Bab 164 Aku Memilikimu
Rumah sakit.
Suara-suara bising terdengar di telinga.
Su Mian perlahan membuka kedua matanya, yang tampak olehnya hanyalah warna putih.
Kenapa dia datang ke rumah sakit lagi?
Sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit, dia perlahan mendudukan dirinya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Benar, aroma disinfektan yang familier serta warna putih di mana-mana ini, tidak salah lagi, ini adalah rumah sakit.
Bukankah dia tadi sudah pergi ke luar negeri?
Kepalanya terasa kosong melompong.
Tepat pada saat itu, pintu terdorong dari luar.
Itu Gu Hongyun.
"Kamu sudah bangun."
"Ehm..." jawab Su Mian sambil tanpa sadar mengulurkan tangan, berniat menggaruk wajahnya yang terasa begitu gatal.
Dalam sekejap, Gu Hongyun melangkah maju dengan lebar dan meraih pergelangan tangan Su Mian.
"Kamu sedang alergi!"
Berkat pengingat Gu Hongyun itulah Su Mian akhirnya teringat.
Sepertinya sebelum jatuh pingsan, dia memang merasakan gejala-gejala alergi.
"Bagaimana mungkin aku bisa alergi? Makanan yang kupesan tadi sama sekali tidak mengandung mangga!"
Sebelum jatuh pingsan, Su Mian juga sempat merasa curiga di dalam hatinya, makanan yang dipesannya sama sekali tidak mungkin tercampur mangga, ataupun hal-hal yang berkaitan dengan mangga.
"Aku sudah menyelidikinya. Makanan yang kamu santap memang telah dicampuri oleh jus mangga, tetapi pihak restoran mengatakan bahwa itu bukan perbuatan mereka."
Ekspresi Gu Hongyun tampak sangat serius.
Melihat Gu Hongyun bersikap seperti itu, Su Mian merasa takut jika pria itu pergi melampiaskan kemarahan kepada orang lain, maka dia pun tersenyum dan berkata, "Mungkin itu tidak sengaja tercampur. Tidak apa-apa, bukankah sekarang aku baik-baik saja?"
"Aku hanya pergi sebentar, dan kamu hampir saja mati." Tatapan mata Gu Hongyun terpaku dingin pada Su Mian.
"Jangan-jangan kamu yang membawaku ke sini?"
"Kalau menunggu aku membawamu ke mari, kamu pasti sudah mati di tengah jalan." Gu Hongyun melangkah mendekati ranjang pasien dan duduk di tepiannya.
Sementara Su Mian merasa kepalanya pusing berputar, tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Tiba-tiba, jemari ramping Gu Hongyun mengusap rambut Su Mian.
"Apa yang harus kulakukan denganmu?"
"Ah..."
Wajah Su Mian langsung memerah dalam sekejap, dia hanya bisa terdiam kaku menatap wajah tampan bagai pahatan dewa di hadapannya itu.
"Lain kali sebaiknya biarkan kamu terus tinggal di dalam kamar saja."
Gu Hongyun menarik kembali tangannya, kelembutan di wajahnya telah lenyap dan berubah menjadi sangat dingin.
Su Mian pun langsung sadar bahwa Gu Hongyun sengaja berkata begitu untuk mengejeknya.
"Kamu ini sama saja dengan mengurungku secara terselubung! Aku ingin keluar, aku tidak mau tinggal sendirian di dalam kamar!"
"Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik dan jangan membuat masalah apa pun untukku!"
Membuat masalah...
Memang benar, sejak mereka berdua saling mengenal, dia telah menimbulkan banyak sekali masalah bagi Gu Hongyun.
Su Mian membuka mulutnya, tadinya ingin mengatakan sesuatu, namun kata-kata itu ditelannya kembali ke dalam perut. Dia hanya bisa mengangguk dengan patuh.
"Aku mengerti."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Su Mian tidak berkata apa-apa lagi, melainkan memalingkan kepala dan membelakangi pria itu.
Tatapan mata Gu Hongyun menatap dingin ke arah Su Mian yang berbaring di atas ranjang.
Pria itu sedikit mengernyit, ekspresinya tampak sedikit tidak nyaman.
"Bukannya itu maksudku."
"Tidak apa-apa, lagipula memang aku yang selalu membuatkan masalah untukmu." Suara Su Mian terdengar suram.
Dia tidak ingin memperlihatkan emosi marahnya, bagaimanapun juga hubungan di antara mereka berdua memang tidak setara.
"Kamu terlalu tidak bisa merawat diri sendiri," lanjut Gu Hongyun.
"Tapi aku toh bisa bertahan hidup sampai sebesar ini."
Ada amarah yang tertahan di dalam hatinya, bahkan terbesit keinginan untuk mengatakan bahwa tanpa dirimu pun aku bisa hidup dengan baik.
Namun, Su Mian merasa dirinya begitu memalukan; di dalam hati berpikir demikian, tetapi di bibir sama sekali tidak berani mengatakannya.
"Kalau begitu, hiduplah dengan baik pula di masa depan." Nada suara Gu Hongyun terdengar datar.
Mendengar kalimat itu, Su Mian merasa sedikit tidak nyaman di dalam hatinya. Dia tiba-tiba memalingkan kepala dan mendapati ada secercah ekspresi kesepian di wajah Gu Hongyun.
Su Mian membelalakkan matanya, namun ekspresi di wajah Gu Hongyun itu berlalu begitu cepat dalam sekejap mata.
"Istirahatlah." Nada dinginnya tetap sama seperti biasa, Gu Hongyun berbalik dan hendak pergi.
"Hei..."
Entah mengapa, dia merasakan firasat aneh bahwa Gu Hongyun sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Panggilan telepon yang diterima Gu Hongyun sebelum mereka berdua pergi ke luar negeri, sebenarnya dari siapa? Mengapa nada bicara Gu Hongyun terdengar sedikit berbeda saat berbicara dengan orang tersebut dibandingkan dengan yang lain?
Gu Hongyun menghentikan langkahnya.
"Aku lapar..."
Dia mengakui bahwa dirinya adalah orang yang tidak punya pendirian.
"Aku akan membelikannya untukmu..."
Gu Hongyun membuka mulutnya, dan sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, Su Mian sudah bangkit duduk dengan cepat, lalu mengenakan sandalnya dan menghampiri Gu Hongyun, mendongak untuk menatap pria itu.
"Bagaimana kalau kita pergi makan bersama saja? Aku kan hanya alergi, lagi pula kamu juga tidak tahu apa makanan kesukaanku, dan kita sedang berada di luar negeri ini."
Kemarin dia sebenarnya ingin makan bersama Gu Hongyun, tetapi tidak menyangka bahwa pria itu memiliki urusan mendadak sehingga kesempatan itu batal. Sekarang, setelah akhirnya mendapatkan kesempatan ini, Su Mian sama sekali tidak ingin melepaskannya.
Melihat ekspresi penuh antisipasi di wajah Su Mian, Gu Hongyun pada akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah.
Di rumah sakit itu kebetulan terdapat kantin, dan makanan yang disajikan umumnya bercitarasa sangat ringan, maka Gu Hongyun pun membawa Su Mian pergi makan ke kantin tersebut.
Di tengah lalu-lalang orang, mereka berdua duduk berhadap-hadapan, di dalam tatapan mata hanya ada bayangan satu sama lain.
Jika saat terbangun tadi dia mendapati dirinya berada di tempat asing seorang diri, mungkin dia akan merasa jauh lebih ketakutan dan bingung.
Namun, datang ke dunia baru ini sebenarnya tidak ada bedanya dengan pergi ke negeri asing, hanya saja dia telah bertemu dengan Gu Hongyun.
Usai makan, mereka berdua kembali berjalan-jalan santai mengelilingi area rumah sakit.
Jika saat berada di dalam negeri hubungan mereka berdua sama sekali tidak terlihat seperti pasangan kekasih, maka saat berada di luar negeri ini, mereka benar-benar tampak seperti sepasang kekasih sungguhan.
"Kenapa kamu tidak mencari pacar?"
Sebenarnya kalimat ini sudah lama tersimpan di dalam hatinya dan belum pernah ditanyakannya kepada Gu Hongyun.
Sebab di dalam alur cerita aslinya, Gu Hongyun tidak memiliki pasangan, tetapi kemunculannya sekarang justru berujung pada kebersamaan mereka berdua.
Mengenai masa lalu Gu Hongyun, Su Mian sebenarnya tidak tahu banyak.
Karena mereka berdua bukanlah tokoh utama, saat membaca alur ceritanya pun dia melewatkan sebagian besar detailnya, dan hanya tahu akhir dari cerita tersebut.
"Kamu ingin aku mencari pacar?" Gu Hongyun berbalik bertanya, ekspresi di wajahnya tetap tenang tanpa riak, seolah-olah itu adalah urusan orang lain.
"Aku hanya bertanya saja, sekadar penasaran."
Su Mian mengerti bahwa setiap kali Gu Hongyun melontarkan pertanyaan balik, tidak pernah ada hal baik yang menyertainya, jadi dia sudah terbiasa memberikan jawaban aman.
"Aku sudah memilikimu."
Su Mian seketika menghentikan langkahnya, tatapannya tampak panik dan menatap Gu Hongyun dengan tidak percaya.
"Ada apa?"
Tidak ada secuil pun perubahan pada wajah tegas dan dingin itu.
Su Mian mengamatinya dengan seksama, berniat mencari sedikit saja kelembutan dari wajah tersebut, namun nihil.
Jantungnya berdegup kencang bukan main pada detik itu, dia hanya bisa terdiam menatap pria di hadapannya ini. Jika saja dia tidak tahu bahwa ucapan pria itu diucapkan tanpa perasaan yang sebenarnya, mungkin dia sudah terhanyut dan jatuh cinta sepenuhnya.
"Tida... tidak apa-apa..."