Bab Tujuh: Sebilah Pedang, Sebuah Pikiran
Konon, ketika para ahli sejati bertarung, pada tingkatan tertentu, mereka akan terjerumus ke dalam ruang dan waktu yang berbeda dari dunia nyata tepat di saat duel itu berlangsung. Kadang, meskipun tubuh mereka sudah menyelesaikan pertarungan, kesadaran mereka masih tertinggal di ruang pertempuran itu, tak bisa segera menyatu kembali dengan tubuh di dunia nyata.
Itulah sebabnya, setelah dua ahli selesai bertarung, mereka kerap terhanyut dalam hening yang penuh misteri. Pada saat ini, Mo Zhen, yang belum tahu siapa pemenang duel tadi, pun diam seribu bahasa, seakan mengerti situasinya.
Kharisma, layaknya celana dalam; meski kau memakainya, tak perlu mengumbar-umbarnya pada orang lain—biarkan orang lain merasakannya sendiri. Dan jika kau tak punya, semakin tak perlu kau berkoar, cukup diam dan berlagak seakan kau pun memilikinya.
Tadi, Mo Zhen babak belur dihantam aura pedang lawan hingga celana dalamnya pun raib, sama sekali tak paham apa yang terjadi di duel barusan. Tapi selama ia tak bicara, tak ada yang tahu bahwa celana dalamnya sudah hancur lebur. Andai ia nekat bertanya pada Wu Ling'er, "Kau masih hidup, tidak?" Semua pasti sadar ia tadi sudah kalah telak.
"Pedang yang lamban!" Suara Wu Ling'er yang matang dan tenang akhirnya memecah keheningan, seolah jiwanya baru saja kembali ke tubuhnya setelah perjalanan panjang di ruang waktu yang kacau.
Lamban? Mendengar itu, Mo Zhen spontan teringat sebuah legenda. Konon, jika teknik pedang mencapai puncaknya, orang yang tertebas pedang itu tak akan merasakan sakit sedikit pun, bahkan tak sadar dirinya sudah terkena tebasan. Jangan-jangan Wu Ling'er ini sudah tertebas tapi belum menyadarinya?
Namun setelah direnungkan, Mo Zhen seperti mendapat pencerahan dan spontan menimpali, "Benar, memang lamban!" Saat lawan mengayunkan pedang tadi, ia merasa waktu berjalan selambat musim dingin yang panjang—bukankah itu benar-benar terasa lama?
Kalau begitu... sepertinya bocah itu sudah terkena pedang, tinggal menunggu ajal! Lagipula, unsur logam menundukkan kayu, itu pengetahuan dasar!
Namun, pemandangan kepala Wu Ling'er terpisah dari tubuhnya tak kunjung terjadi. Sebaliknya, wajah Yuan Shengshun justru memperlihatkan senyum getir.
Benar, bahkan Zhenzhenzi pun menyadarinya. Pedangku... memang lamban...
Ketika mengayunkan pedang tadi, seluruh kesadaran Yuan Shengshun tercurah pada bilah pedangnya.
Teknik Pedang Satu Niat—itulah teknik tertinggi yang ia capai setelah menyatu dengan makna sejati pedang. Ia menyalurkan seluruh kekuatan kesadarannya ke dalam pedang, menghasilkan jurus luar biasa yang melampaui batas. Tubuh manusia memang punya batas, tapi semangat yang menggerakkan tubuh menyimpan kemungkinan tanpa batas.
Sayangnya, kemungkinan itu, hampir semua manusia gagal memanfaatkannya hingga akhir hayat.
Karena kekuatan batin itu terkekang oleh rantai bernama "pengetahuan" dan "aturan". Manusia membawa potensi itu ke liang kubur, terkungkung oleh belenggu yang mereka ciptakan sendiri.
Namun, kadang, karena sebab tertentu, belenggu itu retak sedikit. Yuan Shengshun memanfaatkan celah itu, perlahan membuka rantai dan menyalurkan kekuatan batinnya ke dalam pedang.
Niat tanpa batas, kecepatan pedang pun tanpa batas!
Begitu niat membangkitkan pedang, Yuan Shengshun masuk ke dalam kondisi manusia dan pedang menyatu. Melupakan diri, mengayunkan pedang!
Namun, tepat di saat ia mengayun pedang, Wu Dashi di depannya tersenyum penuh keyakinan, seolah menembus seluruh rahasia dirinya. Lalu, dunia di hadapannya berubah total—Wu Dashi, kuil kuno, Zhenzhenzi, semua menghilang.
Waktu seakan mabuk, berubah aneh. Dalam sekejap yang tak terhitung jumlahnya itu, ia melihat begitu banyak kenangan...
Dari masa kecil yang cemerlang penuh harapan orang tua, hingga menjadi harapan keluarga, lalu namanya tersohor melampaui pendekar pedang mana pun, menjadi pusat perhatian seluruh Kekaisaran Pulau, seolah melihat sekilas masa depan...
Keluarga, klan, negara... Segala niat dan harapan menempel di pedangnya, menarik-narik pikirannya ke mana-mana. Kilasan kenangan datang silih berganti. Satu ayunan pedang ini terasa sepanjang hidup.
Pedang yang selembat ini, mana mungkin bisa menebas Wu Dashi di depannya!
Sambil mengelus janggutnya yang memutih, Wu Dashi tertawa lepas, "Terlalu lamban~ Sepanjang hidupku, tak pernah kulihat pedang yang selembat ini. Anak muda, berlatihlah beberapa ratus tahun lagi, atau lahir kembali sebagai yatim piatu lalu cari aku untuk belajar!"
Gunung selalu di atas gunung, dan akhirnya, Yuan Sheng Battozai yang tak pernah terkalahkan seumur hidupnya, menyadari betapa luasnya dunia. Dalam dunia semu, ternyata ada Wu Dashi dan Zhenzhenzi, ahli yang seketika mampu menembus kelemahan pedangnya.
Inilah... kebahagiaan hidup!
"Ilmu pedangku masih dangkal, mohon bimbingannya, Dashi!"
"Lihatlah tinjuku!"
Baru saja kata-kata itu usai, mata Yuan Shengshun menangkap sebuah tinju kecil yang tampak biasa saja. Tanpa cela, tanpa hiasan, hanya satu pukulan, murni seperti air.
Detik berikutnya, tinju itu lenyap, berganti cahaya putih yang memenuhi pandangan Yuan Shengshun.
Di dalam cahaya putih itu seolah tak ada apa-apa, namun juga seakan menyimpan dunia tanpa batas! Tidak ada apa-apa, namun justru menjadi sebuah dunia...
Ternyata begitu... Dashi, aku mengerti!
Ketika membuka mata, Yuan Shengshun telah terbangun dari dunia semu dan kembali ke kenyataan.
"Ternyata, untuk mencapai tingkatan lebih tinggi, segala belenggu dalam pikiran harus diputuskan..."
Lepaskan semua obsesi...
Menutup mata, Yuan Shengshun merenung. Keluarga, darah, warisan, negara, kehormatan, misi... Semua itu berputar di benaknya. Tanpa disadari, ia menyadari terlalu banyak beban dititipkan pada pedangnya. Hal itu memang mendorongnya terus maju, tapi sekaligus membuat pedangnya semakin berat dan sulit bergerak.
Teknik Pedang Satu Niat yang dipenuhi berbagai pikiran, masihkah layak disebut Teknik Pedang Satu Niat?
Untuk membuat teknik pedang semakin tinggi, ia harus menyucikan niat di hatinya.
Semalaman ia merenung. Ketika fajar mulai merekah di ufuk timur, senyum berat namun lega merekah di wajah Yuan Shengshun. Sambil mengibaskan lengan bajunya, ia meninggalkan segalanya di belakang, hanya menggenggam pedang di tangan, melangkah menuju dunia yang luas tanpa batas...
Keesokan pagi, kabar mengejutkan mengguncang kediaman keluarga Yuan Sheng yang selama ini tenang.
Setelah putri satu-satunya, Yuan Sheng Zhengzong, kini putra tunggal mereka, Yuan Shengshun, juga minggat dari rumah!
Sekejap, keluarga Yuan Sheng yang kehilangan garis utama jatuh dalam kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Satu helai rambut dicabut, seluruh tubuh ikut bergerak.
Menghilangnya Yuan Shengshun semalaman segera menyebar, menggema di seluruh Kekaisaran Pulau.
Kejadian ini, seperti roda kecil yang menggerakkan seluruh mesin. Keseimbangan dan keterikatan antar keluarga besar mulai retak satu demi satu.
Ketenangan yang tampak, kini diguncang arus bawah yang semakin menguat.
Takdir mulai berputar pada saat itu juga, situasi di seluruh Kekaisaran Pulau, bahkan dunia, akan menjadi semakin rumit dan penuh teka-teki...
Tentu saja, semua ini tidak ada hubungannya dengan Mo Zhen.
Setidaknya, untuk sementara...