awalnya ia mengira, di masa itu orang-orang pasti hidup hemat dan enggan berbelanja. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Walau penghasilan rata-rata saat itu tidak tinggi, karena harga-harga kebutuhan sangat murah, tingkat kebahagiaan mereka bahkan jauh melampaui tahun 2021.
Saat itu, ekonomi properti belum muncul ke permukaan. Mayoritas uang simpanan masyarakat berada di bank, saluran investasi sedikit, maka kebutuhan hidup pun lebih longgar, masalah utama hanya seputar sandang dan pangan.
Dalam ingatan Jiang Yang, sejak tahun 2000, ekonomi properti mulai menggiring masyarakat mengubah tabungan menjadi aset properti. Uang yang disimpan di bank berubah menjadi tumpukan beton dan besi, disebut-sebut sebagai investasi. Hingga suatu hari mereka menyadari bahwa rumah-rumah itu tak lagi bisa diuangkan, gelembung ekonomi properti pun muncul.
Memikirkan hal itu, pikiran Jiang Yang perlahan menjadi lebih jelas.
Masyarakat punya uang, namun semua tersimpan di bank. Siapa yang bisa membuat mereka rela mengeluarkan uang dari bank, dialah penguasa zaman itu.
Syarat untuk bisa melakukan itu adalah, dirinya sendiri harus menjadi kaya lebih dulu.
Matahari terik menyengat, setelah berkeliling sejak pagi, Jiang Yang merasa haus dan lapar. Ia melihat di bawah pohon besar tak jauh dari sana, seorang pemuda gendut sedang berbaring di samping gerobak, berteduh.
Di gerobak itu tergantung papan kayu, dengan tulisan tangan yang miring, “Minuman dingin, 20 sen.” Rupanya si gendut itu buta huruf, salah menulis pun tak ia sadari.
Jiang Yang melangkah mendekat, mengeluarkan uang lima puluh yuan dari sakunya dan berkata, “Satu gelas soda, ya.”
Pemuda gendut itu kira-kira berusia tujuh belas atau delapan belas tahun, bermata sipit, kulitnya putih bersih, mengenakan kaus kotak-kotak biru muda dan celana pendek hijau tentara. Di gerobaknya ada sebuah toples kaca, di bawahnya ada pipa yang berbunyi gluk-gluk mengeluarkan gelembung, berfungsi sebagai pendingin.
Soda berwarna jingga terus berputar dalam toples. Si gendut melirik ke atas dan bergumam, “Beli soda pakai uang sebesar itu, saya nggak punya kembalian.”
Jiang Yang pun terdiam, terpaksa menyimpan kembali uangnya.
Si gendut mengeluarkan kotak kayu dan mengacungkannya di depan Jiang Yang, “Saya sudah jualan dari pagi, cuma dapat kurang dari dua yuan, semuanya receh, benar-benar nggak ada kembalian.”
Jiang Yang menatap minuman dalam toples kaca yang terus mengeluarkan gelembung, membuka mulut keringnya tanpa berkata apa-apa.
Dulu, ia terbiasa mengeluarkan biaya berkali-kali lipat hanya demi mendapatkan barang yang diinginkan. Namun kini, lima puluh yuan itu adalah seluruh hartanya.
Si gendut mengambil botol teh dari bawah gerobak, menuangkan air putih dingin ke cangkir porselen dan menyodorkannya.
“Minum saja, air putih dingin gratis.”
Setelah mengucapkan terima kasih, Jiang Yang menerima cangkir itu dan meneguk habis airnya. Di tengah panas dan dahaga yang luar biasa, air putih dingin terasa begitu segar dan manis.
Si gendut itu memperhatikan dengan saksama pemuda yang kira-kira seusianya, dalam hatinya timbul rasa penasaran.
Ia sudah memperhatikan Jiang Yang sejak tadi. Sejak Jiang Yang tiba di jalan perdagangan, ia tak henti-hentinya bertanya harga berbagai barang dan mencatatnya di buku kecil.
Walaupun penampilan dan pakaian Jiang Yang biasa saja, namun gerak-geriknya memancarkan aura yang bukan dari orang kebanyakan. Sudah lama ia berjualan di pusat kota, sudah banyak orang yang ia jumpai. Orang seperti Jiang Yang yang tampak begitu tenang, biasanya adalah pebisnis besar atau anak orang terpandang.
Beli minuman dingin saja mengeluarkan uang lima puluh yuan, jelas orang besar yang suka merendah.
Menyadari hal itu, si gendut menyeringai, “Santai aja, Mas, masih haus? Mau saya tuangkan satu gelas lagi?”
Jiang Yang menggeleng, “Tak usah, terima kasih.”
Lalu, matanya tertuju pada alat minuman dingin di gerobak itu.
Sebuah toples kaca terbalik, terhubung dengan alat pemanas dan selang plastik. Ujung selang plastik ditutup es batu berbalut kapas.
Minuman dingin itu sudah jadi, warnanya jingga muda.
Si gendut rupanya jeli membaca situasi, melihat Jiang Yang tertarik dengan alat itu, ia pun tersenyum, “Alat ini saya buat sendiri, hasilnya dingin banget. Gimana, Mas, punya minat usaha minuman dingin?”
Jiang Yang tak menjawab langsung, ia berkata, “Gelembungnya ini ditiup pakai selang, nggak pakai karbon dioksida, paling-paling hanya bisa disebut soda palsu.”
Si gendut tertawa, “Wah, Mas paham juga, ya! Minuman dingin di sini saya racik sendiri, usaha kecil-kecilan. Kalau beli barang dari Pabrik Minuman Dingin Salju, harganya nggak sanggup saya tanggung.”
Setelah berkata demikian, ia langsung menuangkan segelas minuman dari mesinnya dan menyodorkannya pada Jiang Yang.
“Silakan coba, racikan saya nggak kalah enak sama minuman pabrikan!”
Jiang Yang pun menerimanya dan menyesap dua kali, dahi pun berkerut tipis.
Pantas saja dari tadi pagi hanya laku sedikit.
Bubuk jeruk, sakarin, air putih. Mungkin dicampur sedikit asam malat, suhu yang tidak terlalu dingin membuat rasanya agak sepat.
Bagi orang zaman itu, mungkin rasanya hanya kurang enak dibanding minuman lain, tapi menurut Jiang Yang, ini sama sekali bukan minuman.
“Sakarin-nya kebanyakan, perbandingan airnya juga nggak pas. Kalau minuman buatanmu ini dimasukkan lemari es, mungkin masih enak, tapi di suhu luar tiga puluh derajat lebih, mesinmu ini nggak bisa menghasilkan minuman yang enak.”
Jiang Yang mengembalikan gelas itu.
Si gendut melotot, menatap Jiang Yang tak percaya.
Hanya dengan satu tegukan, ia sudah bisa menyebutkan komposisi minuman dan penyebab utama rasanya kurang enak.
Orang ini jelas luar biasa!
Si gendut buru-buru mengeluarkan sebungkus rokok, membuka dan menawarkan sebatang, “Mas, namanya siapa? Kalau tidak keberatan, bolehkan kita berteman? Saya Zhou Hao, tinggal di Kampung Baru Zhanbei, selatan kota.”
Jiang Yang menerima rokok itu tanpa basa-basi.
Zhou Hao menyalakan api.
“Jiang Yang.”
Jiang Yang mengisap rokok itu, merek Anggur Tua tanpa filter, di masa itu hanya lima puluh sen per bungkus.
Dalam ingatannya, rokok ini sudah berhenti produksi sejak tahun 2000.
Zhou Hao kemudian mengeluarkan bangku, mempersilakan Jiang Yang duduk, lalu mengutarakan maksudnya.
“Mas Jiang, usaha minuman dingin saya selalu biasa-biasa saja, hanya cukup buat bertahan hidup. Melihat Mas orang yang berpengetahuan, bisa nggak kasih saya sedikit saran?”