Bab 32 Kesalahpahaman Besar
Hu Tao mengacak-acak rambutnya dengan kuat, berusaha menghentikan tubuhnya yang terus gemetar. Usianya baru tujuh belas tahun, tetapi hidup telah menimpakan terlalu banyak beban di pundaknya, dan penyakit parah sang ibu menjadi pukulan terakhir yang hampir melumpuhkan semangatnya.
Di saat itulah, sebuah jaket tiba-tiba disampirkan di pundaknya. Hu Tao menoleh dan mendapati Jiang Yang sedang berdiri di sana, membawa sebuah kantong plastik berisi sesuatu.
"Kak Jiang Yang," sapanya lirih.
Jiang Yang tersenyum, "Kamu pasti lapar, makanlah dulu." Ia membuka kantong plastik itu, mengeluarkan ayam goreng panas, beberapa roti, dan biskuit. Lalu ia mengambil sebotol air mineral, membuka tutupnya, dan mengulurkannya pada Hu Tao. "Tadi aku sudah bertanya pada dokter. Tumor ibumu itu jinak, setelah diangkat, semuanya akan baik-baik saja."
Hu Tao masih ragu, "Benarkah?"
"Tentu saja benar," jawab Jiang Yang. "Operasinya seharusnya berjalan lancar. Makanlah dulu."
Sejujurnya, Jiang Yang sendiri tidak yakin apakah operasi Chen Yanli benar-benar berjalan mulus. Tetapi dari pengalamannya selama ini, ia tahu jika operasi menghadapi masalah, pasti tidak akan selama ini.
Belum selesai ia berbicara, pintu ruang operasi terbuka. Dokter utama keluar bersama beberapa perawat, mendorong ranjang pasien. Jiang Yang dan Hu Tao segera menghampiri.
Sang dokter membuka masker dan berkata, "Tenang saja, operasinya sangat sukses. Tumor yang diangkat ada di dalam sini, kalian ingin melihatnya?"
Jiang Yang buru-buru mengibaskan tangan, "Tidak, tidak perlu, sungguh tidak perlu!"
Melihat reaksi Jiang Yang, sang dokter tertawa, "Laki-laki dewasa, takut hal seperti ini."
Hu Tao segera bertanya, "Dokter, bolehkah aku melihat ibuku?"
"Belum bisa," jawab dokter. "Pasien perlu diawasi sehari penuh, kondisinya sekarang masih sangat lemah. Datanglah lagi besok." Ia menatap Hu Tao dan berkata, "Gadis kecil, untung kalian tiba tepat waktu. Jika terlambat beberapa menit saja, ibumu mungkin benar-benar dalam bahaya."
Setelah berkata demikian, dokter itu pergi meninggalkan ruang tunggu.
Jiang Yang diam-diam menghela napas lega. Ia menatap Hu Tao dan berkata, "Di seberang rumah sakit ada penginapan. Aku sudah memesankan kamar untukmu, supaya kamu bisa tinggal di sana sementara waktu agar mudah menjaga ibumu kapan saja."
Hu Tao memandang Jiang Yang dengan perasaan campur aduk. Hatinya yang baru saja lega, kini kembali dipenuhi kecemasan.
Akhirnya, hal yang ia takutkan benar-benar terjadi. Pria ini telah repot-repot mengantar ibunya ke rumah sakit dan bahkan membayarkan semua biaya. Apa yang ia inginkan sebagai balasan? Apa yang bisa ia berikan?
Hu Tao melirik dirinya sendiri.
Dalam sekejap, semuanya menjadi jelas. Tidak ada makan siang gratis di dunia ini—ibunya sering mengingatkannya tentang hal itu.
Jiang Yang membawa kantong plastik di tangan kiri, sementara tangan kanannya menggandeng Hu Tao keluar tanpa menyadari gejolak batin gadis kecil itu. Mereka menyeberangi jalan menuju penginapan. Setelah membayar, Jiang Yang menyerahkan kunci kamar dan makanan kepada Hu Tao. "Kamarnya di lantai dua, nomor 205. Kamu masuk duluan saja. Aku harus keluar sebentar, nanti akan kembali."
Setelah berkata demikian, ia berbalik dan pergi.
Hati Hu Tao terasa makin berat. Jika tadi hanya sekadar dugaan, kali ini ia merasa dugaannya benar. Ternyata benar, pria itu menginginkan tubuhnya.
Dengan langkah kaku, Hu Tao naik ke lantai dua, mengeluarkan kunci, dan membuka pintu kamar. Ruangan itu kecil, sekitar belasan meter persegi. Ada sebuah tempat tidur, kamar mandi, televisi, dan jendela kecil yang tertutup tirai.
Hu Tao menarik tirai dan melihat rumah sakit dengan tanda palang merah di seberang sana. Seketika, perasaan putus asa memenuhi dirinya. Namun memandang ke seberang, ia mengurungkan niat untuk mengakhiri hidup.
Demi ibunya, apapun yang harus ia korbankan, ia rela. Ia pun melepas pakaian kotornya dan masuk ke kamar mandi tanpa sehelai benang pun.
Ia memutar keran air, dan air hangat langsung mengalir membasahi rambut hitam legam serta kulit putih bersihnya, membuat seluruh tubuhnya terasa hangat. Sudah lama ia tidak mandi air hangat seperti ini. Sejak pabrik makanan kaleng tempat ibunya bekerja bangkrut, mereka tak bisa lagi menempati asrama. Di kawasan kumuh, jangankan mandi, mencuci tubuh dengan baskom pun harus dilakukan diam-diam di tengah malam.
Daripada memikirkan hasil akhirnya, lebih baik menikmati saat ini sebaik mungkin, pikir Hu Tao.
Selesai mandi, ia menyelimuti diri dengan selimut, membiarkan bahunya yang putih polos terbuka. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.
Jantung Hu Tao berdetak kencang. Ia benar-benar kembali. Dengan napas memburu, ia menguatkan tekad, menarik napas dalam-dalam, lalu langsung membuka pintu.
Jiang Yang masuk ke kamar sambil memeluk beberapa barang. "Kenapa kamarnya gelap?" katanya sambil menyalakan lampu. Ia tertegun seketika.
Gadis di depannya itu benar-benar berbeda dari sebelumnya yang lusuh. Kini ia hanya berbalut selimut, hampir setengah tubuhnya telanjang. Kaki jenjang nan putih, kulit bening bagai kristal, dan wajah yang cantik dan bersih.
Hu Tao menutup matanya rapat-rapat, air mata panas mengalir di pipinya. Ia melepaskan selimut, membiarkannya jatuh ke lantai.
Jiang Yang membelalakkan mata, menatap Hu Tao tak percaya. "Apa yang kamu lakukan?" katanya, lalu buru-buru mengambil selimut dan menyelimutinya kembali.
Hu Tao masih menutup mata. "Lakukan saja."
Jiang Yang tertegun. "Lakukan apa?"
Hu Tao membuka mata, menatap Jiang Yang dengan pandangan meremehkan. "Kau sudah menyelamatkan ibuku. Aku tak punya apa-apa untuk membalas kebaikanmu, kecuali tubuh ini."
Jiang Yang bingung. "Siapa bilang aku menginginkan tubuhmu?"
"Kau sudah memesankan kamar penginapan dan kembali mencariku. Bukankah itu tujuannya? Jangan pura-pura. Orang-orang bisnis seperti kalian, mana mungkin menolong orang tanpa alasan."
Jiang Yang hanya bisa menghela napas. "Aku memesankan kamar supaya kamu bisa lebih mudah menjaga ibumu. Tadi aku lihat pakaianmu sangat kotor, jadi aku belikan dua stel pakaian baru di bawah."
Ia menunjuk ke arah ranjang. Hu Tao menuruti arah tangannya dan melihat dua stel pakaian wanita baru tergeletak rapi di sana.
Menyadari kesalahannya, wajah Hu Tao langsung memerah hingga ke leher. Ia buru-buru menarik selimut, membungkus tubuhnya rapat-rapat.
"Ma... maaf, Kak Jiang Yang, aku salah paham," ucapnya terbata.
Jiang Yang menghela napas. "Kamu baru tujuh belas tahun, tapi isi kepalamu sudah dipenuhi pikiran aneh-aneh."
Hu Tao memeluk selimut, berdiri di dekat jendela tanpa berkata apa-apa.
Melihat itu, Jiang Yang merasa tak tega menegurnya lebih jauh. Ia berkata, "Biaya rumah sakit ibumu sudah aku bayarkan, jadi dia tak perlu khawatir. Setelah sadar, katakan padanya agar beristirahat, gaji akan tetap dibayarkan seperti biasa. Semua biaya rumah sakit akan diganti oleh Pabrik Minuman Dingin, kalian tidak perlu mengeluarkan uang."
Setelah berkata demikian, Jiang Yang mengeluarkan dua ribu yuan dari tasnya dan meletakkannya di atas meja. "Ini dua ribu yuan aku pinjamkan secara pribadi. Kalau kamu sudah besar nanti, ingat untuk mengembalikannya."
Hu Tao hendak menolak, tapi Jiang Yang sudah menutup pintu dan pergi.
Dari balik jendela, Hu Tao memandangi punggung Jiang Yang yang perlahan menjauh. Punggung itu memancarkan kesepian dan kesendirian yang tak bisa diungkapkan; seketika, hati Hu Tao terasa sangat pilu.