Bab 150 Rekaman Pengawasan
Saat guru itu melontarkan pertanyaan tersebut, anak-anak lain yang tadinya riang gembira tiba-tiba menundukkan kepala dan tidak berani bersuara lagi.
"Ada apa dengan kalian? Aku bertanya, apakah tindakan Xiaobai memukul orang itu benar atau salah?"
Mendengar suara guru yang garang itu, anak-anak tetap terdiam.
"Biar aku saja yang bertanya."
Su Mian berjongkok untuk menyamakan tinggi matanya dengan anak-anak itu, lalu bertanya dengan nada lembut, "Kenapa Xiaobai berkelahi dengan anak itu? Apakah dia menghajar anak itu demi membela kalian? Menurut kalian, apakah Xiaobai berbuat salah?"
Mendengar perkataan Su Mian, anak-anak itu barulah dengan patuh mengangkat kepala mereka. Mereka tanpa sadar melirik ke arah sang guru, tampak ragu-ragu dan takut untuk berbicara.
"Kalian tenang saja, dia tidak mungkin memukul kalian. Kalian adalah anak-anak yang paling menggemaskan, jadi utarakanlah isi hati kalian yang paling jujur, mengerti?"
"Menurutku Xiaobai tidak salah. Xiaobai berkelahi dengan orang itu demi membela kami. Xiaobai selalu menjadi anak yang sangat penurut!"
"Aku juga sangat menyukai Xiaobai, tapi kami tidak bisa mengalahkan anak itu. Anak itu terus-menerus menindas kami, tetapi guru sama sekali tidak peduli!"
"Aku ingin Xiaobai menjadi guruku, karena Xiaobai tahu lebih banyak daripada guru. Dia juga selalu melindungi kami saat menghadapi masalah, sementara guru hanya tahu berselancar di ponselnya dan tidak peduli dengan apa pun!"
Guru itu tidak pernah menyangka murid-muridnya akan mengucapkan kata-kata seperti itu. Terlebih lagi, ekspresi di wajah anak-anak itu terlihat begitu tulus. Anak-anak biasanya tidak bisa berbohong, dan dalam situasi seperti ini, apa yang mereka ucapkan adalah kebenaran dari lubuk hati mereka.
"Kalian..." Guru itu kehabisan kata-kata.
"Itulah isi hati yang sebenarnya dari anak-anak ini. Jika kau benar-benar ingin memperlakukan Xiaobai seperti kau memperlakukan anak-anak lainnya, kuharankan jangan kau lakukan. Karena Xiaobai adalah anak yang sangat dewasa, dia tahu betul apa yang telah ia perbuat. Sebaliknya, kau sebagai orang dewasa justru tidak tahu apa yang telah kau lakukan!"
"Aku seorang guru, seorang guru! Apakah perelu kau gurui cara aku mengajar?"
Guru perempuan itu tampak tersulut emosinya. Dadanya naik turun dengan cepat, dan ia hampir melayangkan tangan untuk memukul.
"Kau masih punya muka mengaku sebagai guru? Jika kau merasa dirimu benar-benar seorang guru, saat kau bermain ponsel di depan pintu tadi, apakah kau tidak menyadari muridmu hampir jatuh dari jungkat-jungkit? Kalau bukan karena Xiaobai, anak itu sudah celaka sejak tadi!"
"Aku..." Guru itu tidak dapat membela diri.
"Aku tahu di zaman sekarang semua orang tidak bisa lepas dari ponsel, tapi begitu kau memilih menjadi seorang guru, kau harus mendedikasikan dirimu secara bertanggung jawab pada setiap hal, alih-alih langsung menghakimi seperti apa kepribadian seorang anak hanya berdasarkan hasil akhirnya. Di matamu, Xiaobai adalah anak nakal, tetapi di mata orang lain, Xiaobai sama sekali bukan anak nakal!"
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Su Mian menunduk menatap Xiaobai dan tersenyum tipis.
"Xiaobai adalah kebanggaanku. Sebagai kakaknya, aku bangga padanya. Terlepas dari insiden kali ini di mana cara Xiaobai mungkin sedikit kurang tepat, aku yakin niatnya baik, tidak seperti yang kau tuduhkan bahwa dia sengaja memukul orang lain. Lagipula, caramu memperlakukan Xiaobai di dalam grup obrolan sangat jelas kulihat. Guru sepertimu sama sekali tidak memenuhi syarat!"
"Kau!" Guru perempuan itu masih ingin mendebat.
"Aku tahu kau sangat marah sekarang, tapi kemarahan itu hanya muncul karena aku telah membongkar kedokmu. Tidakkah kau merenungkan dirimu sendiri setelah kehilangan etika seorang pendidik?"
"Aku tidak pernah butuh orang lain mengajariku cara menjadi guru. Aku punya sertifikat pendidik dan telah lulus berbagai macam ujian sertifikasi. Aku tidak perlu membuktikan apa pun kepadamu untuk membuktikan bahwa aku adalah guru yang baik!"
Guru itu merasa sangat kesal hingga hilang akal. Ia menarik semua anak-anak itu untuk berdiri, lalu berkata dengan nada dingin, "Insiden kali ini murni kesalahan Xiaobai. Dia memukul orang, dan semua orang adalah saksinya. Oleh karena itu, Xiaobai resmi dikeluarkan mulai sekarang. Sekolah kami sama sekali tidak akan pernah menerima Xiaobai lagi!"
Selesai berkata demikian, guru itu berniat mendorong Su Mian agar keluar dari lingkungan sekolah. Namun, Su Mian berdiri dengan dingin dan mengibaskan tangan guru yang mendorongnya itu dengan kuat.
"Soal apakah Xiaobai benar atau salah, bukan wewenangmu untuk memutuskan. Kau hanya seorang guru di sini, masih ada kepala sekolah. Apa kau pikir bisa mengusirku begitu saja? Kebenaran dari segalanya akan terungkap, karena di dunia ini ada benda yang namanya kamera pengawas."
Sambil berkata demikian, Su Mian menunjuk ke arah sebuah kamera pengawas di sebelah kanan. Su Mian sudah menyadarinya sejak pertama kali datang. Jika segala sesuatu benar-benar terjadi di sini, maka kamera pengawas pasti telah merekam semuanya. Tidak perlu repot-repot membuktikan apa pun, karena Su Mian percaya pada Xiaobai.
Begitu melihat kamera pengawas tersebut, guru perempuan itu bagaikan menemukan jerami penyelamat di tengah lautan.
Guru perempuan itu mencibir dan berkata, "Baguslah kalau begitu, biar kau bisa melihat sendiri bagaimana si Xiaobai ini melukai teman sekelasnya dan menolak meminta maaf. Sudah sekian lama berlalu, baru sekarang kau dipanggil sebagai kakaknya. Jika Xiaobai masih ingin melanjutkan sekolahnya, orang tuanya yang harus datang ke sini, bukan wanita tidak tahu apa-apa sepertimu yang datang kemari hanya untuk mencari keributan!"
Sambil berbicara, guru perempuan itu bergegas mencari petugas keamanan untuk membuka rekaman kamera pengawas. Sementara itu, Su Mian berinisiatif mencari kepala sekolah.
Kepala sekolah menyadari bahwa jika masalah ini dibiarkan membesar, hal itu pasti akan berdampak buruk pada reputasi sekolah secara keseluruhan. Oleh karena itu, ia berniat meredam masalah besar menjadi kecil dan masalah kecil menjadi tidak ada. Kendati demikian, sebelum kebenaran diselidiki secara tuntas, mereka tidak boleh bersikap tidak adil pada Xiaobai, sehingga kepala sekolah memutuskan untuk memeriksa rekaman kamera pengawas.
Di dalam rekaman kamera pengawas, terlihat jelas bahwa Xiaobai memang berkelahi dengan anak tersebut. Namun, jika rekaman diputar sedikit lebih awal, terlihat jelas pula pemicu pertengkaran mereka adalah karena anak tersebut memang menindas teman sekelasnya, bahkan tidak hanya satu atau dua orang anak. Ketika Xiaobai muncul, anak itu masih belum berhenti dan terus menindas teman-teman sekelasnya.
Xiaobai sempat bersabar cukup lama dan bahkan memb