Bab 158: Rusak Satu Ganti Sepuluh
Mendengar perkataan Rambut Cepak, aku tertegun. Situasi apa ini?
Apakah semua ini ulah sang pemilik rumah? Jika benar demikian, pemilik rumah itu benar-benar bajingan! Bukan sekadar bajingan biasa, melainkan bajingan sejati yang tidak punya hati nurani.
Sebelumnya, aku memang pernah mendengar tentang beberapa pemilik rumah yang buruk. Ketika melihat bisnis kita bagus, mereka menaikkan harga sewa secara gila-gilaan tanpa memedulikan batasan perjanjian sewa.
Namun, para pemilik rumah itu setidaknya belum busuk sampai ke akar-akarnya. Mereka masih membiarkanmu berbisnis dan membiarkanmu mencari uang.
Akan tetapi, pemilik rumah yang kami temui kali ini memiliki moralitas dan watak yang sudah busuk hingga ke akar-akarnya. Bukan hanya bersekongkol dengan para preman jalanan untuk merusak toko, dia juga sengaja memeras uang para pedagang.
Sebagaimana pepatah mengatakan, memutus sumber rezeki seseorang sama dengan membunuh orang tua sendiri. Pemilik rumah ini sekarang sedang memutus sumber rezekiku dan membunuh orang tuamu.
Pemilik rumah ini harus diberi pelajaran yang setimpal, dan itu harus membuatnya mengingatnya seumur hidup.
Pantas saja kemarin saat mengobrol dengan Meng Kaifeng, pemilik rumah itu meminta Meng Kaifeng mengeluarkan uang sepuluh ribu yuan, lalu membantu menyewakan kembali tempat itu kepada orang lain.
Jika dikatakan dengan nada yang lebih berat, pemilik rumah sialan ini sedang melakukan penipuan.
"Kakak, sebenarnya semua ini bukan urusan kami. Kami juga... juga..." Rambut Cepak menatapku dengan gemetar dan berkata terbata-bata.
"Apakah yang ingin kau katakan adalah bahwa kalian terpaksa?" Aku tersenyum dingin, menatap Rambut Cepak dengan tatapan penuh selidik.
Aku mengerti maksud Rambut Cepak. Ia ingin aku pergi meminta pertanggungjawaban kepada pemilik rumah, lalu melepaskan mereka.
Mana ada hal yang sebaik itu!
Melukai saudara-saudaraku, merusak mesin-mesinku, lalu hanya dengan alasan "ini disuruh oleh pemilik rumah" mereka ingin lolos dari tanggung jawab? Itu benar-benar mimpi di siang bolong.
"Tidak, tidak, tidak! Bukan itu maksudku! Aku..." Rambut Cepak bingung harus menjelaskan bagaimana.
Aku menatap Rambut Cepak dengan dingin. "Meskipun kau hanyalah seekor anjing yang menggigit kami atas suruhan sang majikan, aku tidak bisa melepaskanmu hanya karena kau disuruh oleh majikanmu. Bagaimanapun juga, kau telah menggigit kami!"
Segera setelah itu, aku berkata lagi, "Dan kurasa kau sama sekali bukan anjing pemilik rumah itu. Kau dan pemilik rumah seharusnya memiliki hubungan kerja sama. Kau bertanggung jawab mengganggu kami, dan setelah berhasil mengusir kami, kalian akan membagi uang kami bersama pemilik rumah, bukan?"
Setelah kedoknya kubongkar, wajah Rambut Cepak menjadi pucat pasi karena ketakutan. Ia menundukkan kepalanya dengan gemetar.
Aku berkata kepada Rambut Cepak, "Kemarin aku sudah menghitungnya untuk kalian. Kalian telah merusak total delapan mesin arkade milik kami. Setiap mesin harganya berkisar antara delapan ratus yuan hingga dua ribu yuan. Jika dilipatgandakan sepuluh kali lipat, tepatnya menjadi sembilan puluh lima ribu tiga ratus yuan! Sebelum matahari terbenam hari ini, kuharap kalian bisa mengumpulkan uang sejumlah ini, jika tidak..."
Kelanjutan kalimatnya tidak kukatakan, biarkan Rambut Cepak memikirkannya sendiri!
Begitu mendengar bahwa aku meminta uang lebih dari sembilan puluh ribu yuan darinya, wajah Rambut Cepak berubah menjadi hijau.
"Kakak, kumohon, berbaik hatilah, lepaskanlah kami! Dari mana kami bisa punya uang sebanyak itu?" kata Rambut Cepak dengan nada seperti hendak menangis, matanya penuh dengan kepedihan dan keputusasaan.
Aku mengangkat sudut bibirku, menampilkan senyuman dingin yang sinis. "Saat kalian menghancurkan ruang arkade dan mencelakai kami, mengapa kalian tidak pernah berpikir untuk memberi kami jalan keluar?"
"Saat kau dan pemilik rumah menghitung uang bersama, apakah kalian pernah berpikir bahwa uang itu adalah hasil jerih payah kami?"
"Ketika para pedagang sebelumnya kalian tipu hingga jatuh miskin, apakah kalian pernah memikirkan mereka?"
"Sialan, sekarang kau malah meminta, agar aku merasa kasihan padamu! Kau, seorang perampok sekaligus penipu, masih punya muka mengatakan hal semacam itu kepadaku? Sialan kau!"
Semakin aku berbicara, semakin aku merasa marah. Aku tidak dapat menahan diri untuk melayangkan sebuah tendangan ke batang hidungnya yang sebenarnya sudah patah.
Dengan teriakan "Argh", Rambut Cepak menjerit kesakitan, lalu dengan suara "gedebuk", bagian belakang kepalanya menghantam lantai setelah aku menendangnya.
Darah segar berwarna merah pekat langsung mengalir dari bagian belakang kepalanya.
Rambut Cepak menggunakan tangan kirinya untuk menutupi hidungnya, sementara tangan kanannya menutupi bagian belakang kepalanya. Sambil menangis ia berkata, "Kakak, aku tidak berani lagi! Aku benar-benar tidak berani lagi! Kumohon, berilah aku jalan hidup!"
Aku menunjuk ke arah Rambut Cepak dan memarahinya dengan suara tajam. "Jalan hidup kepalamu! Kau membunuh orang, tetapi meminta keluarga korban memberimu jalan hidup. Betapa tidak tahu malunya kau hingga bisa mengucapkan kata-kata seperti itu!"
Semula, ketika melihat betapa menyedikannya keadaan Rambut Cepak, Xiaoyu berniat membantunya memohon belas kasihan. Namun, setelah mendengar kata-kataku, niat itu langsung diurungkan.
Rambut Cepak dan pemilik rumah entah telah merusak berapa banyak pedagang. Beberapa pedagang bahkan tabungan seumur hidupnya terkuras habis, dan kini hidup dalam lilitan utang. Sampah seperti ini tidak diseret ke luar untuk ditembak mati saja sudah merupakan wujud kemurahan hati yang luar biasa, namun mereka masih berani berharap aku akan memberi mereka jalan keluar. Itu benar-benar mimpi di siang bolong.
Aku menunjuk Rambut Cepak dan berkata, "Cepat kumpulkan uang untukku! Jika tidak bisa mengumpulkannya, akan kuenyahkan nyawamu!"
Rambut Cepak tersenyum pahit. "Kakak, kami benar-benar tidak punya uang!"
"Tidak punya uang? Hmph! Kalian sebelumnya telah memeras begitu banyak orang, kemana semua uang itu pergi?" Aku mendelik tajam ke arah Rambut Cepak, sorot mataku memancarkan kilau dingin.
Rambut Cepak tidak berani menatap mataku. Ia menundukkan kepala dan berkata dengan gemetar, "Kakak, uang hasil memeras semuanya sudah kami habiskan untuk bersenang-senang dengan wanita dan berjudi!"
Kemarahanku langsung memuncak seketika mendengar ucapan Rambut Cepak.
Sampah-sampah seperti ini, setelah berhasil menipu uang keringat orang lain, ternyata malah pergi mencari wanita pelipur lara dan berjudi.
Jika orang-orang seperti ini tidak pantas mati, lalu siapa yang pantas mati?
Aku tersenyum dingin. "Tidak punya uang pun tidak masalah. Sepuluh ribu yuan dibayar dengan satu bagian tubuhmu yang patah!"
Usai berkata demikian, aku memberi isyarat kepada Meng Kaifeng dengan kedipan mata.
Meng Kaifeng sudah kadung dibuat murka oleh kelompok bajingan ini. Begitu melihat isyaratku, ia langsung melangkah lebar-lebar ke hadapan Rambut Cepak dan berkata sambil tersenyum ramah, "Kawan, aku ini orangnya cukup berbelas kasih! Tadi aku baru mematahkan kaki kananmu, sekarang aku akan melanjutkan ke kaki kananmu lagi. Dengan begitu, kamu masih bisa melompat menggunakan kaki kirimu!"
Setelah berkata demikian, Meng Kaifeng menyelipkan sebutir batu di bawah paha Rambut Cepak, bersiap mengulangi trik yang sama.
Mendengar ucapan Meng Kaifeng dan melihat tindakannya, Rambut Cepak ketakutan setengah mati. Ia memohon dengan suara nyaring, "Kakak! Kakak! Jangan! Jangan lakukan itu! Aku akan memberikan uangnya! Aku akan memberikan uangnya!"
Meng Kaifeng mendongak dan menatapku.
Aku mengusap daguku lalu berkata, "Siapa yang punya musuh dengan uang? Kalau begitu keadaannya, cepat kumpulkan uangnya!"
Rambut Cepak menyapu keringat dingin di dahinya, lalu buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk melakukan panggilan.
Aku menatap Rambut Cepak dengan dingin, ingin melihat bagaimana cara ia mengumpulkan uang.
Dalam waktu singkat, Rambut Cepak membuat belasan panggilan telepon, semuanya kepada sanak saudara dan teman-temannya.
Usai menelepon, Rambut Cepak tampak jelas merasa sedikit lega. Dengan sikap yang sangat hormat, ia berkata kepadaku, "Kakak! Saat ini aku baru bisa mengumpulkan lima puluh ribu. Bolehkah sisa uangnya diberi kelonggaran? Aku pasti akan mengumpulkannya untukmu dalam waktu setengah bulan!"
Aku memajukan bibirku, lalu berkata penuh makna, "Pepatah mengatakan, di antara saudara, susah senang harus ditanggung bersama. Kenapa kamu tidak menyuruh mereka ikut mengumpulkan uang juga? Apakah kamu ini bodoh? Bukankah mereka juga ikut merusak mesin arkadeku?"
Rambut Cepak menepuk jidatnya, seolah tersadar dari kebodohannya. "Terima kasih atas petunjuk Kakak. Aku tadi terlalu takut, sampai-sampai pikiranku kacau!"
Aku terlalu malas untuk meladeni Rambut Cepak, lalu mengalihkan pandanganku ke arah lain.
Melihatku mengabaikannya, Rambut Cepak tampak sangat canggung. Ia menoleh ke arah kelima anak buahnya dengan mata melotok lebar dan membentak mereka dengan suara keras, "Hei! Kalian melongo apa lagi? Cepat hubungi orang untuk mengumpulkan uang bagi Kakak ini!"
Melihat aksi Rambut Cepak yang berlagak garang dan bertindak sewenang-wenang di depan anak buahnya, aku merasa sangat jijik.
Tadi Rambut Cepak bersikap patuh di hadapanku bagaikan cucu yang berbakti, tetapi sekarang di depan anak buahnya ia justru berlagak seperti tuan besar. Sekali lihat saja sudah ketahuan kalau dia adalah seorang pengecut berhati busuk.
Namun, aku pun malas ambil pusing.
Si Rambut Panjang dan kawan-kawan memasang wajah masam, tampak enggan menelepon untuk mengumpulkan uang.
Melihat sikap si Rambut Panjang dan kawan-kawannya yang demikian, Rambut Cepak langsung menunjuk ke arah mereka dan memaki dengan suara geram, "Kalian sekumpulan pecundang! Giliran bersenang-senang dan berpoya-poya, kalian semua paling depan, tapi giliran harus mengeluarkan uang, kenapa kalian semua mendadak jadi ciut!"
Tentu saja tidak ada orang yang mau dipaksa mengeluarkan uang, tetapi itu terjadi dalam situasi tanpa tekanan.
Sekarang, aku berniat memberi mereka sedikit tekanan.
Aku berkata dengan dingin, "Kalian semua ikut terlibat saat merusak mesin arkade, bukan? Begini saja! Bos kalian ini bertindak sebagai pemimpin kelompok, dia harus membayar lima puluh ribu."
Aku menunjuk ke arah si Rambut Panjang, si tubuh tinggi, dan dua orang lainnya, lalu berkata, "Kalian masing-masing bayar sepuluh ribu!"
Terakhir, aku menunjuk ke arah pria kemayu itu. "Kamu cukup bayar lima ribu tiga ratus saja! Kulihat penampilanmu separuh pria separuh wanita, sepertinya tenagamu juga tidak seberapa!"
Setelah berkata demikian, aku menoleh ke arah Lin Xuan dan kawan-kawan seraya berpesan, "Siapa pun yang enggan membayar, langsung patahkan salah satu tulangnya!"
Lin Xuan dan yang lainnya langsung mengangguk patuh, lalu menatap si Rambut Panjang dan kawan-kawan dengan senyuman penuh arti.
Si Rambut Panjang dan komplotannya menjadi pucat pasi karena ketakutan. Mereka buru-buru mengangkat ponsel masing-masing dan mulai menelepon untuk mencari uang.
Menyaksikan keseriusan gerombolan keparat itu saat menelepon, aku tersenyum dingin di dalam hati. Sekumpulan orang bodoh ini, jika tidak diberi sedikit pelajaran, mereka tidak akan pernah tahu seberapa besar kekuatanku.
Tepat pada saat itu, ponsel Meng Kaifeng berdering.
Meng Kaifeng mengambil dan melihatnya; ternyata panggilan itu dari sang pemilik rumah.
Meng Kaifeng berkata, "Nan Ge, lihat, pemilik rumah menelepon!"
Kujawab, "Angkat saja! Mari kita dengar apa yang ingin dia katakan!"
Meng Kaifeng mengangguk pelan, lalu menerima panggilan tersebut.
"Xiao Meng ah! Bagaimana pertimbanganmu? Aku meminta sepuluh ribu yuan darimu itu sungguh tidak banyak lho! Saat penyewa sebelumnya memperpanjang sewa, aku bahkan meminta dua puluh ribu dari mereka! Aku bersikap begini karena melihatmu masih muda!"
Tanpa memberi kesempatan kepada Meng Kaifeng untuk berbicara, pemilik rumah itu menggunakan nada setengah bercanda untuk mengancam Meng Kaifeng. "Xiao Meng ah! Kau harus tahu! Saat kau ingin menyewakan tempat ini kembali kepada orang lain, kau harus melalui persetujuanku. Jika aku tidak mau bekerja sama denganmu, hei, hei..."
Pemilik rumah tidak melanjutkan kata-katanya di belakang, tetapi maksud yang ingin disampaikan sudah sangat jelas.