Bab Sembilan: Pertemuan di Jalan Sempit
Melanjutkan kisah sebelumnya, Guru Mo yang telah mencapai puncak kesaktian bela diri hendak turun gunung, namun di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan sekelompok pria berbadan kekar.
Mo Zhen menyipitkan mata, mengamati sekelompok pria perkasa itu, dan mendapati bahwa di antara mereka terdapat beberapa pria dan wanita kurus yang diikat erat dan gemetar ketakutan. Keberadaan mereka di tengah sekumpulan pria berotot itu tampak sangat mencolok, bagaikan seekor ayam di tengah kawanan bangau.
Tak diragukan lagi, para pria kekar itu adalah pengikut Aliran Modifikasi Tubuh, sementara orang-orang yang tampak layu dan penuh kecemasan di tengah mereka pastilah sisa-sisa anggota Padepokan Bela Diri Jingwu. Setelah Yuan Shengshun dan Mo Zhen membantai jalan mereka hingga ke puncak Gunung Jianfeng, para pengikut Aliran Modifikasi Tubuh segera menerima kabar tersebut.
"Apa? Tiga sesepuh besar, empat pelindung, lima tetua paviliun, enam murid cilik sakti, tujuh bakat utama, delapan murid utama, serta sejumlah penjaga gunung semuanya tewas mengenaskan?!"
Dihantam musibah besar yang datang tiba-tiba, seluruh Aliran Modifikasi Tubuh seketika tenggelam dalam duka yang mendalam. Karangan bunga duka cita bermunculan di setiap padepokan mereka. Namun, Yudi Lie, sang kepala padepokan utama Aliran Modifikasi Tubuh, segera menyadari bahwa ini bukanlah saatnya untuk mengadakan upacara berkabung. Meski ia tidak tahu siapa pendekar yang dimaksud dalam laporan itu, ia sangat mengenal identitas Mo Zhen sebagai murid utama Padepokan Bela Diri Jingwu.
Meskipun saat ini Aliran Modifikasi Tubuh sedang berkuasa, sebagai salah satu dari sedikit pria yang memahami sejarah bela diri dunia ini, Yudi Lie sangat sadar bahwa bukan mereka yang memilih aliran tersebut, melainkan aliran itulah yang memilih mereka.
Jalan bela diri Jingwu yang sejati adalah ilmu bela diri yang luas, mendalam, dan memiliki potensi tak terbatas, namun ambang batasnya sangat tinggi dan sangat mengutamakan "pemahaman batin". Saat kejayaan Jingwu masih merajai dunia, mereka yang tidak memiliki "pemahaman batin" tidaklah layak untuk memasuki padepokan dan mempelajari jalannya. Mereka lebih memilih untuk tidak menerima murid daripada menerima orang yang tidak berkualitas.
Mereka yang tidak layak itulah yang entah dari mana mendapatkan metode yang disebut "Teknik Modifikasi Tubuh". Mereka menempuh jalan pintas, terus meneliti dan mengembangkannya hingga berhasil membentuk jalur bela diri baru, yang kini dikenal sebagai Aliran Modifikasi Tubuh. Pada akhirnya, aliran yang mengandalkan teknik modifikasi tubuh untuk meningkatkan kekuatan fisik secara paksa ini hanyalah tiruan yang menyimpang jika dibandingkan dengan jalan Jingwu yang sejati.
Yudi Lie mengerti, jika A-Xu dari Padepokan Jingwu benar-benar naik ke puncak gunung dan menguasai ilmu Jingwu yang sejati, mengingat rekam jejak mereka yang selalu menindas padepokan tersebut, maka masa depan Aliran Modifikasi Tubuh akan berada di ujung tanduk.
Tepat saat itu, puncak Gunung Jianfeng tiba-tiba memancarkan cahaya megah, menampakkan fenomena aneh berupa pelangi tujuh warna! Orang-orang di bawah gunung berspekulasi tentang pemandangan ajaib ini; ada yang mengatakan itu adalah tanda keberuntungan seseorang yang menembus batas dunia dan mencapai kedewaan, sementara yang lain menganggap itu adalah pemandangan duka atas wafatnya seorang ahli bela diri yang luhur. Namun bagaimanapun, peristiwa yang mengguncang langit dan bumi ini pasti berkaitan erat dengan sang Guru Bela Diri legendaris yang berada di puncak Gunung Jianfeng.
Sebagai pilar utama Aliran Modifikasi Tubuh saat ini, Yudi Lie tahu ia harus menuntaskan masalah ini. Ia sadar bahwa alasan Padepokan Jingwu masih bisa bertahan hingga kini adalah karena keberadaan guru besar yang telah mencapai puncak kesaktian di gunung tersebut. Meski sang guru sudah tidak lagi mencampuri urusan duniawi, selama ia masih ada, Aliran Modifikasi Tubuh tetap merasa segan terhadap ilmu Jingwu. Kini, setelah kejadian hari ini, keberadaan sang guru besar telah menjadi tanda tanya besar.
Demi mencari kebenaran, Yudi Lie mengumpulkan para kepala padepokan lain dan para elit Aliran Modifikasi Tubuh untuk berdiskusi dengan sengit. Akhirnya, mereka terbagi menjadi dua kubu. Satu pihak berpendapat untuk menunggu dan melihat tanpa gegabah, mengingat harga yang telah dibayar sangat mahal. Namun, Yudi Lie berpendapat bahwa ini adalah saat yang menentukan nasib aliran mereka; mereka tidak boleh pasif dan harus segera bertindak.
Karena kedua pihak tidak bisa mencapai kesepakatan, Yudi Lie membawa para elit yang berani dan memutuskan untuk menantang bahaya dengan mendaki gunung. Namun, mereka sangat mewaspadai pendekar misterius yang bersama Mo Zhen. Oleh karena itu, mereka menggunakan taktik licik dengan menyandera orang-orang dari Padepokan Jingwu sebagai jaminan.
Tak disangka, di tengah jalan mereka bertemu dengan seorang pria tua yang misterius. Pria tua ini memiliki janggut putih, wajahnya penuh dengan guratan usia, dan jubah lusuhnya berkibar tertiup angin dingin, tampak sangat berwibawa layaknya seorang pertapa sakti. Saat ini, hal yang membuat Yudi Lie paling waspada bukanlah penampilan tua atau pakaian pertapa itu, melainkan senyum tipis yang memancarkan ketenangan duniawi di wajahnya. Itulah kepercayaan diri seorang petarung sejati!
Setelah memberi isyarat agar semua orang berhenti dan tidak gegabah, Yudi Lie memberikan hormat sebagai junior dan bertanya dengan suara rendah, "Bolehkan saya bertanya, siapakah senior ini..."
Pria tua itu mengelus janggutnya, tersenyum tenang, dan menjawab dengan suara yang lantang dan penuh tenaga, "Orang tua ini adalah pewaris Jingwu masa kini—Mo Zhen!"
Ya, pria ini benar-benar menyebutkan nama aslinya secara langsung... Karena nama A-Xu di dunia ini dikenal sebagai murid utama padepokan yang pecundang, dan Mo Zhen merasa enggan berpura-pura menjadi sang Guru Besar yang menurutnya sangat menyebalkan... maka ia memutuskan untuk menggunakan nama aslinya saja. Bagaimanapun, ini adalah dunia skenario tunggal, semua orang hanyalah karakter buatan, dan ia merasa seperti berada di rumah sendiri, tidak perlu sungkan kepada siapa pun. Terlebih lagi, entah mengapa, nama Mo Zhen terasa sangat selaras dengan gelar pewaris Jingwu.
Mendengar nama yang menggelegar ke seluruh penjuru dunia itu, mata Yudi Lie membelalak, seolah disambar petir di dalam hatinya! Pewaris Jingwu! Gelar ini sudah ratusan tahun tidak terdengar di dunia bawah. Yudi Lie sangat memahami betapa berat beban nama tersebut! Itu adalah gunung besar yang menekan Aliran Modifikasi Tubuh mereka!
Saat kakinya gemetar ketakutan, Yudi Lie teringat sesuatu dan merasa ada yang tidak beres. Bukankah guru besar Jingwu di puncak gunung dipanggil Guru Bela Diri? Mengapa orang ini menyebut dirinya Mo Zhen? Maka, demi mencari kebenaran, Yudi Lie memberanikan diri bertanya, "Junior mendengar bahwa pewaris Jingwu yang mengasingkan diri di puncak Gunung Jianfeng bermarga Wu. Meski tidak tahu nama aslinya, semua orang menghormatinya dengan sebutan Guru Bela Diri, entah..."
Sebelum ia selesai bicara, Mo Zhen tertawa terbahak-bahak ke langit. "Hahahaha, bukankah gelar hanyalah benda yang bisa berubah? Jalan Jingwu adalah puncak dari segala ilmu bela diri di dunia, dan pewaris Jingwu adalah representasi dari jalan tersebut, jadi wajar jika dunia menyebutnya sebagai Guru Bela Diri. Apa masalahnya?"
Sikap yang bebas, elegan, dan tidak terikat aturan. Yudi Lie merasakan aura kekuatan seorang petarung sejati yang tidak terkekang. Nama hanyalah sesuatu yang tidak lagi mampu membatasi wibawa pria di depannya ini.
Tepat saat itu, sang kepala Padepokan Jingwu yang diikat erat seperti kepiting akhirnya mengumpulkan keberanian dan berseru, "Guru! Kami adalah murid Padepokan Jingwu. Kini Aliran Modifikasi Tubuh berkuasa dan Jingwu meredup, mohon Guru sudi menolong kami..."