Seratus Empat Puluh Sembilan: Panah Lengan
Dong Fei menggertakkan giginya dan berkata, "Sial, aku tidak peduli apa alasannya. Memangnya tidak bisa dibicarakan baik-baik? Main hakim sendiri, aku akan pergi melihatnya." Setelah berkata demikian, ia berbalik dan berlari keluar. Xiao Xue melihat punggung Dong Fei, lalu buru-buru mengenakan pakaiannya.
Dong Fei berlari kecil menuju rumah Kakak Li. Begitu sampai di depan pintu, ia sudah mendengar tangisan Kakak Perempuan Li, dan terdengar suara Li Quanyou berteriak keras, "Sialan, beraninya kau berselingkuh di belakangku, lihat saja kalau tidak kupukul sampai mati." Setelah itu terdengar jeritan dan tangisan "Ah! Ah!".
Terdengar Kakak Perempuan Li berkata, "A-aku tidak berselingkuh dengan siapa pun, kau selalu berkata begitu." Sambil berbicara, ia kembali terisak.
Dong Fei sudah tidak sempat berpikir panjang lagi, ia menggedor pintu dengan keras dan berseru, "Kakak Li, buka pintunya, Kakak Li, aku Dong Fei." Kemudian terdengar suara Li Quanyou yang direndahkan, "Cepat pakai pakaianmu, kalau kau berani bicara macam-macam, lihat saja nanti kupatahkan kakinya."
Dong Fei berpikir dalam hati bahwa mereka sudah tidur, lebih baik ia tidak masuk saja! Ia buru-buru berkata lagi, "Kakak Li, kalau kalian sudah tidur, aku akan datang lagi besok!"
"Baik, baik, Saudara Xiao Fei, kita bicarakan besok saja ya!" seru Li Quanyou tergesa-gesa.
Dong Fei sebenarnya ingin menasihati Li Quanyou beberapa patah kata, tetapi ia takut hasilnya justru bertolak belakang, jadi ia pun kembali. Sesampainya di kamar samping, ia melihat Xiao Xue sudah berpakaian rapi dan duduk di tepi ranjang. Begitu melihat Dong Fei kembali begitu cepat, Xiao Xue buru-buru bertanya, "Xiao Fei, kenapa kau begitu cepat kembalinya?"
"Ini menunjukkan bahwa urusan kita diselesaikan dengan cepat!" kata Dong Fei sambil terselip senyum.
"Aku tidak sedang bercanda denganmu, kau tidak tahu bagaimana temperamen Kakak Li. Kalau kau tidak memanggilnya tidak apa-apa, begitu kau panggil, ia akan membungkam mulut Kakak Perempuan Li lalu memukulinya lagi," ucap Xiao Ying sambil mengerutkan kening.
Mendengar itu, Dong Fei langsung berkata, "Benarkah ini? Sial, aku harus pergi melihatnya lagi."
"Aku ikut denganmu," kata Xiao Xue.
"Kau jaga Niu Niu saja di rumah, aku sendiri sudah cukup, paling buruk aku akan membawa Kakak Perempuan Li ke rumah kita," ujar Dong Fei.
Xiao Xue masih merasa khawatir, ia membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi batal. Sementara itu, Dong Fei sudah berlari keluar. Setibanya di rumah Li Quanyou, Dong Fei menempelkan telinganya di pintu luar untuk mendengarkan. Ia mendengar mereka masih bertengkar, tampaknya tebakan Xiao Fei benar, suara itu terdengar seperti orang yang mulutnya sedang disumpal.
Dong Fei berpikir dalam hati bahwa Li Quanyou ini benar-benar keterlaluan. Orang-orang sedang bertengkar malah tidak boleh didamaikan, semakin didamaikan justru semakin menjadi-jadi. Kali ini Dong Fei tidak menggedor pintu lagi, ia langsung melompat melewati dinding halaman. Dinding rumah di daerah pegunungan sangat rendah, Dong Fei mengangkat kakinya tinggi-tinggi lalu mendarat dengan ringan, perlahan-lahan mendekati kamar tempat tinggal Li Quanyou.
Terdengar suara Li Quanyou di dalam berkata, "Perempuan jalang, katakan yang sebenarnya pada Tuanmu ini, sebenarnya siapa di desa kita yang kaugauli, malam-malam begini kau pergi ke mana."
"A-aku pergi mencari sayuran liar, kau kan tahu sendiri, persediaan makanan di rumah kita tidak cukup." Saat berbicara, suaranya masih menyisakan isak tangis.
Dong Fei berpikir dalam hati, apakah pemuda bernama Li Quanyou ini sakit jiwa? Kenapa ia harus memaksa istrinya sendiri mengaku bahwa ia memiliki pria lain di luar? Tak lama kemudian terdengar suara tamparan "pletak-pletak".
Dong Fei membatin, sialan, tidak disangka pemuda Li Quanyou ini sangat kejam. Ia berjalan ke depan pintu dan baru saja hendak mengetuk ketika ia merasakan embusan angin tajam dari belakang telinganya. Dong Fei tidak sempat menghindar dan langsung tertendang pantatnya, membuat ia terpental masuk dengan suara gedebuk.
Pintu rumah di daerah pegunungan memang tidak begitu kokoh, dan orang yang menendang Dong Fei menggunakan tenaga yang cukup besar. Dong Fei mengutuk dalam hati, sialan, siapa yang begitu kurang ajar berani menendangnya? Ia menoleh ke belakang tetapi tidak melihat siapapun, barulah ia mendongak, dan pada saat bersamaan terdengar teriakan "Ah!" dari Kakak Perempuan Li yang membuatnya terperanjat kaget.
Li Quanyou juga sangat terkejut ketika tiba-tiba pintu didobrak terbuka. Dengan terbata-bata ia berkata, "Do-Dong Fei, bagaimana kau bisa masuk?"
Dong Fei mendongak dan hampir pingsan karena marah. Terlihat Kakak Perempuan Li diikat di kursi tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Li Quanyou duduk di atas kursi roda sambil memegang cambuk di tangannya. Seluruh tubuh Kakak Perempuan Li penuh dengan luka, membuat gigi Dong Fei bergemeretak karena geram. Ia buru-buru melangkah maju untuk melepaskan ikatan tali Kakak Perempuan Li. Kakak Perempuan Li melirik Dong Fei dengan panik, lalu menundukkan kepala dan tidak berani melihat lagi.
Dong Fei secara spontan menyelimuti Kakak Perempuan Li dengan seprai dari tempat tidur, lalu menatap tajam ke arah Li Quanyou. "Li Quanyou, apakah kau ini masih manusia? Dia adalah istrimu, ba-bagaimana kau tega berbuat sekeji ini?" ucap Dong Fei dengan penuh amarah.
Mata Li Quanyou saat itu sudah memerah. Ia memelototi Dong Fei dan berkata, "Dong Fei, kau menerobos masuk ke rumahku tanpa izin, anggap saja masalah ini selesai, silakan segera pergi dari sini."
"Menyuruhku pergi? Kau pikir bisa semudah itu? Aku beritahu kau, jelaskan padaku kenapa hari ini kau memukul Kakak Perempuan Li. Jika kau tidak menjelaskannya dengan jelas, akan kuperintahkan orang desa untuk menangkapmu," kata Dong Fei sambil menggertakkan gigi.
"Menangkapku? Siapa yang berani? Siapa yang berani? Kudengar ya Dong Fei, jangan mengira dirimu hebat. Ini adalah urusan rumah tanggaku, jika kau tahu diuntungkan, cepat pergi dari sini, kalau tidak, jangan salahkan aku jika bersikap tidak sopan." Saat berbicara, sorot matanya memancarkan niat membunuh.
Melihat situasi memburuk, Kakak Perempuan Li buru-buru berdiri di hadapan Dong Fei dan berkata, "Xiao Fei, Xiao Fei, cepatlah pergi, aku dan Quanyou hanya sedang ber-canda." Sambil berkata demikian, ia mendorong Dong Fei ke arah luar.
Dong Fei mengatupkan rahangnya dan bersikeras tidak mau pergi. Ia melirik Kakak Perempuan Li sekilas, di hadapannya terlihat pemandangan putih mulus yang membuat dadanya berdegup kencang tak karuan. Ia menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Kakak Perempuan Li, urusan hari ini pasti akan kuurus. Kenapa sebelumnya aku tidak menyadari bahwa Li Quanyou adalah orang seperti ini?"
"Kau perempuan jalang keparat, beraninya melindugi pria lain di hadapanku, lihat saja kalau tidak kupatahkan kakimu." Sambil berkata begitu, ia mendorong kursi rodanya hingga meluncur cepat ke depan dengan cambuk di tangan, lalu mengarahkannya tepat ke tubuh Kakak Perempuan Li. Melihat kekejaman Li Quanyou, Dong Fei tahu bahwa pria itu berniat membunuh kali ini. Ia segera menarik Kakak Perempuan Li dan melindunginya di bawah tubuhnya. Terdengar suara cambukan bergemeretak, Dong Fei mengerang tertahan dan butir-butir keringat langsung bercucuran.
Kakak Perempuan Li mendongak dan melihat keadaan Dong Fei, ia langsung tahu bahwa cambukan itu mendarat di tubuh Dong Fei. Li Quanyou masih berniat memukul lagi, tetapi keahlian berkelahi Dong Fei bukanlah omong kosong. Ia melayangkan tendangan ke kursi roda, membuat kursi roda itu mundur dua meter ke belakang dan hampir terguling. Tanpa diduga Li Quanyou ternyata cukup lihai, ia menggunakan tangannya untuk menahan lantai sehingga kursi roda itu kembali tegak.
Dong Fei merasa sedikit panik di dalam hati, tidak menyangka Li Quanyou ternyata tidak sembarangan. Tiba-tiba matanya menangkap peralatan makan di atas meja di dekatnya, ia buru-buru mengambil sebuah sendok masak dan berdiri di hadapan Kakak Perempuan Li.
Li Quanyou tersenyum tipis dan berkata, "Dong Fei, karena kau sudah datang mendamaikan, aku dan kakakmu ini tidak akan bertengkar lagi." Wajahnya dipenuhi senyuman yang tampak sangat tulus, tetapi Dong Fei selalu merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Sementara itu, Kakak Perempuan Li menatap Dong Fei dengan pandangan memohon. Tiba-tiba Dong Fei teringat perkataan Xiao Xue: semakin kau mendamaikan, maka setelah kau pergi, ia akan memukul Kakak Perempuan Li semakin kejam. Oleh karena itu, ia menatap pria itu dan tersenyum sinis, "Kakak Li, jangan coba-coba mempermainkanku dengan trik ini. Jangan dikira aku tidak tahu siasatmu, begitu aku pergi, kau pasti akan melampiaskan balas dendam pada Kakak Perempuan Li,kan?"
Tampaknya perkataan Dong Fei tepat mengenai sasaran yang paling menyakitkan bagi Li Quanyou. Dengan menahan amarah yang meluap-luap, ia tersenyum paksanya, "Mana mungkin? Bagaimanapun juga, aku dan Kakakmu Li telah menjadi suami istri selama bertahun-tahun. Masalah ini sudah lewat ya lewat saja, aku tidak akan memukulnya lagi." Namun saat berbicara, bola matanya berputar-putar liar seolah sedang merencanakan sesuatu.
Dong Fei tersenyum pahit. "Kakak Li, kita juga sudah lama berhubungan baik, kau dan Kakak Perempuan Li sudah banyak membantu Xiao Xue, sudah sepantasnya aku berterima kasih. Tapi aku tidak mengerti, kenapa kau tega berbuat sekeji ini pada Kakak Perempuan Li?"
"Dong Fei, berhenti bertele-tele dengar gaya seperti itu. Berikan satu jawaban pasti, sebenarnya apa yang kauinginkan?" kata Li Quanyou dengan nada tidak sabar.
"Aku tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin membawa Kakak Perempuan Li pergi. Nanti setelah temperamenmu berubah, aku baru akan mengantarkannya kembali." Ucap Dong Fei sambil menarik tangan Kakak Perempuan Li untuk melangkah keluar.
"Berani sekali!"
"Kenapa? Kau masih mau menggunakan cambukmu itu?" kata Dong Fei dengan nada meremehkan.
Li Quanyou mendengus dingin dua kali. "Haha, Dong Fei, aku bertanya sekali lagi kepadamu, kau sebenarnya pergi atau tidak."
"Pergi, tapi aku membawa Kakak Perempuan Li pergi bersama-sama," ucap Dong Fei dengan suara tegas.
"Jika begitu, aku tidak akan membiarkan kalian berdua pergi." Setelah berkata demikian, ia mengangkat tangan kirinya dan terdengar suara "Syu!" yang tajam. Dong Fei langsung merasa ada yang tidak beres, ia melihat ekspresi wajah Kakak Perempuan Li berubah drastis dan buru-buru berdiri melindungi di depannya. Menyadari bahaya tersebut, Dong Fei merangsek maju dan mendorong Kakak Perempuan Li menjauh. Terdengar suara "Tring!" yang nyaring, sebuah panah lengan melesat dan tertancap kokoh di balok atap rumah.
Dong Fei tadi sudah menutup matanya rapat-rapat, namun setelah menunggu lama tidak terjadi apa-apa, ia pun membuka matanya kembali. Ia menoleh ke samping dan melihat Kakak Perempuan Li juga datang menghampiri sambil memegang seprai. Li Quanyou tampak sangat terkejut, ia memelototi Dong Fei dan berkata, "Tidak disangka, masih ada orang yang datang membantumu."
Dong Fei bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang ini? Apakah Xiao Ying? Bukan, kalau itu Xiao Ying, ia pasti sudah masuk sejak tadi. Selain wanita itu yang memiliki kemampuan seperti ini, tidak ada orang lain lagi. Lantas, siapa sebenarnya dia? Dong Fei memikirkan hal itu lama sekali tetapi tetap tidak bisa menebaknya.
Pada saat bersamaan, Li Quanyou kembali mengangkat lengan satunya lagi. "Dong Fei, apakah kau ingin mencobai panah yang ini lagi?"
Melihat itu, Kakak Perempuan Li buru-buru menghalangi di depan Dong Fei sambil berteriak panik, "Jangan, jangan, aku akan tinggal, aku akan tinggal, kumohon biarkan Xiao Fei pergi." Sambil menangis histeris, ia berjalan mendekati Li Quanyou.
Li Quanyou memelototinya dengan geram. "Perempuan jalang, tadi kau berani menghalanginya terkena panah, dan sekarang demi dia kau bersetuju tinggal. Sepertinya hubungan kalian memang sudah sangat dekat ya? Katakan padaku, apakah kalian berdua sudah lama berselingkuh?" Ucapnya sambil mencengkeram rambut Kakak Perempuan Li hingga kepala wanita itu mendongak ke belakang.
Kakak Perempuan Li menjerit kesakitan, "Tidak, tidak, aku dan Xiao Fei tidak ada hubungan apa-apa," isaknya sambil menangis.
"Sampai sekarang pun kau masih melindunginya, akan kupukul mati kau!" Bentaknya disusul suara tamparan keras "Plak!" yang mendarat di wajah Kakak Perempuan Li, meninggalkan bekas lima jari merah yang langsung terlihat jelas.
"Keparat..." Dong Fei sudah tidak sanggup menahan diri lagi. Kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya berkerotok, matanya memerah padam, dan ia melangkah maju selangkah demi selangkah ke arah Li Quanyou. Li Quanyou mulai merasa gentar, ia buru-buru mengangkat tangan kanannya dan berkata, "Kau, kalau kau berani maju lagi, a-aku tidak akan segan-segan."
Namun Dong Fei bersikap seolah-olah tidak mendengarnya dan terus berjalan maju. Sementara itu dari luar agak jauh terdengar suara seseorang berbisik samar, "Bodoh..."
Saat Li Quanyou hendak menarik picu mekanisme senjatanya, tiba-tiba sesosok bayangan hitam melesat masuk ke dalam ruangan. Sebuah cambuk melayang dan memukul tangan kanan Li Quanyou. Terdengar suara "Syu!", dan panah lengan yang lain melesat menancap di dinding seberang hingga pangkal panahnya ambles masuk.
Tadi Dong Fei sebenarnya hanya nekat berjalan maju saja, dan begitu mendengar suara mendesing ia langsung menutup matanya rapat-rapat. Namun saat mendengar suara "Plak, pletak-pletak..." berkali-kali disertai teriakan, "Keparat, berani-beraninya mau membunuh suamiku, keparat, keparat...", ia pun tersadar.
Dong Fei berpikir dalam hati, siapa sebenarnya orang ini? Kenapa suaranya begitu akrab di telinganya? Begitu ia membuka mata, tampak seorang wanita berpakaian hitam sedang membelakanginya sambil menghajar Li Quanyou. Dari bentuk tubuhnya yang langsing saja ia sudah bisa menebak siapa orangnya.
"Ehem, ehem."
Wanita berpakaian hitam itu sedang asyik-asyiknya memukul ketika tiba-tiba mendengar suara deheman. Tangannya yang terangkat pun terhenti, lalu ia berbalik dengan cepat dan hendak bergegas pergi. Dong Fei yang matanya cepat dan tangannya sigap langsung mengulurkan tangan untuk menahannya seraya berkata, "Mau ke mana? Datang tanpa berpamitan dulu, memangnya mau langsung pergi begitu saja?"