Bab Enam Belas: Semangat Membara di Usia Paruh Baya
Sejak kapan semuanya bermula? Aku pun telah kehilangan tajamnya sudut-sudut diriku oleh rutinitas hidup yang membosankan.
Dulu, semangat membara membawaku bergabung dengan Badan Penjaga Keteraturan, lalu berbagai realitas perlahan mendinginkan darah muda itu.
Segalanya tidak seperti yang kubayangkan.
Di dalam Badan Penjaga Keteraturan, yang ada bukanlah sekelompok jiwa penuh semangat, melainkan sekumpulan mesin yang mati rasa.
Aku yang masih memegang idealisme dan semangat, tampak sangat tidak cocok di sana.
Seiring waktu berjalan, akhirnya aku menyadari di tengah kerasnya kenyataan.
Yang kami butuhkan bukanlah Kebenaran, melainkan Hasil; pekerjaan kami bukanlah Menegakkan Keadilan, melainkan Menjaga Stabilitas; yang kami kejar bukanlah Cita-cita Mulia, melainkan Kehidupan yang Tenang.
Sering kali, begitulah adanya—sebelum mengetahui kenyataan, orang masih menyimpan sedikit harapan. Setelah menyadari segalanya, bahkan secercah harapan itu pun lenyap.
Ini adalah dunia di mana idealisme telah mati.
Kapan sisa darah muda terakhirku benar-benar menghilang?
Mungkin sejak aku menikah.
Setelah seorang pria menikah dan membangun keluarga, perlahan semangat juangnya sirna. Darah mudanya yang dulu bergejolak, berubah menjadi penerimaan terhadap keadaan.
Ketekunan yang dulu penuh cita-cita dan semangat itu, perlahan berubah menjadi hidup sekadarnya.
Pekerjaan. Cicilan rumah. Asuransi. Keluarga. Anak.
Semakin banyak hal yang hadir dalam hidupku, semakin berat beban yang kupikul, semakin dingin pula semangatku.
Setelah anakku lahir, segalanya pun berakhir.
Saat itu, aku merasakan seluruh hidupku telah mengalir keluar dari tubuh ini, beralih pada kehidupan mungil di hadapanku.
Aku yang dulu, telah mati.
Yang masih ada kini hanyalah cangkang yang berjuang mempertahankan segala yang telah dimiliki.
Demi menjaga semua yang ada, sekalipun orang di hadapan adalah seorang penderita gangguan identitas gender dan delusi berat, aku tetap akan memanfaatkannya dengan rendah hati.
Apa kau mengerti arti keberadaan?
Sejujurnya, aku sendiri tak tahu jawabannya, dan aku pun tak ingat sejak kapan permainan dalam mimpiku itu bermula.
Namun sejak saat itu, aku baru tahu bahwa ternyata "aku" masih hidup di suatu sudut jiwaku.
Meskipun hanya ketika memasuki dunia bernama Taman Hiburan Surealis itulah, sesuatu bernama "kepribadian" muncul ke permukaan, tapi aku tahu ia selalu ada di dalam pikiranku.
Aku bisa merasakannya mengalir perlahan dalam darahku, perasaan seolah akan mendidih sewaktu-waktu, terus-menerus mengguncang batinku.
Aku takut suatu hari ia akan meledak di dunia nyata, menghancurkan kehidupan damai yang kumiliki kini, lalu menyeretku ke dunia yang tak dikenal.
Namun aku lebih takut jika suatu hari, ia akan menghilang diam-diam seperti saat ia datang...
...
“Tunggu!”
Teriakan penuh semangat itu menghentikan langkah Mo Zhen. Mendengar suara Han Mingzhe menahannya, ujung bibir Mo Zhen melengkung membentuk senyuman aneh.
Ia berbalik, senyumnya segera memudar, dan dengan ekspresi datar ia berkata,
“Ada apa, Tuan Inspektur? Masih ada yang ingin kau tanyakan pada si gila ini?”
Han Mingzhe menjawab dengan tenang,
“Mungkin saja yang kau katakan benar, mungkin juga hanya bualan, tapi aku ingin mendengarkan semuanya dulu, lalu baru membuat penilaian.”
Para agen di sana saling pandang. Mereka sama sekali tak menyangka inspektur yang biasanya lihai dan berpengalaman, akan melakukan sesuatu yang menurut mereka sangat tak bijak.
Menurut mereka, tak peduli betapa anehnya situasi di sini, tugas mereka hanyalah mencatat semua jejak di tempat kejadian, lalu keesokan harinya menyerahkan semuanya kepada para “ahli”. Semakin jauh mereka bisa menghindar dari kekacauan ini, semakin baik. Mengapa harus bersikeras mencari kebenaran dari seorang gila?
Wajah Mo Zhen tersenyum lebar.
“Kau yakin? Mungkin kata-kataku berikutnya akan lebih gila lagi.”
Semuanya memang sudah dalam rencana Mo Zhen, namun tetap di luar dugaannya juga. Dengan suara mantap, Han Mingzhe menjawab,
“Mungkin memang kebenaran itu pada dasarnya adalah sesuatu yang gila, siapa yang bisa memastikan?”
Pria paruh baya yang telah lama bergulat dalam sistem birokrasi ini, matanya kini menyala dengan kekuatan tekad yang tak biasa.
Tanpa sadar, suasana di tempat kejadian mulai memanas, semangat mulai bergejolak di dalam diri semua orang.
Mo Zhen pun bisa merasakan perubahan itu. Ia sendiri tidak terpengaruh, namun ia melihat semangat itu muncul pada para agen di sekitarnya—orang-orang yang biasanya hanya bermalas-malasan itu seolah tiba-tiba dipenuhi gairah.
Mo Zhen menatap Han Mingzhe dalam-dalam, menggigit jarinya sejenak, menyembunyikan keraguan di matanya, lalu berbicara dengan nada ringan,
“Karena kita sudah menganalisis penyebab kematian korban, selanjutnya kita harus memastikan lagi pelakunya. Berdasarkan jejak yang ada, kasus ini tampaknya dilakukan oleh satu orang saja.”
“Satu orang? Apa dasarnya?”
Mo Zhen berjalan mengelilingi ruangan sambil perlahan menjelaskan,
“Pertama, dari penyebab kematian korban, ia tewas akibat satu pukulan. Kurasa tak mungkin beberapa orang bekerja sama untuk memukulnya sekaligus, bukan? Kedua, kelebihan pelaku ganda biasanya ada pada konfrontasi langsung, yakni keunggulan jumlah. Tapi ini adalah pembunuhan diam-diam, bukan penyerangan terbuka.
“Menurut kesaksian petugas keamanan, sejak korban mengeluarkan suara hingga ia tewas, lalu petugas tiba di lokasi, hanya butuh tiga detik. Dalam pembunuhan kilat seperti ini, justru jumlah orang akan menjadi penghambat. Di lokasi juga tidak ada jejak yang mendukung kemungkinan ada lebih dari satu pelaku.”
Mereka yang mendengar, tanpa sadar mengangguk pelan. Sang dedektif yang sedikit bermasalah ini akhirnya mulai melakukan deduksi yang masuk akal.
Sebelum Han Mingzhe sempat bertanya, Mo Zhen sudah mulai menjawab sendiri.
“Jadi sekarang masalah terbesarnya adalah, bagaimana pelaku masuk ke tempat ini, dan bagaimana ia keluar? Ini pertanyaan yang cukup rumit. Pertama-tama, kita harus memastikan keaslian Informasi yang ada.”
Mo Zhen pura-pura berhati-hati, melirik ke luar beberapa kali, lalu menurunkan suara,
“Apa benar para penjaga itu bisa dipercaya?”
Pertanyaan ini memang agak sensitif, karena menyentuh hal yang cukup dalam dan tak mudah dijawab.
Han Mingzhe mengernyitkan dahi, lalu menjawab,
“Hampir tidak mungkin ada masalah.”
Mo Zhen tampaknya memang tidak ingin memperpanjang urusan di bagian itu. Ia mengangguk puas.
“Bagus, berarti ruang analisis kita jadi semakin sempit. Kemungkinan pertama, pelaku sudah bersembunyi di dalam ruangan sejak awal dan menunggu kesempatan. Tapi melihat betapa ketatnya pemeriksaan sebelum korban penting ini menginap, kemungkinan itu sangat kecil.
“Lagipula, penjelasan itu hanya bisa menjawab bagaimana pelaku masuk ke sini, tapi tidak bisa menjelaskan bagaimana ia keluar. Maka tinggal kemungkinan kedua ...”
Sampai di situ, Mo Zhen tampak sengaja menggantungkan kalimatnya sambil tersenyum, tidak melanjutkan penjelasannya.
Para agen di sekitar yang sedang asyik mendengarkan, melihat senyum penuh misteri di wajah Mo Zhen, jadi kebingungan, mengira dedektif aneh ini mulai berulah lagi.
Namun Han Mingzhe justru menangkap makna di balik senyuman itu, lalu tersenyum pahit sambil menghela napas.
“Jadi ujung-ujungnya, kau masih belum bisa melupakan Manusia Tak Terlihat itu, ya ...”