Bab 76: Mengambil Sarang Orang Lain
Untuk memberikan relaksasi bagi para pemain, sutradara memutuskan mengajak semua orang ke pegunungan untuk berendam di pemandian air panas. Awalnya, Su Mian merasa syuting adalah pekerjaan yang sangat melelahkan, namun bekerja sama dengan sutradara seperti ini membuatnya merasa sangat beruntung. Sebelumnya, Su Mian selalu menjadi bahan perdebatan, tapi sutradara ini seolah-olah menjadi penemu bakat yang benar-benar mengerti dirinya.
Tidak peduli apa kata orang lain, menurut Su Mian, sutradara ini benar-benar berbeda dengan yang lain. Pemikirannya pun tidak sama dengan para sutradara lain, itulah sebabnya drama yang dihasilkannya selalu istimewa dan mudah disukai banyak orang.
Karena akan berendam di pemandian air panas, Su Mian merasa perlu memberi tahu Gu Hongyun.
“Halo?”
Su Mian berhasil menghubungi Gu Hongyun lewat telepon. Beberapa waktu terakhir, Gu Hongyun selalu sibuk di kantor, entah harus ke luar negeri atau ke luar kota, hampir tidak pernah punya waktu untuk pulang, jadi Su Mian hanya bisa menghubunginya lewat telepon.
“Ada apa?”
“Produksi drama kami mengadakan acara ke pemandian air panas,” jawab Su Mian jujur.
“Baik, aku sudah tahu,” jawab Gu Hongyun datar.
“Eh?” Jawaban yang begitu singkat membuat Su Mian agak terkejut. Apa tidak ada kata lain darinya?
“Ada hal lain?” Nada bicara Gu Hongyun mulai terdengar tidak sabar.
“Tidak... tidak ada lagi…”
“Kalau begitu, aku tutup dulu, aku masih ada urusan.”
Setelah mengatakan itu, Gu Hongyun langsung memutus sambungan telepon. Su Mian yang masih memegang ponsel yang layarnya sudah mati, hanya bisa menatap bingung.
Awalnya, Su Mian mengira Gu Hongyun akan mengatakan sesuatu untuk melarangnya, tapi ternyata hari ini Gu Hongyun begitu santai dan tidak mempermasalahkannya.
Kini Su Mian pun menyadari, ia sebenarnya tidak tahu apa yang dilakukan Gu Hongyun di luar sana. Walaupun ia tahu pekerjaan Gu Hongyun seperti apa, namun ia sama sekali tidak tahu seperti apa kesehariannya saat bekerja.
Gambaran tentang seorang pengusaha sukses yang biasanya ia ketahui hanya berasal dari berita atau novel. Sementara Gu Hongyun yang sebenarnya, Su Mian belum pernah melihatnya benar-benar serius bekerja.
Mungkin memang seperti dalam novel, setiap hari pergi ke berbagai tempat, menggoda perempuan, atau berkenalan dengan wanita-wanita cantik. Entah mengapa, memikirkan hal itu membuat hati Su Mian terasa sedikit perih.
Rasanya seperti memiliki sesuatu, tapi tidak yakin benar-benar memilikinya. Meski Gu Hongyun selalu bersamanya, Su Mian tahu pada akhirnya mereka akan berpisah.
Di antara mereka tidak ada rasa, hanya karena terikat oleh kontrak belaka. Ikatan ini terlalu rapuh, sedikit saja masalah bisa memisahkan mereka. Su Mian sendiri sudah memikirkan apa yang akan ia lakukan bila suatu hari mereka benar-benar berpisah.
Hidup Gu Hongyun sangat sederhana, setiap hari hanya bekerja lalu bersama Su Mian.
Pernah terlintas di benak Su Mian untuk bertanya apakah Gu Hongyun benar-benar menginginkan kehidupan seperti ini, namun ia kemudian berpikir, mungkin saja Gu Hongyun yang tampak bebas dan liar itu sebenarnya orang yang kaku dan sudah terbiasa dengan hidup seperti ini, bahkan mungkin inilah hidup yang sebenarnya ia inginkan.
Akhirnya, Su Mian tetap tidak jadi menanyakannya.
Dua hari kemudian, tibalah waktunya bagi para pemain drama untuk pergi berendam di pemandian air panas.
Su Mian sudah bersiap-siap sejak pagi, membawa semua perlengkapan untuk liburan, lalu berangkat ke gunung.
Gunung Musim Gugur merupakan salah satu gunung paling terkenal di daerah itu. Biasanya, tempat itu selalu ramai, namun karena saat itu masih hari kerja, pengunjung jadi berkurang banyak.
Mereka memilih pemandian air panas yang cukup tenang.
Su Mian membawa ransel menuju kamar yang sudah dibagikan. Namun baru sampai depan pintu, ia mendapati kamar itu sudah penuh dengan berbagai barang bawaan, dan di dalamnya berdiri seseorang yang sangat dikenalnya.
“Mengapa kamu ada di sini?” tanya Su Mian dengan nada tidak senang, alisnya berkerut.
“Oh, aku lupa bilang padamu, aku sudah menempati kamar ini. Aku tidak biasa tidur di tempat yang menghadap matahari,” jawab Chen Yue sambil tersenyum tipis pada Su Mian.
“Kamar ini sudah dibagikan dengan jelas, dan kuncinya ada padaku.”
Chen Yue pun memegang sebuah kartu kunci, tampaknya ia meminta kepada petugas.
“Bukankah tinggal tukar kamar saja? Aku berikan kunciku padamu.”
Sembari berkata demikian, Chen Yue menyodorkan kartu kunci kepada Su Mian, lalu hendak mengambil kartu dari tangan Su Mian. Namun Su Mian mundur selangkah sembari mengangkat tinggi kartu kuncinya, tak membiarkan Chen Yue mengambilnya.
“Kamu lucu sekali ya? Aku tidak pernah bilang mau tukar kamar denganmu. Kalau kamu tidak suka kamar yang menghadap matahari, bukan berarti aku suka!”
Sambil berkata demikian, Su Mian langsung mendorong kopernya masuk ke kamar, lalu menarik keluar barang-barang milik Chen Yue.
“Kamu! Bisa tidak kamu jangan seenaknya begitu? Aku yang datang duluan ke sini!”
“Kalau semua hal di dunia ini hanya mengandalkan siapa yang datang duluan, lalu polisi dan peraturan masih diperlukan? Kamu kan bisa saja mengandalkan status putri orang kaya untuk melakukan apa pun yang kamu mau?”
Su Mian menyilangkan tangan di dada, menatap Chen Yue dengan dingin.
“Sifat manja seorang putri? Bukankah kamu sendiri yang punya sifat itu? Semua yang kamu lakukan jelas aku ingat, apa kamu sudah lupa? Sekarang malah berpura-pura jadi orang suci?”
“Hanya kamu yang suka mengingat semua itu. Lagi pula, semua itu sudah berlalu. Tidak ada pengaruhnya bagimu, kan? Kalau memang ada, kamu tidak mungkin bisa bicara padaku dengan tenang seperti sekarang. Oh, bukan tenang, tapi dengan cara seenaknya seperti ini.”
“Kamu...”
“Apa pun yang kamu katakan hari ini, aku tidak akan menyerahkan kamar ini padamu.”
Andai saja sejak awal Chen Yue berbicara dengan baik dan tidak bersikap seperti berusaha merebut hak orang lain, mungkin Su Mian akan menyerahkan kamar itu. Namun sikap Chen Yue benar-benar membuat Su Mian kesal. Ia sangat tidak suka melihat perempuan bersikap seperti itu.
Lagi pula, ia bukan laki-laki yang bisa menerima sikap manja perempuan, apalagi hubungan mereka tidak sedekat itu. Atas dasar apa Chen Yue merasa berhak merebut kamarnya?
“Kamu...”
Chen Yue sebenarnya masih ingin bicara, tapi melihat wajah Su Mian yang dingin dan tak bisa diganggu gugat, akhirnya ia hanya bisa menggertakkan gigi dan pergi dengan kesal.
Su Mian sendiri tidak ingin memperbesar masalah, apalagi mereka berada dalam satu produksi. Kalau sampai bertengkar, pasti akan jadi bahan tertawaan orang lain dan membuat sutradara malu. Ia hanya ingin memberikan sedikit pelajaran pada Chen Yue.
Setelah membereskan semua barang, Su Mian mengambil handuk lalu pergi ke pemandian air panas yang tak jauh dari kamarnya untuk berendam.