Bab 127: Mengendap-endap
"Jangan pergi!"
Melihat Gu Hongyun hendak melangkah keluar, Jiang Yingrong segera menarik lengan pria itu dari belakang.
Gu Hongyun berkata dengan dingin, "Lepaskan."
"Jika kau keluar sekarang, kau tidak akan bisa menyelesaikan masalah apa pun. Lagi pula, kau tahu sendiri betapa keras kepalanya Su Mian itu."
Demi menahan Gu Hongyun, Jiang Yingrong sengaja memasang raut wajah korban agar pria itu merasa iba dan mengubah pandangannya.
"Dia memang keras kepala."
Gu Hongyun merasa ucapan Jiang Yingrong ada benarnya. Ia menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan kembali ke meja kerjanya untuk duduk.
"Lagipula, menurutku belum tentu bukan Su Mian pelakunya. Bukankah kau pernah mendengar rumor tentang apa yang dilakukan Su Mian sebelumnya?"
Melihat ekspresi Gu Hongyun yang tampak masam, Jiang Yingrong memutuskan untuk memanasi suasana.
"Dulu terdengar kabar bahwa Su Mian dipelihara oleh seorang pria tua, bahkan lebih dari satu. Jika dia benar-benar punya kemampuan, seharusnya dia sudah lama populer. Alasan mengapa dia bisa setenar sekarang hanyalah karena pengaruhmu."
Ucapan itu setengah benar dan setengah bohong. Reputasi Su Mian di masa lalu memang buruk, ditambah kepribadiannya yang dianggap bermasalah, sehingga munculnya skandal seperti itu dianggap wajar oleh banyak orang.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Gu Hongyun dingin.
"Maksudku, jika masalah ini tidak diselidiki dengan jelas, meskipun aku memberikan penjelasan, tidak akan ada orang yang akan percaya."
"Kau cukup berikan penjelasan yang baik. Selebihnya, aku yang akan membantunya menyelesaikan masalah ini."
"Kau..."
Jiang Yingrong tak bisa berkata-kata. Dulu ia menganggap Gu Hongyun sebagai pria yang sangat dingin, namun saat melihat bagaimana pria itu memperlakukan Su Mian, ia merasakan kehangatan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Pergilah." Seperti sebuah perintah, ucapan Gu Hongyun yang santai itu terasa begitu mutlak dan tak terbantahkan.
Jiang Yingrong sebenarnya ingin tinggal lebih lama, namun setelah mendengar kata-kata itu, ia merasa harga dirinya sudah tidak memungkinkan untuk tetap berada di sana.
"Ingat kata-katamu, dan kau harus menepati janji padaku. Kita sekarang berstatus pasangan, jadi jika ada yang bertanya, cukup diam saja. Aku tidak butuh kau membuktikan apa pun, cukup jangan menjawab..."
Dengan permintaan yang begitu memelas, Jiang Yingrong mengucapkannya dengan nada yang sengaja dibuat sedih. Gu Hongyun hanya mengangguk dingin.
Jiang Yingrong menatap Gu Hongyun dengan enggan, namun pria itu sudah menunduk dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Meski hatinya dipenuhi rasa tidak rela, Jiang Yingrong akhirnya melangkah pergi keluar ruangan, di mana tatapan semua orang tertuju padanya.
Banyak orang penasaran apa yang dikatakan Jiang Yingrong kepada Gu Hongyun, dan mengapa ekspresi Su Mian saat pergi tadi begitu masam. Mungkinkah Jiang Yingrong benar-benar bersama Gu Hongyun? Lalu, apakah insiden pelecehan yang menimpa Jiang Yingrong itu benar adanya?
Menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu, mereka tidak berani bertanya langsung dan hanya bisa berbisik-bisik dari jauh. Mendengar bisikan-bisikan tersebut, Jiang Yingrong hanya mencibir tanpa berkata apa-apa, lalu pergi meninggalkan gedung kantor itu sendirian.
Gu Hongyun tetap berada di ruangannya, melamun menatap ponselnya. Apa yang sebenarnya dipikirkan wanita itu?
Asistennya mendorong pintu dan masuk.
"Bos, apakah masalah itu benar-benar harus diselidiki? Saya rasa tidak akan mudah untuk melacaknya..."
"Harus diselidiki dengan tuntas siapa pelakunya," ujar Gu Hongyun tanpa mendongak, matanya masih terpaku pada ponsel.
"Tapi Nona Su tampaknya tidak peduli siapa yang melakukan hal itu..."
"Sekarang dia peduli," sahut Gu Hongyun dingin.
"Tapi saat Anda mengujinya tempo hari, dia juga merasa bahwa masalah ini bukan..."
"Kau tidak ingin bekerja lagi?" Gu Hongyun mendongak, tatapannya yang tajam membuat sang asisten bergidik.
"Saya akan segera melakukannya, segera..." Setelah mengucapkan itu, asisten tersebut buru-buru mundur dan keluar.
"Benar-benar membuatku kesal!" Su Mian menggerutu keras saat berjalan keluar.
Awalnya, saat melihat Jiang Yingrong bersama Gu Hongyun, ia bahkan sempat mendoakan kebahagiaan mereka. Namun, melihat mereka berduaan sekarang, Su Mian entah mengapa merasa sangat marah.
Apakah ia tipe orang yang akan melakukan hal sekeji itu? Semua orang tahu betapa mengerikannya perbuatan tersebut. Sekalipun ia membenci Jiang Yingrong, ia tidak akan sampai hati mencelakai seorang wanita hingga ke titik itu.
Jika ia melakukannya, apa bedanya ia dengan binatang? Memikirkan hal itu, Su Mian menggertakkan giginya. Mungkinkah Gu Hongyun benar-benar menganggapnya sebagai wanita jahat yang tidak punya hati nurani?
Semakin dipikirkan, ia semakin marah.
Su Mian berbelok masuk ke sebuah pusat perbelanjaan.
Awalnya ia ingin pulang, namun teringat kemungkinan akan bertemu Gu Hongyun membuatnya mengurungkan niat. Begitu masuk ke mal dan melihat kerumunan orang, hatinya justru merasa semakin gelisah.
Di mana ada kerumunan, di situ ada masalah. Mungkin akan lebih baik jika menjauh dari orang-orang. Namun, hidup di abad ke-21 menuntut seseorang untuk bersosialisasi; jika tidak, maka tidak akan ada jalan keluar.
Hidup ini sungguh berat, batin Su Mian sambil menghela napas.
Namun tepat pada saat itu, Su Mian tiba-tiba melihat sosok yang familier sedang berjalan dengan mencurigakan di lantai dasar mal.
Chen Yue.
Sudah lama sekali ia tidak melihatnya.
Chen Yue tampak seperti pencuri yang ketakutan, seolah khawatir sedang diikuti seseorang. Melihat gelagatnya yang mencurigakan, Su Mian tidak bisa menahan diri untuk membuntutinya.
Awalnya ia berniat menjaga jarak dengan kedua tokoh utama itu, namun karena mereka selalu saja muncul di hadapannya, Su Mian tidak punya pilihan selain perlahan-lahan mencari tahu tentang kehidupan mereka.
Sejak ia datang ke dunia ini, segalanya seolah berubah. Aura tokoh utama tampaknya perlahan memudar, namun kejadian-kejadian penting seolah tetap tidak berubah, hanya bergeser sedikit demi sedikit.
Ia tetaplah sekadar pemeran tambahan. Apa yang ia alami saat ini tidak pernah dialami Chen Yue; mereka berdua hidup dengan aman dan mungkin saja mengalami banyak hal baik.
Sambil menuruni tangga, dari kejauhan Su Mian melihat Chen Yue sedang menelepon. Su Mian segera berlari dan bersembunyi di balik pilar di belakang Chen Yue.
"Masalah ini harus diselesaikan tanpa cela. Setelah ini selesai, aku akan memberikan uang dalam jumlah besar agar kau bisa pergi jauh dan jangan pernah kembali ke Tiongkok lagi."
Hal apa yang sebenarnya mereka rencanakan sampai-sampai tidak boleh lagi berada di Tiongkok? Jangan-jangan mereka melakukan tindakan kriminal?