Bab 154 Penggemar Fanatik
Duh, Nenek kecilku sayang, tahukah kamu apa yang sedang kamu katakan? Feng Qing sangat terkejut hingga nyaris menjatuhkan kacamatanya.
Sementara Su Mian hanya tersenyum jenaka, tentu saja dia tahu betul apa yang sedang diucapkannya.
Anak itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku, dia hanya tinggal sementara di rumahku. Sekarang saat aku mengantarnya ke sekolah, orang-orang malah salah paham seperti ini. Kamu harus segera mengurus humasnya, kalau tidak, untuk apa aku mempekerjakanmu sebagai asisten?
Semula dia mengira telah terjadi suatu hal besar, rupanya hanya disangka melahirkan anak di luar nikah?
Dirinya bertindak lurus dan berpegang teguh pada prinsip, memangnya dia harus takut pada gunjingan orang lain?
Belakangan ini situasinya memang sedang pelik. Kamu bilang syuting film barumu ini benar-benar penuh liku. Sebelumnya kamu mengalami berbagai macam kejadian, dan sekarang giliran Gu Tingchen. Kapan semua ini akan berakhir?
Mendengar keluh kesah Feng Qing, Su Mian hanya mengangkat bahunya pasrah.
Dia juga ingin segera menyelesaikan syuting film ini, tetapi masalah yang datang terlalu bertubi-tubi.
Satu-satunya yang ada di benaknya sekarang adalah pergi sejenak untuk menenangkan diri. Entah harus pergi ke mana, berwisata sepertinya adalah pilihan yang bagus.
Feng Qing, bukankah akhir-akhir inijadwalku sedang kosong? Jika tidak ada apa-apa, aku berniat pergi berwisata.
Feng Qing merenung sejenak. Su Mian memang sedang tidak memiliki kesibukan apa pun belakangan ini. Akibat penundaan syuting film terbarunya, praktis tidak ada adegan yang bisa diambil saat ini. Ditambah lagi dengan arah opini publik sebelumnya, imej negatif Su Mian menjadi telalu banyak.
Jika ingin memulihkan keadaan seperti diriku, sebenarnya masih sempat, tetapi itu membutuhkan waktu tertentu. Su Mian sendiri sangat memahami hal tersebut, itulah sebabnya dia berniat untuk pergi berlibur sejenak.
Kamu boleh saja berwisata, tapi aku tidak tenang jika kamu pergi sendirian. Bagaimana kalau aku ikut denganmu saja?
Sudah kubilang ini namanya berwisata, tentu saja aku ingin pergi sendirian untuk mencari ketenangan. Aku pasti tidak ingin kamu ikut mendampingi. Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa, dan aku juga tidak akan membuat masalah untukmu. Kejadian-kejadian sebelumnya hanyalah sebuah keinsidenan semata. Kurasa pergi untuk sementara waktu adalah hal yang baik bagi kita berdua.
Dia ingin menyendiri untuk merapikan jalan pikirannya. Bagaimanapun juga, begitu banyak hal telah terjadi, dan yang tidak dipahami Su Mian adalah bagaimana alur cerita selanjutnya akan berkembang.
Banyak alur cerita yang diketahuinya justru tidak terjadi, malah bergeser ke arah yang memburuk. Bagi Su Mian, tentu saja dia berharap semua orang bisa baik-baik saja, bukan hanya untuk mengubah nasibnya sendiri, melainkan juga mengubah nasib orang lain.
Namun, mengubah takdir seseorang bukanlah hal yang mudah.
Dalam perjalanan pulang dari kantor, Su Mian berjalan dengan pikiran melayang-layang entah memikirkan apa, hingga nyaris tertabrak mobil.
Di jalan raya yang dipadati kendaraan, pengemudi mobil tersebut turun sambil mengomel penuh amarah.
Kamu tidak punya mata ya?
Maaf, maaf... Su Mian buru-buru meminta maaf.
Eh? Bukankah kamu artis terkenal itu... siapa namanya tadi?
Mendengar ucapan orang itu, Su Mian membatin dalam hati, gawat, jangan-jangan dia ketahuan?
Memikirkan hal itu, Su Mian buru-buru melambaikan tangannya.
Maaf, kamu salah orang.
Su Mian melarikan diri dengan panik, tetapi orang itu sepertinya sudah yakin bahwa Su Mian adalah artis tersebut dan terus mengekorinya.
Setelah berlari beberapa saat, Su Mian menoleh ke belakang dan merasa orang itu tampak sangat familiar, seolah pernah melihatnya di suatu tempat, tetapi seperti tidak pernah mengenal.
Tepat pada detik saat Su Mian menoleh ke belakang, orang itu langsung mengenalinya.
Su Mian, kamu benar-benar Su Mian!
Melihat dirinya sudah dikenali, Su Mian tidak lagi berniat menyembunyikan diri dan dengan lapang dada mengakui identitasnya.
Aku tidak ingin orang lain mengetahui identitasku. Apakah kamu penggemarku?
Mendengar pertanyaan Su Mian tersebut, pria itu langsung berkata dengan penuh antusias, Aku memang penggemarmu, apa kamu tidak ingat padaku?
Mendengar ucapan pria itu, Su Mian justru merasa sangat penasaran, dia benar-benar tidak ingat memiliki penggemar seperti ini.
Waktu acara konferensi pers tempo hari, seseorang tidak sengaja mendorongmu, akulah yang membantumu berdiri.
Su Mian mencoba mengingat-ingat dan menyadari memang ada kejadian seperti itu. Dia menatap penggemar tersebut dengan pemahaman yang tiba-tiba.
Terima kasih ya.
Sama-sama, sama-sama. Aku sudah lama menjadi penggemarmu, kuharap kedepannya kariermu semakin membaik. Meskipun sekarang sedang menghadapi beberapa masalah, aku yakin kamu pasti bisa mengatasi semua ruginya itu.
Penggemar itu tampak sangat bersemangat dan meminta maaf atas kata-kata yang diucapkannya tadi.
Tadi aku juga tidak sengaja makanya sampai mengucapkan kata-kata seperti itu, aku tidak tahu kalau orang yang ada di tempat kejadian tadi adalah kamu...
Tidak apa-apa, masalah ini memang salahku dari awal. Kalau bukan karena aku, kamu juga tidak mungkin sampai melontarkan kata-kata kasar.
Su Mian menatap penggemar pria itu dengan perasaan bersalah, membuat sang pria semakin menundukkan kepala dan tidak berani menatapnya.
Mengingat kita begitu kebetulan bertemu, bagaimana kalau kita berfoto bersama? Namaku Wang Jie.
Baiklah. Su Mian menyetujuinya begitu saja, dan keduanya pun berfoto bersama.
Kalau tidak ada apa-apa lagi, aku pergi dulu ya, aku masih... ada urusan...
Dia sungguh tidak tahu bagaimana cara mengobrol dengan penggemar. Meskipun mereka sama-sama orang biasa, terkadang berbicara dengan orang asing selalu terasa sedikit canggung.
Kalau begitu, bolehkah kita bertukar nomor kontak?
Ah? Su Mian belum pernah mendengar penggemar mengajukan permintaan seperti itu.
Kamu jangan salah paham, aku bukan tipe *sasaeng* atau penggemar fanatik yang aneh. Aku hanya ingin mendekatkan jarak dengan kita, cukup bertukar WeChat saja. Aku tidak akan mengganggumu di waktu biasa, hanya ingin punya WeChat-mu saja, dan aku tidak akan memberitahu orang lain...
Sorot mata Wang Jie menyiratkan permohonan. Su Mian benar-benar tidak tahu bagaimana cara menolaknya, sehingga mau tidak mau dia bertukar akun WeChat dengannya.
Terima kasih banyak ya. Aku tidak menyangka kamu adalah orang yang begitu ramah, padahal tadinya aku pikir kamu orangnya agak dingin.
Mendengar penilaian Wang Jie, Su Mian tidak menyangka bahwa pria itu menganggapnya apa adanya, padahal dia sendiri tidak pernah ambil pusing dengan penilaian para penggemar.
Di mata kalian, aku ini orang yang dingin ya?
Bukan begitu juga, hanya saja penampilanmu terkesan anggun dan dingin. Biasanya caramu memperlakukan orang lain pasti tidak dingin, tapi di mata kami kamu tampak seperti peri yang tidak tersentuh oleh urusan duniawi.
Su Mian justru merasa itu bukanlah sebuah pujian yang bagus, karena seorang artis sangat membutuhkan simpati publik. Jika simpati dari orang awam saja sudah hilang, buat apa bersikap dingin?
Baiklah, apa yang kamu katakan ini akan kuingat di dalam hati. Hari sudah semakin larut, cepatlah pulang ke rumah, aku juga mau pulang.
Su Mian melambaikan tangan ke arahnya, lalu berbalik dan melangkah pergi.
Di sepanjang perjalanan pulang, Su Mian terus memikirkan ucapan penggemar pria tadi. Sepertinya dia memang harus sedikit mengubah perangainya.
Namun, saat berjalan di tengah perjalanan, Su Mian tiba-tiba merasa seolah-olah ada seseorang yang sedang membuntutinya dari belakang.