Bab Ketiga: Mendaki Puncak

Permainan Absurd Sang Seniman Performa Kehampaan yang mengembara 2612kata 2026-03-04 21:31:57

Jika tidak bisa mengalahkan, maka bergabung saja—bagi Mo Zhen, hal itu terasa sangat wajar. Mendengar ucapannya, kepala sekolah menatap ke luar jendela dengan wajah canggung, sementara Mo Zhen menggigit jarinya, menyadari bahwa mulutnya bereaksi terlalu cepat.

Namun, adik seperguruannya yang kurus kering di sebelahnya berbicara tanpa ragu dengan nada terang-terangan.

“Kakak senior, apa kau dipukul sampai linglung? Kau kira kami tidak mau bergabung dengan aliran Modifikasi Tubuh? Bukan kami tak mau, tapi kami memang tidak berbakat dalam pelatihan fisik. Semua sudah tersingkir dalam ujian masuk, jadi akhirnya kami masuk ke Perguruan Senjata Murni ini.”

Mo Zhen tersenyum kikuk, dalam hati menggerutu: Ternyata Perguruan Senjata Murni ini benar-benar tempat penampungan barang rongsokan. Kepala sekolahnya juga pasti bukan orang hebat. Menurut hukum alam, yang lama pasti akan tergantikan oleh yang baru. Seharusnya jalan Senjata Murni sudah kalah oleh aliran Modifikasi Tubuh. Tapi kenapa masih bertahan? Pasti karena ada kumpulan sampah yang tidak bisa berlatih fisik seperti ini!

Kepala sekolah tampak tidak rela, berkata dengan nada geram, “Jalan Senjata Murni adalah jalan sejati bela diri. Semua yang namanya ‘Teknik Modifikasi Tubuh’ itu hanyalah jalan sesat!”

Yang membalas lelaki paruh baya itu hanyalah tatapan penuh iba dari penghuni kamar yang bernasib sama. Kata-kata seperti itu hanyalah penghiburan kosong semata. Hampir tak ada seorang pun di ruangan itu yang mempercayainya—bahkan, mungkin dia sendiri pun tidak.

Namun terkadang, hidup memang harus dijalani dengan kebohongan keras kepala semacam ini. Mereka yang gagal dan yang kalah pun butuh pegangan batin.

Dibawah tatapan semua orang di Perguruan Senjata Murni—tatapan yang seolah berkata, “Kami tahu kau sendiri pun tak percaya, tapi kami tetap ingin mendengarnya”—kepala sekolah menegakkan punggung, dan melanjutkan dengan nada tegas.

“Aliran Modifikasi Tubuh itu awalnya hanya diciptakan oleh segelintir orang yang tak mampu memahami jalan Senjata Murni, sekadar jalan pintas dan tipu muslihat. Tapi semakin banyak orang menempuh jalan mudah itu, Senjata Murni malah perlahan tenggelam. Asal kita bisa menguasai hakikat Senjata Murni, pasti kita bisa membangkitkan kembali perguruan ini dan mengharumkan namanya di seluruh dunia!”

Setelah itu terdengar sorak-sorai dan tepuk tangan. Sekejap, mata mereka benar-benar memancarkan harapan.

Hanya Mo Zhen yang meski ikut bertepuk tangan, matanya menyimpan sindiran yang nyaris tak terlihat.

Inilah yang disebut hukum alam berputar, pikirnya. Dulu, yang gagal memahami Senjata Murni lari ke Modifikasi Tubuh. Kini, yang tak layak Modifikasi Tubuh malah mendirikan Perguruan Senjata Murni untuk mencari jalan mereka...

Semakin direnungkan, Mo Zhen merasa seolah sedang menyaksikan siklus burung phoenix melahirkan merak, merak melahirkan rajawali, dan semuanya kian menurun kualitasnya.

“Ehem!”

Setelah beberapa saat, Mo Zhen tak tahan lagi untuk menghentikan semangat semu itu, dan bertanya sesuatu yang lebih realistis.

“Bolehkah saya tahu, apakah masih ada yang benar-benar berhasil memahami jalan Senjata Murni sekarang?”

Setelah hening beberapa saat, kepala sekolah menghela napas panjang dan menatap puncak gunung yang menjulang tinggi di kejauhan.

“Ada! Di puncak Gunung Lancip itu, ada seorang ahli bermarga Wu, salah satu dari sedikit pendekar Senjata Murni yang tersisa! Sayang sekali, dia selalu menyendiri di atas sana, tak pernah mencampuri urusan dunia. Kami ingin menimba ilmu, tapi gunungnya terlalu tinggi dan berbahaya...”

Saat ia bicara dan menoleh ke arah ranjang, ternyata ranjang itu sudah kosong.

***

Di kaki Gunung Lancip, menatap puncak yang menembus awan, Mo Zhen tampak bersemangat.

“Mendaki gunung? Menarik juga! Gunung ini sepertinya jauh lebih tinggi dari gunung mana pun di dunia nyata—pasti puas sekali kalau berhasil naik!”

“Benar, sensasi menaklukkan puncak memang tiada duanya. Tapi tahukah kau, apa yang lebih seru dari itu?”

Dari nada bicaranya, Mo Zhen menangkap logat daerah yang khas.

Ia pun menoleh dan melihat seorang pria bersandal kayu, mengenakan kimono, dengan sebilah pedang panjang di pinggang, berdiri bersedekap menghadap ke puncak.

Melihat pria itu, kesan pertama Mo Zhen adalah:

[Pedang Terselubung]

Naluri tajamnya sebagai pemain kawakan segera mencium aura unik dari lawan bicaranya.

Setengah detik terdiam, Mo Zhen tersenyum senang, lalu menimpali, “Tentu saja kutahu, tapi aku ingin mendengar pendapatmu.”

“Hahaha! Tentu saja, hal terbaik adalah mengadakan duel hebat di puncak gunung!”

Jelas, pria itu sangat percaya diri. Hanya saja, di dunia ini, tiba-tiba muncul seorang ahli pedang seperti dia, terasa agak janggal.

Orang ini... pasti bukan NPC!

Aneh juga, kenapa naskah tunggal bisa ada pemain lain?

Mo Zhen berkedip, meski agak heran, ia yakin itulah kebenarannya.

Maka ia pun berkata dengan senyum, “Betul, aku juga berpikir seperti itu. Bagaimana kalau kita mendaki bersama dan bertemu di puncak?”

Pendekar berkimono itu mengangguk, lalu menatap pinggang Mo Zhen yang kosong.

“Baik! Bolehkah tahu, apakah kau membawa pedang?”

Sambil berkata begitu, ia menunjuk pedang yang tergantung di pinggangnya.

“Pedang seorang pendekar harus selalu melekat, seolah jadi bagian tubuh sendiri. Bagaimana menurutmu?”

Mo Zhen hanya tersenyum dan tanpa berkata apa-apa, lalu mengeluarkan pisau makan kecil berwarna perak dari sakunya, sebagai jawaban.

Pendekar itu terkejut sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak.

***

“Hahaha, kau benar-benar orang yang unik! Aku sudah berkali-kali duel, tapi belum pernah lihat pedang sekhas ini. Pemahamanmu tentang jalan pedang sungguh luar biasa... Baik! Duel di puncak nanti pasti akan seru!”

Mo Zhen tersenyum kikuk, dalam hati menggerutu: Aku cuma mau mendaki gunung, mana paham urusan pedang!

Pendekar berkimono itu lalu mengisyaratkan agar mereka berjalan lebih dulu.

“Aku dikenal sebagai Genzo Penarik Pedang. Bolehkah tahu namamu?”

Kini Mo Zhen seratus persen yakin, orang ini juga pemain sepertinya, bahkan dari negeri pulau seberang. Kemungkinan besar dia bermain dalam mode Kompetisi Bertahan Hidup, entah bagaimana bisa muncul di naskah tunggal milik Mo Zhen.

Melihat sikap dan tutur katanya yang kaku, Mo Zhen tahu dia orang yang sangat berprinsip. Duel dengan orang seperti ini, selama kau piawai berdebat, hampir pasti selamat.

Kebetulan, sembilan puluh sembilan persen keunggulan Mo Zhen memang di mulut. Ia pun berniat mengambil alih peran lawannya dan menikmati permainan ini.

“Namaku... Mo Zhen Zhenko!”

Setelah berpikir, Mo Zhen memutuskan memakai nama samaran. Toh duel seperti ini hanya sekali, seperti hubungan semalam saja, nama tak penting.

Pakai nama akrab, biar nanti bisa minta ampun dengan lebih mudah saat duel.

Genzo mengangguk.

“Nama yang indah. Sepertinya duel nanti pasti menarik!”

Mo Zhen mengikuti temannya menaiki gunung, sambil dalam hati mengeluh: Apa-apaan ini, nama bagus kok dikaitkan sama duel bagus, ini mau beli buah semangka apa?

Jalan setapak memang terjal, tapi bagi Mo Zhen dan Genzo, rasanya seperti berjalan di tanah datar.

Walau sempat tersambar petir di awal cerita dan langsung masuk rumah sakit, Mo Zhen sempat melawan sepuluh musuh sekaligus yang notabene ahli fisik, jadi dengan level tiga yang ia miliki, mendaki gunung ini sama mudahnya dengan berjalan santai setelah makan.

Sedangkan Genzo, dari raut wajahnya yang tenang, jelas levelnya tidak rendah.

Umumnya, semakin tinggi level pemain, semakin besar pula bonus atribut dalam permainan. Namun kadang, ada juga pemain yang mendapat pengaturan karakter khusus sejak awal—misalnya efek zombie di naskah zombie—jadi perhitungan atribut sebenarnya rumit, harus dilihat dari panel status.

Hm? Kenapa Mo Zhen belum juga punya panel status?

Ehem, fitur itu, sama seperti kemampuan lainnya, juga dikunci dan harus dibeli lewat pembelian dalam aplikasi...