Bab Enam: Ahli Roh Gila Bagian Ketiga
Berdiri di depan pintu masuk Kompetisi Liga, aku hampir tak percaya pada semua yang terjadi selama empat hari terakhir. Sungguh, rasanya seperti mimpi—jika aku belum pernah bermimpi sebelumnya, aku pasti mengira ini semua hanyalah bunga tidur.
Semuanya berjalan begitu lancar, aku seperti sebongkah batu keras yang terus maju, menghancurkan setiap lawan yang menghadang di depanku. Namun perjalanan ini sama sekali tidak mudah. Aku terus-menerus diperlakukan hampir seperti objek diskriminasi, tak ada satu pun pemilik gym yang menganggapku sebagai penantang layak, tak satu pun yang menerima tantanganku secara terhormat.
Benar, hanya karena aku berasal dari desa, para pemilik gym yang berpenampilan mewah itu menggunakan alasan itu untuk menolak tantanganku secara kasar dan tidak sopan. Sebenarnya aku tahu, sikap angkuh dan tidak hormat mereka hanyalah kamuflase untuk menyembunyikan ketakutan mereka. Mereka takut bertemu seorang pelatih sejati.
Menjijikkan sekali. Aku menghajar mereka dengan keras, memperlihatkan pada mereka apa itu kekuatan sejati seorang pelatih. Ada beberapa yang masih tidak terima, dengan wajah penuh amarah mereka mengklaim bahwa aku bukan pelatih sejati, hanya orang desa yang sudah gila. Kalimat yang paling sering kudengar adalah, “Orang desa tidak pantas menjadi pelatih.”
Aku marah. Kali ini, aku benar-benar bertarung demi para orang desa di dunia ini. Aku tak pernah menyangka dunia ini begitu bengkok. Aku tak tahu apa salah orang desa, tapi diskriminasi tanpa alasan ini benar-benar membuatku muak.
Mungkin sulit mengubah prasangka satu dunia, tapi aku merasa harus melakukan sesuatu. Aku menghajar pemilik-pemilik gym itu dan mengambil lencana mereka. Sampah itu sama sekali tak pantas memilikinya. Dalam proses itu, rintangan tak terhitung jumlahnya menghadangku.
Tapi tak ada yang bisa menghentikanku. Aku adalah batu yang tak tergoyahkan, menghancurkan semua yang mencoba menghalangi. Batu Kecilku pun, lewat pertarungan-pertarungan itu, akhirnya berevolusi menjadi Raksasa Batu.
Penampilannya memang semakin kampungan, tapi juga semakin kuat. Sungguh, aku tak menyangka bentuk evolusinya akan semakin ndeso—padahal sebelumnya saja sudah cukup kampungan. Tapi tak penting, kampungan tapi tangguh, sekali pukul bisa mengalahkan monster paling rupawan sekalipun.
Dengan kekuatanku sendiri, aku menumbangkan semua pemilik gym palsu beserta pengikut bodoh mereka. Sungguh lucu, Tuan Tanah benar sekali—dunia ini sudah tercemar angin jahat, pelatih sejati semakin langka, sedangkan para penipu hanya bisa pamer di panggung bersama monster mereka yang tak berguna.
Tak perlu banyak bicara, tekadku kini lebih kuat dari sebelumnya. Dalam Kompetisi Liga berikutnya, aku akan membuktikan pada dunia ini siapa pelatih sejati sebenarnya.
Saat mendaftar, petugas menatap dua belas lencana yang kutunjukkan dengan tatapan jijik dan terkejut, tapi aku sudah terbiasa dengan pandangan semacam itu. Kata-kata tak pernah cukup kuat, hanya tindakan yang membuktikan segalanya.
Dengan langkah mantap, aku masuk ke arena.
“Kamu kalah, cepat keluar! Orang sepertimu sama sekali tidak pantas ikut bertanding!”
Satu detik setelah monsterku keluar, empat juri di kursi mereka langsung memutuskan hasilnya.
Sialan, pertarungan bahkan belum dimulai, aku sudah dikeluarkan dari kompetisi. Inikah wajah kelam dunia ini? Para penonton pun bukannya memprotes, malah terus-menerus mencemoohku.
“Cepat pergi, kampungan!”
“Ngapain masih berdiri di situ, bikin mataku kotor saja!”
“Orang desa tak pantas berdiri di panggung ini!”
“Jangan bercanda, kenapa orang kayak dia bisa punya hak bertanding?”
Saat itu, aku ragu. Ya, bahkan aku yang sekuat batu pun, saat seluruh dunia menolakku, tak dapat menahan munculnya keraguan: benarkah orang desa tidak pantas menjadi pelatih?
Jika seluruh dunia menganggapmu salah, masih adakah alasan untuk tetap yakin bahwa dirimu benar?
Tiba-tiba, sebuah tangan hangat menepuk pundakku. Suara Tuan Tanah yang membakar semangat kembali terdengar di telingaku.
“Kau ragu apa? Kau adalah batu yang tak bisa dihancurkan! Jika seluruh dunia menyerangmu, hancurkan saja dunia itu!”
Benar, meski seluruh dunia menganggapku salah, aku tak akan goyah. Karena yang kutegakkan adalah dunia milikku sendiri.
Selanjutnya, pertempuran hebat pun terjadi. Aku dan Raksasa Batuku sendirian menghadapi semua peserta lain, para juri, panitia, bahkan seluruh penonton.
Ya, aku melawan dunia ini seorang diri.
Dalam pertarungan yang sengit itu, tekadku mencapai puncak. Rasanya ada sesuatu yang hancur dalam diriku.
Ternyata, itu Raksasa Batuku. Setelah menahan serangan tiada henti, akhirnya dia hancur berkeping-keping.
Memang, di hadapan dunia, tak ada batu yang tak bisa dihancurkan.
Sepertinya aku takkan bisa kembali ke duniaku, tapi aku tak menyesal. Di dunia yang salah ini, aku tetap menjadi diriku sendiri sampai hancur lebur.
Saat aku menantang hujan serangan yang datang, tiba-tiba cahaya evolusi menembus langit di tengah arena.
Monsterku ternyata tidak mati, malah menyelesaikan evolusi legendaris menjadi Magestik.
Kini, dia telah menanggalkan penampilan kampungannya, berubah menjadi... batu murni.
Benar, wujud akhirnya hanyalah sebongkah batu yang melayang di udara.
“Astaga! Ternyata cuma batu, ini menakutkan sekali! Apa ada yang lebih kampungan dari ini?”
“Jangan biarkan dia menghancurkan dunia Monster Cangkang, cepat kalahkan dia!”
Semuanya berakhir. Batu yang mengamuk dan tak tergoyahkan itu menghancurkan semua monster, menumbangkan setiap orang di arena.
Nona Minggu dan Naga Pancurnya, Nima Tingzhen dan Kuda Mutiaranya, Nyonya Tanpa Mimpi dan Raja Kukuknya...
Para penipu bersama monster mereka semua ditumbangkan aku dan batuku. Meski mereka terkapar di tanah, mereka masih menatapku dengan pandangan meremehkan seolah aku orang gila dan kampungan, tapi aku sudah tak peduli.
Dengan ringan, aku memungut lencana juara dari tanah. Tanpa pengakuan siapa pun, aku tahu aku sudah menjadi juara.
Aku berbalik mencari Tuan Tanah, tapi dia sudah tak kelihatan. Kedatangannya seperti debu, perginya pun seperti debu. Meski tak sempat berpamitan, aku yakin dia sudah melihat apa yang ingin dia saksikan.
Aku hanya berharap tak mengecewakannya.
“Kau juara liga?”
Sebuah suara malas dan menggoda terdengar di telingaku. Aku menoleh, bayangan merah menyala masuk ke dalam pandanganku.
Sialan, jujur saja, aku belum pernah melihat wajah setampan itu. Tapi senyum menyebalkan di wajahnya membuatku ingin menghajarnya.
“Jelas, aku juara.”
Ia mengangguk sambil tersenyum, lalu mengeluarkan bola monster yang paling mencolok yang pernah kulihat—bola penuh warna bak kaca pelangi raksasa.
“Tenang saja, sebentar lagi kau bukan juara lagi.”
Nada bicaranya lebih arogan dari siapa pun yang pernah kutemui. Orang lain menunjukkan kesombongan lewat ucapan, orang ini menyimpannya dalam tulang sumsumnya.
Cahaya putih berkilat, monster anehnya muncul di hadapanku.
Sekilas kulihat, aku terkejut—bukankah ini anak perempuan kecil berambut pelangi?
Tapi jika diamati, jelas dia bukan manusia—tak ada manusia yang bisa tumbuh bunga di kepalanya. Meski wujudnya menyerupai manusia, hatiku tetap sekuat batu, tak tergoyahkan.
Tak perlu banyak bicara, bagiku ini hanya akan jadi pertarungan singkat seperti biasanya.
Tiga detik kemudian, semuanya berakhir.
Sial, monsterku dihancurkan dengan satu pukulan!
Aku menatap tak percaya pada monster kecil kurus itu, seperti kecambah—dengan tinju sekecil kacang polong, dia menghancurkan batu pelindungku hingga remuk tak bersisa.
“Kenapa bisa begini? Ini tidak mungkin!”
Aku terpaku di tempat, pria berbaju jas merah itu dengan santai mengambil lencana juara dari tanganku dan berkata sambil tersenyum,
“Mudah saja, kayu tentu mengalahkan batu, bukankah itu sudah jelas?”